6.1 Apologize - Bond(Alice Russel)

1868 Words
The Hidden Assassin Remake . Three Months Later . Gekko menuntun kudanya masuk ke dalam kandang. Rozen pun melakukan hal yang sama di belakangnya. Seorang penjaga kandang menghampiri mereka, ia mengambil alih kuda Gekko untuk dimasukkan ke dalam istal, setelah itu ia beralih pada kuda milik Rozen. Selesai dengan kuda-kuda, Gekko dan Rozen melangkahkan kaki ke luar kandang untuk menenggelamkan kepala mereka pada tempat penampungan air bersih. Penampungan air berbentuk persegi panjang yang biasa digunakan penjaga kandang untuk memandikan kuda-kuda milik pangeran Rozen. Sebagai pangeran, Rozen memiliki sepuluh kuda untuk dirinya sendiri dan kandang yang sekarang di datangi adalah kandang khusus untuk kuda-kuda pribadinya. "Phuuwaaah!" Rozen mengangkat kepalanya dari dalam air. Meskipun terlihat lebih segar tapi gura-gurat lelah di wajahnya masih terlihat sangat jelas. "Sepertinya aku harus melatih staminaku. Perburuan kali ini rasanya terlalu melelahkan," ujarnya sedikit mengeluh. Gekko pun akhirnya mengangkat kepalanya dari dalam air. Setelah mengelap wajahnya dengan lengan baju, ia pun duduk berselonjor di tanah, bersandar pada tempat penampungan air. Sambil terdiam, ia mengatur napas, kepala mendongak memandangi langit biru-kelabu di atas sana. "Setidaknya dengan ini kita sudah mendapat sesuatu yang hebat." Rozen ikut duduk berselonjor di samping Gekko. Ia pun ikut memandang langit biru-kelabu sama seperti Gekko. "Kita? Tidak salah? Semua buruan kita selalu berakhir menjadi milikmu," cibir Rozen. Gekko tidak menyahuti. Ia memejamkan matanya dan memilih mengistirahatkan diri saat itu juga. Membiarkan Rozen yang mengembus napas lelah karena ditinggal tidur begitu saja. "Ck, kau selalu seenaknya sendiri," gumam Rozen pelan. Ia memandangi wajah tidur Gekko yang sepertinya terlalu lelah. Ia sendiri pun sebenarnya sangat lelah, tapi jika dipikir-pikir, perburuannya bersama Gekko selalu berakhir dengan dia yang tak banyak membantu. Jadi, jika dibandingkan dengan kelelahan yang Gekko alami, rasanya tidak seberapa. Sebagai laki-laki, ia benar-benar merasa payah. Rozen akui, kemampuan bertarung Gekko lebih baik darinya, seperti orang yang memang sejak kecil sudah dilatih dengan keras. Tidak jarang, Rozen bergantung pada si gadis pucat di sampingnya untuk menjaganya. Selain itu, monster yang diburu Gekko pun tidak main-main kekuatannya, jika diibaratkan, maka ia hanya menjadi panah kecil yang meluncur bersamaan dengan seribu tombak besi. Sudah tiga bulan Rozen mengikuti Gekko untuk berburu monster, ia mulai paham bagaimana kemampuan Gekko, dan bahkan sudah sedikit mengenal karakter gadis penyuka apel itu. Dan, selama waktu tiga bulan itu, sekitar 31 b***k sudah berada di genggaman Gekko. Rozen menghitungnya. Ditambah Celaeno, T'ma dan Dullahan, maka total b***k yang dimiliki Gekko adalah 34. Mereka semua berasal dari berbagai ras dan rata-rata adalah monster yang tidak masuk dalam sebuah kelompok. Namun, monster terakhir yang mereka buru adalah sekumpulan manusia serigala yang sedang mencari tempat baru untuk hunian kelompok mereka. Dan seperti biasa, Gekko bahkan bisa menundukkan sekumpulan serigala itu, tentu saja dengan bantuan Rozen dan tiga puluh tiga b***k. Dalam satu kelompok manusia serigala, terdiri dari 24 anggota dan seorang Alpha. Jika ditotal keseluruhan, b***k Gekko sekarang sudah berjumlah 58 monster. Cukup menakutkan memang, karena seorang manusia tanpa kemampuan sihir bisa mengumpulkan begitu banyak sekutu. Jangan salah Rozen jika dia kerap merinding saat berduaan saja dengan Gekko. . oOo . Alice mengobati luka-luka di tubuh Gekko menggunakan sihirnya. Ini sudah ke sekian kali Alice menjumpai Gekko pulang dari agenda mingguan 'jalan-jalan bersama Rozen' dengan membawa banyak luka di tubuh. Setiap kali Alice bertanya: Kenapa Gekko bisa sampai terluka? atau Sebenarnya kalian pergi ke mana? Kenapa setiap minggu selalu pulang seperti ini? Gekko hanya menjawab dengan: Bukan hal yang penting atau, kami terpeleset ke jurang, dan jawab-jawaban lain yang tak pernah memuaskan Alice. "Jadi, apa luka kali ini juga karena terpeleset ke jurang? Memangnya jatuh ke jurang bisa menimbulkan luka tercakar seperti ini?" Kali ini Alice sedikit menyindir saat bertanya. Masalahnya, luka yang dialami Gekko saat ini cukup parah. Ada sebuah luka cakar di punggung, beberapa gigitan di kaki, juga luka robek di kedua lengan tangan. "Hn."  Dan bukan Gekko namanya kalau dia menjawab dengan jelas. Alice menghela napas. Ia menyembuhkan luka di tubuh Gekko dengan cepat kemudian pergi begitu saja dari kamar Gekko tanpa mengatakan apa-apa. Ia kesal dan marah karena Gekko tidak mau menceritakan apa-apa padanya. Maka, cara menunjukkan kemarahannya adalah dengan mendiamkan Gekko. Ia bertekat tidak akan mengajak bicara Gekko sampai si pucat itu mau berbagi cerita dengannya. Memang kekanakan, tapi siapa yang peduli, dia memang seperti ini. Lagi pula, menurut Alice, sekali-kali dia harus menekan Gekko agar temannya itu bisa sedikit lebih perhatian padanya. Sedangkan Gekko yang sudah mengerti bahwa Alice marah padanya, malah tak terlalu memusingkannya. Ia pergi membawa kakiknya ke sebuah gazebo yang berdiri mencolok di tengah taman tulip. Di dalam gazebo, ada Agalia yang sedang duduk sendiri merangkai bunga. Angin sepoi berdesir dan membuat helai rambut Agalia melambai menari-nari. Untuk ukuran wanita paruh banya, Agalia memang terlalu cantik. "Buang-buang waktu dengan merangkai bunga?" tanya Gekko tidak sopan. Ia ikut duduk di kursi melingkar dalam gazebo. Mendengar pertanyaan judes Gekko, Agalia malah tersenyum kecil. "Aku seorang wanita yang mengerti bagaimana mempercantik diri dengan rangkaian bunga. Bukan hanya hobi bertarung ke mana-mana dan membiarkan diri sendiri terluka tanpa memikirkan bahwa teman-temannya mengkhawatirkannya," sindir Agalia. Dia sangat tahu bagaimana dinginnya hati Gekko jika berhubungan dengan teman-temannya. Bukan dingin seperti tidak perhatian atau bagaimana, melainkan dia pandai menutupi perasaannya sampai-sampai terlihat seperti orang yang tidak peduli. "Hn." Gekko hanya bergumam, membuat Agalia geleng-geleng kepala. Agalia pun diam sejenak. "Aku sudah mendengar semua yang kau lakukan selama ini dari Rozen. Apa kau melakukan itu semua untuk antisipasi?" tanya Agalia penasaran. Ia menunggu Gekko menjawab, sambil melihat Gekko yang mengambil sekuntum tulip miliknya untuk diputar-putar dengan ibu jari dan jari telunjuk. "Mungkin." "Mungkin?" tanya Agalia lagi, tidak mengerti. "Aku hanya ... sedang melatih kemampuan bertarungku," jawab Gekko akhirnya. "Hmm." Agalia bergumam merdu, seperti mengerti apa maksud ucapan Gekko. "Kau memang orang yang praktis. Melatih kemampuan sembari mencari sekutu." Ia kemudian terkekeh. "Tapi ...," ia menggantung kalimatnya sebelum melanjutkan dengan, "kau seharusnya membicarakan semua hal dengan teman-temanmu. Mereka mengkhawatirkanmu lebih dari yang kau tahu. Selain itu, jika kau diam begini, bukankah itu akan menyakiti hati mereka? Biarkan mereka tahu siapa dirimu. Mereka anak-anak baik, pasti mereka menerimamu apa adanya." "Aku tahu." Gekko diam untuk kemudian mengalihkan pandangannya pada hamparan bunga tulip di sepanjang taman. "Setelah ini aku akan meminta maaf," lanjutnya. Agalia mengulum senyum manis. "Minta maaflah yang benar," tuturnya. "Ya." . oOo . Bulan menggantung di langit, warnanya kuning dan di kelilingi halo berwarna-warni. Orang menyebutnya, pelangi malam. Tapi Alice lebih suka menyebutnya nimbus. Alice sangat suka saat ada nimbus di sekitar bulan, karena bulan jadi terlihat seperti seorang putri dengan gaun nan indah. Pada dasarnya, dia memang suka dengan warna pelangi, bahkan gelembung sabun yang terkena cahaya dan menghasilkan segaris pelangi saja, dia bisa memandanginya berlama-lama. Tapi, memandangi bulan yang dikelilingi nimbus sendirian di atas atap kamar, sangatlah tidak menyenangkan. Biasanya saat di rumah, ada Ayahnya yang menemani duduk di balkon kamarnya sambil mencecap teh hangat. Ah, dia jadi merindukan Ayahnya. PUK! "Eh?" Alice kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan sesuatu di atas kepalanya. Saat ia meraba kepalanya, ternyata sebuah rangkaian bunga tulip warna-warni yang dia dapat. Ia mendongak, dan mendapati Gekko di belakangnya. Ia ingin bertanya apa rangkaian bunga itu untuknya, tapi mengingat saat ini dia sedang marah pada Gekko, ia pun memutuskan untuk tetap diam. Gekko duduk di samping Alice, ikut menikmati keindahan bulan yang sedang diselimuti nimbus warna-warni. "Aku minta maaf," ucap Gekko tiba-tiba. Wajahnya masih datar-datar saja, tapi tidak dengan sorot matanya. Ada rasa sesal di sana, dan Alice sangat menyadari ekspresi kecil dari mata dingin temannya itu. "Apa ini untukku?" tapi Alice malah mengalihkan pembicaraan. Dengan raut penuh senyum dan keceriaan seperti biasa, ia pun mulai mengajak Gekko bicara. "Apa kau sendiri yang membuat ini?" tanya Alice lagi. Padahal pertanyaan pertamanya belum dijawab oleh Gekko. "Agalia yang membuatnya." Meskipun tahu bahwa Alice mengalihkan pembicaraan, tapi Gekko tetap menanggapi. "Hmm, begitu ya? Cantik sekali. Aku suka. Terima kasih," ujar Alice memainkan rangkaian bunga di tangannya. Sesekali ia meletakkan rangkaian bunga itu ke kepalanya, tapi kebanyakan ia lebih suka memainkannya di tangan. "Tsk, jangan mengalihkan pembicaraan." Gekko mendecih tidak suka. Alice pun menjadi diam dan kembali murung. "Kau menyebalkan." Akhirnya Alice mengucapkan uneg-uneg terpendamnya. "Karena itulah aku meminta maaf." "Maaf saja tidak cukup membuatku menghentikan rasa kesalku padamu. Setelah meminta maaf, kau akan melakukan hal yang sama. Jadi percuma. Tidak perlu meminta maaf padaku," nada suara Alice meninggi. Rasanya ia ingin menangis. Baru kali ini ia bertengkar seperti ini dengan Gekko. Gekko hampir memutar mata. "Memangnya hal yang sama seperti apa? Kau tiba-tiba marah padaku. Tidak mengatakan apapun dan sekarang meninggikan suara. Kau ingin aku bagaimana?" tanya Gekko tenang, kalem dan juga dengan sedikit raut bosan. Alice pun diam. Matanya melotot kaget karena ucapan Gekko memang benar adanya. Ini membuatnya malu. Wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca menahan malu. "K-kau seharusnya lebih terbuka padaku!" Kepalang tanggung, Alice pun berteriak lagi. Ia sudah berteriak di awal jadi lebih baik dilanjutkan. "Lebih terbuka? Apa aku harus curhat padamu sepanjang hari? Kau mau aku begitu?" Gekko menaikkan sebelah alisnya. "Tidak perlu seperti itu. Cukup menjawab jujur saat aku sedang bertanya." Sekarang wajah Alice semakin memerah. Malu sekali rasanya saat tidak bisa membalik pertanyaan Gekko. "Aku selalu menjawab jujur." Gekko benar-benar memutar bola matanya. Mungkin sedang berpikir, kapan ia pernah berbohong pada Alice. "Bukankah aku tidak pernah membohongimu?" Sekali lagi ada nada bosan pada pertanyaan Gekko. "Kau selalu menjawab pertanyaanku dengan jawaban tidak jelas. Dua minggu lalu, saat kutanya dari mana, kau hanya menjawab 'jalan-jalan ke gua', lima hari lalu saat aku bertanya lagi kenapa bisa terluka parah, kau juga hanya menjawab 'terpeleset ke jurang'. Kau sebenarnya melakukan sesuatu kan? Jawablah dengan sungguh-sungguh!" Gekko menghela napas. Menghadapi Alice, seperti berurusan dengan gadis-gadis di drama televisi, merepotkan. "Aku menjawab tidak jelas, bukan berarti aku berbohong." Akhirnya Gekko lebih memperhalus nada bicaranya. Meskipun begitu, mendengar perkataan Gekko yang memang seratus persen benar, lagi-lagi sukses membuat wajah Alice memerah menahan malu. "Dua minggu yang lalu, aku memang jalan-jalan ke gua. Mencari monster yang tinggal di sana," ucap Gekko datar. "Eh?" Ucapan Gekko membuat Alice sedikit tertarik. Ia pun lebih serius memperhatikan Gekko. "Mencari monster? Untuk apa?" tanyanya benar-benar penasaran. "Untuk dijadikan sekutu," jawab Gekko. "Selama tiga bulan ini, hal itulah yang selalu kulakukan," ujar Gekko lagi memberi penjelasan. "Tapi, kenapa?" Gekko menghela napas, sedikit malas menjelaskan tujuan perburuannya pada Alice. Tapi, karena dia sedang dalam proses minta maaf, maka tidak menjawab pertanyaan Alice bisa berarti memperpanjang masalah. "Aku, bukan seperti kau, Gin atau pun Lizzy. Aku bukan orang yang mewarisi kekuatan sihir seperti kalian. Karena bukan penyihir, belajar sihir pun percuma, manusia biasa tidak akan bisa menggunakan sihir." Alice mendengarkan. Ada rasa bersalah ketika mendengar penjelasan Gekko. Ia merasa, sedikit tidak adil pada Gekko, karena hanya si kecil pucat itu yang tidak menerima warisan kekuatan sihir dari Lily Merah, sang Bunga Kehidupan. "Tapi, bagaimanapun juga, aku harus menemani kalian untuk mengambil Lily Merah di puncak gunung tertinggi milik para naga. Aku tidak mungkin membiarkan kalian yang amatiran ini pergi sendirian." Gekko berdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Untuk bisa melindungi diri sendiri, aku membutuhkan banyak bantuan. Jadi aku mencari sekutu agar bisa membackup-ku dari belakang. Selain itu, agar mereka juga bisa melindungi kalian seandainya kekuatanku tidak cukup untuk bisa menjaga kalian." Alice menahan napas. Tanpa sadar ada senyum tulus yang terkembang di bibirnya, juga ada lelehan air mata yang membasahi pipinya. "Gekko benar-benar tidak berubah," ujar Alice bahagia. Gekko menaikkan satu alisnya, tidak mengerti. "Tidak berubah?" tanya Gekko ragu-ragu. Alice mengangguk. "Iya, tujuh tahun lalu. Saat aku masih sepuluh tahun, kita pernah bertemu. Dan kau masih sama, Gekko yang sama." Senyum tak henti-hentinya hadir di bibir Alice. Gekko semakin mengernyit tak paham. "Sepertinya Gekko lupa ya. Tujuh tahun lalu, Gekko pernah menyelamatkanku." Gekko memandang Alice intens. Ia mencoba mengingat-ingat siapa yang pernah ditolongnya saat umurnya masih sepuluh tahun. . TBC 02 Juni 2020 by Pepperrujak in Dreame
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD