Kim pulang ke rumahnya setelah semalam bermalam di rumah Dewi. Tidak merasa lebih baik, semua masih sama dan tidak ada yang berubah. Sakitnya bahkan tidak berkurang sedikitpun justru semakin bertambah. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bukan karena Kim tidak bisa menyetir dengan kecepatan tinggi, namun karena Kim terlalu menyayangi nyawanya untuk celaka, merasa jika dia tidak berhak mati untuk saat ini. Setidaknya dia harus hidup seribu tahun lagi.
Kim tiba di sebuah perumahan elite yang berderet dari ujung ke ujung. Sebuah tempat dimana memerlukan id khusus untuk memasukinya. Kim kembali melajukan mobilnya begitu portal di buka. Tanpa menunjukan idnyapun, penjaga keamanan sudah hafal di luar kepala siapa gadis ini, yaitu Putri bungsu Tuan Albert dan Nyonya Diana.
Rumah mewah tiga lantai itu mulai terlihat, dengan pagar tinggi yang mengelilingi rumah cukup membuktikan jika kondisi finansial keluarganya cukup baik. Kim tiba di unit enam belas, memasukan mobilnya ke halaman dan segera turun dari mobil. Membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah.
"Kim!!" Ken melambai begitu mengetahui Kim sudah pulang, berlari kecil menuruni anak tangga dan berhenti tepat di depan Kim, kemudian mengulurkan sebuah hp, "ini ponsel baru buat lo! Gue beli jauh jauh ke Singapura spesial untuk hadiah kelulusan terindah dari gue. Kalo lo tau diri, harusnya lo ngasih gue pelukan, kalo gak ya minimal ucapan makasih, atau kalo ikhlas, nyariin cewek buat gue juga boleh." Ucap Ken dengan satu tarikan nafas.
Kim segera menerima hp itu tanpa ragu. Melihat sebuah hp bermerk di genggamannya, membuat matanya berbinar terang. Tidak lagi memperdulikan ucapan panjang Ken yang tidak bermanfaat. Sangat bahagia saat hp yang sangat di inginkannya akhirnya bisa di miliki tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Apa lagi jika mengingat Hp ini belum masuk di Indonesia karena produk ini baru saja launching di Singapura beberapa saat yang lalu membuatnya tidak bisa berkata kata lagi, "thanks banget, Kak." Kim memeluk Ken erat, "sumpah lo baik banget sama gue."
Ken membalas pelukan Kim, "gue seneng lo udah lulus sekarang, lo udah gede dan bukan putih abu lagi," ucap Ken seraya menepuk pelan punggung Kim. Merasa bangga atas pencapaian Kim sejauh ini.
Kim melepaskan pelukannya, "iya dong, Kak. Gue udah gede sekarang, so, stop calling me kid, okey??"
Ken menyeret Kim untuk duduk di sofa, "iyain deh biar cepet. By the way.. kenapa semalam lo gak balik??" Tanya Ken penasaran. Merasa aneh dengan sikap adik perempuannya ini. Bagaimanapun, Kim bukan tipe wanita yang akan keluyuran sampai tidak pulang, kecuali... jika dia mendapat masalah serius sampai dia stres.
Kim meringis, "gue nginep di Rumah Dewi," tidak tau kenapa Ken bisa sangat peka terhadapnya.
"Gue gak nanya lo tidur dimana, tapi gue nanya.. kenapa lo gak balik semalam??" Ken menggenggam erat tangan Kim, mencoba membuat Kim nyaman dengan pembicaraan ini. Sadar jika telapak tangan adiknya terasa dingin, pertanda jika ada sesuatu yang Kim sembunyikan darinya.
"Itu..." Kim menghentikan kalimatnya, merasa ragu. Tidak tau harus memulainya dari mana, dan tidak tau kenapa Ken bisa mengetahui masalah yang tengah menimpanya belakangan ini. Namun dia merasa tidak mempunyai pilihan lain selain berkata jujur kepada Ken. Menutupi masalahnyapun tidak banyak membantu, apa lagi jika Ken bisa menebaknya secara akurat. "Gue... gue sebenernya putus."
Ken tersentak, "APA??? PUTUS???" Suara Ken menggelegar, seakan ada kilat yang menyambar dengan suara keras yang mampu membangunkan beberapa cicak di rumahnya yang tengah tertidur pulas.
"Iya.. lebih tepatnya adalah.. gue di putusin Rick." Kim mulai kesal dengan tingkah kakaknya yang sangat berlebihan. Seakan tidak percaya dengan ucapan jujur yang di katakannya.
Ken melebarkan matanya, "Maksudnya.. cowok itu mutusin lo??" Ken menggoncang tubuh Kim untuk memastikan jika dia tidak salah mendengar atau Kim tidak salah berucap.
Kim mengangguk, "akhirnya lo connect juga sama ucapan gue," Kim menghela nafas lega. Bersyukur karena pada akhirnya Ken mulai nyambung dengan pembicaraan ini. Sangat memaklumi jika Ken mempunyai loading yang cukup lelet. Jika dia adalah 4G, maka Ken adalah 3G, dan jika dia adalah share it, maka Ken adalah bluetooth. Itu adalah perbandingannya, sebelas.. dua ratus lah.. Ken cukup jauh tertinggal.
"Pfttt," Ken menahan tawanya dengan susah payah. Ingin mentertawakan Kim namun takut kualat. Akhirnya dia menahan tawa untuk dirinya sendiri, "sekarang lo jomblo dong??"
Kim merengut, "Ledek terus sampai puas, kualat baru tau rasa."
"Sorry sorry, gue gak ngeledek lo kok?? Sentimen amat sih jadi cewek? Emang kenapa sih dia mutusin lo?" Tanya Ken memulai mode kepo tingkat maksimal.
"Dia mau pindah ke Selandia, dan dia gak bisa LDR." Jawab Kim singkat. Sejujurnya dia malas untuk membahas pria itu lagi. Muak saat harus mengingat perlakuan pria itu saat memutuskannya.
"Cuma karena gak bisa LDR, dia sampai mutusin lo??" Ken mengangkat sebelah alisnya, "gak normal tuh orang. Gak mungkin cuma gak bisa LDR terus minta putus. Ini alasan teraneh yang pernah di lakukan untuk mengakhiri suatu hubungan. Gak masuk akal, gak logis. Seberapa jauh jarak Indonesia Selandia?? Naik pesawat aja cuma sekitar dua belas jam doang. Kurang ajar dia, berani ninggalin adik gue pas lagi sayang sayangnya, apa perlu gue lempar ke jahannam biar dia tau rasa?" Ken mulai menunjukan emosi yang menggunung, "dan lo..." Ken menunjuk Kim tepat di hidungnya, "bikin malu doang, mending kalo lo yang mutusin, lha ini.. lo yang di putusin. Bikin malu nama keluarga. Aib lo."
Tunggu tunggu tunggu.. maksudnya apa ini?? "Kak, bisa gak sih lo simpati dikit sama gue?? Jangan ngehina gue terus?? Gue ini baru putus, gue lagi sedih." Gerutu Kim karena merasa tidak di untungkan dalam hal ini.
"Ini juga termasuk bentuk simpati gue ke lo, Kim!!" Ken berusaha untuk membela diri, tidak terima dengan tuduhan tidak mendasar yang Kim layangkan untuknya.
"Alah.. niat banget emang buat sorak sorai bergembira atas putusnya hubungan percintaan gue!!"
"Mulai deh dramanya. Lo mending dengerin petuah gue deh!! Dia itu cuma mutusin lo kan? Gak bunuh lo?? Lo juga masih hidup sampe sekarang, Kim!! Jadi.. apa yang di permasalahin sih??" Ken mencoba menenangkan Kim, membuat Kim yakin jika ini bukan masalah serius yang harus di pikirkan, "gini ya.. membenci itu tidak harus menyakiti, tapi yang mencintai tidak akan pernah menyakiti orang yang sudah berada di hatinya. Jadi kesimpulannya adalah.. dia gak serius sama lo, kalo dia beneran cinta, dia gak mungkin nyakitin lo. Sejauh ini paham??"
"Lo bener juga sih," Kim berkata dengan lesu, "gue pikir setelah pacaran sama dia selama dua tahun, gue ngerasa kalo gue adalah satu satunya orang yang paling paham sama dia. Tapi.. nyatanya, dua tahun aja masih gak cukup buat gue ngerti dia sepenuhnya."
"Bagus kalo sekarang lo udah sadar. Sifat manusia itu gak bisa konsisten, gak bisa stay dalam satu sisi karena akan berubah saat sesuatu yang tidak terduga mungkin aja terjadi, dan satu hal yang harus lo tau.. yang namanya mengagumi tidak selalu bisa memahami."