4. Second Slave - Hunting

2081 Words
The Hidden Assassin Remake 2015 . . . Agalia berdiri di samping jendela menara, melihat ke taman bunga di mana ada Alice, Lizzy, Gin dan Gekko yang sedang bercanda ringan. Tetapi, mata Agalia sebenarnya hanya tertuju pada si pucat Gekko, yang sedang menikmati sepotong apel tanpa mempedulikan teman-temannya. “Dia ... keturunan terkutuk dari manusia yang menenggelamkan dirinya pada kegelapan,” gumam Agalia begitu lirih. Semakin lama ia memandang Gekko, semakin ia teringat dengan kejadian mengerikan yang dialaminya kemarin. Saat itu, ia menahan Gekko agar tidak ikut pergi meninggalkan istana kristal, ia meminta Rozen membawa semua tamunya kembali ke istana utama dan membiarkan dirinya bicara berdua dengan Gekko. Sebenarnya niat Agalia hanya ingin membujuk Gekko, agar mau mencoba melakukan ritual pemilihan Sang Terpilih, mengingat ketiga temannya merupakan Sang Terpilih yang mewakili ketiga elemen. Gin mewakili elemen tumbuh-tumbuhan, Lizzy berelemen air dan Alice merupakan pemegang cahaya. Agalia juga berniat meminta tolong, agar meskipun nantinya bukan merupakan Sang Terpilih, Gekko tetap mau membiarkan teman-temannya mengemban misi demi Agalaia. Namun, yang didapat Agalia malah hal mengerikan, yang sekaligus membuka matanya tentang kebenaran Lily Putih di dalam kristal. Ketika Gekko Hakai melakukan ritual yang sama seperti ketiga teman lainnya, bukan sebuah peri yang keluar dari dalam bunga, melainkan makhluk mengerikan yang merangkak keluar dari batang bunga Lily. Makhluk berwarna hitam yang sayapnya bukan berada di punggung, melainkan di kedua mata kakinya. Taring tajam terlihat ketika makhluk itu tersenyum, tubuhnya dikelilingi kabut berwarna hitam keunguan. Ketika makhluk itu menembus kristal, ia terbang menghampiri Gekko, tangannya merentang seperti ingin memeluk leher Gekko. Namun, saat ia ingin merangkulkan tangannya pada leher Gekko, si pucat itu malah menampiknya dengan kedua tangannya. Si makhluk hitam itu terkapar di lantai sambil mencicit marah. “Apa yang kau lakukan pada Peri Bunga Lily?!” Agalia begitu terkejut. Ia tak menyangka, Gekko bisa sekejam itu memperlakukan makhluk tidak berdaya. Akan tetapi, saat itu Gekko menjawab dengan tenang, ia berucap kalem. “Apa kau tidak menyadari? Dia tadi ingin menggigitku. Dia itu iblis.” Agalia hanya bisa menutup mulutnya tak percaya. Ia tak menyangka ada seekor iblis yang hidup pada bunga suci yang selalu diagungkannya. Saat Agalia kembali mengalihkan matanya pada si iblis hitam, makhluk kecil itu sudah menggeram ke arah Gekko. Ia mencoba berkali-kali untuk menggigit Gekko dan selalu ditampik Gekko dengan tamparan. Begitu terus, berulang-ulang, hingga si peri hitam lelah dan menangis tersedu-sedu. Makhluk kecil itu pun akhirnya mengeluarkan aura hitam keunguan akibat kemarahannya. Wujudnya berubah menjadi sosok pria dengan rambut panjang sepunggung, kulitnya begitu pucat, memiliki taring panjang mengerikan, juga telinga runcing di atas kepalanya berwarna hitam. Pakaiannya hanya sebuah kain compang-camping yang bertengger di pinggangnya hingga lutut. Sedangkan tubuh bagian atasnya tak memakai apa-apa. Sayap di kakinya masih ada, dan dari mata kaki hingga lutut kakinya bersisik seperti ular. “Krrrr ....” Makhluk itu menggeram ke arah Gekko. Dan karena kesal serta moodnya sudah buruk dari pagi, maka tanpa sungkan Gekko melayangkan tusukan bertubi-tubi ke perut pria jadi-jadian itu menggunakan kuku jarinya yang tiba-tiba saja bisa memanjang. Pria itu pun tumbang tapi bisa kembali berdiri. Saat dia ingin menyerang Gekko lagi, kecepatannya tidak cukup untuk menggungguli Gekko, sehingga kepalanya sudah berada dicengkraman Gekko tanpa ia sadari. Gekko membenturkan kepala si pria pucat berkali-kali ke lantai, sampai menimbulkan lubang yang cukup dalam. Namun, karena tak bisa mati, si pria hanya menjerit-jerit kesakitan dengan bahasa aneh yang tak bisa Gekko atau Agalia mengerti. Belum cukup meluapkan kekesalannya. Gekko kembali menusuk perut si pria berkali-kali sambil mencekik lehernya sangat kuat. Si pria pucat sampai tak bisa bersuara, wajahnya memelas meminta ampun. Gekko membisikkan sesuatu ke telinga si pria dan pria itu juga mengucapkan sesuatu sambil  mengangguk-angguk seperti menyetujui sesuatu. Kemudian Gekko pun melepaskan si pria pucat yang kembali merubah sosoknya menjadi makhluk kecil berwarna hitam. Ia merangkak masuk kembali ke dalam tangkai bunga Lily dan keadaan pun menjadi normal. Agalia hanya ingat bahwa saat itu Gekko mengatakan. “Untuk bisa memiliki sihir yang kuat, cahaya saja tidak akan cukup. Lily itu bisa hidup, karena ada kegelapan yang ikut menyokongnya. Selama ini mungkin kau tak tahu bahwa bunga itu memiliki sisi gelap yang tersembunyi. Kau harus bersyukur karena tak ada orang yang cukup buruk untuk mengeluarkan iblis dari dalam bunga itu.” Dan tanpa sadar, Agalia menanggapi, “Tapi, kau berhasil mengeluarkan iblis itu. Apakah ini artinya kau juga merupakan sang terpilih, namun dari sisi yang berbeda?” “Tidak. Dia mau keluar, bukan untuk menjadikanku pemilik kekuatannya. Dia tadi hanya berusaha merasuki tubuhku untuk dijadikan inang, hanya karena ... dia merasa cocok dengan aura yang kumiliki,” Gekko mendesis di akhir ucapannya. Agalia melihat seperti ada rasa jengkel di ucapan Gekko, entah karena apa gadis itu bisa merasa jengkel. “Lalu, bagaimana kau bisa mengetahui itu semua? Tentang kegelapan dalam bunga itu?” Meskipun berbisik, tapi Agalia masih bisa mendengar perkataan Gekko bahwa, “T’ma yang mengatakannya. Iblis kecil yang beratus-ratus tahun menopang bunga Lily kebanggaanmu.” Agalia menghela napas, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada Gekko. Anak itu tidak memiliki alasan untuk menjadi penyihir dan sepertinya dia memang tidak tertarik. Tapi, yang Agalia yakini adalah, bahwa si kecil pucat itu memiliki kekuatan untuk hidup di dasar kegelapan sekali pun. . . . Alice memandang bulan kuning dari balik jendela besar kamarnya. Perasaannya sangat tidak nyaman, seperti terbebani sesuatu yang amat berat. Ia memikirkan banyak hal, tentang ayahnya yang sekarang mungkin sendirian di rumah, tentang masa depannya jika tidak bisa pulang ke dunia asalnya, juga tentang misi yang diembankan padanya. “Aah.” Ia menghela napas berulang-ulang, untuk meredakan rasa berat di dadanya. “Kau ingin pulang?” Tanpa menoleh, Alice tahu siapa yang mendekatinya. Gekko, tentu saja. Maka ia pun mengangguk untuk menjawab pertanyaan temannya itu. “Ini sudah satu minggu lebih dan kita tak tahu harus melakukan apa agar bisa pulang. Aku rindu ayahku. Tiga hari lagi juga hari kematian ibuku. Aku ingin mengunjungi makamnya.” Alice bercerita, berharap bisa mengurangi beban perasaannya. Sedangkan Gekko yang berada di samping Alice, tidak tahu harus mengatakan apa. Saat ini dia memang sedang pergi dari rumah, jadi tak mungkin ada yang mengkhawatirkannya. Selain itu, dia juga sering bepergian jauh selama berbulan-bulan untuk melakukan pekerjaannya. Ia jadi merasa tidak terlalu merindukan rumahnya. “Nikmati saja kehidupanmu di tempat ini. Meskipun aku kurang setuju dengan misi yang diembankan padamu, tapi mau bagaimana lagi. Menolak lalu kabur pun percuma. Kita tidak tahu apa-apa tentang dunia ini. Mungkin memang lebih aman jika kalian memenuhi keinginan Ratu. Lagi pula, aku juga akan selalu menjagamu.” Kali ini Alice mengalihkan matanya untuk memandang Gekko. Temannya itu sedang menatap ke bulan kuning yang tadi dilihatnya. Bagi Alice, Gekko masih sama seperti Gekko tujuh tahun lalu. Pandangan mata yang tajam, wajah tanpa emosi, serta aroma tubuhnya yang seperti buah persik. Mungkin Gekko sudah melupakan pertemuan pertama mereka, tapi Alice tidak akan pernah lupa. Sehari pun, ia tidak pernah lupa. Kali ini pun, aku juga akan menjaga Gekko. Ia bersumpah dalam hati, kemudian tersenyum senang sambil tiba-tiba memeluk Gekko erat. “Ck, jangan seperti Lizzy.” Gekko menggerutu. Tapi malah membuat Alice senyum-senyum kegirangan. “Uugh ... aku, kan juga ingin sekali-kali memeluk Gekko seperti ini. He he.” . . . One Weeks Later . Hujan mengguyur Agalaia selama dua hari berturut-turut. Berenice jadi tidak bisa melatih murid-murid barunya di luar. Maka, selama dua hari pula, ia hanya mengajari murid-muridnya teori saja. “Setiap mantra, memiliki fungsi yang berbeda. Semakin sulit tingkat mantra kalian, maka semakin rumit pula segel yang dihasilkan. Segel yang rumit dan tanpa cacat adalah perwujudan seberapa besar kekuatan yang kalian keluarkan.” Alice dan Lizzy mengangguk, sedangkan Gin terlihat menopang dagunya dengan mata yang terlihat sayu, mengantuk. “Tuan Berenice ... kapan kita mulai praktek? Aku tidak terlalu pandai berurusan dengan teori.” Gin berujar malas. Ia lebih memilih berlarian di tengah hujan atau saat matahari sedang terik daripada duduk diam mendengarkan ceramah. Berenice menghela napas. Ia merasa, mengajar Pangeran Rozen lebih mudah daripada mengajar tiga murid barunya ini. Padahal Pangeran Rozen adalah salah satu murid yang paling cerewet, tapi ternyata masih ada yang lebih merepotkan. Ah, apa semua manusia dari dunia lain seperti ini? Berenice membatin sambil geleng-geleng kepala. “Jika besok hujan sudah reda, kita akan berlatih di luar,” ujar Berenice memberi janji. “Kalau ternyata hujannya tidak reda juga?” Gin bertanya sanksi. Matanya memincing kurang percaya. Menghela napas, akhirnya Berenice mengalah dengan berkata, “Kalau tidak reda, besok aku akan meminjam aula latihan berpedang untuk tempat praktek kalian.” “Yeii!” Lizzy berseru senang. Ia ber high five dengan Gin. “Tuan Berenice memang yang terbaik,” lanjutnya tanpa sungkan. Berenice geleng-geleng kepala, tapi ada senyum di bibirnya. Ia merasa senang memiliki murid penuh semangat seperti ini, meskipun tingkah mereka sedikit membuatnya susah. Ia kemudian mengalihkan matanya ke pintu yang terbuka, dan melihat Rozen berjalan di depan ruangannya. “Selamat siang, Pangeran,” sapa Berenice dari dalam ruangan. Rozen menoleh, ia memberikan senyum kecil untuk Berenice. Kakinya melangkah mendekati ruangan mengajar Berenice dan kemudian berhenti di mulut pintu. “Bagaimana? Kau senang mengajar mereka?” tanya Rozen basa basi, matanya melihat satu persatu pada tiga teman barunya. “Ha ha ha, ya ... lumayan. Meskipun sedikit merepotkan,” jawab Berenice setengah bercanda. “Kami dengar loh ... Tuan Berenice.” Gin dan Lizzy menyahuti bersamaan. Mereka pura-pura cemberut, kemudian terkikik senang saat melihat Berenice salah tingkah. “Sepertinya kelas ini berjalan menyenangkan. Mungkin lain kali aku akan ikut belajar di kelas ini.” Rozen tersenyum. “Baiklah, aku tidak mau mengganggu. Selamat belajar.” Rozen pun melangkahkan kakinya pergi. Lizzy melambaikan tangan, Gin tidak perduli, Berenice kembali menyiapkan materi mengajar, dan Alice memandangi kepergian Rozen dengan membawa pertanyaan di benaknya. Apa dia akan menemui Gekko? batin Alice merasa cemas. ∞ Rozen melihat Gekko sedang duduk membaca buku di perpustakaan. Ia pun mendekat dan ikut duduk di kursi yang berseberangan dengan Gekko. “Hei.” Rozen memulai percakapan. “Hn?” Sementara Gekko terlihat tidak peduli. Ia sibuk dengan buku yang dibacanya. “Beberapa hari terakhir ini, aku sering melihatmu keluar malam sendirian. Sebenarnya apa yang kau lakukan?” meskipun tahu dia diabaikan, tapi Rozen tidak menyerah untuk bisa berbicara dengan Gekko. “Bukan urusanmu.” Jawaban Gekko sungguh membuat Rozen seakan habis kesabaran. Dia bertanya baik-baik dan dijawab dengan sikap tak acuh. Sudah seminggu dia berusaha mengajak bicara baik-baik pada Gekko, tapi selama itu pula Gekko menanggapi dengan dingin. Jengkel sekali rasanya. Seumur-umur, sebagai Pangeran, belum ada orang yang berani mengabaikannya. Sikap Gekko yang kurang sopan pada Ibunya juga tak luput dari sorotan Rozen, ia jadi makin jengkel. “Ck, seandainya bukan ibuku yang menyuruh untuk berbaik-baik padamu. Aku sebenarnya malas sekali bicara denganmu,” gerutu Rozen kesal. Ia menopang dagunya dan melihat ke jendela. Di luar hujan masih deras mengguyur, sama sekali tak ada pemandangan indah yang bisa dilihatnya. Gekko melihat Rozen yang sepertinya marah padanya. Ia sebenarnya tidak begitu peduli, tapi mengingat perkataan Rozen yang bilang bahwa ibunya menyuruhnya bersikap baik pada Gekko, membuat Gekko terpikirkan sesuatu. “Aku sebenarnya sedang mencari makhluk ini.” Gekko menyodorkan buku yang dibacanya pada Rozen. Dan karena merasa tidak biasa Gekko mau bicara baik-baik, Rozen pun jadi penasaran. Mengabaikan rasa kesalnya, ia akhirnya melihat buku yang ditunjukkan Gekko. “Dullahan? Ada apa dengan makhluk ini?” tanya Rozen penasaran, saat melihat gambar Kstaria berbaju zirah tanpa kepala sedang menunggangi seekor kuda hitam. “Beberapa hari ini aku mengikutinya dan aku kesulitan mencari waktu untuk menangkapnya,” jelas Gekko tenang. Mendengar Gekko ingin menangkap Dullahan, Rozen melotot tak percaya. “Menangkap Dewa Kematian tak berkepala ini? Menangkap Dullahan?” tanya Rozen tak percaya. “Kau mengucapkan namanya berkali-kali, apa akan baik-baik saja? Kau tidak takut nanti malam dia mencarimu?” Gekko bertanya tenang, seakan tidak peduli pada Rozen yang sekarang ketakutan sambil menutup mulutnya. “Jika tidak ingin jadi sasarannya, maka bantulah aku untuk menangkapnya.” “Membantumu? Jangan bercanda ... menggunakan kekuatan sihir saja kau tidak bisa, bagaimana mau menangkap makhluk macam Dulla ... hmp.” Belum selesai Rozen menyebut ‘Dullahan’ ia sudah menutup mulutnya lagi. Gekko tidak begitu ingin menanggapi sikap Rozen yang meremehkannya. Ia sudah biasa diperlakukan seperti itu. “Tidak apa-apa kalau tidak mau membantu. Padahal ibumu sepertinya akan senang jika kau bisa menangkap makhluk ini. Dia sudah membunuh beberapa penyihir di desa kecil. Jika bisa menangkapnya, ini akan mengurangi masalah di negerimu.” Rozen pun merubah rautnya ketika mendengar penjelasan Gekko. Sepertinya ucapan Gekko ada benarnya. Empat hari lalu, makhluk itu singgah di negerinya dan sudah membunuh beberapa orang tanpa bisa ditangkap. Biasanya saat ada kejadian seperti ini, pamannya lah yang mengatasi. Tapi, pamannya kini sudah sibuk di kerajaan lain. “Hm ... tapi, dia monster yang sangat kuat. Apa bisa kita menangkapnya?” tanya Rozen ragu. “Kita tidak akan sendirian. Ada yang akan membantu kita. Bagaimana?” Setelah diam beberapa menit, Rozen pun akhirnya mengangguk. “Baiklah,” sanggupnya penuh keyakinan. . . . Night . Rozen mengikuti Gekko masuk ke dalam hutan. Mereka berjalan selama dua puluh menit untuk sampai di perbatasan sebuah desa kecil. Namun, saat sampai di tempat tujuan, Rozen dikejutkan dengan kehadiran dua makhluk berbeda ras yang sepertinya sudah menunggu kehadiran mereka. “Selamat malam, Master.” Makhluk dari ras Harpy, membungkuk memberi hormat. Diikuti makhluk lain yang rasnya tak diketahui Rozen. “Kalian tidak boleh ceroboh kali ini. Target kita sangat kuat, Celaeno, T’ma.” “Baik, Master.” Rozen masih tak mengerti. Ia melihat Gekko dan dua makhluk yang membungkuk itu bergantian. Ia berpikir, jika makhluk yang dipanggil Celaeno dan T’ma itu menyebut Gekko sebagai Master. Maka ... Mereka. Terikat sebagai b***k? Tapi sejak kapan Gekko ... siapa sebenarnya dia? . TBC 01 Juni 2020 (Dreame)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD