Syok. Panik. Tidak percaya. Tiga kata itu seperti palu Godam yang menghantam benaknya, berdentum keras dan menyisakan rasa nyeri yang tak tertahankan.
Melihat nama "Darwin" tertera di surat penugasan KKN, Via merasa seperti mimpi buruk terburuknya menjadi kenyataan.
Dunia seolah berhenti berputar, dan yang tersisa hanyalah nama itu, nama yang sudah lima tahun ia coba lupakan, nama yang masih mampu membuat hatinya berdebar tak terkendali.
Kilasan balik masa lalu menyerbu benaknya, menghadirkan kembali kenangan manis dan pahit yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Darwin. Pria yang dulu pernah begitu dicintainya, pria yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Cinta pada pandangan pertama. Begitulah kisah mereka dimulai.
Saat itu, Via masih menjadi mahasiswa baru yang polos dan penuh semangat, sementara Darwin adalah seorang asisten dosen yang cerdas dan karismatik.
Tatapan mata mereka bertemu di perpustakaan kampus, dan sejak saat itu, dunia mereka berubah.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar bersama, berdiskusi tentang buku dan film, dan berbagi mimpi tentang masa depan.
Pernikahan yang bahagia. Setidaknya, itulah yang Via rasakan selama beberapa tahun pertama pernikahan mereka.
Mereka saling mencintai, saling mendukung, dan saling melengkapi.
Mereka membangun rumah yang nyaman, merencanakan liburan yang romantis, dan berimpian tentang memiliki anak dan keluarga yang bahagia.
Mereka adalah pasangan yang sempurna, setidaknya di mata orang lain.
Impian masa depan bersama. Mereka berdua memiliki ambisi yang tinggi dalam karir masing-masing.
Via ingin menjadi dosen yang berdedikasi dan memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan, sementara Darwin ingin menjadi peneliti yang terkenal dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Mereka saling mendukung dan mendorong untuk mencapai tujuan masing-masing. Mereka yakin bahwa mereka akan berhasil bersama.
Namun, semua itu hanyalah ilusi.
Di balik kebahagiaan yang tampak sempurna, tersembunyi ketidakcocokan karakter, masalah keuangan yang semakin menumpuk, dan benih-benih perselingkuhan yang mulai tumbuh.
Ketidakcocokan karakter.
Via adalah seorang yang perfeksionis, teratur, dan terencana, sementara Darwin adalah seorang yang lebih santai, spontan, dan kurang peduli pada detail.
Perbedaan ini seringkali memicu pertengkaran kecil yang lama kelamaan menjadi semakin besar dan sulit diatasi.
Masalah keuangan. Karir mereka berdua tidak berjalan sesuai harapan.
Penghasilan mereka pas-pasan, bahkan seringkali kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hal ini menimbulkan tekanan dan stres yang semakin memperburuk hubungan mereka.
Perselingkuhan. Via mencurigai Darwin berselingkuh dengan seorang wanita lain, meskipun ia tidak memiliki bukti yang kuat.
Kecurigaan ini membuatnya semakin cemburu, posesif, dan tidak percaya pada Darwin.
Proses perceraian. Penuh drama, pertengkaran, dan air mata.
Mereka saling menyalahkan, saling menyakiti, dan saling membenci. Luka yang mendalam bagi kedua belah pihak.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk berpisah, menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan yang sudah hancur.
Keputusasaan Via. Setelah perceraian, Via merasa hancur dan kehilangan arah.
Ia merasa gagal sebagai seorang istri, seorang wanita, dan seorang manusia.
Ia menyalahkan dirinya sendiri atas segala yang terjadi, merasa bahwa ia tidak cukup baik untuk Darwin.
Kini, setelah sekian lama, ia harus menghadapi Darwin lagi.
Ia merasa tidak sanggup, tidak siap, dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia takut luka lama akan kembali terbuka, perasaannya akan kembali bergejolak, dan ia akan kembali terjerumus ke dalam masa lalu yang menyakitkan.
Upaya Menghindari. Panik, Via mencoba mencari cara untuk membatalkan penugasan KKN atau meminta dipindahkan ke kelompok lain.
Ia berbicara dengan pihak universitas, mengajukan berbagai alasan, mulai dari masalah kesehatan hingga padatnya jadwal penelitian.
Namun, semua usahanya sia-sia. Pihak universitas menolak permintaannya dengan alasan yang tidak bisa ia bantah.
Tugas KKN adalah kewajiban bagi setiap dosen, dan ia tidak bisa menghindarinya begitu saja.
Penerimaan yang Pahit. Via akhirnya menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain selain menghadapi kenyataan.
Ia harus pergi KKN bersama Darwin, menghabiskan waktu selama dua bulan di desa terpencil yang jauh dari kenyamanan dan keamanannya.
Ia harus berinteraksi dengan pria yang pernah begitu dicintainya, namun juga begitu dibencinya.
Ia harus mengubur masa lalu dan berusaha untuk bersikap profesional, meskipun hatinya bergejolak.
Ia mencoba menenangkan diri dan mempersiapkan mental, membayangkan dirinya sebagai wanita yang kuat, mandiri, dan mampu menghadapi segala rintangan.
Via menatap foto dirinya dan Darwin di masa lalu.
Foto yang diambil saat mereka masih muda, penuh cinta, dan harapan.
Di foto itu, mereka berdua tersenyum bahagia, berpelukan erat, seolah tak ada masalah yang bisa memisahkan mereka.
Air mata menetes di pipinya, membasahi foto itu.
Ia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi di desa terpencil itu?
Akankah ia mampu menghadapi Darwin dan mengubur masa lalu?
Akankah ia mampu menyelesaikan tugas KKN dengan baik, tanpa terganggu oleh perasaannya?
Akankah ia mampu menemukan kebahagiaan yang baru, ataukah ia akan selamanya dihantui oleh bayangan masa lalu?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, membuatnya semakin cemas dan ketakutan.
Ia merasa seperti berada di ambang jurang, siap terjun ke dalam kegelapan yang tak berujung.
Namun, di tengah keputusasaannya, ia merasakan secercah harapan.
Harapan bahwa ia bisa melewati semua ini, bahwa ia bisa menjadi lebih kuat dari sebelumnya, dan bahwa ia bisa menemukan kebahagiaan yang sejati.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah, untuk terus berjuang, dan untuk membuktikan kepada semua orang, terutama kepada dirinya sendiri, bahwa ia bisa.
Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, ia menghapus air matanya dan menarik napas dalam-dalam.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari pakaian, dan mulai mempersiapkan perlengkapan untuk tugas KKN.
Ia memasukkan pakaian, sepatu, peralatan mandi, dan obat-obatan yang diperlukan.
Ia juga memasukkan beberapa buku yang ia sukai, sebagai teman setia di saat kesepian.
Sambil berkemas, ia terus memikirkan tentang Darwin.
Ia membayangkan pertemuannya dengan pria itu, percakapan mereka, dan interaksi mereka selama KKN.
Ia berusaha mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan, baik yang baik maupun yang buruk.
Ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi di masa depan.
Ia hanya bisa mengendalikan sikap dan tindakannya sendiri.
Ia memutuskan untuk bersikap terbuka, jujur, dan profesional. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi di masa depan.
Ia hanya bisa mengendalikan sikap dan tindakannya sendiri. Ia memutuskan untuk bersikap terbuka, jujur, dan profesional. Ia akan berusaha untuk melupakan masa lalu dan fokus pada tugas yang ada di hadapannya.
Ia akan memperlakukan Darwin sebagai rekan kerja, bukan sebagai mantan suami yang pernah menyakitinya.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa itu tidak akan mudah.
Perasaannya terhadap Darwin masih sangat kuat, meskipun ia berusaha keras untuk menyangkalnya.
Ia tahu bahwa pertemuannya dengan Darwin akan membangkitkan kembali kenangan manis dan pahit, dan bahwa ia harus berjuang keras untuk mengendalikan emosinya.
Ia menutup koper dan meletakkannya di sudut ruangan. Ia kemudian berjalan menuju jendela, memandang pemandangan kota di malam hari.
Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang di langit, memberikan sedikit kehangatan di tengah kegelapan.
Ia merasa sendirian dan takut, tetapi juga penuh harapan dan tekad.
Ia tahu bahwa perjalanan KKN ini akan menjadi perjalanan yang berat dan menantang, tetapi ia juga yakin bahwa ia akan mampu melewatinya dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah, untuk terus berjuang, dan untuk membuktikan kepada semua orang, terutama kepada dirinya sendiri, bahwa ia bisa.
Ia akan menghadapi Darwin dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Ia akan menyelesaikan tugas KKN dengan sebaik-baiknya.
Dan ia akan menemukan kebahagiaan yang sejati, meskipun harus melalui jalan yang panjang dan berliku.
Ia menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata.
Ia mencoba membayangkan dirinya berada di Desa Sukamaju, berinteraksi dengan masyarakat setempat, dan membantu mengembangkan potensi desa.
Ia membayangkan dirinya tersenyum, tertawa, dan merasa bahagia.
Ia membuka mata dan tersenyum pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia bisa.
Ia akan pergi KKN, menghadapi Darwin, dan mengubur masa lalu. Ia akan memulai babak baru dalam hidupnya, dengan penuh harapan dan semangat baru.
Malam itu, Via tidur dengan nyenyak, meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan Darwin dan tugas KKN yang menantang.
Ia bermimpi tentang desa yang indah, masyarakat yang ramah, dan masa depan yang bahagia.
Ia bangun keesokan harinya dengan perasaan yang lebih tenang dan percaya diri. Ia siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Ia bersiap-siap dengan semangat, mengenakan pakaian yang rapi dan nyaman. Ia tidak lupa untuk mengenakan sedikit make-up, agar terlihat segar dan percaya diri.
Ia ingin memberikan kesan yang baik pada Darwin, meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi di antara mereka.
Ia meninggalkan apartemen dengan membawa koper dan tas berisi perlengkapan yang diperlukan.
Ia menuju kampus, tempat ia akan bertemu dengan Darwin dan anggota kelompok KKN lainnya.
Ia merasa gugup, tetapi juga bersemangat. Ia siap memulai perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.