The Hidden Assassin
Remake 2015
.
.
.
Trygvia Center, Trygvia.
.
Trygvia Center, atau lebih mudah diucapkan dengan menyingkatnya menjadi T-Ce, adalah bangunan besar di dekat gerbang utama Trygvia. T-Ce menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang ingin memasuki Trygvia secara legal. Di T-Ce melayani pembuatan surat bebas akses wilayah, surat kependudukan, surat kelakuan baik, surat tanah dan masih banyak lagi. Tidak heran jika T-Ce selalu ramai setiap harinya.
“Tempat ini sibuk dan ramai.” Itu adalah komentar pertama Alice ketika menjejakkan kakinya di depan T-Ce.
“Trygvia adalah wilayah yang sangat terstruktur dan terkendali. Di antara tiga kerajaan besar penguasa Elysium, hanya Trygvia yang memiliki sistem ketatanegaraan paling baik. Dan Trygvia Center ini merupakan salah satu kantor pelayanan masyarakat yang berada di Trygvia. Tidak heran jika tempat ini terlihat sangat sibuk,” jelas Rozen sambil berjalan membimbing Alice dan Lizzy memasuki T-Ce.
“Hmm ....” Lizzy mengangguk. Kepalanya menoleh ke mana saja untuk mengamati keadaan sekitar. “Bukankah Trygvia adalah wilayah yang mayoritas pendudukknya adalah ras monster ya? Tapi bisa teratur begini,” komentar Lizzy masih sambil melihat-lihat. Ia melihat berbagai macam monster berbaris rapi di berbagai loket. Rasanya ingin tertawa tapi juga tak dipungkiri kalau Lizzy begitu kagum pada monster-monster yang dilihatnya.
“Semua ini terjadi berkat seorang pegawai sipil yang begitu cekatan menangani Trygvia. Dia seseorang yang sejak umur dua belas tahun sudah bekerja sebagai tangan kanan raja tertinggi Trygvia. Namanya adalah Chernaya Zmeya. Tapi sebagian besar orang memanggilnya dengan nama ... Ern,”
“Ya, ada apa denganku? Pangeran Rozen?”
.
“Huaaaa!!! No ... Nona Ern?!” Rozen begitu kaget saat tiba-tiba orang yang dia bicarakan sudah berada di belakangnya. Berdiri tenang dengan wajah super datar dan juga memandangnya dengan bola mata bulat yang lucu.
“Gekko?!”
“Gin!”
Teriakan Rozen disusul oleh Alice yang meneriakkan nama Gekko, kemudian Lizzy yang langsung menyongsong Gin dengan pelukan.
“Yooo teman-teman. Aku sampai dengan selamat,” ujar Gin riang disertai cengiran sumringah, khasnya.
“Syukurlah, kalian baik-baik saja.” Alice pun segera memeluk Gin erat, mengobati kekhawatiran juga kerinduan pada teman baiknya itu.
“Aku senang kau tidak kenapa-kenapa.” Rozen pun tak mau kalah. Ia melakukan tos ringan dengan Gin. “Tapi. Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa bersama dengan Nona Ern?” tanya Rozen penasaran. Ia melihat Ern, Gin dan Gekko bergantian.
Gin garuk-garuk kepala. “Kami kebetulan bertemu di jalan. Banyak hal sudah terjadi ... dan berakhir dengan kami ke tempat ini bersama-sama,” jelas Gin nyengir, sedikit kikuk.
“Banyak hal? Memangnya apa saja yang sudah terjadi?” tanya Lizzy penasaran. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya sedikit tidak enak.
“Tidak ada hal menarik yang bisa kau dengar,” sahut Gekko tiba-tiba. Ia melangkahkan kakinya untuk pergi mengantri ke sebuah loket.
Teman-temannya memandang Gekko yang sudah berada di kejauhan dalam diam. Entah kenapa, ada perasaan berbeda yang mereka rasakan ketika melihat Gekko. Dia seperti ...
“Dia berubah. Hawa di sekitarnya semakin terasa menyesakkan,” ujar Rozen pelan yang ditanggapi anggukan oleh Alice dan Lizzy. “Kau pasti bisa menceritakan semua yang sudah terjadi ketika kita berpisah, kan? Gin?”
Gin meneguk ludah. Ia memandang satu per satu teman-temannya. Ah, dia benar-benar bingung harus jujur atau tidak. Ia takut Gekko tak mengijinkannya bercerita. Tapi, ia juga tak bisa membohongi teman-temannya.
“Jangan memaksa seseorang untuk mengatakan hal yang tak ingin mereka katakan, Pangeran Rozen. Semua orang punya rahasia,”
Rozen langsung tersentak mendengar ucapan dari Ern. Terlalu fokus dengan Gekko, ia sampai lupa bahwa ada Ern di dekatnya.
“Ma ... maaf. Saya sampai mengabaikan Nona Ern. Saya minta maaf,” ucap Rozen gugup. Ia membungkuk untuk meminta maaf karena bersikap tidak sopan di hadapan Ern. “Ah! Dan juga mari saya perkenalkan. Teman-teman saya, Alice Russel dan Lizzy Chrunchill,” sambung Rozen. Ia menunjuk Alice dan Lizzy bergantian.
“Hmm ... jadi mereka juga teman Gin dan si judes Gekko?”
“Eh?” Rozen bingung harus menanggapi apa dengan julukan yang diberikan Ern untuk Gekko. “Si pendek satu itu bahkan sudah mendapat julukan judes dari Nona Ern,” batin Rozen miris. Ia pun hanya tertawa ringan agak dipaksakan.
.
.
.
“Mereka sepertinya akrab ya?”
“Bahkan belum ada lima menit mereka berkenalan, mereka sudah bicara layaknya teman lama,”
“Uugh ... rasanya sedikit cemburu,”
“Kurasa mereka tipe manusia dengan cara berpikir serupa. Biasanya yang seperti itu mudah akur,”
“Bisa jadi,”
Rozen, Gin, Alice dan Lizzy sedang memperhatikan Gekko dan Ern yang terlihat membicarakan hal serius di meja paling pojok. Mereka ada di kanting T-Ce, untuk menikmati makan siang setelah tadi mengurusi berbagai macam surat penting. Bukan tanpa alasan kenapa meja mereka terpisah jauh dari Ern dan Gekko. Ini semua atas permintaan Ern, jadi mana bisa mereka menolak. Meskipun penasaran, tapi mereka mencoba menghargai Ern dan Gekko yang sepertinya punya banyak hal yang perlu diselesaikan.
“Mendengar dari suara detak jantungmu, juga melihat dari aura yang kau pancarkan, sepertinya kau telah melakukan ikatan dengan Maurice,” ujar Ern memulai pembicaraan. Ia mengaduk-aduk teh rosela dan bunga melati di cangkirnya.
“Sudah kuduga kau mengetahui hal ini. Kurasa tak ada yang bisa disembunyikan dari orang sepertimu.” Gekko sendiri sedang sibuk dengan pie apel yang tadi dipesannya.
“Memangnya aku orang seperti apa? Jangan bicara tidak jelas, kau bisa membuat orang lain salah paham,”
Gekko mendecak. Ia tidak terlalu perduli jika Ern mulai berbicara omong kosong tidak jelas. “Aku tidak perduli dengan ocehanmu. Sekarang yang ingin kuketahui adalah ... apakah kau tau bagaimana cara ke dunia selain Elysium?”
“Hm?” Ern memandang Gekko cukup lama, kemudian ia beralih pada tehnya lagi. “Kenapa? Kau ingin pulang ke duniamu?”
Gekko tersentak. Bagiamana Ern bisa tahu bahwa dia tidak berasal dari Elysium padahal ia belum pernah mengatakannya.
“Tidak perlu terkejut. Aku hanya bisa membedakan manusia dari Elysium atau tidak, bukannya bisa membaca pikiran,” sambung Ern memberi penjelasan.
“Bagaimana caranya kau tahu bahwa aku bukan berasal dari Elysium?”
Ern mengedikkan bahu. “Aromamu dan ketiga temanmu itu berbeda,”
“Kau bisa mengenali hanya dari aroma?”
“Tenang saja, hanya aku yang bisa melakukannya,” jelas Ern santai. Ia menyeruput teh roselanya pelan. Kemudian bereaksi berlebihan seperti, “ah, teh yang menakjubkan,”
“Jika kau menawarkan padaku apakah aku ingin pulang atau tidak. Itu artinya kau tahu cara agar aku bisa pulang, kan?”
Ern mengangguk. “Pindah-pindah dimensi bukan hal yang sulit. Asal kau punya banyak energi untuk menciptakan portalnya, kau bisa pergi ke mana saja,”
Gekko mengeryit. “Apa semua orang bisa membuat portal?”
Kali ini Ern menggeleng. “Tidak. Karena tidak semua orang memiliki kekuatan yang memadai. Selain itu kau juga butuh benda khusus untuk membuat portal antar dimensi. Tak semua orang memilikinya. Di Elysium saja mungkin hanya raja-raja tertinggi yang punya,”
“Benda khusus?” tanya Gekko lagi. Tangannya menyendok sedikit demi sedikit pie apelnya, sambil sesekali melihat Ern yang bermain-main dengan teh di gelasnya.
“Ya. Semacam kabut dari luar angkasa ... yang sudah dipadatkan, diberi bumbu sihir dan huwala! Jadilah berlian hitam yang didalamnya terdapat kabut berwarna-warni,”
Gekko diam sejenak. “Kau bilang pindah dimensi bukan hal yang sulit?” tanya Gekko sedikit sanksi dengan pernyataan Ern tadi.
“Memang tidak sulit kok. Asal punya kekuatan yang cukup dan juga benda khusus. Kau tidak mendengarkanku? Ck ck ck, tidak sopan sekali kau bocah.” Ern geleng-geleng kepala, tapi Gekko tak terlalu perduli.
“Lalu, apa kau punya beda khusus itu?”
Ern menggeleng. “Dulu aku punya banyak, tapi sudah kuhabiskan untuk jalan-jalan ke berbagai dimensi,” ucap Ern sangat santai.
“Kau orang paling sialan yang benar-benar ingin kuhajar,”
“Kau juga sama. Bocah sialan,”
Mereka diam setelah saling melempar tatapan dingin dan menusuk. Kemudian mereka beralih pada hidangan di atas meja yang sejak tadi menjadi pelampiasan saat mereka sedang tak ingin saling pandang.
“Lalu, di mana aku bisa mendapatkan benda khusus itu?” Gekko bertanya lagi. Mengabaikan kemarahan kecilnya pada Ern.
“Jika kau ingin meminta benda itu dari para raja tentu akan sangat sulit. Bisa-bisa kau dihukum dan berakhir di penjara. Tapi, tenang saja. Ada satu orang yang bisa kau mintai benda itu tanpa perlu mengorbankan nyawa,”
“Katakan saja dengan singkat,”
“Ck,” Ern berdecak karena ia tak bisa mendapatkan reaksi memohon dari Gekko. “Kau bisa mendapatkannya dari seorang pedagang benda sihir keliling. Namanya Grim, pak tua kolot yang suka jalan-jalan bersama anaknya yang agak keterbelakangan mental untuk berjualan,”
“Ke mana aku harus mencari mereka?”
Ern memandang Gekko lekat. Kemudian dengan cengiran mengerikan dia menjawab, “ke seluruh penjuru Threasyiluem.”
.
.
.
Saya mengucapkan terima kasih banyak pada Nona Ern, karena sudah menolong teman-teman saya. Nona Ern juga bersedia repot-repot mengantar mereka ke tempat ini. Saya benar-benar berterima kasih.” Rozen membungkuk dalam-dalam untuk berterima kasih pada Ern. Ia merasa beruntung karena Gin dan Gekko ditolong oleh orang hebat seperti Ern.
“Ya ... tak perlu membungkuk seperti itu padaku. Aku hanya orang lewat yang kebetulan bertemu teman-temanmu,” ucap Ern sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah. “Setelah ini kalian berhati-hatilah di perjalanan. Jangan sampai tergoda oleh gadis-gadis cantik di Trygvia ...,” ucapan Ern yang satu itu ditujukan untuk Gin dan Rozen. “Dan jangan sampai terhasut oleh pria-pria tampan yang matanya bisa berubah-ubah warna,” kemudian ia melanjutkan ucapannya sambil melihat Alice dan Lizzy. “Mereka semua itu monster. Beberapa dari mereka ada yang suka memakan jiwa manusia, ada juga yang cuma suka hisap-hisap darah,” lanjut Ern berceramah.
Semuanya mengangguk patuh. Mendapat wejangan dari Ern merupakan suatu kehormatan.
“Ya, kami akan selalu mengingat ucapan Nona Ern.” Rozen tersenyum sumringah. “Kalau begitu, kami pamit. Sampai jumpa, Nona Ern,”
“Hn,”
..
“Jadi, apa saja yang kau bicarakan dengan Nona Ern? Sepertinya kalian membicarakan banyak hal,” tanya Alice kalem ketika ia dan Gekko berada di kuda yang sama. Sekarang mereka hanya memiliki tiga kuda. Jadi Alice memilih satu kuda dengan Gekko, sedangkan Gin bersama Lizzy.
“Hn,”
“Aha ha ha, kau jahat seperti biasa,” ucap Alice tersenyum maklum.
“Suatu saat, akan kuceritakan,”
Mendengar ucapan Gekko, Alice pun hanya mengangguk sebagai reaksi. Jika Gekko sudah berjanji, maka Alice sudah tidak khawatir lagi, karena Alice tahu bahwa Gekko akan selalu menepati apa yang sudah dia janjikan. Meskipun mungkin akan lama, tapi tak apa.
“Senang rasanya bisa bersamamu lagi.” Alice tiba-tiba memeluk pinggang Gekko dari belakang dan menyandarkan kepalanya ke bahu Gekko. “Beberapa hari ini, firasatku tentangmu selalu buruk. Kuharap kau benar-benar tidak mengalami hal mengerikan saat di hutan mati,”
“Hn,”
Setelah diam beberapa saat, Alice pun berujar lagi. “Aku berdoa, semoga perjalanan kali ini lebih tenang,”
“Ya,”
“Semoga kita bisa melakukan misi ini tanpa hambatan,”
“Ya,”
“Semoga kita bisa pulang ... ke rumah,”
“Pasti kita bisa pulang,”
Alice pun mengangguk. Senyumannya tidak pudar, meskipun ia sedikit ingin menangis saat ingat tentang rumahnya, ayahnya dan semua kehidupannya di London. Pelukannya pada Gekko pun menjadi semakin erat.
.
.
.
Next Escapade.
Begun!
.
.
.
Evigiya Kingdom, Trygvia.
.
Memasuki wilayah Trygvia lebih dalam. Maka jalan setapak akan membimbingmu ke sebuah kerajaan yang dipenuhi bunga poppy merah. Dari gerbang utama kerajaan, bunga poppy sudah menjadi semacam simbol di berbagai sudut. Kemudian semakin masuk ke dalam, bunga poppy pun terlihat di sepanjang mata memandang.
Nama kerajaan ini adalah Evigiya. Kerajaan yang di dalamnya dipenuhi oleh manusia-manusia berkulit pucat dengan pakaian serba hitam. Para wanita mengenakan pakaian seperti gaun wanita-wanita Eropa jaman dulu. Para prianya pun mengenakan setelan jas dengan sepatu boot tinggi. Hanya saja, di sini, semua pakaian serba hitam.
Manusia berpakaian hitam ditambah bunga poppy di setiap sudut kota, menjadikan Evigiya seperti area pemakaman dalam skala besar. Selain itu, bau dupa dan minyak wangi melati pun tercium di mana-mana. Lizzy dan Gin sampai ingin mual menghirup aromanya.
Sejak awal, Ern sudah mengingatkan kelima remaja itu, agar mengenakan jubah bertudung ketika memasuki wilayah Evigiya. Orang-orang di Evigiya sedikit aneh, mereka memiliki kepercayaan sendiri dengan memuja dewa Hades. Manusia atau monster yang tidak berhati-hati ketika berada di Evigiya, bisa berakhir tragis dengan dijadikan tumbal untuk dewa mereka.
“Kalian berasal dari mana?” seorang perempuan penjaga lobi penginapan bertanya dengan suara berbisik dan sedikit serak. Perempuan itu terus menunduk meskipun ia sedang melayani tamu. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.
“Agalaia,” jawab Rozen singkat dan pelan ketika ia mengisi data diri.
“Berapa kamar?” perempuan itu bertanya lagi.
“Satu,”
Tanpa berkata apapun lagi, perempuan yang terus menunduk itupun menyerahkan kunci kamar kepada Rozen. Namun, ketika Rozen dan yang lain akan beranjak pergi menuju kamar. Wanita penjaga lobi tiba-tiba mengucapkan sesuatu.
“Berhati-hatilah. Pemimpin tertinggi sedang mencari tumbal untuk persembahan tahun ini. Kalian orang luar sebaiknya segera pergi,”
Rozen mengangguk. Ia pun cepat-cepat segera mengajak teman-temannya untuk pergi ke kamar.
.
Sampai di kamar, mereka segera melepaskan tudung jubah, kemudian bernapas panjang seperti baru saja keluar dari situasi mencekam.
“Kerajaan ini gila. Aku seperti berada di kuburan,” komentar Gin sambil membaringkan diri di lantai.
“Uugh ... aku ingin ke toilet.” Lizzy pun cepat-cepat menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kamar. Setelah ia menutup pintu, terdengar ia muntah-muntah dan sedikit terbatuk.
“Ini juga pertama kalinya aku ke Evigiya. Tidak kusangka, cerita Berenice tentang kerajaan ini benar adanya. Bahkan lebih mengerikan dari yang kuduga,” ujar Rozen menimpali keluhan teman-temannya.
“Aku tidak suka berada di sini.”
“Eh?” itu adalah reaksi dari Rozen, Gin dan Alice ketika mendengar komentar Gekko. Tak biasanya teman pucat mereka itu mengeluh tentang keadaan.
“Dari gerbang sudah ada yang mengawasi kita. Dan dari informasi yang diberikan penjaga lobi tadi. Aku merasa bahwa kita akan benar-benar dijadikan tumbal,” ujar Gekko menjelaskan kekhawatirannya. Ia berdiri di samping jendela untuk mengawasi keadaan sekitar melalui kaca jendela yang kordennya ia singkap sedikit.
Gin pun bergulung-gulung di lantai sambil mengeluh. “Aargh!! Baru saja aku lolos dari maut. Sekarang ada lagi yang ingin menjadikan kita tumbal. Hidupku penuh dengan kematian!!”
Gekko tak memperdulikan tingkah Gin yang berlebihan. Matanya fokus pada beberapa orang di luar sana yang sejak tadi terus menatap ke jendela kamarnya. Gekko benar-benar harus mempersiapkan diri untuk melakukan pertarungan lagi, sepertinya.
.
.
TBC
13 April 2015 in Wattpad
02 Juni 2020 in Dreame