Istanbul, Turki "Aiza, Azka, kalian dari mana saja?" tanya sebuah suara membuat mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Belum sempat Raddan melihat jelas perempuan berpayung merah itu, tiba-tiba ponselnya yang ada di saku celananya berdering membuatnya memilih mengangkatnya terlebih dahulu. Nama Ken tertera sebagai pemanggil, ia memilih pergi menjauh dari kedua anak kembar itu untuk menjawab panggilan. Jika Ken mengatakan hal yang tidak penting maka ia akan langsung mematikannya detik itu juga dan nanti ia akan memberikan perhitungan pada sahabatnya sekaligus bawahannya di hotel karena sudah menganggunya. “Halo? Ada apa?" “Gawat, Dan! Ada masalah di lapangan!” “Masalah apa?” “Masalah serius, gue nggak bisa jelasin lewat telepon. Lebih baik lo cepetan datang ke sini, sebelum semuanya

