Coffeshop bergaya kekinian ini sukses mencuri perhatian Kim saat ini. Sebuah cafe berdesign sederhana yang cukup menunjukan jika pemiliknya adalah seorang anak muda yang mungkin salah satu teman Ken. Pasti.. dia yakin itu, dan sebenarnya ini juga tidak buruk. Hanya saja dia merasa tidak nyaman saat berada di sini. Entah apa masalahnya, dia juga tidak tau. Merasa gelisah meskipun Ken berada di sisinya. Ada apa ini?? Kenapa ini membuatnya takut?
Kim mencoba menepis ketakutan itu. Tidak ingin berlarut larut dalam ketidak pastian perasaannya. Satu hal yang pasti adalah Ken tidak mungkin melakukan hal konyol yang tidak dia sukai, jadi tidak ada yang harus di khawatirkan.
Dengan percaya diri, Kim menggandeng lengan Ken memasuki cafe, berjalan santai menuju ruang private di lantai dua. Tidak tau siapa yang berada di dalam. Karena Ken hanya mengatakan jika itu adalah teman teman kuliahnya. Setidaknya.. itu tidak akan membosankan. Karena pepatah pernah mengatakan dimana ada anak muda, maka di situ pula ada kesenangan. Bukankah itu bagus?? Suatu perkembangan dimana anak muda bisa berbaur dan bercerita tentang banyak hal. Tidak ada kesedihan dan tidak ada air mata, hanya ada kebahagiaan, kebahagiaan, dan kebahagiaan tentunya.
Ken membuka pintu, tampak sebuah ruangan yang luas dan rapi tersaji di depan mata. Tema yang di pilih juga cukup lembut, dengan warna cokelat dan cream yang mendominasi membuatnya nyaman untuk berlama lama di sini. Ruangan yang cukup santai untuk sekedar mengerjakan tugas kelompok ataupun berbincang ringan tentang pekerjaan. Dan yang paling menonjol di sini adalah sebuah meja billiard yang terletak di bagian tengah ruangan. Juga tampak beberapa cangkir kopi tergeletak di atas meja panjang dengan beberapa makanan ringan yang mendampinginya. Sangat jelas jika pemilik cangkir telah menunggu cukup lama di sini.
Semua orang tampak sibuk dengan aktifitasnya masing masing. Ada beberapa yang tidak mengalihkan pandangan dari hp ataupun laptop, dan ada juga yang sibuk bercengkrama satu sama lain tanpa berniat untuk menyambut kedatangan Ken.
"Lo telat dua puluh menit!! Good job!!" Adalah suara seorang wanita seraya melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Ken. "Kenapa? Macet? Pake alesan lain dong biar kreatif!!" Nada sarkas yang terdengar kesal karena Ken datang terlambat.
Ken meringis. Merasa bersalah karena telah membuat teman temannya menunggu lama. "Gue emang gak kena macet kok, jadi gue gak akan pake alesan itu. Lagian gue telat karena nunggu dia." Ucap Ken seraya melirik Kim. Seakan membela dirinya sendiri dengan menumbalkan Kim sebagai gantinya. Meski pada nyatanya, dia terlambat memang karena menunggu Kim.
Semua orang lantas menoleh ke arah Kim dengan tatapan penuh tanya. Mengawasi Kim lekat. Berpikir jika gadis ini mungkin saja kekasih Ken. Bagaimanapun mereka sangat cocok satu sama lain. Yang satu tampan dan yang satu cantik. Akan menjadi kandidat pasangan kekasih paling romantis di tahun dua ribu dua puluh. Setidaknya.. itulah yang mereka pikirkan.
Kim tersentak. Merasa di kambing hitamkan di sini. Dia bahkan tidak menyangka jika Ken tega melakukan ini padanya. Meski kenyataannya memang seperti itu, tapi tidak bisakah Ken sedikit sungkan dengan menjaga nama baik adiknya? "Aish.. pria ini nyari mati ya!!" Rutuk Kim dalam hati. Mengutuk Ken sampai ratusan kali dalam hatinya. Namun dia berusaha untuk tetap mengandalkan gaya cool andalannya untuk menutupi rasa malu yang telah Ken sebabkan.
"Wuih.. siapa Ken??" Tanya salah seorang wanita pada akhirnya. Penasaran dengan gadis cantik yang Ken bawa.
"Dia.. adek gue." Jawab Ken singkat. Merasa bangga dengan adik kecilnya yang mampu mencuri perhatian teman temannya dengan paras cantik yang Kim miliki.
"What the hell!!! Adek???" Ucap beberapa orang tidak percaya. Mereka bahkan melebarkan mata, mengawasi Kim dan Ken secara bergantian. Seperti tengah mencari kemiripan mereka berdua.
Ken mengangguk. Mengiyakan pertanyaan konyol teman temannya yang masih tidak percaya jika Ken memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik. Ken berinisiatif untuk memperkenalkan satu persatu teman temannya kepada Kim, agar mereka bisa akrab satu sama lain tanpa ada kecanggungan. "Itu yang rambut pendek, namanya Dinar. Yang rambut panjang, Niken. Terus.. itu Daniel, dan lo udah kenal sama Daniel. Di sebelah Daniel namanya Tomy, dan terakhir.. lo udah kenal juga, dia Sam." Ken menunjuk teman temannya secara bergantian yang memang duduk berderet di sebuah sofa panjang yang mengitari meja.
Kim mengangguk, meski merasa risih karena ada sepasang mata yang sepertinya terus mengawasi gerak geriknya, namun dia mencoba bersikap biasa. Tidak ingin canggung dengan teman teman kakaknya. "Hallo semuanya.. gue Kim, Kimberly Florist, adeknya Ken." Ucap Kim ramah dengan sebuah senyum yang tersungging dari bibirnya.
"Hallo juga Kim, salken ya??" Ucap Dinar, Niken dan Tomy secara serempak. "Semoga kita jodoh. Kalo ada waktu, boleh dong kita nonton ke Bioskop??" Tomy menambahkan dengan senyum maut yang mengembang.
"Alah.. jangan percaya sama iguana Korea, Kim. Tampol aja wajahnya," Niken meremehkan ucapan Tomy. Seakan bosan dengan kalimat yang sudah dua ratus dua puluh tiga kalinya Tomy ucapkan kepada semua wanita yang pernah di jumpainya. "Rayuan lo kagak natural, Tom. Sumpah demi apa.. gue mual dengernya."
Mendengar ini, Tomy hanya merengut, dan tidak berniat untuk menanggapi. Tomy justru menoleh ke arah Ken, "Adek lo cakep ya Ken?? Siapa tau gue jadi kandidat paling cocok buat jadi adik ipar lo." Meski setengahnya hanya bercanda, namun jika Ken menganggap ini dengan serius, Tomy tidak keberatan sama sekali untuk menerima rezeki dari Tuhan. Anggap saja sebagai rezeki anak sholeh.
Daniel meninju lengan Tomy yang memang duduk di sebelahnya. "Udah Kim, lewatin aja. Gak guna banget dia jadi cowok. Gak ada manfaatnya buat lo," mengatakan hal ini karena Daniel geram dengan sifat Tomy yang gampangan. Gemar merayu banyak wanita namun tidak menjalin hubungan apapun dengan mereka sebagai hasilnya. Daniel menyebutnya dengan pembawa sial karena hanya membuat malu bangsa pria.
"k*****t lo, anying!!" Umpat Tomy seraya memegang lengan bekas tinju Daniel. Meski tidak sakit, namun Tomy mengendalikan situasi untuk mencari perhatian Kim.
"Jangan dengerin Tomy!!" Sam yang biasanya bungkam, mendadak mengeluarkan suara. Memasukan hpnya ke dalam saku dan menepuk sofa di sebelahnya, meminta agar Kim duduk saja di sini, di sampingnya. Berharap banyak jika gadis itu tidak menolak niat baiknya. Meski Sam sedikit terkejut melihat kedatangan Kim di sini, namun Sam tidak memungkiri jika dia sangat bahagia melihat gadis itu. Semakin bertambah cantik dengan tampilan casual yang membuat Kim terlihat santai namun juga dewasa. "Udah.. duduk di sebelah gue aja, sini!! Gue maksa!!"