Delian lagi-lagi menelan salivanya, melihat tubuh Kenan yang begitu sempurna. Berotot dan sangat gagah, batin Delian. Delian perlahan membuka tangannya. Saat Delian melihat Kenan membawa pakaiannya dari lemari pakaian, dengan cepat Delian masuk ke kamar mandi. Saat sudah ada di kamar mandi, Delian memegangi dadanya yang berdetak lebih kencang. “Ya ampun jantungku,” gumam Delian. Beberapa saat kemudian. Delian yang sudah merasa detak jantungnya sudah kembali normal memejamkan matanya. Saat ia membuka mata dan akan membuka gaun yang ia kenakan ia teringat sesuatu. "Ya ampun!” Delian menepuk jidatnya. "Aku belum membawa pakaianku!" seru Delian “Ah rasanya aku malas sekali harus keluar dan melihat wajah bos galak.” "Tapi tak mungkin juga aku tetap begini,” gumam Delian. Akhirnya se

