Kopi yang Via genggam terasa dingin di telapak tangannya, tak mampu menghangatkan kegugupan yang mencengkeram dadanya.
Tiba di pelataran parkir kampus, Via menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
Rapat persiapan KKN. Pertemuan pertamanya dengan Darwin setelah lima tahun.
Momen yang ia khawatirkan sekaligus penasaran, menghantui benaknya selama beberapa hari terakhir.
Langkah kakinya terasa berat saat menaiki tangga menuju ruang rapat fakultas.
Ia berusaha bersikap setenang mungkin, memasang topeng profesionalisme yang selama ini menjadi perisainya.
Ia adalah seorang dosen, seorang profesional, dan ia harus mampu menghadapi situasi ini dengan kepala tegak.
Ruang rapat sudah dipenuhi beberapa mahasiswa yang tampak antusias.
Mereka menyapa Via dengan senyum ramah, membuat kegugupannya sedikit mereda.
Ia membalas sapaan mereka, berusaha membangun hubungan baik dan menciptakan suasana yang positif.
"Selamat pagi, Ibu Via," sapa seorang mahasiswi dengan rambut dikuncir kuda.
"Saya Rina, dari jurusan Pendidikan."
"Selamat pagi, Rina," jawab Via sambil tersenyum. "Senang bertemu denganmu."
Via kemudian memperkenalkan diri kepada mahasiswa lainnya, mencoba mengingat nama dan jurusan mereka masing-masing.
Ia mengamati setiap mahasiswa dengan seksama, mencoba menebak karakter dan potensi mereka.
Ada yang tampak ceria dan bersemangat, ada yang terlihat pendiam dan pemalu, dan ada pula yang menunjukkan sikap skeptis dan kurang tertarik.
Ia berharap mereka semua bisa bekerja sama dengan baik dan memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat desa.
Saat sedang asyik mengobrol dengan para mahasiswa, tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka. Semua mata tertuju pada sosok yang baru datang. Darwin.
Suasana langsung berubah menjadi canggung. Kegugupan Via kembali mencengkeram dadanya, kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Ia berusaha menghindari kontak mata dengan Darwin, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Namun, ia merasakan kehadiran Darwin yang kuat, aura karismatik yang masih sama seperti dulu.
Darwin menyapa para mahasiswa dengan senyum ramah, lalu berjalan menuju meja depan.
Ia meletakkan tasnya dan mulai menyiapkan materi rapat. Via berusaha fokus pada ponselnya, tetapi ia tidak bisa menahan diri untuk mencuri pandang ke arah Darwin.
Ia melihat Darwin sedikit berubah. Rambutnya sedikit memutih, dan ada kerutan halus di sekitar matanya.
Namun, ia tetap terlihat tampan dan berwibawa. Ia masih memiliki senyum yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta.
Rapat pun dimulai. Darwin memimpin rapat dengan profesional, menjelaskan tujuan KKN, rencana kegiatan, dan pembagian tugas.
Suaranya masih sama seperti dulu, tegas dan berwibawa, namun juga lembut dan menenangkan.
Via berusaha fokus pada materi rapat, mencatat poin-poin penting dan memberikan masukan jika diperlukan.
Namun, pikirannya terus tertuju pada Darwin. Ia bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.
Apakah ia juga merasa canggung dan gugup seperti dirinya?
Apakah ia masih mengingat masa lalu mereka?
Apakah ia masih mencintainya?
Secara tak sengaja, mata Via dan Darwin bertemu.
Ada kilatan emosi yang tak terucap di mata mereka. Rasa terkejut, kerinduan, penyesalan, dan harapan bercampur aduk menjadi satu.
Via merasa jantungnya berdebar kencang, dan napasnya tercekat. Ia segera mengalihkan pandangannya, berusaha menyembunyikan perasaannya.
Rapat berjalan lancar, meskipun suasana canggung tetap terasa di sepanjang acara.
Via berusaha seprofesional mungkin, memberikan kontribusi positif dalam diskusi dan menghindari interaksi pribadi dengan Darwin.
Ia merasa lelah secara mental, berusaha keras untuk mengendalikan emosinya dan tetap fokus pada tugas yang ada di hadapannya.
Akhirnya, rapat selesai. Via merasa lega, tetapi juga semakin cemas.
Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus menghindari Darwin.
Ia harus mencari cara untuk mengatasi perasaannya dan bekerja sama dengan profesional.
Para mahasiswa mulai beranjak dari tempat duduk mereka, saling bertukar informasi dan merencanakan kegiatan selanjutnya.
Via ikut berdiri, berusaha menghilang di antara kerumunan mahasiswa.
Namun, sebelum ia berhasil melarikan diri, Darwin menghampirinya.
Jantung Via berdegup kencang. Ia menatap Darwin dengan gugup, menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria itu.
"Via," sapa Darwin dengan suara pelan.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
Via terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ia harus menerima ajakan Darwin atau tidak.
Ia takut, tetapi juga penasaran. Akhirnya, ia mengangguk pelan.
"Baiklah," jawab Via lirih. "Di mana?"
"Di taman dekat sini," kata Darwin sambil menunjuk ke arah jendela. "Sepi dan nyaman untuk bicara."
Via mengangguk lagi. Ia mengikuti Darwin keluar dari ruang rapat dan menuju taman yang terletak di dekat gedung fakultas.
Taman itu tampak asri dan sejuk, dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga berwarna-warni.
Namun, keindahan taman itu tidak mampu mengurangi kegugupan Via.
Ia berjalan di samping Darwin dengan canggung, tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Akhirnya, Darwin membuka percakapan. "Terima kasih sudah bersedia bicara denganku," katanya dengan suara pelan.
Via hanya mengangguk, masih terlalu gugup untuk berbicara.
"Aku tahu ini tidak mudah bagimu," lanjut Darwin.
"Aku tahu bahwa kita memiliki masa lalu yang rumit. Tapi aku berharap kita bisa melupakan semua itu dan bekerja sama dengan profesional demi kesuksesan KKN ini."
Via menatap Darwin dengan tatapan menyelidik.
Apakah pria ini benar-benar tulus?
Ataukah ia hanya berusaha untuk bersikap sopan dan profesional? Ia tidak tahu.
"Aku juga berharap begitu," jawab Via akhirnya. "Tapi itu tidak akan mudah."
"Aku tahu," kata Darwin sambil menghela napas.
"Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga. Aku ingin memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Aku ingin membuktikan kepadamu bahwa aku sudah berubah."
Via terdiam lagi. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia merasa bingung, bimbang, dan takut.
Apakah ia harus memberikan kesempatan kedua kepada Darwin?
Ataukah ia harus tetap menjaga jarak dan melindungi hatinya dari luka yang lebih dalam?
"Aku butuh waktu untuk memikirkannya," kata Via akhirnya. "Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang."
"Aku mengerti," kata Darwin sambil tersenyum tipis. "Aku akan menunggumu. Aku akan bersabar."
Via mengangguk dan berpamitan kepada Darwin.
Ia berjalan menuju mobilnya dengan langkah gontai, pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan dan keraguan.
Pertemuan singkat dengan Darwin telah membangkitkan kembali kenangan masa lalu yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Ia merasa bingung, bimbang, dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Di dalam mobil, Via menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan mata.
Ia mencoba menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya.
Ia tahu bahwa ia harus membuat keputusan yang tepat, keputusan yang akan menentukan masa depannya.
Ia membuka mata dan melihat pantulan dirinya di kaca spion.
Ia melihat seorang wanita yang kuat, mandiri, dan mampu mengatasi segala rintangan.
Ia tersenyum pada dirinya sendiri, mencoba memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Ia menyalakan mesin mobil dan mulai melaju menuju apartemennya.
Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan tentang Darwin, masa lalu mereka, dan kemungkinan masa depan mereka.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi ia bertekad untuk menghadapi segala kemungkinan dengan kepala tegak dan hati yang lapang.
Ia tiba di apartemennya dan langsung merebahkan diri di sofa. Ia merasa lelah secara fisik dan mental.
Ia menutup mata dan mencoba untuk tidur, berharap bisa melupakan sejenak segala masalah yang sedang menghantuinya.
Namun, bayangan Darwin terus menghantuinya dalam mimpi.
Ia bermimpi tentang masa lalu mereka yang bahagia, tentang pernikahan mereka yang indah, dan tentang perceraian mereka yang menyakitkan.
Ia juga bermimpi tentang masa depan mereka yang tidak pasti, tentang kemungkinan mereka bersatu kembali, dan tentang kemungkinan mereka akan kembali terluka.
Ia terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia merasa semakin bingung dan ketakutan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Ia membuat secangkir kopi panas dan duduk di dekat jendela.
Ia memandang pemandangan kota di malam hari, mencoba mencari inspirasi dan kekuatan.
Tiba-tiba, ia teringat pada kata-kata Pak Fadli saat ia bertemu dengannya di kampus.
"Semangat ya! Saya yakin kamu bisa menjalankan tugas ini dengan baik. Berinteraksi dengan masyarakat setempat, belajar dari pengalaman mereka, dan memberikan yang terbaik yang kamu bisa," kata Pak Fadli dengan senyum ramah.
Kata-kata itu memberinya sedikit semangat. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus menerus terlarut dalam masa lalu.
Ia harus fokus pada tugas yang ada di hadapannya, yaitu membantu masyarakat Desa Sukamaju.
Ia memutuskan untuk melupakan sejenak tentang Darwin dan mempersiapkan diri untuk perjalanan ke desa.
Ia membuka laptop dan mulai mencari informasi tentang Desa Sukamaju, tentang potensi dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat setempat, dan tentang program-program yang bisa ia laksanakan bersama dengan kelompok KKN-nya.
Ia belajar dengan tekun, membaca berbagai artikel dan laporan, dan menonton video tentang Desa Sukamaju.
Ia semakin tertarik dan termotivasi untuk memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat desa.
Ia menyadari bahwa tugas KKN ini bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga kesempatan untuk melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat.
Ia bertekad untuk memberikan yang terbaik yang ia bisa, dan untuk menjadikan pengalaman KKN ini sebagai titik balik dalam hidupnya.