Keningku mengerut dalam, memerhatikan lelaki di hadapanku dengan seksama. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup tudung dari jas hujan yang dikenakannya. Sinar rembulan hanya mampu menangkap siluet rahangnya yang tegas. Aku segera mengalihkan pandangan agar tak terjadi zina mata antara kami. Intinya, aku tak mengenali lelaki ini. "Apakah mengenaliku sesulit itu? Jangan di paksakan. Lain kali jika kita bertemu lagi, aku akan membuat kamu mengingat tentang siapa diriku.” Mendengar perkataannya membuatku semakin penasaran siapa gerangan dia? Apa dia salah seorang yang pernah singgah di masa laluku? Mengapa aku susah sekali mengenalinya? Entah memori tentang lelaki ini tersimpan di sebelah mana, tapi aku merasa mengenal suaranya. “Jangan menangis lagi. Air mata kamu terlalu berharga

