13. Ern!

1938 Words
Celaeno membawa Gekko terbang ke gua kecil di bawah pohon, tempat ia menyembunyikan Gin. Namun ketika ia memasuki gua, ia begitu terkejut karena mendapati seorang asing yang duduk di samping Gin, memunggunginya. “Siapa kau?!” tanya Celaeno keras. Nadanya penuh ancaman juga kekhawatiran. Orang itu berbalik, matanya yang bulat tapi terkesan datar itu memandang Celaeno tanpa rasa takut atau sekedar terkejut. “Ini aku ... Chernaya. Kau lupa padaku? Celaeno?” Celaeno membelalakkan matanya. “No ... Nona Ern?! Bagimana bisa?!” Gadis muda yang dipanggil Ern oleh Celaeno itu hanya mengedikkan bahu. “Takdir mungkin,” jawabnya asal. . . . The Hidden Assassin Remake 2015 . . . “Hmm ... parah sekali luka mereka. Apa tekanan udara tidak wajar tadi yang membuat mereka jadi begini? Kukira itu tadi disebabkan oleh Maurice. Tidak kusangka King Vampire itu sudah jadi sangat kuat begitu,” Namanya Chernaya Zmeya, tapi orang-orang lebih suka memanggilnya Ern, atau Nona Ern. Yang dilakukannya sekarang adalah berusaha mengobati luka Gekko dan Gin dengan menggunakan sebuah bunga lonceng yang berpendar keemasan. “Tepatnya, dari Master Gekko dan King Maurice,” jawab Celaeno kalem. Ia sendiri tengah memegangi sebuah bunga lonceng yang diarahkan ke tubuh Gekko. Ern bilang bunga itu bisa untuk mengobati luka-luka. “Hmm ... Master Gekko ini ... yang perempuan ini?” tanya Ern menunjuk Gekko. Celaeno mengangguk. “Iya. Urm ... saya ...,” “Hm, aku tau. Kalau kau memanggilnya Master berarti kau sudah jadi b***k,” Lagi-lagi Celaeno mengangguk. “Itu balasan buatmu karena suka meremehkan orang lain. Tidak heran jika sekarang kau jadi b***k,” Ern geleng-geleng kepala. Celaeno hanya menunduk, malu, diomeli oleh Ern. “Tapi, kenapa Nona Ern bisa ada di sini?” tanya Celaeno penasaran, sekaligus mengalihkan pembicaraan, agar Ern tidak terus-terusan mengomel padanya. “Aku hanya sekedar lewat. Niatnya mau pulang ke Trygvia, sekaligus mengunjungi Maurice. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya sejak dia memutuskan untuk keluar dari Trygvia,” jelas Ern panjang lebar. Ia duduk tenang, dengan tangan yang memegangi bunga lonceng untuk Gin, sementara tangan satunya memegang biskuit jahe. “Eeeeh?!! Nona Ern kenal baik dengan King Maurice?!” teriak Celaeno kaget. Ern memandang Celaeno datar. “Kenapa kau sekaget itu?” tanya Ern tak berminat. “Dia dulu tinggal di Trygvia, tentu saja aku mengenalnya. Dia itu pengacau, jadi aku sering sekali berurusan dengannya. Memangnya kau pikir siapa yang mengurusi semua hasil kenakalannya kalau bukan aku?” Celaeno mengangguk-angguk paham. Memang benar jika Maurice Bellemare dulunya adalah penduduk Trygvia, tapi kemudian memutuskan untuk pergi ke suatu wilayah yang tak terjamah pemerintahan manapun. Maka ia memilih Hutan Mati di Maknaria sebagai tempat untuk mendirikan kerajaannya sendiri. Mungkin sebenarnya ia memiliki niat untuk mendirikan kerajaan di wilayah timur Elysium, tapi sepertinya ia masih belum sanggup memerintah di sana karena merasa kekuatannya masih sangat terbatas. “Kau sendiri, tidak ingin pulang ke Trygvia?” tanya Ern pada Celaeno. Namun Celaeno menggeleng. Harpy bersurai merah itu menatap Gekko yang sedang tak sadarkan diri dengan pandangan lembut dan penuh kasih. “Saya sudah menjadi milik Master Gekko. Saya tak mungkin kembali sebagai penduduk Trygvia,” “Hmm,” Ern hanya menanggapi dengan gumaman. Setelah itu mereka diam untuk beberasa saat, sebelum akhirnya Celaeno berinisiatif untuk bertanya lagi. “Ngomong-ngomong, Nona Ern mendapat bunga lonceng emas ini dari mana?” tanya Celaeno. Matanya memandangi bunga lonceng di tangannya penuh minat. “Itu hadiah dari seorang raja di Leifia. Itu loh ... raja yang istrinya banyak ...,” Celaeno memiringkan kepalanya sedikit untuk berpikir. “Raja di Leifia? Yang istrinya banyak? King Eirikr?” Ern mengangguk. “Dia memberikan bunga itu satu tahun lalu, saat aku membantu mengatasi masalah kependudukan di kerajaannya. Dan bunga itu selalu kubawa sebagai jaga-jaga jika ada yang butuh pengobatan,” Kini Celaeno yang mengangguk. “Hmm ... Nona Ern sering jalan-jalan ke berbagai negeri ya? Sibuk sekali sepertinya,” Ern mengedikkan bahu. “Itu karena King Nogh’ tidak berguna,” “Aha ha ha, Nona mengatai Raja Besar Trygvia loh,” ujar Celaeno lirih disertai tawa yang dipaksakan. “Hn,” . . . Leander Kingdom At Noon . Hari ke lima sejak Rozen berpisah jalan dari Gekko dan Gin. Ia bersama Alice dan Lizzy masih berada di Leander, butuh sekitar 23 jam lagi untuknya sampai ke perbatasan Maknaria-Trygvia. Selama lima hari perjalanan yang sudah dilewatinya, terasa tidak ada masalah berarti yang menghadangnya. Hanya saja, entah mengapa perasaannya selalu ... tidak enak. “Pangeran mengkhawatirkan Gekko dan Gin lagi?” tanya Alice yang kala itu sedang menikmati bekal makan siangnya di sebuah kursi panjang, di bawah pohon rindang, di tepi jalan. Rozen memberikan senyum tipis sebagai jawaban untuk pertanyaan Alice. Tanpa menjawab dengan kata-kata, ia pun mulai membuka bekal makan siangnya. Hanya sebuah roti gandum dan air putih. “Gin punya keberuntungan yang bagus. Pangeran tidak perlu khawatir dengan mereka berdua,” sahut Lizzy menyemangati. Ia sendiri sudah memakan bekalnya dari tadi, dengan sangat lahap. Bukannya Lizzy tidak khawatir, rasa khawatirnya bahkan jauh lebih besar daripada Rozen. Tapi, ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Gekko dan Gin akan baik-baik saja. Mereka akan bertemu kembali dan melanjutkan perjalanan bersama lagi. Lagi pula Lizzy tahu bahwa Gin kuat. Kekasihnya itu sudah melatih sihirnya sangat keras, jadi Gin pasti bisa melalui rintangan apapun yang menghadangnya, sekaligus melindungi Gekko. “Aku harap ucapanmu benar, Lizzy.” Rozen tersenyum tipis lagi. Ia berharap bisa mempercayai perkataan Lizzy sepenuh hati, meskipun dalam hatinya terasa ada sedikit ganjalan. Rozen menikmati makan siangnya, ditemani angin semilir dan langit yang terlihat sangat biru. Ia selalu menengadah ke langit, berdoa, semoga teman-temannya diberi keberuntungan juga keselamatan. . . . The Death Forest, Maknaria At Noon . Ketika Gekko membuka matanya kemudian bangkit untuk duduk, ia sudah mendapati dirinya dalam keadaan bersih tanpa noda darah sedikitpun. Ia juga sudah mengenakan pakaian lengkap dan luka-luka di tubuhnya sudah menghilang bahkan tanpa bekas. Matanya menyusuri tempat di sekitar, dan ia menyadari bahwa dia berada dalam sebuah gua kecil yang letaknya ada di bawah pohon. Samar-samar ia mendengar suara beberapa orang saling mengobrol dan juga tertawa ringan di luar. Maka ia pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke luar gua dan melihat siapa orang-orang berisik yang terdengar bahagia itu. Sampai di luar, Gekko bisa melihat ada tiga orang yang tengah asik membakar ikan. Tiga orang itu adalah Gin, Celaeno dan seorang lagi yang tak ia kenal. Gekko hanya melihat satu demi satu orang-orang itu ketika mereka menatapnya dengan raut terkejut sampai menghentikan tawa mereka. “Ma ... Master sudah sadar!” itu Celaeno. “Akhirnya, kau bangun juga pendek.” Itu Gin. “Ya ampun, kalian seperti dapat dorprize saja.” Lalu itu adalah si gadis asing yang tak Gekko kenal. Gekko tak terlalu perduli pada orang-orang itu. Ia lebih memilih duduk di sebuah bongkahan kayu bersama Gin. Kemudian Celaeno menghampirinya untuk memberikan sekantung air padanya. Gekko menerimanya dengan senang hati, tanpa banyak bertanya, ia pun segera meneguk air di dalam kantung sampai habis. “Apa Master baik-baik saja?” tanya Celaeno khawatir. “Hn.” Gekko mengangguk. Ia masih tak ingin banyak bicara, sepertinya moodnya sedikit buruk. “Jangan hanya memberinya minum, Celaeno. Beri dia ini,” ujar si gadis tak dikenal sembari memberikan bungkusan yang entah apa isinya. Celaeno menerima bungkusan itu, membukanya dan mengeluarkan isinya untuk diberikan pada Gekko. “Ternyata biskuit jahe,” ujar Celaeno kalem. Ia kemudian menyodorkan sepotong biskuit jahe untuk Gekko. Gekko lagi-lagi menerimanya tanpa banyak bicara. Tapi ia belum ingin memakan biskuit lezat itu. Ia malah menatap si gadis tak dikenal dengan pandangan ingin tahu sekaligus curiga. Mengetahui itu, Celaeno pun langsung bertindak untuk menjelaskan. “Ah, Master belum kenal Nona ini ya?” tanya Celaeno sedikit memancing. “Namanya Chernaya Zmeya. Kepala staf di Kerajaan Trygvia sekaligus tangan kanan King Nogh’ Raguna, Raja Besar Trygvia,” jelas Celaeno lengkap. “Aku hanya pegawai sipil. Lagi pula namaku itu terlalu aneh, jadi panggil Ern saja.” Gadis asing bernama Ern itu menyahuti penjelasan Celaeno. Ia sibuk sendiri membakar ikan. “Aku Gekko Hakai.” Gekko pun memperkenalkan diri, sebagai sopan santun pada orang asing. “Ya aku tahu. Temanmu Gin dan Celaeno sudah memberitahuku,” sahut Ern santai. Sembari menunggu ikan bakarnya matang, ia pun memakan biskuit jahe dari dalam kantung lain di tasnya. “Celaeno. Isi semua kantung air untuk persediaan perjalanan.” Gekko tiba-tiba memberi perintah, yang secara otomatis akan langsung dipatuhi oleh Celaeno. “Ya, Master.” Tanpa banyak bicara, Celaeno pun segera terbang pergi untuk mengisi kantung-kantung air yang sudah kosong. Setelah kepergian Celaeno, Ern berkutat kembali dengan ikan bakarnya. Ia mengambil ikan yang sudah matang untuk diberikan pada Gekko dan Gin. “Makanlah. Anak muda perlu banyak gizi. Ikan salmon mengandung omega 3, protein kualitas tinggi, asam amino, vitamin A, vitamin D, vitamin B6, vitamin B, vitamin E, kalsium, zat besi, seng, magnesium dan fosfor. Yang artinya, kalian tidak akan kekurangan gizi jika makan ikan salmon,” Gin mengangguk, menerima ikan bakar pemberian Ern dengan senyum mengembang. Sementara Gekko seperti biasa, menerima dalam diam. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku. Master ... Gekko? Atau pendek? Atau aku harus memanggilmu Master Gekko yang pendek?” tanya Ern tiba-tiba juga sedikit kurang berminat, karena minatnya kali ini sudah teralih sepenuhnya pada ikan bakar di tangannya.                    “Nona Ern ... kau juga pendek loh.” Ini Gin yang dengan berani-beraninya mengingatkan bahwa tinggi tubuh Ern tak lebih dari Gekko. Ia bahkan lebih pendek dua centi dari Gekko. “Aku hanya berusaha memanggil temanmu dengan nama akrabnya. Salahmu karena memanggilnya pendek,” sangkal Ern tak mau kalah. Gin pun diam karena merasa kalah bicara dari Ern. Ia memilih menikmati ikan bakar pemberian Ern tanpa banyak mengeluh, karena sejak dia bangun dari pingsan kemudian berkenalan dengan Ern hingga akhirnya bisa bicara banyak, Gin mempelajari satu hal, bahwa dia selalu kalah telak jika berargumen melawan Ern. “Jadi, bagaimana Gekko? Kau menyuruh Celaeno pergi karena ingin bicara denganku, kan?” tanya Ern lagi, berusaha kembali ke topik utama. Gekko menatap Ern dingin. Ikan bakar di tangannya belum ia cicipi sama sekali. “Celaeno bilang, kau adalah tangan kanan King Nogh’ Raguna. Bukankah itu artinya kau termasuk kalangan elit kerajaan? Kenapa bisa sampai ada di tempat ini?” Ern diam sejenak. “Hmm ...,” gumamnya pelan seperti sedang berpikir. “Bagaimana mengatakannya ya? Pekerjaanku memang selalu berkeliling sih. Aku lewat sini pun karena sedang ingin berkunjung. Tapi mungkin aku bisa melakukan kunjunganku lain hari. Karena rumah yang akan kukunjungi sepertinya agak berantakan gara-gara pemiliknya selesai melakukan pertarungan tidak karuan denganmu,” jelas Ern panjang lebar, dengan wajah super datar tentu saja. “Kau mau berkunjung ke istana milik Maurice?” Ern mengangguk. “Dia dulu kenalanku,” jawab Ern tenang. Gekko memaklumi. Manusia dengan aura seperti Ern tidak mengejutkan jika memiliki hubungan dekat dengan orang-orang kuat. Gekko bisa merasakan bagaimana aura di tubuh Ern yang memancar sangat indah. Tidak heran seandainya banyak orang yang akan kagum ketika berhadapan dengan Ern. “Sebagai petinggi penting di Trygvia, kau pasti sangat tahu seluk beluk wilayah Trygvia termasuk semua sub kerajaannya, kan?” tanya Gekko sedikit berbasa-basi. Ern mengangguk sebagai balasan. “Kau mau tanya tentang apa? Langsung saja. Bicara denganku tidak perlu bertele-tele,” “Aku dan teman-temanku akan ke Athanasia. Mencari bunga Lily Merah di puncak gunungnya. Bisa beri tahu padaku, jalan tercepat dan paling aman untuk sampai ke Athanasia?” tanya Gekko tanpa basa basi, sesuai saran Ern. Gin yang mendengar pertanyaan Gekko hanya bisa menatap kaget pada temannya. Ia tidak menyangka Gekko akan bicara blak-blakan tentang misi mereka. “Hmm ... gunung milik tuan-tuan kadal?” Ern mengangguk-angguk paham. “Manusia biasanya tidak diijinkan ke sana. Tapi, jika kau bisa mengambil hati para kadal itu hingga mereka mempercayaimu, maka  akan sangat mudah masuk ke Athanasia. Selain itu, mereka juga suka manusia dengan pengetahuan luas. Jadi lebih baik belajar dulu sebelum masuk ke sana,” tutur Ern jujur. Mengetahui Ern dan Gekko yang berbicara blak-blakan cukup membuat Gin kaget. Padahal mereka baru bertemu, tapi mereka saling memberikan informasi dengan begitu mudah. Tanpa takut bahwa salah satu dari mereka mencoba berbohong. “Tidak ada jalan tercepat untuk sampai di Athanasia,” ujar Ern lagi. “Jika sudah sampai di pusat administrasi Trygvia, nanti petugas di sana akan memberimu peta Trygvia. Jika ingin aman, ikuti saja apa yang terdapat di peta. Tapi, aku akan memberitahumu beberapa hal agar kau bisa selamat saat di Athanasia. Yang perlu kau ingat hanya ...,” . . . TBC Chapter kali ini cukup tenang dengan kehadiran Nona Ern. Soalnya kemarin habis berdarah2, sekarang selooow dulu ^^ Jangan kaget juga kalau Ern kenal banyak orang. Dia sering keliling negeri untuk bertugas. Monster jahat atau baik, petinggi kerajaan sampai petani biasa, semua yang ngurus dan mendata secara rinci adalah Ern. Jadi, Gekko akan banyak tahu jika dia ngobrol sedikit lebih lama dengan Ern. Chap depan Insya Allah isinya obrolan Gekko dan Ern. Aku ingin mendekatkan mereka berdua... 10 April 2015 in Wattpad 02 Juni 2020 in Dreame
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD