KF ~ Kegelisahan

1009 Words
Siluet ramping itu tampak tengah berdiri di balkon kamarnya. Dengan semilir angin malam yang menerbangkan rambut panjangnya hingga berkelebat dan tidak lagi beraturan, membuat tampilannya semakin cantik dengan sinar bulan yang menyinari wajahnya. Juga gaun malam yang berkibar mengikuti arah angin semakin menonjolkan bentuk tubuh Kim yang indah. Kim berdiri di tempat yang sama untuk waktu yang lama. Memikirkan tentang banyak hal. Saat dia berusaha sekuat tenaga untuk menghindari badai, namun apalah daya saat badai justru datang tepat di hadapannya. Hingga hasil akhirnya adalah hati dan pikirannya saling berdebat satu sama lain. Hatinya berkata dengan tegas jika semua baik baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Namun pikirannya juga bersuara lantang jika ada sesuatu yang salah di sini. Kim bimbang dengan perasaannya sendiri. Mencoba menenangkan diri. Namun yang namanya perasaan akan selalu berkata jujur dan sama sekali tidak bisa di bohongi. Kim menghela nafas panjang, only what world, why and how are milling about in his brain? Apa yang sebenarnya terjadi?? Semakin di pikirkan, semakin membuatnya gelisah. Kim berjalan dengan lunglai ke ranjang, membaringkan tubuhnya. Kemudian meraih sebuah hp yang tergeletak di atas nakas. Terlihat dua notifikasi di instagramnya. Dua pembaruan dengan dua waktu yang berbeda, dan dua foto dengan dua caption yang berbeda pula. Meski enggan untuk melihatnya, namun Kim tetap membukanya pada akhirnya, karena saat rasa penasaran lebih tinggi dari perasaan benci, secara otomatis mampu membuatnya menekan hpnya tanpa sadar. Foto pertama yang Kim lihat adalah gambar punggung seorang pria berlatar belakang Bandara. Foto yang di unggah dua jam yang lalu ini jelas menunjukan jika Rick akan melakukan penerbangannya ke Selandia Baru. Kim membaca caption di bawahnya yang bertuliskan MESKI MENINGGALKAN NAMUN TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKAN. Kim tersenyum simpul setelah membaca rangkaian kata kata indah ini, membentuk sebuah kalimat yang cukup membuatnya yakin jika caption itu di tujukan untuknya. Hal kecil yang mampu membuatnya sangat bahagia. Pertanda jika Rick juga masih menyimpan perasaan untuknya meski hanya secuil. Kemudian Kim membuka foto ke dua tanpa ragu, sebuah foto lama yang di unggah kembali. Gambar yang tampak sangat akrab. Dia bahkan dapat mengetahui dengan jelas sosok yang berada di dalam gambar. Foto sepasang remaja yang tengah menikmati senja di atap sebuah gedung yang menampilkan rona kebahagiaan dari pasangan itu sukses mencuri perhatiannya. Namun.. fokusnya tidak berada di gambar, karena poin utamanya terletak di caption yang Rick lampirkan di bawahnya, yaitu.. BAGAIMANAPUN DARAH MASIH SEKENTAL DARAH, DAN AIR AKAN SECAIR AIR. Kim melebarkan matanya, bagaimana bisa Rick menulis kalimat ini di antara fotonya dan Rick?? Kim mengerutkan alis dengan heran, tidak tau apa artinya ini. Mencoba bertanya pada dirinya sendiri, namun, dia tidak berhasil menemukan jawaban apapun. ------• --• Dua hari kemudian di kamar Kim. "Gimana gimana?? Sukses??" Nada menerobos masuk ke kamar Kim tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dengan Dewi yang mengikuti di belakangnya. Kim terdiam. Dia sendiri masih bingung dengan pertanyaan seperti ini. Karena pada nyatanya, dia masih belum bisa melupakan Rick dari pikirannya. "Diamnya lo udah jadi jawaban, Kim. Lo gak perlu jelasin apapun lagi, gue ngerti kok kalo semua harus pelan pelan, apa lagi kalo liat sifat lo yang dikit dikit bawa perasaan," ucap Nada setelah melihat Kim tidak menjawab, merasa geram dengan gadis yang satu ini, "tapi.. satu hal yang harus lo inget.. dia udah buang lo." Kim menelan ludah dengan susah patah, perkataan Nada tepat mengenai bagian terdalam di hatinya, langsung menusuk pada titik paling sensitive di dalam sana. "Kalo lo tanya, gue masih sayang apa enggak, maka jawaban gue adalah iya. Tapi kalo lo nanya, gue masih mengharap dia kembali apa enggak, maka gue angkat tangan. Gue nyerah.. karena gue gak pernah ngarepin dia lagi sejak dia mutusin buat ninggalin gue." Ucap Kim dengan tegas. Mencoba membuat Nada yakin jika dia tidak lagi mengharap Rick seperti yang selama ini Nada pikirkan. "Kenapa??" Dewi angkat bicara, dengan suara lirih yang nyaris tidak terdengar. Membenci situasi tegang seperti ini. "Karena gue gak bisa menjalani hubungan yang udah terlanjur pecah. Sekali pecah, nggak akan bisa utuh lagi. Mau di pakein lem apapun, sekalipun bisa utuh lagi, tetap akan meninggalkan goresan yang gak akan bisa ilang." Jawab Kim sendu. Tampak sedih karena sampai detik ini b******n itu masih berkeliaran dengan bebas di hatinya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sementara Kim harus menjalani hari yang suram karena di tinggalkan oleh seorang pria dengan hati yang tercambik. Dewi dan Nada diam, tidak tau harus berkata apa. Merasa iba saat di hadapkan dengan tampang menyedihkan Kim. Sangat sadar jika Kim hanya membutuhkan dukungan untuk saat ini, bukan kalimat sarkas yang justru bisa semakin memojokkannya. Dukungan agar Kim bisa bangkit dari keterpurukannya, dukungan agar Kim bisa melangkah ke depan tanpa menengok lagi ke belakang, dan dukungan agar Kim dapat melupakan pria itu dan secepatnya menemukan pengganti yang seribu kali lebih baik. Nada menepuk pelan bahu Kim, "udahlah, Kim. Mencintai itu boleh, tapi tetap harus di imbangi dengan anti gores yang tebal biar bisa melindungi dan menjaga hati dari kejadian yang saat ini lo alami, biar lo gak makan hati kalo di tinggal pas lagi sayang sayangnya." Adalah kata yang Nada ucapkan dengan tulus. Tidak ingin Kim mengalami hal yang serupa, dan tidak ingin Kim jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kim mengangguk. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukan kesedihannya. Juga tidak ingin membuat ke dua sahabatnya semakin khawatir jika melihat kondisi terpuruknya. "Mending lo secepatnya nyari pengganti Rick deh!!" Dewi mencoba mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta. Tidak ingin berada dalam situasi ini lebih lama lagi. Namun siapa sangka jika selorohnya justru di balas anggukan oleh Nada. Seakan Nada sangat menyetujui ucapan Dewi untuk Kim segera mencari pacar baru. Karena menurutnya pria baru adalah senjata paling ampuh untuk melupakan pria lama yang pernah singgah dengan instan. "Gue juga mau, Wi. Tapi... gue gak bisa..." sejujurnya Kim malu untuk mengatakan ini. Bagaimanapun perjodohan adalah hal kuno yang pasti akan membuat Dewi dan Nada tertawa terbahak dan pasti akan mengejeknya habis habisan. "Gue... udah di jodohin." Nada dan Dewi terkejut bukan main saat mendengar kata DI JODOHKAN, mereka bahkan hampir menjatuhkan rahang mereka, "what the f**k!! Lo di jodohin???"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD