KF ~ Kehilangan

935 Words
Akhirnya pesawat yang di tumpangi Rick lepas landas. Menggunakan pesawat Singapore Airlines rute Jakarta-Selandia Baru dengan transit di Singapura telah menyita banyak waktunya. Namun dia bisa menarik nafas lega saat bisa duduk dengan nyaman di dalam pesawat sekarang. Rick melihat ke jendela. Mengamati suasana gelap di luar sana. Kegelapan adalah gambaran paling nyata untuk kondisi hatinya saat ini. Seberkas bayangan kembali memenuhi penglihatannya. Wajah itu.. paras cantik yang selalu dia rindukan sepanjang waktu, paras cantik yang telah mengalihkan dunianya, juga paras cantik yang selalu berada di dalam hatinya telah memaksanya untuk mengambil keputusan besar dengan seribu konsekuensi. Salah satu konsekuensinya adalah kehilangan gadis itu. Rick tersenyum getir. Saat dia bahkan tidak bisa memiliki gadis yang sangat dia cintai, lalu apa artinya kehidupan ini?? Kehidupan terasa kosong tanpa keindahan itu. Hati.. jiwa dan raganya hanyalah untuk gadis itu seorang, lalu bagaimana mungkin dia bisa terbang dan mencari cinta yang lain di saat sayapnya telah patah?? Betapapun hati yang telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan mampu membuat gadis itu justru semakin berdiri dengan kokoh di dalam hatinya. Tidak goyah meski Rick sudah menghapusnya sampai ribuan kali. "Sekarang.. gue udah kehilangan lo, Kim." Ucap Rick dalam hati. Merasa sakit saat melihat gadis itu menangis kala dia mengatakan kata putus malam itu. Tapi.. percayalah, rasa sakit karena tidak bisa menghapus air mata Kim meski dia berada di sampingnya adalah rasa sakit abadi yang bahkan masih terasa sampai sekarang. Kembali teringat awal perkenalan mereka tiga tahun yang lalu, dan sejak saat itu pula dia mengagumi gadis itu dalam diam, hingga rasa kagum itu perlahan mulai berubah. Dia bahkan tidak tau pasti kapan perasaan cinta itu hadir. Rick tersenyum masam saat mengingat itu. Kenangan itu akan tetap sama, hanya saja waktu yang akan berubah dengan suasana yang berbeda. Cukup!! Rick berusaha untuk menghentikan argumen konyol di dalam hatinya. Tidak ingin jatuh terlalu dalam, tapi sayangnya itu sudah terlambat. "Are you okey?" Adalah suara seorang pria yang menepuk bahu Rick. Mencoba memastikan jika Rick baik baik saja. Meski dia sendiri sangat mengetahui jika Rick tengah patah hati, namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain mencoba menghiburnya. Rick tersentak, suara laknat itu telah membuyarkan lamunannya. Namun Rick mengangguk pada akhirnya, "gue baik, gak ada masalah," Rick kembali membuang pandangannya setelah menoleh sekilas ke arah Ares. Tidak ingin menunjukkan ketidakberdayaannya di depan pria menyebalkan itu. "Tapi.. menurut penerawangan gue..." Ares mengusap dagunya, mengawasi Rick seakan tengah membaca aura Rick layaknya seorang paranormal, "kondisi hati lo lagi gak baik deh. Apa perlu gue siapin gadis panas buat lo menghibur diri begitu kita sampai di Selandia??" Ucap Ares tanpa rasa bersalah sedikitpun. "b**o lo!!" Rick meninju lengan Ares. Merasa geram dengan tingkah laku Ares yang sudah sangat berlebihan. Tidak tau kenapa dia bisa berteman dengan pria gila seperti ini? Mungkin otaknya bergeser satu inci saat itu. "Baku hantam aja yuk lah!! Kesel gue sama lo. " Ucap Ares mengusap lengan yang terkena tinju dari Rick, "lagian.. lo bengong terus dari tadi. Ya kali.. lo perlu pelepasan." Ares meringis. Merasa bersalah karena rem mulutnya tidak berfungsi hingga mulutnya tidak bisa di ajak kompromi. "Res, lo gak tau sih gimana rasanya jadi gue," Rick menghela nafas panjang, "gue kehilangan dua orang dalam satu waktu. Kehilangan Mami, kemudian kehilangan Kim adalah dua hal yang gak pernah ada di dalam daftar keinginan gue." Suara Rick terdengar parau. Merasa sedih atas meninggalnya Mami yang mendadak, juga alasan terbesar kenapa Rick meninggalkan Jakarta saat ini. Rick juga terpaksa mempercepat penerbangannya menjadi lebih awal dari jadwal yang sebenarnya. Ares bahkan turut bersusah payah membantunya membuat pasport palsu lantaran pasport aslinya di bekukan oleh Bea Cukai karena pernah menjadi imigran gelap. "Udahlah, Rick. Gue juga tau kalo lo gak pernah mau kehilangan siapapun. Entah itu Mami ataupun Kim, gue tau persis gimana rasanya kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidup lo. Sakit... banget. Tapi satu hal yang harus lo tau.. lo juga harus hidup.." Ares menjeda kalimatnya sesaat. Untuk pertama kalinya dia merasa berguna karena telah memberikan kalimat bermakna kepada Rick. Dia sendiri juga tidak tau kenapa kata kata itu mendadak muncul di dalam otaknya, "dan harus bahagia dengan jalan kehidupan yang udah di garisin Tuhan buat lo." Rick bungkam. Masih bergerilya dengan pemikirannya sendiri. Memikirkan ucapan Ares di satu sisi, namun mencoba memungkiri pada sisi yang lainnya. Meski telah mengkhianati hati kecilnya, namun dia tidak merasa pernah melakukannya. Karena bagaimanapun itu semua terjadi di luar kendalinya, di tambah keadaan yang juga sudah memaksanya. "Percaya deh sama gue," ucap Ares setelah melihat Rick masih diam, sama sekali tidak menanggapi ucapannya, "saat kebenaran udah di depan mata, gak ada lagi yang bisa di lakukan selain menerima. Semua udah terjadi. Better late than never, lebih baik terlambat dari pada gak sama sekali. Lo bisa ambil hikmahnya, salah satunya adalah lo jadi tau posisi lo!! Posisi dimana lo gak pantes buat Kim!! Paham!" Ares mencoba menberikan pengertian pada Rick. Tidak ingin Rick berlarut larut dalam kesedihan karena kehilangan gadis dan juga Maminya. Rick menatap Ares dengan tatapan sayu. Membenci ucapan Ares yang berkata seenak jidatnya tanpa memikirkan perasaannya. Sebuah perkataan yang tidak sesuai kenyataan adalah suatu hal yang membuat hati Rick tercabik cabik. Karena pada nyatanya, dia cukup sadar diri dengan posisinya sehingga dia rela melepas Kim meski dia sendiri enggan. "Gue juga ninggalin Kim karena gue sadar banget sama posisi gue, Res!!" Ucapnya penuh penekanan. "Stop bikin hati gue tambah kalut. Cukup sakit saat gue tau Mami meregang nyawa saat melawan sakitnya di sana sendirian tanpa gue!! Berat banget hidup yang harus gue jalanin sekarang!! Gue gak mau bahas Kim lagi!! Gue capek mau tidur!!" Ucap Rick sebelum memasang earphone dan segera memejamkan matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD