KF ~ Makan Malam

941 Words
Berbagai hidangan tersaji di meja makan. Semua makanan adalah menu favorit keluarga Albert, dan makan malam di keluarga ini selalu sama, penuh tawa dan juga kehangatan. "Makan yang banyak, Kim!! Sekarang kamu makin kurus. Liat aja, tubuh kamu tinggal kulit sama tulangnya doang!!" Mami meletakan sewiran ayam pada piring di hadapan Kim seraya melirik tubuh Kim yang di rasa tidak lagi ideal, tampak lebih kurus dari biasanya. Mendengar ini, Kim lantas mengawasi tubuhnya sendiri. Namun rasanya sama saja, tidak ada yang berubah sama sekali. Bahkan, terakhir kali dia menimbang berat badannya juga masih sama, tidak berkurang ataupun bertambah. Mungkin Mami yang sudah berlebihan dalam menilainya. "Siapa bilang aku tambah kurus, Mi?" Kim tidak terima jika di katakan kurus, karena pada nyatanya tubuhnya masih ideal, "berat badan aku juga masih sama kok." "Mami yang bilang lah," ucap Mami santai. Tidak merasa bersalah meski sudah mengatakan kalimat yang membuat Kim down, "Mami cuma ingin kamu makan yang banyak biar sehat." "Iya, Mi. Aku ngerti." Ucap Kim pada akhirnya. Tidak ingin menghabiskan tenaga untuk berdebat dengan penguasa Rumah ini dan mengalah adalah pilihan yang cukup bijak. Papi menoleh ke arah Kim, "Papi denger sesuatu terjadi sama kamu? Kamu putus??" "Ah.." Kim tersentak dan meletakan sendok serta garpu yang di pegangnya secara tiba tiba. Pertanyaan Papi cukup membuatnya gelisah. Namun, jika Papi sudah mengetahui ini, setidaknya dia tidak perlu membicarakan hal ini lebih jauh dengan Papi bukan?? Karena tanpa Kim menjelaskannya, angin yang akan meneruskan dan membawa berita itu selanjutnya, bahkan di pastikan akan lebih cepat dari pengiriman via express. Jadi.. dia tidak rugi apapun. "Papi tau dari mana??" Tidak perlu bertanyapun sebenarnya Kim juga sudah tau siapa orang di balik ini. Siapa lagi jika bukan Ken? Pembuat onar yang hobi membuat hidupnya tidak tenang. "Bocor alus emang," ucap Kim dalam hati seraya menatap tajam Ken. Sementara Ken sibuk mengalihkan pandangannya ke arah lain, seperti menghindari tatapan yang Kim tujukan padanya. Dia dapat melihat gelagat mencurigakan yang Ken tunjukkan, bahkan dia dapat membacanya dengan sangat jelas. Pria itu.. masih tidak mempunyai kualitas dalam urusan berbohong. Jadi.. jangan harap dia akan percaya sekalipun Papi tidak mengatakannya. "Gak penting Papi tau dari mana," Papi mengibaskan tangannya. Berusaha melindungi saksi kunci yang notabennya adalah putranya sendiri. "Papi tau kalo Rick adalah pria yang baik, jujur, sopan, juga sangat cerdas. Tapi... kamu tidak harus menahan seseorang yang sudah tidak cocok dengan kamu." Ucap Papi dengan tenang, berusaha memberikan pengertian kepada Kim jika memaksa seseorang untuk bertahan dalam hubungan yang tidak lagi berlandaskan cinta, hanya akan menyisakan rasa sakit yang tidak berujung. "Kenapa, Pi?? Aku cuma ingin tau alasan Rick yang sebenernya, gak lebih dari itu!! Semua terasa menggantung dan gak ada kejelasan yang bisa membuka pikiran aku," ucap Kim jujur. Karena pada nyatanya.. memang itulah yang mengganjal di pikirannya. Bukan karena dia ingin Rick kembali seperti yang orang lain pikirkan. "Tidak semua yang di lakukan harus ada penjelasannya, Kim, dan ada banyak hal yang tidak bisa di mengerti. Semua pertanyaan dan keraguan kamu, pasti akan terjawab jika masanya sudah datang." Papi berkata dengan bijak. Sementara Ken dan Mami turut menyimak ucapan Papi dengan seksama. Kim diam, masih tidak mengerti apa maksud Papi yang sebenarnya. Kemudian Kim menatap Ken, mencoba bertanya melalui isyarat mata yang berarti "why?" namun Ken hanya menggelengkan kepala pertanda jika Ken juga tidak tau. "Sudah Kim, gak perlu di pikirkan!!" Ucap Papi seakan mengerti kegalauan putrinya, "Papi gak ada maksud apapun, Papi hanya ingin agar kamu tidak berkecil hati. Mungkin.. Rick memang bukan jodoh kamu dan bukan yang terbaik buat kamu." Kim mengangguk, "iya, Pi, aku tau. Lagian aku juga udah gede, jadi.. putus cinta bukan lagi hal keramat di saat umur aku hampir delapan belas tahun," Kim tersenyum simpul, berharap Papi tidak lagi mengkhawatirkannya. "Gadis baik, itu baru Putri Papi," ucap Papi bangga, merasa jika Kim sudah tumbuh dewasa. "Karena sekarang kamu udah jomblo, gimana kalo Papi kenalin kamu sama anak teman Papi?? Kamu tenang aja, anak Om Prayoga itu ganteng, berpendidikan, mapan dan juga berkepribadian baik, dia akan menjadi kandidat paling cocok untuk calon mantu Papi." Kim melebarkan matanya, "hah? Calon Mantu?? Tunggu tunggu tunggu... jangan bilang kalo Papi mau jodohin aku??" Papi meringis, "iya.. Papi emang mau jodohin kamu, apa kamu keberatan? Jangan tolak kemauan Papi, pokoknya kamu harus nurut!! Kalo enggak nurut, Papi sumpahin kamu jadi batu!!" Papi berkata tegas, sangat berharap Kim tidak akan menolak perjodohan ini. "Tapi.. Pi, aku gak mau!!" Kim menolak tegas perjodohan ini. Perjodohan? Kata laknat yang dia harap tidak akan pernah ada di dunia ini. Bagaimanapun ini dua ribu dua puluh, bukan zaman Siti Nurbaya saat anak gadis harus menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Ini konyol. Tidak masuk akal. Menerima bukanlah pilihan yang baik, mungkin cenderung seperti membeli kucing dalam karung. Tidak ada yang pasti, hanya sepenuhnya mengandalkan keberuntungan. "Aku masih laku dan belum kadaluarsa, Pi. Aku bisa nyari jodoh aku sendiri tanpa Papi harus ikut campur!! Gimana kalo jodoh pilihan Papi itu bukan orang kaya?? Papi tega liat aku hidup susah??" Kim menggelengkan kepalanya, "gak, Pi, pokoknya.. aku mau kuliah, dan gak mau nikah, titik!!" "Siapa yang nyuruh kamu nikah sih?? Papi cuma ingin kamu kenalan dulu sama anak Om Prayoga, di jalanin dulu, bisa lanjut kalo kalian cocok satu sama lain. Keputusan akhir tetap di tangan kamu," Papi mencoba menjelaskan maksudnya yang sebenarnya. Bukan menyeret Kim secara paksa untuk di nikahkan seperti yang Kim pikirkan, "tapi.. kalo kamu nikahnya sama anak Om Prayoga, Papi jamin.. kamu gak akan hidup susah." Papi membayangkan jika rencananya berjalan mulus, Kim tidak menolak dan mereka cocok satu sama lain. Tentu.. Papi akan sangat bahagia, mantu yang baik dan bertanggungjawab adalah poin utama, sementara kaya adalah bonus. "PAPPIIII...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD