Langkahku terhenti kala mendengar suara teriakan dari arah belakang. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa pemilik suara cempreng yang paling membahana itu, Silvi Khairotun Nissa. Sahabatku sejak SMP.
"Hawaa ... daebak! Gue lagi seneng banget, nget, nget! Akhirnya setelah penantian selama tujuh purnama, tujuh musim, sampai tujuh abad. Hari ini, disekolah ini bakal kedatangan guru baru yang asli keren abiss mirip Oppa-Oppa gue yang ada di Korea sana. Aaaa ...."
Kehebohan Silvi dari dulu hingga sekarang tidak pernah surut, ketika membahas cogan yang wajahnya beda sebelah duabelas dengan para selebritis negeri gingseng atau yang akrab di sebit Oppa. Mata Silvi berbinar bahagia karena guru baru yang dia nanti-nanti kehadirannya akan datang hari ini dan aku sebagai sahabatnya hanya mendoakan semoga saja pria itu bisa berjodoh dengan sahabatku ini, agar penantiannya tidak sia-sia.
"Semoga aja guru itu beneran ganteng kayak yang lo bilang, soalnya gue nggak mau jadi bahas pelampiasan lo pas lagi galau gara-gara dulu Pak Toto yang dateng, nggak sesuai ekspetasi lo."
Silvi berdecak sebal,"ish! Kali ini nggak lagi, gue yakin kalo Pak Rama si guru baru itu ganteng banget. Nggak bakal kayak Pak Toto yang selalu bawa lampu neon kemana-mana, itu!"
"Hahahaha ..." Pak Toto yang sedang kita bahas itu penampilannya sangat kuno ditambah kepalanya yang botak mengkilat itu membuat Silvi selalu alergi didekatnya.
"Assalamualaikum, Bu Silvi, Bu Hawa." pucuk dicinta ula pun tiba, baru saja di omongin Pak Toto tiba-tiba nongol, seperti biasa kepalanya yang botak itu tidak tertutup apa-apa membuat sinar matahari yang baru terbit memantul diatas kepalanya.
"Wa'alaikumsalam, Pak Toto." Aku membalas salam Pak Toto dengan senyuman sedangkan Silvi menjawabnya dengan setengah hati, susah payah aku menahan tawa melihat ekpresi Silvi saat ini.
"Neng Sisil mau bareng nggak ke kantornya sama Aa Toto?" tanya Pak Toto pada Silvi.
Dengan ketus Silvi menjawab,"nggak mau!"
"Ya sudah. Aa masuk duluan ya, dadah ...." sebelum berbalik kulihat Pak Toto sempat melambaikan tangan sambil mengedipkan mata genit ke arah Silvi. Silvi langsung bereaksi, mengetuk-ngetukkan tangannya ke kepala dengan bibir yang mengucapkan kata 'amit-amit beberapa kali.
"Hahahaha ...." Setelah di rasa jarak Pak Toto sudah jauh, tawaku yang sedari tadi ku tahan langsung meledak.
Silvi mengerucutkan bibirnya sambil bersedekat d**a, "ketawa aja terooss…. lihat aja! Kali ini gue yakin seratus persen kalo guru baru itu ganteng banget!"
"Iya, iya. Percaya, percaya ...."
"Awas aja, kalo nanti lo kesem-sem juga sama tuh guru baru." Ujar Silvi seraya berjalan mundur sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arahku, mengancam.
Memegang bahu Silvi lalu ku balikkan tubuhnya ke arah depan menuju kantor, jika masih di lanjutkan acara debat ini maka bisa di pastikan kami akan telat mengajar dan alhasil mendapatkan wejangan gratis dari kepala sekolah. "Udah, udah. Lebih baik kita hentikan pembahasan ini, dan cepet-cepet masuk kantor soalnya bentar lagi bel masuk berbunyi."
"Huh! Oke deh," sahut Silvi dengan pasrah, kalo nggak disuruh berhenti pasti dia bakal nyerocos terus.
***
"Haw, pinjem kaca dong! Punya gue ketinggalan soalnya, gue kan mau tacap biar Pak Rama kesem-sem ama gue," seruan Silvi, tanpa menoleh aku merogoh saku tasku tempat biasanya aku membawa cermin.
Bersamaan dengan itu sebuah kertas usang jatuh saat aku berhasil menemukan cermin yang hendak dipinjam Silvi. Ku serahkan cermin itu ke tangan Silvi, kemudian aku menunduk lagi untuk mengambil kertas itu. Aku membelalak, hampir saja aku melupakan tentang surat wasiat dari Abi. Allah, terima kasih karena Engkau telah mengingatkan hamba.
Aku beranjak dari duduk, lebih baik aku membaca surat ini seorang diri. Bukan karena tak ingin surat ini di ketahui oleh yang lainnya, tapi aku yang tergolong cengeng akan mudah menangis apalagi ini surat peninggalan dari Abi. Pasti aku akan merindukan sosoknya dan tak ayal tangisan pun ikut mewarnainya saat aku membaca surat ini.
"Mau kemana lo?" tanya Silvi seraya menahan tanganku yang hendak melangkah pergi.
"Ada urusan bentaran," ujarku lalu melangkah pergi keluar dari ruang kantor. Tujuan ku sekarang adalah taman belakang sekolah yang jarang di kunjungi oleh anak-anak.
Sesampainya di taman aku memilih duduk di kursi dekat pohon mangga selain rindang, jika aku menangis tidak akan ada orang akan mengetahuinya. Aku hanya perlu waktu sendiri dengan surat dari Abi.
Perlahan kubuka surat wasiat dari Abi, dibaris pertama kalimat di surat itu Abi menyapaku.
Assalamualaikum, putri cantiknya Abi…
"Wa'alaikumssalam, Abi-nya Hawa yang paling ganteng," balasku menjawab salam dari Abi.
Airmata ku mulai berlinang saat kata demi kata Abi tuliskan di surat itu, ternyata Abi sudah mempunyai firasat bahwa umurnya tidak akan lama lagi, sehingga beliau mempersiapkan surat wasiat ini dari jauh-jauh hari.
Jika surat ini sampai padamu, nduk. Berarti Abi sudah berada di tempat yang jauh dan tak lagi bisa menjabat tangan calon imammu nantinya. Jangan bersedih lagi putrinya Abi, Abi sudah bahagia disini disisi Allah azza wa jaalla.
Abi menuliskan surat wasiat ini karena Abi masih mempunyai hutang janji yang belum sempat Abi penuhi, meskipun Abi sudah pergi tapi hutang itu masih harus di bayarkan. Mau tidak putri Abi yang cantik ini membayarkannya?
Segera kepalaku mengangguk dengan mantap, "insya Allah, Abi. Jika Hawa bisa memenuhinya."
Abi pernah membuat janji dengan sahabat Abi dulu untuk menjodohkan putra putri kami setelah mereka dewasa nanti, kami sama-sama memiliki satu anak dan sepertinya Allah juga menginginkan kalian berjodoh. Karena anak sahabat Abi itu laki-laki, Abi ingin kamu memiliki pendamping seperti dia. Lelaki yang tak hanya tampan tapi juga sholeh dan Abi yakin dia bisa membimbingmu menuju surga-Nya.
Putri cantiknya Abi… jika kamu keraguan dalam hatimu untuk menjalankan wasiat ini, mintalah petunjuk dari Allah azza wa jaalla. Niscaya kamu akan mendapatkan sebaik-baiknya pentujuk.
Wa'ssalaikumssalam, Abi pamit ya….
"Wa'alaikumssalam… hiks… hiks… Abi…" Ku sembunyikan wajahku yang sudah bersimpah airmata dalam pangkuanku, rasa sedih dan terkejut menjadi satu padu memenuhi dadaku. Pilihan apa yang harus aku ambil? Aku harus segera meminta petunjuk dari Allah tentang semua ini.
***
"Ara!" panggil sebuah suara yang sangat ku hapal dan hanya dia seorang yang selalu memanggilku dengan nama itu.
Dengan perlahan ku balikkan badan ke arah belakang, di sana berdiri seorang pria bertubuh jangkung, berahang tegas, berkulit putih, beralis lebat, memiliki bulu mata yang lentik, serta pemilik senyum yang indah dengan bola mata sehitam jelaga.
Dalam doa, aku selalu berharap dia bisa menjadi imamku di masa depan nanti untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Aku mengharapkan bisa menjadi jodohnya bukan karna ketampanannya namun ahlaknya lah yang membuatku melabuhkan pilihanku padanya, ya dia Muhammad Raddan Al-Azmi.
"Hai Mbak pacar, bagaimana kabarnya hari ini?" sapanya padaku disertai senyuman jahilnya, dia tahu jika aku tidak menyukai sebutan itu.
"Ish! Kan udah Ara bilang jangan panggil Ara begitu?!" kesalku seraya mencebikkan bibirku beberapa senti.
"Hahaha, lucu banget sih ... jadi pengen cubit deh." Tangannya terangkat hendak menyentuh pipiku namun secepat mungkin aku menghindarinya, "belum halal, jadi nggak boleh ya!" ujarku seraya menatapnya tajam.
"Kan kita pacaran ... masa masih nggak boleh, sih!" keluhnya, wajahnya terlihat imut saat dia tengah merajuk seperti itu. Astagfirullah, tundukkan pandanganmu Hawa jangan sampai napsu menghasutmu untuk melakukan hal yang dilarang oleh-Nya.
"Siapa yang bilang kita pacaran? Itu hanya opinimu saja Mas. Jangan ke Pedean gitu, belum tentu Ara mau."
"Masa nggak mau? Seriusan ... tapi kok Mas liat mukanya merah merona gitu?" godanya yang memang berhasil membuatku merona namun secepat mungkin ku netralkan kembali raut wajahku.
"Nggak kok!" sangkalku.
Dari ekor mataku kulihat Mas Raddan melangkah menuju kursi taman, memang kami janjian bertemu di taman Yudhana, taman ini sangat indah dan ramai di sore hari seperti ini. Apa dia marah?
"Memang Mas, yang mengklaim kamu itu pacar Mas. Semua itu Mas lakuin agar tidak ada pria lain yang berani mendekati kamu. Jika Mas hanya mengatakan hubungan kita sebatas ta'aruf itu tidak akan membuat para pria itu jera untuk mendekati kamu lagi. Mas lakuin itu karna permintaan mu juga yang belum ingin menikah selama masih kuliah, jadi jangan protes kalo Mas bilang kamu itu pacar Mas."
Memang aku mengatakan itu agar Mas Raddan semangat dalam menyelesaikan kuliah jika aku langsung menerima lamarannya minggu lalu, bisa ku pastikan Mas Raddan akan melupakan semua hal tentang kuliah dan cita-citanya.
"Semangat Mas! Mas harus buktikan dulu pada Ara jika Mas bisa lulus kuliah dengan nilai bagus, biar nggak malu-maluin Ara nanti." Ledekku sambil melangkah ke arahnya dan ikut mendudukkan diri dikursi taman.
"Mulai nakal ya, Mas ini pintar tau!" ucapnya tak terima.
Aku sedikit tertawa mendengar nada suaranya.
"Ara ... apapun yang terjadi di masa depan nanti. Mas mohon padamu, tetaplah di samping Mas karna Mas tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu," ucap Mas Raddan lagi namun raut wajahnya sudah berubah menjadi serius.
Aku mengangguk," insya Allah, Mas. Ara akan dukung apapun keputusan Mas selama itu baik dan benar."
"Astagfirullah...." Aku terbangun dari tidur dengan napas tersegal, kenangan itu muncul kembali dalam mimpiku. Kenangan yang sudah berusaha ku usir dari ingatan masalalu itu, kenapa bisa hadir lagi dalam mimpiku.
Bangkit dari pembaringan dengan perlahan ku usap wajahku kemudian k*****a doa sesudah bangun dari tidur, setelahnya ku lirik jam dinding yang tertempel di kepala ranjang pukul tiga dini hari.
Aku teringat surat wasiat dari Abi, sekarang waktu yang tepat untukku bermunajat pada Allah azza wa jaalla. Meminta petunjuk dari Maha pemberi solusi terbaik, Ya Robb bantulah hamba ...
_______