5. Third Slave - Hidden Assassin

2495 Words
Rozen masih tak mengerti. Ia melihat Gekko dan dua makhluk yang membungkuk itu bergantian. Ia berpikir, jika makhluk yang dipanggil Celaeno dan T’ma itu menyebut Gekko sebagai Master. Maka ... “Mereka. Terikat sebagai b***k? Tapi sejak kapan Gekko ... siapa sebenarnya dia?” . . . The Hidden Assassin Remake 2015 . . . “Kau membawa apa yang kuminta padamu kemarin, Celaeno?” “Ya, Master.” Celaeno memberikan lima pisau terbuat dari lapisan emas pada Gekko. Dengan cepat, Gekko pun memasukkan pisau-pisau kecil itu ke dalam lengan bajunya. Menyelipkan pisau-pisau itu pada tali yang sudah ia pasang sedemikian rupa di tubuhnya sebagai tempat menyimpan senjata-senjata kecil. Sementara itu, Rozen sama sekali tidak menanyakan apa-apa meskipun ia sangat penasaran kenapa Gekko bisa memiliki b***k. Mungkin ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Lagi pula, sekarang tujuan utamanya adalah perburuan Dullahan. Pikirannya tidak boleh terdistraksi oleh hal lain. Hujan sedikit mereda meskipun rintik-rintiknya masih dirasakan Rozen. Bulan jadi tidak tampak di langit karena tertutup awan yang cukup tebal. Rozen merasa malam kali ini terlihat lebih gelap dari biasanya. Ia sampai berdebar-debar menanti apa yang akan terjadi. “Pangeran, kau bersembunyi bersamaku.” Tiba-tiba Gekko memberi intruksi. Meskipun sedikit terkejut, tapi Rozen pun mengangguk. “Celaeno, T’ma. Kalian berpencar,” lanjut Gekko memberi perintah pada dua budaknya. “Ya, Master,” jawab Celaeno patuh. Sedangkan T’ma yang tidak bicara, hanya mengangguk kecil. Kedua b***k Gekko itu pun terbang, pergi ke arah yang berbeda. Menyisakan master mereka dan Pangeran Rozen yang tampak lebih tenang dan menurut. “Jadi, ke mana kita akan bersembunyi?” tanya Rozen sedikit ragu. Gekko tidak menjawab pertanyaan Rozen, ia melangkahkan kakinya ke sebuah tempat yang dianggapnya strategis, Rozen mengikuti meskipun agak kesal. Mereka pun mengawasi desa kecil dari balik semak belukar di atas tebing. Jarak tebing dan desa tidak terlalu jauh, karena memang desa kecil di bawah sana dikelilingi tebing yang tak terlalu curam. “Apa kau pikir kita bisa menangkap makhluk itu?” bisik Rozen, bertanya pada Gekko. Matanya kadang melirik Gekko, kadang melihat ke desa. “Kita sudah membicarakan ini kemarin. Kau mau aku menjelaskan apa lagi?” jawab Gekko dingin dan sedikit kurang senang. Rozen terdiam. Memang salahnya karena dari kemarin selalu mengulang pertanyaan yang sama. Rozen paham kalau Gekko mungkin sedikit kesal oleh hal itu. Tapi, entah kenapa, keraguan dalam hatinya tak juga menghilang meskipun Gekko sudah menyakinkannya berkali-kali. “Tapi, dari mana kau tahu kalau makhluk itu akan datang ke desa ini?” Rozen bertanya sekali lagi. Ia sampai bisa mendengar Gekko berdecak tak suka. “Kau ini memang bebal atau sengaja berlagak bebal?” Gekko balik bertanya, dan kali ini suaranya terdengar lebih dalam dan berat. Rozen sampai meneguk ludah sedikit karena merasa Gekko sangat marah padanya. Aura kemarahan itu benar-benar terasa tidak enak, bahkan udara malam yang dingin terasa lebih baik dibanding dengan Gekko yang murka. Namun, meskipun terlihat akan mengamuk, Gekko tetap berbesar hati menerangkan sekali lagi. “Aku sudah mengatakannya padamu bahwa makhluk itu kemarin menyiramkan darah dari tubuh seseorang pada salah satu penduduk desa. Dan orang yang dia siram sekarang masih berada di dalam rumah untuk bersembunyi,” jelasnya panjang lebar. Suaranya terdengar kalem dan tenang tapi terasa penuh amarah. Rozen meneguk ludahnya sekali lagi. “Hm, maaf karena melupakan informasi darimu,” ucap Rozen takut-takut. Ia merasa, berada di dekat Gekko sangat tidak menyenangkan. Terlebih jika gadis pucat itu sudah kesal dan mulai bicara dengan kalimat-kalimat menusuk. “Hn.” Mereka pun kembali diam untuk fokus pada tujuan. Setelah percakapan terakhir itu, sudah tiga jam berlalu. Rozen menguap sesekali. Meskipun fokusnya tidak pecah, tapi dalam hati paling dalam dia pun ingin segera berbaring di kasur. Keadaan desa pun masih sunyi. Hanya semilir angin yang kadang terdengar, juga bunyi-bunyian dari serangga-serangga malam. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Meskipun samar, Gekko bisa mendengar ketepak suara kaki kuda. Hawa di sekitar pun berubah sedikit lebih mencekam. Kabut hijau menyelimuti desa dengan cepat dan suara ringkikan kuda terdengar nyaring sekali. “Dia datang.” Rozen bergumam. Fokusnya ia tingkatkan. Ia dan Gekko semakin bersiaga untuk bersiap-siap menangkap buruan mereka kali ini. Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba juga. Seorang ksatria, tinggi besar dan tegap, mengenakan baju zirah dan juga jubah yang berkibar-kibar di punggunya, menghampiri desa kecil di bawah tebing dengan menunggangi kuda hitam nan besar. Tangan kanannya memegangi kepalanya yang berselimut kabut hijau, sedangkan tangan kirinya membawa sebuah cambuk yang konon terbuat dari sulaman tubuh manusia. Dialah sang malaikat kematian, Dullahan. Dullahan berhenti di depan sebuah rumah kecil khas penduduk desa yang sederhana. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi menggunakan tangannya, mungkin memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang sedang melihat aksinya. Setelah merasa aman, ia pun turun dari kudanya, berlajan pelan-pelan untuk membuka pintu rumah. Entah bagaimana caranya ia bisa membuka pintu rumah yang saat itu pasti sedang dikunci. Beberapa menit setelah ia masuk ke dalam rumah, terdengar teriakan nyaring dari seseorang. Dullahan sedang melakukan aksinya. Dan tak ada seorang pun yang berani mencegahnya. Penduduk desa lain sudah pasti mendengar teriakan itu, tetapi tidak ada yang berani keluar untuk memeriksa. Alih-alih berhasil menolong, mungkin malah kepala mereka yang terpotong-potong setelahnya. “Apa kita tidak bisa menolong orang di dalam rumah itu? Bagaimana pun juga, dia adalah rakyatku. Aku tidak bisa hanya melihat seperti orang tidak berguna begini.” Rozen bertanya sedikit panik dan sedikit marah. Meskipun sudah tahu jawabannya, tetapi masih terbersit keinginan untuk nekat. Ia pun melihat Gekko was-was. “Tidak. Sejak awal orang itu sudah diincar. Tak ada cara untuk menolongnya. Meskipun kita berada di sana, dia hanya akan menarget seseorang yang sudah menjadi incaranya,” jawab Gekko tenang. Tak ada kepanikan sedikit pun dari ucapannya. Rozen sampai ngeri melihat Gekko yang seperti ini. “Kita turun. Sepertinya pembantaian di dalam rumah itu sudah selesai.” Tanpa menunggu jawaban dari Rozen, Gekko segera melompat dari tebing untuk menuju desa. Rozen pun mengikutinya, dan karena tidak punya kegesitan seperti Gekko, ia tidak ikut melompat tebing. Ia memilih jalur yang lebih aman dan bisa dilalui, yakni menuruni tebing dengan sewajarnya, dan menggunakan kedua kakinya untuk berseluncur di dinding tebing yang curam nan terjal. . ooo . Keadaan menegangkan seperti ini, rasanya baru pertama kali Rozen alami. Ia dan Gekko sedang berhadapan langsung dengan malikat kematian tanpa kepala, Dullahan. Rozen memang beberapa kali terlibat dalam pertempuran melawan monster, tapi tak ada yang menguarkan aura kematian sedahsyat monster di depannya sekarang. Selain itu pertempurannya sebelum ini juga selalu melibatkan banyak penyihir hebat, sehingga ia tak pernah merasa terintimidasi seperti kali ini. “Manusia yang sengaja menemuiku hanya mereka yang siap mati. Apakah kalian siap mati?” Itu suara Dullahan. Suaranya terdengar serak dan besar, tetapi juga samar-samar seperti berbisik. Ia menatap Gekko dan Rozen bergantian. Mata hijaunya menyala tetapi keruh, dan sesekali bola matanya berputar 360 derajat. Meskipun penampakan lawannya seperti zombie yang rusak, tetapi Gekko tetap menghadapinya dengan tenang. “Aku menemuimu bukan untuk kematian. Aku hanya ingin kau, dewa kematian, Dullahan,” ujarnya jelas. Matanya pun tak kalah tajam menatap Dullahan, sama sekali tidak ingin kalah, sekaligus berusaha mendominasi. Melihat interaksi dua makhluk berbeda ras ini, Rozen sampai merasa, bahwa mereka berada di level pembicaraan yang tak bisa ia jangkau. Mereka terlalu mengerikan dan terlalu kelam. Jika hidupnya selama ini selalu dipenuhi kemilau kemuliaan, maka mereka seperti seseorang yang sejak lahir sudah dikutuk untuk mendekam di neraka. “Manusia ... berani sekali kau menyebut namaku.” Dullahan menggeram. Suaranya yang berat dan serak menggelegar di penjuru desa. Rozen sampai bergetar ketakutan hanya dengan mendengar suara lantang tersebut. “Apa kau tak suka jika namamu disebut? Supaya adil, aku akan memperkenalkan namaku. Aku Gekko Hakai.” Dullahan masih menggeram, dan seolah tidak peduli. “Aku tidak butuh namamu, manusia,” desisnya berat. Mulutnya yang robek sampai telinga itu seperti berkedut penuh angkara. “Kau memang tidak membutuhkannya. Akulah di sini yang membutuhkanmu. Aku ingin menegosiasikan sesuatu denganmu,” lanjut Gekko tanpa peduli pada geraman Dullahan atau tatapan matanya yang seperti ikan mati itu. “Tidak ada negosiasi untuk manusia. Kalian hanya butuh kematian saat berani menampakkan diri di depanku.” Dullahan pun memecut cambuknya ke udara. Mengayun-ayunkannya ke kanan-kiri dan depan-belakang. Setelah itu, ia berlari ingin menerjang Gekko dan berusaha mencambuk si pucat dengan segala upayanya. Namun, ia sedikit kalah cepat dengan Rozen yang melemparkan pisau-pisau es ke arahnya. Ia sibuk menghalau pisau-pisau es milik Rozen sampai tidak sadar bahwa tubuhnya sudah dikelilingi tombak yang juga terbuat dari es. Tombak-tombak hasil karya sihir Rozen itu mengurung sang dewa kematian, melingkari tubuhnya seperti penjara dadakan. Gekko dan Rozen memanfaatkan momen itu untuk pergi menuju hutan. Mereka berusaha memancing Dullahan agar mengejar ke dalam hutan. Menghindarkan pertarungan yang akan merusak desa kecil di bawah tebing itu. Sampai di tengah hutan, bunyi ketepak kuda pun kembali terdengar. Gekko dan Rozen sangat tahu siapa yang datang mengejar mereka. Dullahan, tentu saja, yang dengan gagahnya menunggangi kuda hitamnya. Bunyi cambuknya yang membelah udara berdesing-desing membuat telinga ngilu. Suasana di sekitar hutan mendadak sangat hening. Tak ada bunyi burung hantu, serangga atau bahkan mamalia pengerat yang sekedar lewat menginjak ranting. Kabut hijau menyelimuti hutan. Udara malam yang dingin semakin terasa dingin. Saat Dullahan berhasil menghadang Gekko dan Rozen, ia memecutkan cambuknya ke udara sekali  lagi. Kemudian melompat untuk menerjang Rozen sambil memainkan cambuknya dengan sangat cepat. Rozen membentuk segel sihir di depan tubuhnya, pisau-pisau es kembali meluncur cepat ke arah Dullahan. Tapi, sang dewa kematian menangkisnya terlalu mudah. Gekko pun turun tangan. Ia memanjangkan kukunya, kemudian memberi tendangan dari samping untuk Dullahan. Saat ditangkis oleh Dullahan, Gekko melompat ke atas dan mengarahkan tangannya untuk menusuk kepala Dullahan yang selalu dibawa di tangan kanan. Tapi ujung cambuk Dullahan lebih dulu mengenai tubuh Gekko, ia pun melompat mundur, membiarkan Rozen melesatkan tombak-tombak es pada sang dewa kematian. Dullahan masih berdiri tenang meskipun lima tombak es mengenai tubuhnya. Ia mencabut satu demi satu tombak-tombak karya Rozen itu dan membuangnya ke tanah begitu saja. Ia tersenyum meremehkan. Mulut robeknya seakan semakin robek. Mengerikan sekali. “Seorang penyihir dan seorang prajurit. Kalian manusia dengan kemampuan yang tak memadai. Keberanian kalian untuk menemuiku adalah sebuah kesombongan. Tidakkah kalian memperhitungkan tingkat kekuatanku dan kekuatan kalian?” Rozen meneguk ludah, ia paham dengan level kekuatan yang begitu jelas terlihat. Dullahan benar tentang dirinya dan Gekko. “Kami tidak akan mendatangimu saat kami merasa tidak bisa menang. Manusia memang lemah, dan karena lemah maka kami berpikir, menggunakan otak untuk bertahan hidup.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Gekko kembali melesat untuk menusuk d**a Dullahan. Reflek Dullahan sangat cepat, ia berhasil menghindar dari Gekko dengan memiringkan tubuhnya ke samping. Menggunakan cambukknya, ia melilit tangan Gekko dan melempar Gekko ke samping. Tubuh Gekko menubruk pohon sampai membuat satu pohon tumbang. Tapi gadis pucat itu bisa kembali berdiri dengan cepat. Selesai dengan Gekko, masih ada Rozen yang kini sudah menyerangnya dengan lemparan tombak es. Dullahan pun dengan mudah menangkis setiap tombak Rozen menggunakan cambuknya. Ia melilitkan cambuknya pada satu tombak Rozen yang tergeletak di tanah dan melemparnya cepat ke arah Rozen. Tapi untunglah Rozen bisa menghindari lemparan tombak dari Dullahan. Rozen melihat Gekko, dan si pucat itu menganggukkan kepalanya, memberi isyarat. Mereka pun menyerang Dullahan secara bersamaan. Gekko melemparkan pohon tumbang di belakangnya ke arah Dullahan, sedangkan Rozen membuat segel sihir lebih besar dan melesatkan sebuah balok es yang runcing di ujungnya. Mendapat serangan dari dua arah, membuat Dullahan sedikit kebingungan. Ia menghindar dari lemparan pohon Gekko tapi balok es dari Rozen berhasil menancap di tubuhnya. Saat ia berusaha mencabut balok es dari tubuhnya, Gekko sudah ada di belakangnya, menusuk tubuhnya dengan sebuah pisau terbuat dari lapisan emas murni. Ia ketakutan bukan main. Emas murni adalah ketakutan terbesarnya. “Hrrraaaaa!” Dullahan berteriak sangat nyaring. Ia melecutkan cambuknya dengan brutal ke arah Gekko. Namun saat ia fokus pada Gekko, ada Rozen yang menancapkan berpuluh-puluh tombak es ke tubuhnya. Tubuh Dullahan pun terhuyung-huyung, tanpa ia sadari ada dua makhluk terbang yang menjatuhkan jaring ke tubuhnya dari atas. Ia tertangkap. “Hrrraaah! Manusia ... kau begitu licik.” Mata Dullahan memincing tajam. Kepalanya melayang dengan amarah, sedangkan tubuhnya terperangkap oleh jaring. Gekko menghela napas pelan. Dengan langkah yang begitu tenang ia mendekati tubuh Dullahan. Ia pun mendongak untuk melihat kepala Dullahan yang melayang di udara. Matanya menatap dingin pada mata ikan mati milik Dullahan. “Seperti inilah manusia bertahan hidup. Karena kami lemah dan nyawa kami hanya satu.” Celaeno dan T’ma yang membantu di akhir pertempuran kini mendarat untuk berdiri di samping Master mereka. “Apa yang akan kita lakukan padanya sekarang, Master?” tanya Celaeno penasaran. Meskipun ia tahu bahwa Masternya ingin menangkap Dullahan, tapi ia masih tak paham akan diapakan sang malaikat maut setelah ditangkap. Rozen yang kini juga sudah berdiri di samping Celaeno, ikut-ikutan penasaran. Ia pun menunggu jawaban dari Gekko. Namun bukan memberi jawaban, Gekko malah berjalan tenang menuju tubuh Dullahan yang meronta-ronta. Ia mengeluarkan dua pisau emas dari dalam lengan bajunya. “Apa yang ingin kau lakukan pada tubuhku? Manusia?” Mata Dullahan mengawasi gerak-gerik Gekko cermat. Berharap gadis itu tidak melakukan hal buruk pada tubuhnya. “Namaku Gekko Hakai. Ingat itu baik-baik agar kau tak melupakan nama tuanmu setelah ini.” “Apa maksudmu?” Tanpa berkata banyak, Gekko menancapkan dua pisau emas di lengan kanan dan kiri tubuh Dullahan. Kemudian satu pisau lagi ia tanam di perut sang dewa kematian. Kepala Dullahan pun seketika terjatuh di atas tanah. Ia menggeram pada Gekko. Matanya penuh amarah dan hawa membunuh. Tapi, mendadak dia diam, setelah ia melihat bagaimana aura hitam keunguan menguar dari tubuh Gekko. Saat itu bukan hanya Dullahan yang merasa gemetar ketakutan, Celaeno dan T’ma juga merasakan hal yang sama. Bahkan Rozen yang tidak bisa melihat aura Gekko pun ikut-ikutan merasa susah bernapas. Kulit Rozen terasa sakit dan nyeri. Meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi Rozen tahu bahwa Gekko lah penyebab udara berubah menyakitkan di sekitarnya. “Setelah ini, akulah yang akan menjadi kepalamu. Mengabdilah padaku. Serahkan semua baktimu untukku. Lindungi aku meskipun itu merupakan kematian untukmu. Tunduklah pada semua ucapanku. Jadilah milikku dan matilah untukku.” Tak ada jawaban dari Dullahan, makhluk itu hanya mengangguk. Setelah itu, Gekko menghancurkan kepala Dullahan dengan menancapkan sebuah pisau emas tepat di ubun-ubun kepalanya. Gekko melanjutkan dengan meninju kuat-kuat kepala Dullahan yang matanya melotot seperti ikan mati itu. Ia meninjunya berulang-ulang hingga kepala sang dewa kematian remuk menjadi serpihan. Serpihan itupun berubah menjadi abu dan hilang tertiup angin. Dengan begini, maka Dullahan telah menyerahkan hidupnya untuk Gekko. Membiarkan si gadis pucat untuk menjadi kepalanya. . oOo . Rozen membasuh wajahnya menggunakan air sungai. Pagi ini hujan tidak datang dan matahari tampak sedikit malu-malu di balik awan kelabu. Setidaknya hari ini tidak sesuram kemarin. “Banyak hal yang ingin kutanyakan padamu,” ujar Rozen setelah membasuh wajahnya. Ia duduk di samping Gekko dan matanya memandang sungai jernih yang mengalir di depannya. “Hn.” Setelah menghembuskan napas kasar, Rozen pun menguatkan hatinya untuk bertanya. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Rozen sungguh-sungguh. “Aku Gekko Hakai.” Mendengar jawaban Gekko, Rozen mengepalkan tangan menahan marah. Setelah mengela napas untuk menenangkan diri, ia pun kali ini bertanya lagi. “Apa pekerjaanmu saat masih di dunia asalmu?” “Aku bekerja paruh waktu di sebuah toko roti.” Gekko pun menjawab dengan benar, wajahnya tenang tanpa emosi atau ekspresi. Ia hanya menjawab seperti apa yang Rozen tanyakan. “Pekerjaan lainnya?” Rozen kembali bertanya. “Pelajar kelas dua di sekolah menengah atas.” “Lainnya?” “Assassin. Atau mungkin kau lebih sering menyebutnya sebagai, pembunuh bayaran.” Rozen menahan napas. Ia mendadak diam. Kebingungan melingkupi pikirannya. “Benarkah itu?” tanya Rozen memastikan. “Ya.” Rozen mengusap lengannya, menenangkan diri. “Teman-temanmu, tahu?” tanya Rozen lagi. “Tidak, mereka tidak pernah bertanya.” Gekko pun mengambil sebuah kerikil dan melemparkannya ke sungai. “Kalau mereka bertanya, apa kau akan menjawab dengan jujur?” “Ya.” Rozen menghela napas. Ia bergumam, “Hm ... begitu ya.” Kemudian tak bertanya apa-apa lagi pada Gekko. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi sepertinya bisa ditunda lain waktu. Seiring berjalannya waktu, ia ingin lebih mengenal Gekko Hakai, si gadis pucat yang susah diajak bicara. Rozen jadi memaklumi bahwa sifat defensif Gekko mungkin karena profesinya yang sedikit unik itu. Yah, tak apa. Setidaknya Gekko mau menjawab pertanyaannya tanpa mengeluh, ini sudah termasuk kemajuan. Lain kali, jika Gekko mengajaknya berburu lagi, ia sepertinya dengan senang hati akan menyanggupi. . . TBC 02 Juni 2020 by Pepperrujak in Dreame
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD