DESA SUKAMAJU DAN KENANGAN YANG MENGHANTUI

1274 Words
Debu beterbangan mengecup bagian belakang mobil yang mereka tumpangi. Pertanda perjalanan panjang dan melelahkan menuju Desa Sukamaju hampir usai. Via, dengan pandangan terpaku pada panorama luar jendela, berusaha sekuat tenaga mengusir kegugupan yang terus-menerus menghantuinya. Jalanan yang berkelok-kelok, naik turun tanpa ampun, membelah perbukitan hijau nan memanjakan mata. Di kejauhan, hamparan sawah terbentang luas, diselingi oleh rumah-rumah penduduk yang tampak sederhana namun menyimpan pesona tersendiri. Di dalam mobil, suasana riang tercipta berkat para mahasiswa yang tak henti-hentinya bercanda dan tertawa. Via berusaha mengikuti alur percakapan, namun pikirannya terus tertuju pada satu sosok: Darwin. Pria itu duduk di kursi depan, berbincang akrab dengan kepala desa. Diam-diam, Via mencuri pandang ke arah Darwin, memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan seksama. Pria itu terlihat tenang dan fokus, sesekali tersenyum menanggapi ucapan kepala desa. Pemandangan itu menghadirkan perasaan aneh dalam diri Via, campuran antara kekaguman dan kerinduan. Setelah berjam-jam melalui perjalanan yang menguras tenaga, akhirnya mereka tiba di Desa Sukamaju. Mobil berhenti tepat di depan balai desa, tempat masyarakat setempat telah berkumpul untuk menyambut kedatangan mereka. Pemandangan itu menyentuh hati Via. Wajah-wajah ramah menyambut mereka dengan senyum tulus, seolah mereka adalah keluarga yang telah lama terpisah dan akhirnya dipertemukan kembali. Anak-anak kecil berlarian mendekat, mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu, ingin melihat lebih dekat para pendatang dari kota. Kepala desa, seorang pria paruh baya yang memancarkan kebijaksanaan, menyalami mereka satu per satu, mengucapkan selamat datang dan berterima kasih atas kesediaan mereka untuk membantu membangun desa. Usai acara penyambutan singkat yang penuh kehangatan, mereka dibagi ke rumah-rumah penduduk setempat, tempat mereka akan tinggal selama dua bulan ke depan. Via mendapatkan kamar di rumah seorang ibu tua bernama Ibu Sumi. Kamar itu sederhana, hanya dilengkapi dengan tempat tidur, meja kecil, dan lemari pakaian. Namun, kamar itu bersih, rapi, dan terasa nyaman, membuat Via merasa bersyukur bisa tinggal di sana. "Semoga Ibu betah di sini," kata Ibu Sumi dengan senyum tulus yang menenangkan. "Kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang ke Ibu, ya." "Terima kasih banyak, Bu," jawab Via tulus. "Saya senang sekali bisa tinggal di sini." Setelah beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga, Via keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi desa. Ia ingin mengenal lebih dekat lingkungan yang akan menjadi rumahnya selama beberapa bulan ke depan. Desa Sukamaju ternyata jauh lebih indah dari yang ia bayangkan. Rumah-rumah penduduk tertata rapi di sepanjang jalan utama, dikelilingi oleh kebun-kebun hijau dan sawah yang menghampar luas, menciptakan pemandangan yang menenangkan. Udara di desa itu terasa segar dan sejuk, jauh dari polusi dan kebisingan kota yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya. Malam tiba dengan cepat, membawa serta ketenangan yang memanjakan. Via duduk di kamarnya, menatap keluar jendela. Suasana desa terasa begitu damai, jauh dari hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur. Namun, meski dikelilingi oleh ketenangan, di dalam hatinya, Via justru merasa kesepian dan rindu pada rumahnya. Ia merindukan apartemennya yang nyaman, rutinitasnya yang teratur, dan kesunyian yang selama ini ia nikmati. Malam itu, Via tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan Darwin dan kenangan masa lalu yang terus menghantuinya. Ia teringat pada masa-masa bahagia mereka berdua, saat mereka masih saling mencintai Ia teringat pada masa-masa bahagia mereka berdua, saat mereka masih saling mencintai dan berimpian tentang masa depan yang cerah. Ia juga teringat pada masa-masa sulit yang mereka lalui, saat mereka mulai bertengkar dan saling menyakiti, hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah. Via memejamkan mata dengan erat, mencoba sekuat tenaga mengusir bayangan-bayangan itu dari benaknya. Namun, semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas bayangan itu menghantuinya, seolah masa lalu tidak ingin melepaskannya begitu saja. Ia merasa bingung, bimbang, dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk bisa berdamai dengan masa lalunya dan menatap masa depan dengan lebih optimis. Keesokan paginya, Via terbangun dengan perasaan lelah dan tanpa semangat. Tubuhnya terasa lemas dan pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai macam pikiran yang saling beradu. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus menerus terlarut dalam kesedihan dan kekhawatiran. Ia harus bangkit dan melakukan sesuatu untuk mengubah suasana hatinya. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar desa, mencari udara segar dan mencoba menjernihkan pikirannya. Ia berharap dengan melihat keindahan alam dan berinteraksi dengan masyarakat setempat, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan dan inspirasi. Via berjalan menuju sungai yang terletak tidak jauh dari desa. Sungai itu tampak jernih dan sejuk, mengalir dengan tenang di antara bebatuan besar yang tertutup lumut hijau. Ia duduk di salah satu batu di tepi sungai, menikmati keindahan alam sekitar dan mendengarkan gemericik air yang menenangkan. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh dan melihat Darwin berdiri tidak jauh darinya. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selamat pagi," sapa Darwin dengan suara pelan, memecah keheningan pagi itu. "Selamat pagi," jawab Via dengan nada canggung, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Mereka berdua terdiam sejenak, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Suasana terasa sangat canggung dan tidak nyaman, seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Via berusaha menghindar, ingin segera pergi dari situ dan menjauh dari Darwin. Ia bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk melangkah pergi. Namun, Darwin dengan cepat menahannya. "Via," kata Darwin dengan suara lirih, memohon. "Aku mohon, tunggu sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Via menatap Darwin dengan tatapan menyelidik, mencoba mencari tahu apa yang ada di benak pria itu. "Apa?" tanyanya singkat, namun terdengar dingin. Darwin menghela napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian. "Aku ingin minta maaf," katanya dengan nada menyesal. "Atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu. Aku tahu aku sudah sangat menyakitimu, dan aku sangat menyesal telah melakukan itu." Mendengar permintaan maaf Darwin, Via terkejut bukan main. Ia tidak menyangka bahwa pria itu akan mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadanya setelah sekian lama. Ia merasa ada sesuatu yang berdesir mendengar permintaan maaf Darwin, Via terkejut bukan main. Ia tidak menyangka bahwa pria itu akan mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadanya setelah sekian lama. Ia merasa ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya, sebuah perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Ia terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Darwin dan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa bingung, bimbang, dan tidak tahu apakah ia harus memaafkan Darwin atau tidak. Luka masa lalu masih terasa begitu nyata dan menyakitkan, membuatnya sulit untuk mempercayai pria itu lagi. "Aku..." Via tergagap, tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia merasa tenggorokannya tercekat dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tahu ini tidak mudah bagimu," kata Darwin dengan nada lembut, menyadari kesulitan yang sedang dialami Via. "Tapi aku mohon, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dan membuktikan kepadamu bahwa aku sudah berubah. Aku ingin kita bisa berdamai dengan masa lalu dan memulai babak baru dalam hidup kita." Via terus terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia menatap Darwin dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sedang berada di tempat lain. Ia merasa ada perang batin yang sedang berkecamuk dalam dirinya, antara keinginan untuk memaafkan dan ketakutan untuk kembali terluka. Akhirnya, dengan suara yang lirih dan bergetar, Via hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan meninggalkan Darwin sendirian di tepi sungai, membiarkan pria itu dengan segala penyesalannya. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju rumah Ibu Sumi, berusaha melarikan diri dari perasaan campur aduk yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Air mata terus mengalir di pipinya, membasahi wajahnya yang pucat. Ia merasa semakin bingung dan bimbang. Apakah ia harus memaafkan Darwin dan melupakan masa lalu? Ataukah ia harus tetap menjaga jarak dan melindungi hatinya dari kemungkinan terluka lagi? Ia tidak tahu apa jawaban yang tepat. Ia hanya tahu bahwa ia membutuhkan waktu untuk berpikir, merenung, dan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang sebelum membuat keputusan yang akan mempengaruhi masa depannya. Ia berharap, suatu saat nanti, ia bisa menemukan jawaban yang akan membawa kebahagiaan bagi dirinya dan bagi Darwin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD