KF ~ Kasih Sayang

1020 Words
Matahari mulai meninggi. Sementara Kim masih bergeliat manja di atas tempat tidurnya. Menjalani hari yang buruk belakangan ini telah membuatnya tidak memiliki kualitas tidur yang baik. Di tambah mimpi buruk tentang nasib percintaannya yang kandas, semakin membuatnya enggan untuk memejamkan mata. Takut adalah kata yang paling tepat? Namun apa yang sebenarnya dia takutkan? Bukankah semua juga sudah terjadi, dan bukan lagi sekedar mimpi? Bahkan sangat menyakitkan saat mimpi seperti kenyataan dan kenyataan justru seperti mimpi. Bagaimanapun, sesuatu yang terjadi secara mendadak, telah membuatnya kehilangan akal sehat, tidak bisa membedakan dimana dunia tempatnya berpijak dan dimana dunia tempatnya bermimpi. Kim membuka matanya dengan malas. Mendudukkan diri, kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Tidak tau apa yang membuatnya tidur sangat nyenyak malam ini. Tidak seperti malam malam kemarin dimana hanya ada bayangan Rick yang menghantui dalam mimpi mimpinya, kini justru berganti dengan sosok misterius yang di gadang gadang akan menjadi calon imamnya nanti. Iya.. meski dia sendiri tidak mengetahui secara pasti sosok yang akan di jodohkan dengannya, namun tidak ada yang mustahil di dunia ini. Berdasarkan mimpinya, pria itu sangat tampan dengan tubuh yang kekar. Dia hanya bisa berharap agar anak Om Prayoga memang seperti itu bentuknya. Banyak hal yang sampai sekarang masih menjadi rahasia. Namun.. Kim terlalu lelah untuk memikirkannya. Bagaimanapun dia harus tetap hidup dan kembali melanjutkan hidupnya. Entah ada atau tidaknya Rick, tetap tidak ada yang berubah, Kim akan selalu Kim dan tetap akan menjadi Kim meski apapun yang terjadi. Tidak ada yang bisa mengubah fakta jika hidup selalu berputar, dan ini sudah terlalu jauh untuk kembali ataupun berbalik arah karena garis finish sudah di depan mata. Kembali ke awal lagi tentu akan memperlambat semuanya. Sementara konsekuensinya adalah membutuhkan waktu lebih lama dari pada melanjutkan. Jadi secara teknis adalah tidak ada pilihan lain selain menjalaninya. Ibarat seorang gamer telah berhasil mencapai level tinggi dalam sebuah permainan, telah mengupgrade semua tokoh beserta senjatanya, juga telah mengumpulkan banyak koin dengan susah payah. Namun seorang hacker tiba tiba mengambil alih jalannya permainan, tidak hanya merebut paksa, tapi hacker itu juga mengacaukan jalannya permainan, dan parahnya, si hacker tidak dapat mencapai akhir permainan dengan mencapai finish dan memenangkannya, namun justru meninggalkan begitu saja dalam keadaan kacau balau. Jika sudah seperti itu, maka hanya ada dua pilihan yang tersisa, yaitu opsi pertama adalah menghapus dan mendownload ulang game atau opsi kedua melanjutkan game dengan menata ulang dan memperbaiki kekacauan dengan proses yang lebih rumit?? Kedua pilihan itu tentu mengandung tingkat kerumitan yang sama, tergantung dari mana sudut pandang kita melihatnya. Namun untuk Kim pribadi, itu bukanlah suatu masalah, karena dia tetap akan memilih untuk melanjutkan hidup dengan menenggelamkan Rick ke Samudra terdalam di dunia. Hingga bayangannya bahkan tidak akan bisa muncul lagi ke permukaan dan menghantuinya lagi. Mungkin itu sebanding dengan harga mahal yang harus di tebus untuk sebuah kata, yaitu KEBAHAGIAAN. "Kim, lo udah bangun??" Suara seorang pria telah membuyarkan lamunan Kim. Menoleh ke arah sumber suara dimana Ken sudah menerobos masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Namun fokus Kim bukan pada wajah tampan kakaknya, namun pada sebuah nampan yang di bawa Ken. Ken meletakan nampan di atas meja, kemudian meletakan telapak tangannya pada dahi Kim, memastikan jika suhu tubuh Kim normal dan tidak sakit. Ken menganggukan kepala setelah di rasa Kim sehat dengan suhu tubuh normal. "Ini sarapan buat lo!!." Ken menunjuk sepiring nasi goreng dengan segelas s**u di atas nampan," gue tunggu setengah jam lagi di bawah!!" Ucap Ken sebelum keluar dari kamar Kim. Kim melongo, "apa apaan ini??" Merasa kesal namun tetap beranjak ke kamar mandi dengan tersungut sungut. ------• --• "Kak, lo mau ajak gue kemana sih??" Suara Kim memecah keheningan di dalam mobil. Memandang jalanan ramai Ibu Kota, dan sesekali akan menoleh arah Ken yang tengah fokus menyetir. Penasaran kemana Ken akan membawanya di siang bolong begini. Dia hanya bisa berdoa agar dia tidak akan mendapatkan masalah kali ini. "Coffeshop temen gue," ucap Ken tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari jalanan di depannya, "dari pada lo gabut di rumah, jadi.. gue ngajak lo aja. Anggap aja ini bentuk belasungkawa gue buat lo." Kim tersenyum simpul mendengar ini. Meskipun perkataan Ken mengandung makna nyinyiran, namun Kim merasa bahagia karena ada seorang pria yang masih peduli dan sangat menyayanginya. Ken menoleh ke arah Kim yang hanya tersenyum dan tidak menanggapi, "Idih.. malah senyum senyum gak jelas? Kesambet ya??" Lo sih pake acara gak mau dengerin nasehat gue segala!! Gini kan akibatnya!!" Berkata dengan kekesalan palsu untuk mendramatisir keadaan. Ah.. Kim tersentak. Sejak kapan Ken percaya dengan yang namanya hantu dan makhluk halus? Juga melupakan nasehat Ken yang jika di catat mungkin akan menghabiskan seratus lembar kertas HVS. "Nasehat apa sih, Kak?? Gue aja lupa saking banyaknya," ucap Kim santai. "Nomor dua tiga, yang isinya gak boleh keluyuran sampai larut malam," Ken menjeda kalimatnya, "ini juga demi kebaikan lo, Kim. Lo gak tau sih kalo pohon gede di depan kompleks itu ada penghuninya." Ucap Ken dengan nada suara yang di buat seram, mencoba menakut nakuti Kim dengan harapan agar Kim tidak lagi pulang larut malam meskipun itu hanya ke rumah Nada ataupun Dewi. Semua juga demi kebaikan Kim. Kim melebarkan matanya, antara percaya dan tidak percaya. Setengah takut hantu, namun setengahnya lagi menolak keras mitos mitos itu. "Seriously? Sejak kapan sih lo percaya sama demit dan makhluk halus??" Meski Kim tetap takut pada akhirnya, namun dia tidak ingin menunjukan ketakutan itu di depan Ken. Menghindari tindasan yang mungkin akan Ken lakukan di kemudian hari. "Sejak lo suka senyum senyum sendiri!! Itu tanda tanda lo udah kesamber setan. Lo harus dengerin gue, pokoknya lo harus hati hati mulai dari sekarang sama Tuyul penghuni pohon gede di sepanjang jalanan kompleks." Ken berkata dengan serius. Seakan semua kata yang dia ucapan seratus persen terbukti kevalidannya. "Sorry ya Kak, tapi setau gue penghuni pohon itu Kunti Kak, bukan Tuyul," Kim menunjukan wajah tanpa dosanya. Merasa jika ucapan Ken cukup bias. Lagi pula, sejak kapan Tuyul menjadi penghuni pohon? Bukannya penghuni pohon yang resmi adalah Kunti?? Dengan membayangkan ini saja sudah cukup membuat Kim yakin jika ucapan Ken setengahnya hanya gurauan. Ken mengibaskan tangannya, "sama aja, Kim. Masih sejenis hantu berarti mereka masih satu keluarga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD