Harga Diri Yang Terluka
Sienna menunggu hasil tespack untuk kesekian kalinya di toilet. Jantungnya berdetak lebih kencang. Meremat jemari berdiri mondar-mandir dengan gelisah. Dia bahkan sesekali menggigit bibir. Beberapa menit kemudian, dengan rasa tidak sabar wanita itu mengambil tespack. Seulas garis melengkung lebar di bibir kala melihat tanda dua garis merah yang samar-samar. Namun, sepersekian detik senyum itu berubah ketika salah satu garisnya memudar. Kelopak matanya mulai berembun. Langkahnya lunglai membuka gagang pintu toilet.
"Apa hasilnya positif? Astaga! Mama ingin sekali menimang cucu!"
Ibu mertua Sienna dengan riang gembira melihat Sienna keluar dari toilet. Tanpa ragu, Sienna mengulurkan tespack di tangannya pada sang Ibu mertua.
"Negatif lagi? Sudah tiga tahun, Mama menunggu penerus keluarga Widyodiningrat Sienna! Tapi, kamu belum bisa memberikannya!" murka sang Ibu mertua--Ratna.
Bulir bening yang berkumpul di pelupuk mata Sienna berderai membasahi pipinya yang tirus." Sienna sudah berusaha, Ma. Tapi, Tuhan masih belum kasih kesempatan untuk Sienna punya keturunan."
Ratna membuang testpack Sienna ke lantai. Raut wajahnya merah padam menatap Sienna dengan marah.
"Usaha apa yang sudah kamu lakukan, hah? Sejauh ini, kamu belum bisa membahagiakan Bastian! Saya sangat menyesal memiliki menantu seperti kamu. Dasar wanita mandul!"
Jleb!
Ucapan Ratna umpama benda tajam yang menusuk relung hati Sienna yang paling dalam. Sakit yang dia rasakan selama tiga tahun selalu di desak untuk memberikan pewaris keturunan keluarga Bastian--suaminya.
Setelah kepergian Ibu mertuanya, Sienna meluruh ke lantai. Dia memukul dadanya yang terasa sesak, seperti di himpit batu besar sulit bernapas. Air matanya kembali berderai membasahi wajahnya yang tampak sembab.
Bertahan, merupakan satu-satunya harapan Sienna karena dia sangat mencintai Bastian. Dia melupakan segala hal termasuk keluarga dan karirnya yang cemerlang. Mengesampingkan ego demi kebahagiaan yang dia inginkan. Sementara itu, Ratna memasang raut wajah masam ketika menapaki anak tangga.
"Mama kenapa?"
Bastian yang baru saja kembali dari kantor karena ada pekerjaan mendesak di hari weekend, memandang raut wajah Mamanya yang semrawut. "Kamu masih nanya, Tian? Apalagi yang bikin Mama kesal kalau bukan istri kamu."
"Sienna lakukan kesalahan apalagi Ma?" Bastian terlihat jengah. Hampir setiap hari sang Mama mengeluhkan perilaku Sienna yang tidak bisa menyenangkannya.
"Mama dengar Sienna mual-mual. Jadi, Mama suruh dia tes pakai testpack."
"SIENNA!" jerit Bastian.
Sienna gegas menghapus air matanya dengan gerakan kasar ketika memdengar suara Bastian. Dengan langkah buru-buru Sienna keluar kamar menghampiri. "Iya, Mas?"
Bastian melempar jas ke wajah Sienna begitu saja." Apa kamu tuli? Atau sengaja tidak dengar aku panggil?"
"Maaf, Mas," lirih Sienna.
"Apa hasil testpack kamu? Negatif lagi?" terka Bastian membuat Sienna yang menunduk mengangguk sekilas.
Rahang Bastian mengeras. Dia membuka jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya melempar ke lantai.
"Kamu memang wanita tidak berguna! Kapan kamu bisa memberikan keluarga ini keturunan? Aku menyesal menikahi wanita mandul sepertimu," hina Bastian.
Jantung Sienna serasa di remas kuat mendengar ucapan menohok suaminya. Air matanya kembali berderai. Ratna berdecih melihat air mata Sienna.
"Dasar air mata buaya! Mau nangis darah pun, kamu nggak akan pernah bisa mengubah kenyataan kalau kamu wanita mandul," tambah Ratna.
"Sudah, cukup!"
Perhatian keduanya beralih pada perempuan paruh baya yang berdiri di depan pintu melihat bagaimana puterinya yang di caci maki oleh mertua dan suaminya sendiri.
"Mommy?" monolog Sienna menghapus air matanya dengan gerakan kasar.
"Apa anda tidak memiliki sopan santun menguping pembicaraan orang lain, Nyonya Nirmala?" sarkas Ratna.
"Seharusnya, saya yang bertanya seperti itu Nyonya Ratna. Apa perilaku anda yang seperti ini pantas di sebut memiliki moral yang baik?"
"Mom, udah," bela Sienna menggeleng mendekati sang Mama.
"Jangan menyalahkan Mama Tian, Mommy Mala. Sebaiknya, Mommy lihat bagaimana puteri kesayangan Mom ini yang tidak bisa memberikan Tian keturunan," bela Bastian.
Nirmala yang ingin menyeruarakan protes, di tahan Sienna," Mas, aku izin ingin bicara dengan Mama sebentar."
Bastian enggan peduli. Dia pergi menuju kamar begitu juga dengan Ratna yang entah kemana. Rasa kesal bercokol di hati Nirmala ketika keduanya duduk di taman samping halaman rumah.
"Apa ini, Sienna? Berulang kali, Mom katakan berpisah saja dari Bastian. Apa yang kamu harapkan dari pria seperti itu?"
"Sienna sangat mencintainya, Mom," aku Sienna membuat Nirmala mendesah kasar. Nirmala menyentuh pundak Sienna, menatap puterinya itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Sienna... sejak awal Mommy tidak setuju kamu menikah dengan Bastian. Hanya saja, demi kebahagiaan kamu, Mommy memberi restu. Tapi, ini apa? Kamu tidak pernah di hargai. Bertahan hanya karena cinta? Sadar, Sienna! Cinta itu tidak akan saling menyakiti seperti ini."
Sienna menggerakkan tangannya menyentuh, lalu menangkup kedua tangan Nirmala.
"Sienna yakin, Mas Bastian bisa berubah --"
"Berubah? Tiga tahun, Sienna! Apa masih belum cukup dia melukai hati kamu? Mom sudah tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menyadarkan kamu yang sudah di butakan oleh cinta," potong Nirmala dengan amarah menggebu.
Sienna menggigit bibir menahan air mata yang ingin berderai kembali. Nirmala melembutkan tatapannya terhadap Sienna. Dia menarik Sienna ke dalam rangkulannya. Dia mengusap punggung puterinya yang bergetar. Sesaat, Nirmala mengurai pelukan. Dia menghapus air mata Sienna menangkup tangan puterinya itu.
"Maaf, kalau Sienna selalu buat Mommy marah."
"Mom sangat menyayangi kamu, Nak. Mom hanya ingin kamu sayang dengan diri kamu sendiri. Lihat? Kamu tidak merawat tubuhmu. Jangan sampai, semua pengorbanan kamu sia-sia meninggalkan karir kamu yang cemerlang demi menjadi ibu rumah tangga yang baik," nasihat Nirmala.
"Makasih, Mommy selalu dukung Sienna. Daddy masih marah sama Sienna, Mom?" tanya Sienna.
Helaan napas Nirmala sangat kentara. Dari raut wajahnya, Sienna sudah menyimpulkan sesuatu. Jika, Papanya itu tidak ingin menemuinya karena takut akan menyakiti puterinya jika rasa marah sudah menggerogoti.
"Jaga diri kamu baik-baik. Kalau ada apa-apa, pintu rumah Mommy selalu terbuka untuk kamu." Sekali lagi, keduanya berpelukan. Sienna mengantar Nirmala menuju mobilnya. Tak lupa, Nirmala menyisipkan sejumlah uang untuk Sienna karena dia tahu pasti Sienna akan membutuhkannya.
Setelahnya, Sienna menghela napas panjang kembali masuk. Dia terkejut, ketika keranjang belanja dapur mampir di wajahnya. "Pergi belanja sana! Teman-teman arisan Mama mau datang," perintah Ratna melempar catatan belanja, di susul dua lembaran uang berwarna merah.
Sienna memungut uang dan catatan di lantai. Sejak setahun lalu, keluarga Wiryodiningrat tidak memiliki pembantu karena mereka sudah memiliki menantu yang merangkap semuanya dan itu lebih menguntungkan bagi keluarga mereka.
"Tapi, Ma, uang ini mana cukup belanja sebanyak di catatan ini?" protes Sienna.
"Banyak alasan kamu! Mau kamu Mama aduin Tian karena ngelawan Mama?" ancam Ratna membuat Sienna menggeleng.
Sienna melangkah gontai menenteng keranjang belanja. Wanita yang memiliki tubuh gemuk namun tinggi itu keluar dari area rumah Wiryodiningrat. Sienna memilih naik kendaraan umum ke supermarket. Di tengah jalan, mobil yang di tumpangi Sienna mendadak berhenti. Seluruh penumpang terpaksa turun. Matahari mulai naik sepenggalah. Sienna terpaksa menunggu kendaraan lain yang lewat. Namun, di seberang jalan Sienna melihat siluet mobil Honda Civic berwarna merah berhenti di tepi jalan.
"Mas Tian?" gumam Sienna tanpa sadar melangkah menyeberangi jalan tanpa melihat kanan dan kiri.
Tin! Tin!
Brak!
Sienna terserempet mobil hingga dia terjerembab di aspal. Pengemudi mobil BMW berwarna hitam itu menekan pedal gas mendadak. Dia menoleh ke belakang menatap pria yang memiliki wajah dingin dan datar tanpa ekspresi.
"Ma-maaf, Tuan Alexander. Sepertinya, seseorang sudah tertabrak."