Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kelima anak kembarku telah beranjak dewasa. Rasanya senang dan juga sedih. Senang karena mereka tumbuh dengan baik, sedihnya mereka jarang berada di rumah. Namun, aku bangga melihat mereka gemar mencari ilmu untuk bekal dunia dan akhirat kelak. “Maher! Kamu ngambil es krim punya Kakak, ya!?” teriakan Aiza menyadarkanku. Melihat ke belakang. Tengah terjadi perang antara Maher dan Aiza. Kepalaku menggeleng. Jika sedang kumpul seperti sekarang, maka percekcokan kedua kakak beradik itu tidak akan terlewatkan. “Oh, itu punya Kak Iza? Ups! Maher nggak tahu, gimana dong?” Maher berujar santai. Masih diam duduk di sebelahku. Sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan kakaknya. “Kamu! Kakak sudah bilang berkali-kali sama kamu. Jangan ambil es krim punya K
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


