Hawa berjalan mondar-mandir dengan tangan yang saling meremas. Lampu menyala tanda operasi masih berlangsung. Sudah tiga jam ia menunggu dengan cemas di depan ruang ICU tempat suaminya ditangani oleh para dokter dan tenaga medis lainnya. Bu Winda juga ada di sana, keadaannya tak jauh berbeda dengan menantunya itu. Saat mendengar anaknya masuk rumah sakit lagi, jantungnya terasa akan copot seketika. Ia tak sanggup melihat anaknya kembali terbaring lemah di ranjang rumah sakit seperti dulu jika bisa, lebih baik ia saja yang terbaring di sana jangan anak semata wayangnya lagi. Dering ponsel membuat gerakan Hawa terhenti, mengambil ponselnya di saku celana lalu ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama pemanggilannya terlebih dahulu. "Halo? Assalamualaikum?" "Wa’alaikumsalam. Neng

