5. Pertemuan yang tak terduga

1205 Words
Di pertengahan anak tangga langkahku terhenti saat melihat Ummi yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua. Ku lengkungkan senyum terbaikku, meski pikiranku sedang kacau tapi sebisa mungkin aku harus selalu tersenyum didepan Ummi. Karena jika Ummi mengetahuinya, aku takut masalah ini akan membebani Ummi dan berakibat fatal untuk kesehatannya. "Pagi, Ummi!" sapaku dengan riang, membuat Ummi menoleh ke arahku dan tersenyum. "Tara ... hari ini Ummi masak makanan spesial," ujar Ummi seraya tangannya memperagakan adegan seperti di tipi-tipi lalu mempersilakan aku untuk duduk seperti tuan putri. Dengan cepat ku langkahkan kakiku menuju meja makan, di meja sudah tersedia nasi dengan lauk pauk yang beraneka ragam. Mulai dari orek tempe, perkedel, sayur sop, ayam goreng dan masih banyak lagi. "Dalam rangka apa Ummi masak sebanyak ini?" menyipitkan mata ku tatap Ummi dengan pandangan menyelidik. "Ummi ... lagi seneng aja, emangnya nggak boleh?" "Ya, boleh sih ... tapi siapa yang mau habisin makanan sebanyak ini, Mi?" "Nanti juga bakal habis, kayak kamu nggak doyan makan aja!" sindir Ummi. "Ish! Ummi. Hawa emang doyan makan, tapi Hawa nggak serakus itu tau?!" "Udah. Makan aja, ntar kamu telat lagi." Ummi duduk di kursi bagian ujung kepala meja sedangkan aku sudah duduk di kursi sebelah kiri Ummi. Kami pun memakan sarapan dengan tenang hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Karna seharian kemarin aku mogok makan karna mood-ku yang kurang bagus jadi sekarang aku makan cukup banyak, piringku penuh dengan lauk yang sudah menggunung. Sudut mataku mendapati Ummi yang sedang tertawa melihat ke arah piringku, ternyata aku sedoyan itu dengan makanan. "Nduk," panggil Ummi saat aku tengah meneguk segelas s**u untuk mengakhiri sarapanku. "Kamu udah baca surat wasiat dari Abi?" lanjut Ummi yang mengingatkanku pada surat wasiat yang ditulis Abi untukku. Sepertinya biasa aku tak akan pandai berbohong dihadapan Ummi dengan perlahan ku anggukan kepalaku. "Jadi bagaimana keputusanmu?" "Hawa belum mendapatkan petunjuk, Mi. Jadi Hawa belum bisa menjawab hal itu sekarang," "Kamu sudah sholat istikharah?" "Alhamdulillah sudah, Mi. Tapi Hawa belum mendapatkan jawabannya," memang benar seperti itu adanya, aku tidak bisa tertidur lagi setelah sholat istikharah tadi malam sehingga aku memutuskan untuk membaca beberapa surah sambil menunggu adzan shubuh berkumandang setelahnya aku menyiapkan segala keperluan untuk mengajar hari ini. "Alhamdulillah, semoga jawabannya nanti adalah yang terbaik untukmu dan juga calon imammu itu." "Amiinn Ummi, ya udah Hawa berangkat ngajar dulu ya, Assalamualaikum!" pamitku sambil menyamili tangan Ummi dengan takzim dan tak lupa ku cium kedua pipi wanita kesayanganku itu. *** Sesampainya disekolah, aku mengernyit melihat penampilan Silvi yang berbeda dari hari biasanya. Dia… terlihat lebih feminim padahal selama ini dia itu sangat tomboi, meskipun sudah berhijab namun tetap saja dia tak suka memakai rok saat mengajar paling banter dia memakai atasan overall yang panjangnya hingga sebatas lutut selain itu dia jarang memakainya. Tapi lihatlah sekarang dia memakai gamis pemirsa! "Sil, habis kesambet apaan lo? Tumbenan lo mau pake gamis?" tanyaku yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. "Gimana? Cantik nggak, gue?" Silvi bangkit berdiri seraya memutar-mutarkan tubuhnya, memperlihatkan gamis berwarna orange itu padaku. "Bagus tapi nggak biasanya lo pake gamis kek gini, ini juga lo dandan?" kuraih wajah Silvi yang terpoles make up cukup tebal. "Lo tau kan guru baru yang gue ceritain kemarin?" kepalaku mengangguk,"nah.. gue dilirik sama dia jadi gue bela-belain belajar dandan dan ngerubah penampilan gue." "Astagfirullah! Silvi itu namanya Tabbaruj, dosa kalo lo berhias untuk lelaki yang bukan mahram lo!" ujarku dengan panik, dengan cepat ku sambar sebungkus tisu basah yang ada di dalam tasku. Dengan cepat ku usapkan tisu itu untuk menghapus make up di wajah Silvi. "Astagfirullah…" Silvi pun langsung beristigfar, setelahnya ia mengambil alih tisu yang ada ditanganku dan menghapus make up itu sendiri. "Makasih, Haw. Lo udah ingetin gue," ucap Silvi kemudian. Aku tersenyum, "itulah gunanya sahabat. Kita harus saling mengingatkan satu sama lain, saat salah satu diantara kita berbuat salah." Silvi tersenyum cerah lalu memelukku dengan erat, "gue beruntung punya sahabat kayak lo!" *** Saat ini aku dan Silvi tengah menikmati makanan di Nu&Ra Kafe yang terletak di jalan Pahlawan nomer 3 jakarta selatan. Kafe ini memang sedang hits dikalangan anak muda jaman sekarang, apalagi interior kafe yang mengusung konsep keinian dengan tema kartun islami buatan anak negeri yaitu Nussa & Rarra. Di bagian pojok sebelah kiri kafe ini menyediakan ruang baca yang dilengkapi dengan berbagai macam buku mulai dari buku cerita anak sampai novel untuk remaja pun tersedia disana dan dibagian dindingnya terdapat gambar Nussa & Rarra serta Anta dalam berbagai pose. Penataan meja disini juga tidak monoton begitu juga kursi disini, ada meja dan 4 kursi yang saling berhadapan menghadap dinding kafe, ada juga sofa panjang dengan motif Nussa & Rarra yang terletak di bagian pojok kanan lengkap dengan meja panjang cocok untuk keluarga besar yang ingin mengunjungi kafe ini bersama-sama. Kafe ini memiliki dua lantai, lantai yang ku tempati ada di lantai dua, sedangkan lantai satu memiliki tema yang sama namun dengan interior yang sedikit berbeda, pokoknya instagramable dengan tambahan lampu-lampu gantung yang kecil nan indah berbentuk seperti bunga mawar. Pandanganku kembali mengarah pada Silvi yang sedang asik berselfie ria, aku terkadang heran dengan Silvi yang sangat suka berfoto dalam berbabai pose. Aku menggeleng apakah dia nggak kehabisan gaya karena terlalu sering berfoto? "Hawa kita swafoto yuk!" aku menggeleng, aku termasuk orang yang sangat anti soal foto-foto. Selama ini foto yang kuambil bisa dihitung jari, aku mau di foto saat ada kepentingan saja. Seperti saat membuat KTP yang mengharuskan untuk berfoto. "Ish! Lo mah, nggak asik!" cibir Silvi. "Dari dulu lo juga udah tahu tentang itu!" "Berubah dong, Haw! Masa lo nggak mau berubah! Lihat gue aja udah berubah jadi lebih feminim." Berubah? Satu kata mengubah segalanya. Semua orang mungkin sudah banyak mengalami perubahan namun aku? Masih sama dengan hatiku yang masih tertuju padanya. Pada dia yang sampai saat ini masih belum juga mengingatku kembali. Allah.. hamba ingin perasaan ini segera lenyap dari hati hamba. Sekarang hamba hanya ingin mencintai imam pilihan-Mu hanya karna-Mu dan bakti hamba pada Abi. "Haw! Hawa…" Panggilan Silvi menyadarkanku dari lamunan, "iya, kenapa?" "Ihh… gue lagi curhat malah lo bengong. Mikirin apaan sih?" Aku bingung, apa aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Silvi? Bahwa aku sedang dilanda kebimbangan untuk memutuskan jawaban dari surat wasiat peninggalan dari Abi. "Jadi… gini Sil, sebenarnya gue-" "Hawa!" ucapanku terpotong saat sebuah suara yang memanggil namaku terdengar dari arah belakang. Serentak aku dan Silvi menoleh dan di sana tak jauh dari tempatku duduk ada seorang wanita paruh baya yang baru saja menganggilku. Dia.. Tante Winda, ibu dari Raddan. Aku bingung harus bereaksi seperti apa, pura-pura tidak melihatnya namun sudah terlanjur menengok, jika aku pura-pura lupa dengan Tante Winda berarti aku berbohong. "Itu.. bukannya Tante Winda, Mamanya Raddan?" Aku mengangguk menanggapi ucapan Silvi, "gue harus gimana sekarang, Sil?" "Ya, biasa aja lah! Emangnya lo mau ngapain?" Aku menghembuskan napas kasar, kenapa akhir-akhir ini aku selalu berpapasan dengan orang-orang dari masalaluku. Ya Allah tolong segera berikan hamba petunjuk tentang maksud dari ini semua? "Assalamualaikum, Tante. Apa kabarnya?" "Wa'alaikumssalam, kok manggilnya Tante sih? Manggil Bunda aja lagi," "I-iya Bunda. Gimana kabarnya?" tanyaku mengulang. "Alhamdulillah Bunda udah agak baikkan setelah ngelihat kamu lagi, Bunda kangen banget sama kamu Hawa…" Aku tak bisa menolak saat Bunda Winda langsung memelukku dengan erat. Jujur, aku pun merindukannya. Dulu aku dekat sekali dengan Bunda, karena Raddan pernah mengajakku bermain kerumahnya di hari minggu. Dia mengenalkanku pada keluarganya, katanya biar aku bisa akrab dengan keluarganya jadi nanti kalau sudah menikah aku tidak akan canggung saat menghadiri acara kumpul-kumpul keluarga besarnya. Aku teringat hadis riwayat Bukhari, ‘tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silahturahmi.’ ________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD