12. Chain

2051 Words
Gin mencoba membuka matanya perlahan, tapi berat sekali rasanya. Ia juga merasakan perih yang tak tertahan di sekujur tubuhnya. Jika dia bukan laki-laki, mungkin sekarang dia sudah menangis merintih-rintih. “Tuan ... Tuan Gin ... kau bisa mendengarku?” Sebuah suara memanggil-manggil namanya. Ia agak asing dengan suara itu, tapi ia seperti pernah mendengarnya. Entahlah, Gin tak bisa mengingatnya. “Tuan ... sadarlah ... Tuan Gin,” Ketika Gin membuka matanya secara penuh, ia bisa melihat seorang wanita bersurai merah tengah menatapnya. Awalnya pandangan Gin agak buram, tapi saat penglihatannya sempurna, ia bisa mengenali sosok yang dari tadi berusaha membangunkannya. “Ka ... kau Harpy ...,” “Saya Celaeno. Tuan Gin masih ingat? Saya b***k dari Master Gekko,” Gin mengedipkan matanya sekali, isyarat bahwa dia menjawab, “ya, aku ingat,” pertanyaan Celaeno. “Di mana Gekko?” dan di antara banyak sekali pertanyaan yang ingin Gin tanyakan, hanya keberadaan Gekko lah yang menjadi prioritasnya saat ini. “Master sedang melakukan pertarungan. Karena itulah saya membawa Tuan ke sini,” Gin pun diam. Meskipun khawatir tapi ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Ia membiarkan kepalanya terkulai di pangkuan Celaeno. Jika bisa, sebenarnya ia ingin keluar dari gua kecil di bawah pohon ini. Tapi, berdiri saja dia tidak sanggup, bagaimana dia bisa keluar untuk membantu Gekko. Ia pasti hanya akan menyusahkan. “Aku tahu kau sudah jadi semakin kuat. Kuharap kau baik-baik saja dan kembali dengan selamat,” Gin pun kembali menutup matanya, mencoba meredam rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia belum ingin mati, tapi rasa sakit yang dirasakannya membuatnya seperti akan mati. . . The Hidden Assassin Remake 2015  . . . Gekko berlari menyusuri lorong istana, yang kini tembok serta atapnya sudah banyak berlubang. Ia sedang berusaha mengejar Maurice yang mencoba menghindarinya. Vampir licik satu itu mungkin sedang berusaha menyembuhkan kedua tangannya yang tadi telah Gekko hancurkan. Saat Gekko berbelok, sebuah bongkahan dinding melayang dengan cepat ke arahnya. Dengan tangkas, Gekko meninju bongkahan itu dan terus berlari. Rupanya, Maurice sudah menyongsong kehadirannya. Dua orang itu pun berusaha saling meninju. Tapi, karena kekuatan mereka seimbang, mereka pun terpental ke belakang. “Tanganmu sudah utuh kembali rupanya,” ujar Gekko dingin, disertai cengiran sinis dari bibirnya. “Terima kasih karena sudah mengancurkan kedua tanganku, My Lady. Kau jadi semakin berharga untuk dibunuh. Khe khe khe,” Maurice pun cekikikan, seperti tak ada rasa takut di kepalanya. Ia berdiri sedikit membungkuk, dengan kedua tangannya yang dibiarkan terkulai. “Sa~~ Ayo kita selesaikan ini sekarang juga,” Ucapan penuh ancaman dan kebahagiaan dari Maurice, membuka pertarungan baru yang tampaknya akan lebih mengerikan daripada sebelumnya. Dua orang itu pun kembali berlari untuk menyosong lawan satu sama lain. Kuku-kuku di semua jari Gekko sudah memanjang, begitu pula dengan Maurice. Raja dari para vampir itu bahkan sudah mengeluarkan taringnya, seolah siap untuk merobek Gekko kapan saja. Ketika mereka sudah berhadapan, Gekko menusuk d**a Maurice tanpa ragu, tapi, Maurice pun berhasil melakukan hal yang sama pada Gekko. Setelah mereka mencabut tangan masing-masing, mereka mundur beberapa langkah. Tapi dengan cepat pula, mereka kembali menyongsong satu sama lain. Kali ini, Maurice berhasil mencengkeram tangan Gekko, kemudian melempar tubuh Gekko ke atas. Ia ikut melompat ke atas dan menendang tubuh Gekko kuat, hingga Gekko menumbuk lantai sampai menimbulkan cekungan cukup dalam di lantai. Gekko bangkit dengan cepat, ia melesat ke arah Maurice dan berhasil menendang Maurice sampai membuat sang vampir menubruk dinding dan mengakibatkan lubang besar di dinding. Sebelum Maurice bangun, Gekko menghampiri Maurice dengan cepat, memegang salah satu kaki sang vampir, memutarnya di udara kemudian melemparnya lagi. Kali ini bukan hanya satu lapisan dinding yang berlubang, tapi mencapai tiga lapis dinding. “Hmm ... ini lumayan sakit.” Maurice berdiri dengan santainya. Ia memandang ke sekeliling. Ia kini tengah berada di aula utama istananya. Banyak pilar-pilar besar yang menjadi penopang istana besar ini. Ia mencari-cari keberadaan Gekko. Ia tahu Gekko ada di sekitarnya, dan tengah bersembunyi di balik salah satu pilar besar di aula ini. “Jangan bersembunyi seperti itu, My Lady. Main kucing-kucingan begini kurang menyenangkan,” teriak Maurice dengan nada main-main. Maurice menggeretakkan jemari tangannya, kemudian melakukan gerakan mematah-matahkan leher sampai menimbulkan bunyi gemeretak dari tulang-tulangnya. Selesai dengan pemanasan, Maurice tiba-tiba melesat menuju satu pilar, yang jelas-jelas ada Gekko di balikknya. Ia menghancurkan pilar itu dengan satu pukulan. Sedangkan Gekko sudah berlari menjauh untuk menghindari runtuhan pilar yang roboh. “Nah~~ kalau kau keluar kan jadi lebih menarik, ngehe he he.” Maurice cengengesan. Pandangan matanya lebih aneh daripada sebelum-sebelumnya. Ia benar-benar terlihat seperti orang gila yang haus darah. “Ada pertanyaan yang harus kau jawab sebelum kau mati.” Gekko tiba-tiba berbicara. Pandangan matanya menggelap seiring dengan perubahan aura Maurice. Nampaknya auranya pun mulai berubah perlahan. “Silahkan bertanya. Puas-puaskan bertanya padaku sebelum My Lady mati bersamaku,” lagi-lagi kikikan senang keluar dari mulut Maurice. Gekko membuang napas kasar. “Langsung saja, kenapa setelah kau mati kau bisa dihidupkan lagi? Bagaimana cara menghidupkanmu?” “Hmm ~~ pertanyaan pancingan ya. Tapi akan kujawab kok. Khi khi khi,” setelah tertawa Maurice melanjutkan. “Itu karena ... jantungku dan jantungmu tidak terikat.” Maurice meloncat dan mendarat di belakang Gekko. Ia merangkulkan kedua tangannya di pundak Gekko tanpa sungkan. “Bukankah kau bilang bahwa jiwa kita terikat?” Gekko melirik Maurice di belakangnya yang mulai bergelayut manja di pundaknya. Maurice mengangguk, ia mulai mengendus leher Gekko dan menghirup dalam-dalam aroma yang dimiliki Gekko. “Pertukaran yang kita lakukan hanya berupa jiwa. Garnet dan mawar yang kita tukar sama sekali tidak berefek pada tubuh kita. Saat aku terluka, kau juga tidak ikut terluka kan, My Lady?” Gekko mengernyitkan dahi. “Tapi, bukankah kita sama-sama mati? Bukankah itu artinya, tubuh kita melakukan reaksi?” tanya Gekko penuh penasaran. “Hmm? Begitukah? Aha ha ha!” Maurice tiba-tiba tertawa terpingkal. “Secara teknis memang begitu. Tapi ... karena jantung kita, sumber utama kehidupan kita masih belum terhubung, maka sebenarnya salah satu dari kita bisa hidup kembali. Asalkan penangannya cepat,” lagi-lagi Maurice tertawa kecil. “Dan sayangnya yang bisa melakukannya hanya Rachel seorang. Jadi, kalau Lady-ku ini yang mati, maka aku masih bisa diselamatkan. Begitulah~~,” ujar Maurice penuh kejahilan pada ucapannya. Gekko diam. “Tapi, seandainya jika kau yang mati?” Menanggapi pertanyaan Gekko, Maurice pun mendekatkan bibirnya ke daun telinga Gekko kemudian berbisik, “maka, jantungmu akan diambil untuk menghidupkanku,” Menahan napas sejenak, Gekko pun sepertinya mulai mengerti dengan apa yang harus dilakukannya. Ia memejamkan matanya sebentar, kemudian dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, ia berbalik dan mendorong Maurice sampai jatuh terlentang ke lantai. “Kalau begitu. Maka hanya satu yang bisa kulakukan padamu,” ucap Gekko dingin dan penuh penekanan. Matanya menggelap. Ia menindih tubuh Maurice dan mencengkeram erat kedua pergelangan tangan sang vampir. Gekko menatap mata Maurice yang juga sama-sama menggelap. Lalu tubuh mereka pun tiba-tiba membeku. Lagi-lagi, Gekko melihat merah memenuhi iris matanya. Semuanya merah, tak ada yang lain. ia pun menyadari, bahwa ia kembali ke tempat di mana ia dan Maurice pertama kali bertemu. . . Chain . . Tanah gersang berwarna hitam, juga pohon-pohon mati yang batangnya menghitam. Gekko tak asing dengan tempat ini. Ia pernah tersesat berhari-hari dan berjalan tak tentu arah tanpa alas kaki. Kemudian ia bertemu Maurice dan mereka pun melakukan ikatan untuk mendapatkan kekuatan. Kali ini, Gekko masih memakai kimono putih yang sama, hanya saja tubuhnya terlilit oleh sulur berduri yang ditumbuhi mawar berwarna putih. Sulur-sulur itu keluar dari tanah dan melilitnya dengan sangat kuat. Namun Gekko tidak perduli. Matanya kini bergerilnya mencari sosok Maurice. Karena tak menemukan orang yang dia cari, Gekko pun melangkahkan kakinya perlahan-lahan. Sulur berduri yang mengikatnya masih melilitnya dan karena ia memaksa untuk bergerak, maka duri-duri itu pun melukai kulitnya. Darahnya merembes dan mengotori kimono putihnya, tapi lagi-lagi Gekko tidak perduli. Gekko masih berusaha berjalan di atas tanah kering yang entah kenapa terasa sangat panas. Sudah jauh ia melangkah, barulah Gekko menyadari bahwa telapak kakinya melepuh dan berdarah. Daging di telapak kakinya pun mulai terlihat, tapi ia masih juga tak perduli. Ia menoleh ke kanan, kemudian ke kiri. Maurice masih belum ia temukan. Ia memejamkan matanya beberapa detik, dan saat ia membuka matanya, ia bisa melihat Maurice ada di depannya. Maurice seperti tertidur. Raja vampir itu terlilit sulur berduri yang menjulang tinggi ke langit. Bunga mawar yang tumbuh di sulur itu bukan berwarna putih, melainkan merah dan meneteskan cairan amis seperti bau besi berkarat. Gekko tahu bahwa itu semua adalah darah. Gekko merentangkan tangannya dan sebuah rantai putih tiba-tiba saja ada di genggamannya. Rantai putih itu memiliki dua ujung, yang kedua ujungnya berupa pisau runcing yang mengeluarkan aura kemerahan. Saat Gekko ingin mendekat ke tempat Maurice, Raja Vampir itu tiba-tiba membuka matanya. Sulur-sulur yang awalnya diam dan melilit tubuhnya tiba-tiba saja melesat ke arah Gekko dan menancap ke tubuh Gekko dengan sangat cepat. Seperti mati rasa, Gekko bahkan sama sekali tak berhenti melangkah atau sekedar mengeluh kesakitan. “Apa yang kau inginkan? Aku sudah memberimu kekuatan melebihi apa yang kau butuhkan?” Suara Maurice terdengar serak dan dingin. Suaranya bergema dan terasa menakutkan. “Aku menginginkamu,” Jawaban Gekko membuat Maurice terdiam. Ia memiringkan kepalanya dan menatap Gekko dengan pandangan yang sulit diterjemahkan. “Jika kau menginginkanku, maka selamanya kau akan terikat duri-duri abadi ini bersamaku,” ucapnya dingin namun penuh hasutan. Bibirnya tersungging senyum tipis yang licik. “Aku tidak mau terikat oleh duri-duri abadi bersamamu, namun aku menginginkanmu,” ujar Gekko penuh kepastian. Ia masih menyeret kakinya yang mulai terasa berat karena sulur berduri  mengikatnya semakin kuat. Luka di tubuhnya pun semakin banyak, sehingga darah yang menetes dari tubuhnya seperti aliran sungai yang tak mau berhenti. “Bisakah kau mendapatkanku tanpa terikat oleh duri-duri abadi?” Tak memperdulikan pertanyaan Maurice, Gekko tetap melangkahkan kakinya. Ia semakin mendekati Maurice. Ia bahkan tak mengacuhkan sulur-sulur berduri yang terus menerus menembus tubuhnya. Ketika Gekko sudah sampai di depan Maurice, senyum kemenangan tersungging di bibirnya. “Akan kutancapkan rantai ikatan yang lebih kuat daripada perjanjian kita. Rantai yang akan mengikat jasad dan jiwamu bersamaku, sekaligus menghancurkan duri keabadian yang melilitmu,” Mata Maurice terbelalak. Ia terkejut ketika baru menyadari bahwa Gekko sudah menancapkan ujung rantai yang digenggamnya ke jantung Maurice. Dan saat Maurice melihat Gekko, ia melihat ujung rantai satunya sudah menancap di jantung Gekko. Aura berwarna merah kehitaman meluap dari tubuh mereka dan meledak sampai menghancurkan semua sulur berduri yang melilit tubuh mereka. Baru kali Maurice merasa kalah. Ia terikat dengan sebuah rantai yang dibuat oleh manusia. Tapi kemudian ia malah terbahak-bahak kesenangan. Dalam hati, ia berjanji untuk tak pernah memberikan Gekko pada siapapun. Karena Gekko adalah manusia pertama yang bisa menakhlukannya sampai seperti ini. . Ketika sadar dari kebekuan, Gekko dan Maurice terbatuk-batuk hebat. Mereka sama-sama memuntahkan darah kental dari mulut. Aura mereka pun menghilang seperti tertiup angin. Mengakibatkan udara di sekitar tak lagi terasa berat dan menyakitkan. Setelah terbatuk hebat, dua orang itu sama-sama meringkuk di lantai, menahan sakit di d**a yang menyerang tiba-tiba. Dan dalam sekejap, kesadaran mereka pun menghilang. . . . Celaeno tak lagi merasakan tekanan kekuatan dari Gekko maupun Maurice. Dengan sigap, ia pun terbang menuju istana Maurice untuk mengecek keadaan. Meninggalkan Gin yang tertidur di dalam gua sendirian. Saat sampai di istana, ia tak melihat adanya tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya. “Pasti semua hewan di sini sudah lari untuk bersembunyi ke tempat yang aman,” gumam Celaeno sembari melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam istana. Di dalam istana, lagi-lagi Celaeno dibuat terkejut karena kerusakan yang terjadi. Banyak dinding istana yang berlubang, lantainya pun penuh cekungan. “Benar-benar pertarungan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” Celaeno hanya geleng-geleng kepala. Ia pun melanjutkan langkahnya dengan berlari untuk mencari Gekko. Meskipun samar, Celaeno masih bisa merasakan hawa keberadaan Gekko. Beberapa menit, dan sampailah Celaeno di aula utama istana. Ia bisa melihat Gekko dan Maurice yang meringkuk tak sadarkan diri. Cepat-cepat Celaeno menghampiri Gekko, membawa si pucat ke dalam gendongannya dan berlari secepat mungkin meninggalkan istana dan juga meninggalkan Maurice. Sesudah Celaeno pergi dari istana, Rachel dan para pasukannya baru saja tiba. Rachel buru-buru membawa Maurice pergi ke ruangan pengobatan untuk menyelamatkan Maurice. Ia juga memerintahkan semua pasukannya untuk segera membenahi kerusakan yang terjadi di istana milik Maurice itu. Tidak ada yang tahu, bahwa Maurice maupun Gekko kini telah terikat dengan ikatan yang lebih dari sekedar b***k ataupun pasangan. Mereka bukan Mate seperti yang dimiliki para manusia serigala atau beberasa ras lain, mereka juga bukan pengantin seperti manusia. Ikatan yang mereka miliki bahkan lebih dari itu. Ikatan yang tidak ingin mereka miliki tapi harus mereka tanggung. Entah harus disebut apa. . . . Celaeno membawa Gekko terbang ke gua kecil di bawah pohon, tempat ia menyembunyikan Gin. Namun ketika ia memasuki gua, ia begitu terkejut karena mendapati seorang asing yang duduk di samping Gin, memunggunginya. “Siapa kau?!” tanya Celaeno keras. Nadanya penuh ancaman juga kekhawatiran. Orang itu berbalik, matanya yang bulat tapi terkesan datar itu memandang Celaeno tanpa rasa takut atau sekedar terkejut. “Ini aku ... Chernaya. Kau lupa padaku? Celaeno?” Celaeno membelalakkan matanya. “No ... Nona Ern?! Bagimana bisa?!” Gadis muda yang dipanggil Ern oleh Celaeno itu hanya mengedikkan bahu. “Takdir mungkin,” jawabnya asal. Jadi, siapakah gerangan Nona Ern ini? . TBC Tokoh Ern dalam cerita ini punya cerita sendiri, judulnya The Daily Life of Civil Servant yang saya unggah di w*****d. Jika berkenan, coba saja dikunjungi cerita nona satu itu ^^ 6 April 2015 in Wattpad 02 Juni 2020 in Dreame
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD