Udara malam di Desa Sukamaju terasa dingin menusuk kulit, namun tidak mampu menandingi dinginnya perasaan Via saat mendengar pengakuan Darwin.
Kata-kata itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang memekakkan telinga.
Darwin mengakui bahwa ia masih mencintai Via, menyesali perbuatannya di masa lalu, dan mengungkapkan bahwa ia tidak pernah berhenti memikirkannya selama ini.
Sebuah pengakuan yang mampu menggoyahkan pertahanan Via, membangkitkan kembali kenangan-kenangan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.
Via terkejut. Sangat terkejut. Ia tidak menyangka Darwin akan mengungkapkan perasaannya secara gamblang seperti itu.
Selama ini, ia berusaha keras untuk bersikap profesional dan menjaga jarak dengan Darwin, namun pengakuan ini meruntuhkan semua usahanya.
Ia tidak tahu bagaimana harus merespons, kata-kata seolah tercekat di tenggorokannya.
Ia masih memiliki perasaan terhadap Darwin, perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang meskipun telah terluka.
Namun, ia juga takut untuk kembali terluka, takut untuk mengulangi kesalahan yang sama.
Ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Darwin lagi, apakah pria itu benar-benar sudah berubah atau hanya sekadar mengucapkan kata-kata manis untuk menenangkannya.
Dalam benaknya, berputar kilasan balik masa lalu. Ia mengingat kembali masa-masa indah bersama Darwin, saat mereka masih saling mencintai dan berjanji untuk selalu bersama.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama, tertawa, bercanda, dan berbagi mimpi. Mereka adalah pasangan yang sempurna, saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.
Namun, ia juga mengingat masa-masa sulit dan menyakitkan, saat Darwin mulai berubah dan menjauh darinya.
Ia mengingat pertengkaran-pertengkaran yang semakin sering terjadi, kata-kata kasar yang saling terlontar, dan akhirnya perselingkuhan yang menghancurkan segalanya.
Ia mengingat rasa sakit, kecewa, dan marah yang begitu mendalam, rasa sakit yang membuatnya sulit untuk mempercayai siapa pun lagi.
Ia mempertimbangkan apakah Darwin benar-benar sudah berubah atau tidak.
Apakah ia pantas mendapatkan kesempatan kedua?
Apakah ia mampu melupakan masa lalu dan memulai babak baru bersIa mempertimbangkan apakah Darwin benar-benar sudah berubah atau tidak.
Apakah ia pantas mendapatkan kesempatan kedua?
Apakah ia mampu melupakan masa lalu dan memulai babak baru bersamanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya, membuatnya semakin bingung dan bimbang.
Via merasa bimbang antara memberikan kesempatan kedua kepada Darwin atau tetap menjaga jarak dan melindungi hatinya dari kemungkinan terluka lagi.
Ia tidak tahu mana pilihan yang tepat, mana yang akan membawa kebahagiaan baginya. Ia merasa sendirian dan tertekan, seolah memikul beban yang sangat berat di pundaknya.
"Aku butuh waktu," kata Via akhirnya, memecah keheningan.
Suaranya lirih dan bergetar. "Aku butuh waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang. Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang."
Darwin mengangguk pelan, memahami kebingungan yang sedang dialami Via. "Aku mengerti," katanya dengan nada lembut.
"Aku akan menunggumu. Aku akan memberikanmu waktu sebanyak yang kamu butuhkan."
Via berterima kasih atas pengertian Darwin. Ia tahu bahwa ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya sebelum membuat keputusan yang akan mempengaruhi masa depannya.
Ia berpamitan kepada Darwin dan berjalan menuju rumah Ibu Sumi.
Ia merasa lelah secara emosional, seolah energinya telah terkuras habis. Ia ingin segera beristirahat dan melupakan sejenak semua masalah yang sedang menghantuinya.
Sesampainya di rumah, Via langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang tampak kosong dan hampa.
Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan Darwin dan pengakuannya. Ia merasa semakin bingung dan bimbang.
Tiba-tiba, ia teringat pada Ibu Sumi, wanita tua yang baik hati dan bijaksana yang telah menjadi tempatnya berkeluh kesah selama ini.
Ia memutuskan untuk bercerita kepada Ibu Sumi tentang perasaannya terhadap Darwin, berharap mendapatkan nasihat dan petunjuk dari wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu sendiri.
Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu, tempat Ibu Sumi biasanya menghabiskan waktu di malam hari.
Ia melihat Ibu Sumi sedang duduk di kursi goyang sambil membaca buku.
"Ibu," sapa Via dengan suara pelan.
Ibu Sumi menoleh dan tersenyum melihat Via. "Ada apa, Nak?" tanyanya lembut.
Via duduk di samping Ibu Sumi dan mulai bercerita tentang perasaannya terhadap Darwin, tentang pengakuannya, tentang kebingungannya, dan tentang kebimbangannya. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
Ibu Sumi mendengarkan dengan seksama, tidak menyela atau memberikan komentar.
Ia hanya memberikan Via kesempatan untuk mengungkapkan semua perasaannya.
Setelah Via selesai bercerita, Ibu Sumi terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada bijaksana, "Nak, Ibu tidak bisa memberikanmu jawaban yang pasti. Keputusan ada di tanganmu. Kamu yang paling tahu apa yang terbaik untuk dirimu."
"Tapi Ibu bisa memberikanmu nasihat," lanjut Ibu Sumi.
"Ikuti kata hatimu. Jika hatimu mengatakan untuk memberikan kesempatan kedua kepada Darwin, maka berikanlah kesempatan itu.
"Tapi, jika hatimu mengatakan untuk tetap menjaga jarak dan melindungi dirimu, maka lakukanlah itu. Jangan biarkan orang lain mempengaruhi keputusanmu. Dengarkanlah suara hatimu sendiri."
"Dan ingatlah," kata Ibu Sumi lagi,
"cinta itu butuh kepercayaan. Jika kamu tidak bisa mempercayai Darwin lagi, maka sulit untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia bersamanya. Tapi, jika kamu bersedia untuk memberikan kepercayaan kepadanya, maka ada kemungkinan untuk memulai babak baru yang lebih baik."
"Pikirkan baik-baik, Nak," kata Ibu Sumi mengakhiri nasihatnya. "Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Dengarkanlah suara hatimu dan ikutilah petunjuk yang diberikan oleh Tuhan."
Via merasa lega setelah bercerita kepada Ibu Sumi. Nasihat Ibu Sumi membuatnya merasa lebih tenang dan yakin.
Ia tahu bahwa ia harus mengikuti kata hatinya dan tidak membiarkan orang lain mempengaruhi keputusannya.
Ia berterima kasih kepada Ibu Sumi atas nasihatnya dan kembali ke kamarnya. Ia merebahkan diri di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar.
Ia mencoba untuk mendengarkan suara hatinya, namun ia masih merasa bingung dan bimbang.
Ia memutuskan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia ingin melihat bagaimana Darwin bersikap selama beberapa waktu ke depan dan apakah ia benar-benar serius ingin memperbaiki hubungannya dengan Via. Ia ingin melihat apakah Darwin benar-benar sudah berubah atau tidak.
Ia ingin melihat apakah Darwin akan terus menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepadanya, apakah ia akan terus mendukung dan menghargai pendapatnya, dan apakah ia akan terus berusaha untuk membuatnya bahagia.
Jika Darwin mampu membuktikan semua itu, maka ia mungkin akan mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan kedua kepadanya.
Namun, jika Darwin kembali melakukan kesalahan yang sama, maka ia akan memutuskan untuk tetap menjaga jarak dan melindungi hatinya dari kemungkinan terluka lagi.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia ingin mencari kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan yang tidak akan pernah membuatnya kecewa dan terluka.
Via menatap langit malam yang bertaburan bintang. Bintang-bintang itu tampak begitu indah dan menenangkan.
Ia merasa tenang, tetapi juga cemas. Ia tahu bahwa ia harus membuat keputusan yang tepat, keputusan yang akan menentukan masa depannya.
Ia memejamkan mata dan berdoa kepada Tuhan. Ia meminta petunjuk dan kekuatan agar bisa mengambil keputusan yang terbaik.
Ia berharap Tuhan akan membimbingnya ke jalan yang benar dan memberikan kebahagiaan yang sejati.