bc

Gairah Terlarang Wanita yang Sudah Menikah

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
love-triangle
HE
kickass heroine
heir/heiress
drama
serious
city
affair
like
intro-logo
Blurb

"Elena mengira kemewahan sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Dia salah." Di mata dunia, Elena memiliki segalanya. Tetapi di balik kemewahan itu, dia merasa terjebak dalam rutinitas yang hampa. Suaminya yang sangat sibuk sering membuatnya merasa sendirian di tengah keramaian. Hingga akhirnya dia bertemu Adrian. Adrian adalah seorang seniman yang memahami kerinduan Elena akan kebebasan dan ekspresi diri. Kehadirannya membawa warna baru pada kehidupan Elena yang monoton. Persahabatan mereka mulai mengguncang prinsip-prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Elena. Sekarang Elena berada di persimpangan jalan. Haruskah dia terus berpegang teguh pada kehidupan yang stabil tetapi kesepian, atau berani mengambil risiko untuk menemukan kembali identitasnya?

#CintaTerlarang #RomansaPanas #CintaSegitiga #KebangkitanEmosional #OrangKetiga #Perselingkuhan #PenemuanDiri #Mature

chap-preview
Free preview
BAB 1: Tempat Tidur yang Dingin
Gincu merah menyala itu terpoles sempurna di bibir Elena. Di depan cermin besar kamarnya, dia menatap pantulan dirinya sendiri. Gaun satin hitam berpotongan backless yang dia kenakan malam ini sangat pas menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah, melekat erat seperti kulit kedua yang membungkus keanggunannya. Rambut hitam panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai leher jenjangnya. Penampilannya benar-benar tanpa cela, perpaduan antara kemewahan kelas atas dan sensualitas yang berkelas. Malam ini bukan sekadar malam biasa. Malam ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang kelima. Sebuah angka yang seharusnya dirayakan dengan kehangatan dan tawa. Elena sudah memesan meja di restoran fine dining terbaik di pusat kota. Dia telah mempersiapkan segalanya dengan detail yang sangat matang. Jauh di lubuk hatinya, Elena ingin malam ini menjadi momen krusial untuk menghidupkan kembali percikan yang perlahan padam di antara mereka—sebuah usaha terakhir untuk menyelamatkan pernikahan yang terasa kian hambar. Dia melirik jam tangan pintarnya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Pukul tujuh malam. Suasana mansion dua lantai di kawasan elit Menteng itu sunyi senyap. Tidak ada musik, tidak ada suara obrolan, bahkan tidak ada langkah kaki pelayan karena Elena sengaja meliburkan mereka lebih awal agar mereka bisa menikmati waktu berdua. Hanya ada suara pendingin ruangan yang berdesing halus, seolah-olah menjadi musik latar yang menegaskan kesendirian Elena. Rumah ini terlalu besar, terlalu megah, dan terlalu dingin untuk dihuni oleh dua orang yang bahkan jarang bertukar sapa lebih dari lima menit dalam sehari. Setiap sudut ruangan dipenuhi barang-barang antik berharga fantastis, namun semua itu terasa mati, tidak memiliki jiwa. Elena menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa cemas dan sesak yang perlahan merayap di dadanya. Dia memejamkan mata sejenak, merapalkan doa-doa kecil agar suaminya pulang tepat waktu. Satu pesan singkat masuk dari nomor Aris, suaminya. “Sorry, Sayang. Rapat pemegang saham mendadak banget dan nggak bisa ditinggal. Aku terpaksa lembur malam ini. Kamu makan malam duluan aja ya, jangan tunggu aku.” Elena menatap layar ponselnya selama beberapa detik tanpa berkedip. Kalimat itu dibacanya berulang-ulang, berharap ada baris tambahan yang terlewat. Namun, tidak ada kata pengganti hari, tidak ada ucapan maaf yang tulus, bahkan tidak ada emoji hati di ujung kalimatnya. Hanya barisan kata lugas, dingin, dan efisien khas seorang pria elit yang menggilai pekerjaannya. Bagi Aris, pernikahan tampaknya seperti salah satu dari sekian banyak portofolio bisnis yang cukup dipastikan berjalan tanpa perlu dirawat emosinya. Dia tidak berteriak. Dia tidak menangis. Amarahnya tidak meledak-ledak. Rasa kecewa itu sudah terlalu sering datang dalam lima tahun ini, berkunjung secara konsisten hingga rasanya seperti tamu lama yang biasa dan akrab. Elena mematikan layar ponsel dengan gerakan lambat, lalu melemparnya begitu saja ke atas kasur king size yang tertata rapi di tengah kamar. "Makan malam duluan," gumam Elena sinis pada ruangan yang kosong. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, bergetar oleh rasa getir yang mendalam. Setiap tahun, polanya selalu sama. Aris akan menebus kesalahannya dengan membelikan Elena tas desainer edisi terbatas, perhiasan berlian baru, atau mentransfer sejumlah uang fantastis ke rekening pribadinya keesokan harinya. Aris mengira kemewahan materi adalah bentuk cinta tertinggi, sebuah alat tukar yang adil untuk menggantikan kehadirannya. Namun, Aris tidak pernah tahu bahwa yang Elena butuhkan bukan sekadar benda mati yang bisa dipamerkan di arisan sosial. Elena membutuhkan pelukan hangat, sepasang mata yang menatapnya dengan penuh gairah, dan seorang suami yang benar-benar ada di sisinya. Daripada bosan, terkurung di kamar ini, dan tenggelam dalam pikiran-pikiran buruk yang perlahan bisa merusak akal sehatnya, Elena mengambil keputusan cepat. Dia mengambil tas tangan Chanel hitamnya dan kunci mobil yang tergeletak di dekat pintu. Dia harus pergi dari sini. Dia butuh udara segar untuk mengisi paru-parunya yang terasa menyempit karena sesak. Dia butuh melarikan diri dari statusnya sebagai "istri pajangan" yang terkunci di dalam istana kaca ini. Tempat satu-satunya yang bisa membuatnya merasa menjadi manusia seutuhnya, tempat di mana dia tidak perlu berpura-pura tersenyum, adalah galeri seni yang dia kelola di pusat kota. Meskipun jam operasional publik sudah lewat sejak dua jam lalu, Elena memiliki akses penuh. Dia tahu keheningan di antara kanvas-kanvas bisu jauh lebih bersahabat dan menenangkan daripada kesunyian mencekam di rumahnya sendiri. Malam itu, Elena membelah jalanan Jakarta yang masih padat dengan mobil sedan sport miliknya. Lampu-lampu kota yang gemerlap bergantian menerangi wajahnya yang kaku. Di balik kemudi, dia merasa seperti seorang pelarian. Setengah jam kemudian, Elena sudah melangkah masuk ke dalam galeri seni miliknya yang temaram. Hanya lampu-lampu sorot mini yang dibiarkan menyala, mengarah tepat ke beberapa lukisan terpilih, menciptakan siluet romantis sekaligus misterius di dalam ruangan luas berdinding putih bersih itu. Aroma khas minyak cat, kain kanvas yang baru dibuka, dan kayu pinus langsung menyambut indra penciumannya. Seketika, ketegangan di bahunya mengendur. Tempat ini adalah dunianya, satu-satunya tempat di mana dia memegang kendali penuh atas hidupnya. Elena menutup pintu kaca besar di belakangnya, menguncinya dari dalam. Dia melepaskan sepatu hak tinggi Christian Louboutin yang sejak sore menyiksa kakinya, membiarkan benda mahal itu tergeletak begitu saja di lantai. Dengan bertelanjang kaki, dia berjalan di atas lantai marmer yang dingin, menikmati sensasi dingin yang merambat naik ke ujung kakinya. Itu adalah bentuk kebebasan kecil, tindakan pemberontakan kecil yang tidak akan pernah diizinkannya jika dia sedang mendampingi Aris di acara formal. Dia berjalan perlahan, membiarkan jemarinya sesekali menyentuh ujung bingkai kayu, melewati deretan karya seni bernilai tinggi, hingga langkah kakinya terhenti di sebuah lorong bagian belakang yang biasanya digunakan untuk memamerkan karya kontemporer. Di sana, di bawah sorotan lampu kuning hangat yang dramatis, bersandar sebuah kanvas besar baru yang baru saja dikirim sore tadi oleh kurator lapangan untuk pameran eksklusif minggu depan. Elena terpaku. Matanya melebar menatap lukisan abstrak tersebut. Karya itu didominasi oleh sapuan kuas yang kasar dengan warna-warna gelap—hitam, abu-abu arang, dan biru tua yang pekat. Namun, di tengah-tengah kekacauan warna itu, ada goresan tipis berwarna emas dan merah redup yang membentuk siluet sesosok figur wanita. Wanita itu tampak seperti sedang berdiri di balik jeruji transparan yang sangat indah, jeruji yang tampak berkilau seperti permata namun tetap berfungsi sebagai kurungan. Lukisan itu begitu megah, begitu indah, namun memancarkan aura kesedihan dan keputusasaan yang luar biasa dalam. Hatinya bergetar hebat saat menatap karya tersebut. Elena merasa dadanya seperti dihantam oleh palu godam tak kasat mata. Air mata yang sejak tadi dia tahan di rumahnya, mendadak mendesak ingin keluar di depan kanvas ini. Goresan cat itu seolah-olah hidup dan berbisik langsung kepadanya, menelanjangi semua rahasia, kekosongan, dan jiwa terabaikan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat di balik gaun satin mahalnya. Lukisan itu adalah dirinya. "Lukisan itu menceritakan tentang jiwa yang terkunci, kan?" Sebuah suara berat, dalam, dan sedikit serak tiba-tiba memecah keheningan malam dari arah sudut lorong yang gelap. Elena terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena kesedihan, melainkan karena rasa terkejut yang mendadak. Dia langsung berbalik dengan cepat, tangan kanannya refleks mencengkeram tas tangannya erat-erat, bersiap jika ada penyusup. Dia mengedarkan pandangan ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria sedang berdiri di dekat bayangan pilar beton galeri. Pria itu melangkah perlahan keluar dari kegelapan, masuk ke dalam area yang terkena bias lampu sorot. Penampilannya sangat kontras dengan lingkungan galeri yang biasa dikunjungi kaum borjuis. Dia mengenakan kemeja flanel bermotif kotak-kotak longgar yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana jins hitam yang pudar di bagian lutut. Lengan kemejanya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawah yang kokoh dengan urat-urat yang menonjol, dan ada sedikit noda cat kering berwarna putih di kulitnya. Rambut hitamnya agak berantakan, jatuh menyentuh dahi, memberikan kesan cuek namun liar. Namun, yang paling menarik perhatian Elena adalah sepasang matanya. Mata pria itu berwarna cokelat gelap, sangat tajam, dan menatap Elena dengan tingkat ketenangan yang menghanyutkan. Ada aura misterius, percaya diri, sekaligus daya pikat yang sangat kuat terpancar dari seluruh tubuhnya. "Siapa Anda? Bagaimana bisa masuk ke sini? Galeri ini sudah tutup," tanya Elena, mencoba sekuat tenaga mengontrol suaranya agar tetap terdengar tegas dan berwibawa sebagai seorang pemilik galeri, meskipun detak jantungnya belum juga kembali normal. Pria itu tidak tampak panik atau terancam oleh ketegasan Elena. Dia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman asimetris yang tampak tulus tanpa ada maksud menggoda yang murahan. Dengan gerakan santai, dia merogoh saku jinsnya dan mengangkat sebuah kartu identitas resmi seniman serta sebuah kunci cadangan berwarna perak yang diberikan oleh kepala staf galeri Elena. "Saya Adrian. Seniman yang mengirimkan lukisan ini sore tadi," jawabnya tenang, suaranya terdengar seperti alunan musik bariton yang memenuhi ruangan sepi itu. "Saya terpaksa kembali malam-malam karena ada beberapa detail warna di sudut bawah kanvas yang mengganggu pikiran saya. Saya tidak akan bisa tidur jika belum memperbaikinya sebelum pameran minggu depan. Staf Anda, Pak Bambang, yang memberikan kunci ini dan bilang saya boleh datang malam ini jika keadaan mendesak." Elena mengembuskan napas lega yang cukup panjang, menyadari bahwa pria di depannya bukanlah seorang kriminal, melainkan seniman utama yang karyanya sedang dia kagumi. Ketegangan di tubuh Elena perlahan mencair, digantikan oleh rasa takjub yang baru. "Oh... jadi Anda adalah pemilik dari karya luar biasa ini. Adrian." Elena mengeja nama itu, merasakan nama itu terdengar pas dengan karakter pria di depannya. Adrian menurunkan tangannya, meletakkan kembali kunci ke dalam saku. Dia melangkah mendekat ke arah Elena. Gerakannya lambat, hampir seperti singa yang sedang mengamati wilayahnya, namun tidak intimidatif. Dia berhenti tepat di samping Elena, menyisakan jarak sosial yang cukup sopan, sekitar satu meter. Namun, dalam jarak sekat itu, Elena bisa mencium aroma samar yang menguar dari tubuh Adrian—perpaduan antara aroma maskulin kayu cendana, aroma tembakau tipis, dan wangi minyak cat yang pekat. Aroma yang entah mengapa terasa sangat membumi dan menenangkan. Adrian mengalihkan pandangannya dari kanvas besar itu, lalu memutar tubuhnya sedikit untuk menatap langsung ke dalam manik mata Elena. Lampu galeri memantulkan kilau keemasan di mata mereka yang saling mengunci. "Iya, itu karya saya," ucap Adrian tenang, namun setiap katanya terdengar sangat tegas dan penuh penekanan. "Tapi, tahu tidak? Sejak saya berdiri di sana lima menit lalu, yang lebih menarik perhatian saya bukan lukisan itu." Elena menaikkan sebelah alisnya, merasa sedikit terusik oleh kelancangan pria asing ini, namun di saat yang sama, rasa penasaran yang besar menolak untuk pergi. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a, mempertahankan postur anggunnya. "Maksud Anda? Apa yang lebih menarik?" Adrian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya, matanya sama sekali tidak lepas dari wajah Elena, menelusuri setiap jengkal ekspresinya dengan tatapan yang seolah bisa menembus topeng terbaik yang dipakai wanita itu. "Cara Anda menatap lukisan itu tadi," ujar Adrian dengan nada suara yang melembut, namun tajam menghujam batin. "Kamu melihat lukisan itu seolah-olah kamu tidak sedang menikmati seni, tapi seolah-olah kamu sedang bercermin. Seperti ada bagian besar dari jiwamu yang ikut terkurung dan berteriak di balik warna-warna gelap itu." Kata-kata Adrian barusan meledak seperti bom di dalam d**a Elena. Dia terpaku, lidahnya mendadak kelu, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Selama lima tahun menjalani kehidupan pernikahan kelas atas, tidak ada satu orang pun—bahkan Aris yang tidur di ranjang yang sama dengannya—yang bisa membaca kekosongan, kesepian, dan penderitaan di matanya sesingkat, selugas, dan seakurat itu. Pria asing yang berantakan dan misterius ini, yang baru dia temui kurang dari sepuluh menit, baru saja menelanjangi seluruh kesepian yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat di balik gaun satin hitam mewahnya dan senyuman palsu di depan kamera media. Elena menatap Adrian dengan campur aduk antara rasa takut karena rahasianya terbongkar, dan rasa ketertarikan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tensi di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat pekat, penuh dengan ketegangan emosional yang tidak kasat mata.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
734.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
968.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.4K
bc

Not just, the Beta

read
345.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook