Sinar mentari pagi yang hangat menyapa Desa Sukamaju dengan kelembutan, membangkitkan semangat baru dalam diri Via dan seluruh anggota kelompok KKN untuk memulai aktivitas hari itu dengan penuh energi.
Setelah beberapa hari beradaptasi dengan lingkungan baru yang sederhana namun mempesona, mereka mulai melaksanakan program-program yang telah direncanakan dengan antusias dan dedikasi tinggi.
Setiap anggota kelompok KKN merasakan panggilan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat Desa Sukamaju.
Via, dengan semangat seorang pendidik sejati yang membara dalam dirinya, terjun langsung mengajar anak-anak desa membaca dan menulis di sekolah dasar setempat.
Ia merasa tersentuh melihat antusiasme anak-anak dalam belajar, meskipun fasilitas yang tersedia sangat terbatas dan jauh dari kata memadai.
Ia berusaha memberikan yang terbaik yang ia bisa, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, interaktif, dan merangsang kreativitas, agar anak-anak tetap semangat dan termotivasi untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.
Ia menggunakan berbagai metode pengajaran kreatif, seperti bernyanyi bersama, bercerita kisah-kisah inspiratif, bermain sambil belajar dengan menggunakan alat-alat sederhana yang tersedia di sekitar desa, membuat anak-anak semakin bersemangat untuk datang ke sekolah setiap hari dengan senyum ceria di wajah mereka.
Sementara itu, anggota kelompok KKN lainnya memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat desa, menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta memberikan informasi tentang berbagai penyakit yang sering terjadi di daerah tersebut, seperti diare, demam berdarah, dan infeksi saluran pernapasan.
Mereka juga membantu mengembangkan potensi ekonomi desa dengan memberikan pelatihan keterampilan kepada ibu-ibu rumah tangga, seperti membuat kerajinan tangan yang unik dan menarik dari bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar desa, seperti bambu, rotan, dan daun pandan, serta mengolah hasil pertanian menjadi produk makanan yang bernilai jual tinggi, seperti keripik singkong dengan berbagai rasa, selai nanas yang manis dan lezat, dan sirup markisa yang segar dan menyehatkan.
Dengan pelatihan ini, diharapkan ibu-ibu rumah tangga dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
Dalam melaksanakan program-program tersebut, Via dan Darwin seringkali harus bekerja sama dan berkoordinasi secara intensif.
Awalnya, mereka merasa canggung dan sulit untuk berkomunikasi secara efektif. Mereka berusaha untuk bersikap seprofesional mungkin dan menghindari interaksi pribadi yang tidak perlu, namun aura masa lalu yang penuh dengan kenangan dan emosi tetap terasa kuat di antara mereka, menciptakan suasana yang tidak nyaman dan penuh ketegangan.
Mereka berusaha untuk fokus pada tugas yang ada di depan mata dan mengesampingkan perasaan pribadi mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain dan belajar untuk saling menghargai sebagai rekan kerja.
Via menyadari bahwa Darwin adalah seorang yang cerdas, berdedikasi, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat desa.
Ia melihat Darwin bekerja keras tanpa kenal lelah, memberikan ide-ide kreatif dan inovatif untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat desa dengan penuh semangat dan tanggung jawab.
Darwin pun melihat hal yang sama pada diri Via. Ia melihat Via sebagai seorang wanita yang kuat, mandiri, dan memiliki semangat yang tinggi untuk membantu orang lain.
Ia kagum dengan ketulusan Via dalam mengajar anak-anak dengan sabar dan penuh kasih sayang, kesabarannya dalam memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat desa, dan kemampuannya dalam memotivasi masyarakat desa untuk berpartisipasi aktif dalam program-program yang dilaksanakan dengan penuh antusiasme.
Ia menyadari bahwa Via adalah seorang wanita yang luar biasa, dan ia merasa beruntung bisa bekerja sama dengannya.
Namun, di tengah-tengah kerja sama yang semakin harmonis dan profesional, sebuah insiden kecil yang tak terduga terjadi, mengingatkan mereka pada masa lalu yang penuh dengan pertengkaran dan perselisihan pahit.
Dalam sebuah rapat evaluasi program KKN yang diadakan di balai desa, Via dan Darwin berbeda pendapat tentang cara terbaik untuk mengatasi masalah sanitasi yang dihadapi oleh desa, masalah yang menjadi perhatian utama karena berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Via mengusulkan untuk membangun WC umum di setiap rumah, agar setiap keluarga di desa memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang layak dan higienis, sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit menular.
Sementara Darwin berpendapat bahwa lebih baik memberikan pelatihan yang komprehensif kepada masyarakat tentang cara membuat septic tank yang ramah lingkungan, agar mereka bisa mengelola limbah dengan baik dan menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Perdebatan yang awalnya berlangsung dengan tenang dan argumentasi yang logis, tiba-tiba berubah menjadi semakin memanas, dengan Via dan Darwin saling mempertahankan pendapat masing-masing dengan nada bicara yang semakin tinggi dan ekspresi wajah yang semakin tegang.
Suara mereka semakin meninggi, dan kata-kata yang mereka ucapkan semakin tajam, seolah pedang yang saling beradu dalam pertempuran sengit.
Perdebatan itu mengingatkan mereka pada pertengkaran-pertengkaran yang sering terjadi di masa lalu, saat mereka masih menjadi suami istri dan seringkali berbeda pendapat tentang berbagai hal.
Suasana rapat menjadi tegang dan tidak nyaman, dan para anggota kelompok KKN lainnya hanya bisa diam dan menyaksikan pertengkaran itu dengan perasaan cemas dan khawatir.
Mereka takut pertengkaran itu akan merusak hubungan baik yang telah terjalin di antara mereka dan mengganggu kelancaran pelaksanaan program KKN.
Via merasa sangat marah dan frustrasi. Ia merasa bahwa Darwin tidak menghargai pendapatnya dan berusaha untuk mendominasi rapat.
Ia teringat pada pertengkaran-pertengkaran mereka di masa lalu, saat Darwin selalu berusaha untuk memaksakan kehendaknya padanya dan tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan pendapatnya.
Ia merasa bahwa Darwin tidak pernah benar-benar menghargai dirinya sebagai seorang wanita dan seorang profesional.
Darwin pun merasa hal yang sama. Ia merasa bahwa Via tidak mau mendengarkan pendapatnya dan selalu bersikap keras kepala, tidak mau menerima masukan dari orang lain.
Ia teringat pada pertengkaran-pertengkaran mereka di masa lalu, saat Via selalu berusaha untuk mengatur hidupnya dan tidak memberikan kebebasan kepadanya untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Ia merasa bahwa Via tidak pernah benar-benar mempercayai dirinya dan selalu meragukan kemampuannya.
Setelah perdebatan yang panjang dan melelahkan, rapat akhirnya dibubarkan tanpa mencapai kesepakatan.
Via dan Darwin keluar dari ruang rapat dengan wajah masam dan suasana hati yang buruk, saling menghindar dan tidak berbicara satu sama lain.
Mereka merasa sangat kecewa dan frustrasi dengan apa yang terjadi, dan mereka tidak tahu bagaimana cara memperbaiki hubungan mereka yang semakin renggang.
Namun, setelah merenungkan apa yang terjadi di dalam kesunyian malam, Via mulai menyadari bahwa ia telah bersikap terlalu emosional dan tidak rasional.
Ia menyadari bahwa Darwin tidak bermaksud untuk menyakitinya atau merendahkannya. Ia hanya memiliki pendapat yang berbeda, dan ia berhak untuk menyampaikannya dengan cara yang ia anggap benar, sama seperti dirinya.
Ia juga menyadari bahwa ia telah melupakan sisi lain dari Darwin yang selama ini ia lupakan karena rasa sakit hati dan kekecewaan yang mendalam.
Ia melupakan ketulusan, kepedulian, dan kecerdasan Darwin. Ia melupakan bahwa Darwin adalah seorang yang baik hati dan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain.
Ia mulai meragukan keputusannya untuk membenci Darwin selama ini.
Apakah ia telah bersikap terlalu keras dan tidak adil terhadap pria itu? Apakah ia telah menutup mata terhadap kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan oleh Darwin hanya karena rasa sakit hati dan dendam yang masih membara dalam hatinya?
Pada suatu malam yang sunyi dan damai, setelah menyelesaikan tugasnya mengajar anak-anak desa, Via melihat Darwin duduk sendirian di tepi sungai, menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang di langit malam, memantulkan cahayanya yang keperakan ke permukaan air yang tenang.
Ia memutuskan untuk menghampiri Darwin dan meminta maaf atas sikapnya yang kurang baik.
"Darwin," sapa Via dengan suara pelan, memecah keheningan malam yang syahdu.
Darwin menoleh dan menatap Via dengan tatapan terkejut dan sedikit ragu. "Via," jawabnya lirih, seolah tidak percaya bahwa wanita itu akan menghampirinya setelah pertengkaran sengit mereka tadi siang.
"Aku ingin minta maaf," kata Via dengan nada menyesal yang tulus.
"Aku tahu aku sudah bersikap tidak baik padamu tadi siang di rapat. Aku terlalu emosional dan tidak rasional. Aku seharusnya mendengarkan pendapatmu dengan pikiran terbuka dan menghargai pandanganmu, meskipun aku tidak setuju denganmu."
Darwin tersenyum tipis, menunjukkan bahwa ia menerima permintaan maaf Via dengan lapang d**a dan tanpa ada rasa dendam sedikit pun.
"Tidak apa-apa, Via," katanya dengan suara lembut yang menenangkan.
"Aku juga minta maaf. Aku tahu aku juga bersikap terlalu keras kepala dan tidak mau mengalah. Aku seharusnya lebih sabar dan pengertian, dan tidak memaksakan pendapatku padamu."
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan malam dan suara gemericik air sungai yang menenangkan.
Mereka merasa lega telah menyelesaikan masalah di antara mereka, dan mereka berharap bisa melanjutkan kerja sama mereka dalam program KKN dengan lebih baik.
"Aku ingin tahu," kata Via memecah keheningan, dengan nada bicara yang serius. "Kenapa kamu dulu melakukan itu?"
"Melakukan apa?" tanya Darwin, dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Kenapa kamu berselingkuh waktu itu?" tanya Via, dengan pertanyaan yang langsung menusuk jantung permasalahan yang selama ini menghantui pikirannya.
Darwin menghela napas berat, seolah beban berat telah menindih dadanya.
"Aku tidak tahu, Via," jawabnya dengan nada menyesal yang mendalam.
"Aku merasa saat itu aku tidak bahagia dan aku mencari pelarian dengan melakukan hal bodoh itu. Aku tahu itu adalah kesalahan besar, dan aku sangat menyesal telah menyakitimu."
Via merasa terharu dengan kejujuran Darwin. Ia mulai mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan kedua kepada Darwin, meskipun ia masih takut jika ia akan kembali terluka dan dikecewakan.
Via masih bimbang, antara memberikan kesempatan kedua kepada pria yang pernah dicintainya itu, atau mengakhiri semuanya dan membiarkan masa lalu tetap terkubur dalam-dalam, tanpa pernah memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki hubungan mereka.
Keputusan yang sulit, namun harus segera diambil.