Merah adalah lambang dari keberanian dan sikap penuh percaya diri.
Merah adalah warna dari mawar yang melambangkan cinta sejati.
Merah adalah warna dari batu garnet yang memberi perlindungan serta menjaga emosi.
Tapi merah tak selamanya indah. Ada merah yang menjijikkan, ada merah yang diliputi amarah, ada pula merah yang menyesatkan.
Tapi, merah dengan keindahan sekaligus kengerian yang berpadu adalah merah yang sejati. Bagi Rachel, merah sejati hanya dimiliki oleh Maurice Bellemare. Namun, kali ini Rachel pun tak bisa menolak warna merah lain yang membutakan penglihatannya. Warna merah yang begitu elok dan dipenuhi ilusi-ilusi dosa. Rachel menemukan sosok merah lainnya yang akan melengkapi keindahan milik Maurice Bellemare, dan merah itu adalah merah dari ... Gekko Hakai.
.
.
.
The Hidden Assassin
Remake 2015
.
.
.
Kemunculannya yang tiba-tiba dan memberi ancaman, menjadikan Gekko harus dikepung oleh beratus-ratus vampir kaki tangan Maurice. Secara naluri, para vampir itu berusaha melindungi keselamatan Raja mereka. Maka saat Gekko mengeluarkan aura membunuh yang luar biasa, para kaki tangan Maurice pun segera ke tempat keberadaan Maurice dan menjaga Rajanya dari ancaman yang dilakukan Gekko.
Para vampir itu mendesis-desis seperti ular, mengerumuni Gekko dengan membentuk lingkaran. Sementara Raja mereka sudah pindah lokasi bersama Rachel, mencari tempat untuk bisa menyaksikan pembantaian yang dilakukan kaki tangannya.
Gin sudah tidak bergerak sama sekali, ia bahkan sekarang sudah tak sadarkan diri, diakibatkan oleh pendarahan di d**a dan perutnya yang tak mau berhenti. Dan hal itu benar-benar merepotkan Gekko, karena ia harus menggendong Gin di punggungnya, sementara ia juga harus berurusan dengan pasukan milik Maurice.
“Kalau kau bisa selamat dari pasukanku, aku akan memberikan hadiah spesial untukmu. My Lady,” kekeh Maurice jail dari lantai dua. Ia dan Rachel sedang berdiri santai menyaksikan Gekko dan pasukannya yang berada di aula bawah.
Gekko tak menyahuti. Ia bahkan tak memandang Maurice sama sekali. Pikirannya tak bisa berfokus pada satu hal karena dalam penglihatan alam bawah sadarnya, hanya ada merah sejauh mata memandang. Gekko tak tahu mengapa, naluri membunuhnya jadi sangat kuat dan ada rasa haus yang tak bisa dibendung sampai membuatnya merasa kesal.
Mengabaikan perasaan tidak nyaman yang dia rasakan, Gekko akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah milik Maurice Bellemare ini sesegera mungkin. Ia harus segera mencari seseorang yang bisa menyembuhkan Gin.
“Bersabarlah Gin. Aku akan membawamu keluar dari sini. Secepat mungkin,” janjinya pada diri sendiri dan pada Gin yang berada di punggungnya.
Gekko pun berusaha menerobos kumpulan vampir di depannya. Ia menggunakan satu tangannya untuk memotong kepala setiap vampir yang berusaha menghalanginya, karena tangan satunya ia gunakan untuk menopang tubuh Gin di punggungnya.
Entah hanya perasaannya saja atau memang Gekko merasa ia menjadi lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya serasa ringan untuk menghindari vampir yang ingin menyerangnya. Ia melompat seperti kakinya memiliki pegas, ia juga bisa memenggal kepala tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Beberapa vampir berusaha menyerangnya secara bersamaan. Ada satu yang berusaha menusuk dadanya dari depan, satu berusaha memutus kepalanya dengan melompat ke atasnya, satu yang berusaha meninjunya dari belakang dan dua yang ingin menjegalnya dari kanan juga kiri. Tapi, dengan mudah Gekko bisa menghindari serangan dari depan dan belakang dengan cara melompat ke atas, menyongsong satu vampir yang berusaha memenggal kepalanya, dan menusuk tangan sang vampir yang akan digunakan untuk memutus kepalanya. Gekko melakukan tusukan yang bisa menembus tulang-tulang sang vampir, mengakibatkan lengan kanan dari vampir yang menyerangnya terbelah menjadi dua secara vertikal. Tak habis di situ, dengan kecepatan yang tak bisa diimbangi para vampir. Gekko pun melakukan serangan membabi buta. Ia dengan cepat sudah membelah tubuh sepuluh vampir di sekitarnya menjadi dua. Entah bagaimana caranya.
Pasukan maurice mundur selangkah, membiarkan Gekko yang berdiri dengan tatapan tak wajar disertai tubuh berlumuran darah segar di tengah-tengah aula.
“Hee~~ ternyata dia jadi sekuat itu,” gumam Maurice pelan di sela-sela perhatiannya pada Gekko.
Rachel memandang Maurice lama, ada hal yang mengganjal pikirannya selama ini. Kemunculan Gekko adalah hal utama yang ingin dia tanyakan.
“Maafkan kelancangan saya, My Lord, tapi bolehkah saya menanyakan sesuatu?” tanya Rachel sambil sedikit membungkuk.
Maurice melirik Rachel sekilas, kemudian sembari tersenyum kecil dia berkata, “kau ingin bertanya tentang gadis itu?”
“Benar sekali. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya ketahui,”
Maurice menyeringai kecil. “Kau mau tanya apa dulu? Akan kujawab satu per satu,”
Rachel mengangguk senang. Sangat jarang Tuannya mau berbagi informasi semudah ini. Biasanya Maurice suka menyembunyikan informasi darinya hanya untuk membuatnya berusaha sendiri mencari tahu. Rachel tau bahwa Tuannya memang sangat usil padanya.
“Gadis itu adalah gadis yang saya berikan pada Tuan beberapa hari lalu. Dan saya sangat ingat, dia adalah gadis dengan aura penuh kegelapan yang tak terkendali. Saya mengira Tuan menginginkan gadis itu sebagai makanan, tapi apakah Tuan melakukan sesuatu padanya?” tanya Rachel panjang lebar.
Maurice terkikik kecil. Mata indahnya masih mengawasi Gekko yang mulai bertarung lagi di bawah sana. “Menurutmu? Apa yang kulakukan padanya?” Maurice balik bertanya.
Rachel tidak kaget dengan jawaban Maurice, dia tahu bahwa Tuannya akan menggiringnya pada jawaban yang diinginkannya, meskipun dengan cara yang agak rumit. “Apakah Tuan ... melakukan ikatan dengan gadis itu?” tanya Rachel sedikit ragu. Saat ini hanya itu yang terpikir di kepalanya.
“Ding dong, jawabanmu benar,” Maurice tertawa kecil. Ia menoleh pada Rachel hanya untuk berkata, “aku dan gadis itu sekarang satu jiwa loh~~,”
Rachel tersentak. “Maksud Tuan? Tuan melakukan ikatan jiwa?! Itu berarti, jika salah satu dari kalian mati ... maka yang satunya pun akan mati?!” tanya Rachel kalut. Ia mengalihkan perhatiannya kepada Gekko dan para pasukan Maurice, dengan keras dia pun refleks berteriak, “Hentikan menyerang gadis itu! Dia adalah pengantin Raja kita!”
Semua pasukan Maurice menghentikan aksi mereka untuk berusaha membunuh Gekko. Wajah mereka dipenuhi keterkejutan luar biasa. Pertanyaan mereka saat itu hanyalah, bagaimana mungkin mereka tidak mengenali aroma pengantin Raja? Tapi, aroma dari Gekko memang sama sekali tidak seperti aroma seorang pengantin. Aromanya tidak seperti mawar merah di malam purnama. Aroma Gekko malah lebih seperti ... aroma kayu manis yang direndam bersama potongan apel di dalam air gula.
“Kau terlalu berlebihan Rachel ... padahal aku masih ingin melihat kemampuannya lebih jauh,” ujar Maurice dingin. Ia mantap Rachel tajam, seperti mengatakan bahwa tindakan Rachel telah membuatnya marah.
“Ma ... maafkan saya, Tuan,” Rachel pun buru-buru berlutut sambil menundukkan kepala. “Saya hanya ingin melindungi Tuan dari segala ancaman,” ujar Rachel lirih.
BUAGH!
Tapi bukannya memberi maaf, Maurice malah menendang Rachel yang saat itu masih berlutut, sampai membuat pria cantik bersurai abu-abu itu terlempar beberapa meter dan menubruk dinding.
“Tidak apa-apa~~ asal jangan diulangi,” Maurice terkikik riang. Kata-katanya barusan sama sekali tidak menunjukkan tindakannya.
“Saya mengerti, Tuan,” lirih Rachel, berusaha berdiri tegap dan kembali berjalan ke sisi Tuannya. Tak lupa ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat tendangan keras dari Maurice.
Sudah tidak memperdulikan Rachel, Maurice pun kembali fokus pada Gekko yang kini mendongak untuk menatapnya.
“Halooo~~ Lady-ku ... kau mau bermain denganku?” tanya Maurice dengan nada yang terdengar main-main. Tak lupa senyuman lebar mengerikan sebagai ciri khasnya.
“Aku sedang tidak ingin mendengar ocehanmu. Temanku sekarat dan aku harus pergi dari sini,” suara Gekko terdengar berat dengan intonasi yang entah kenapa membuat bulu kuduk merinding. Ia menatap Maurice penuh amarah.
Maurice gelang-geleng kepala, pura-pura kecewa akan jawaban Gekko dengan memasang wajah merengut. “Kau tidak boleh pergi sebelum bertarung denganku loh ... lagi pula, ada banyak hal yang masih ingin kubicarakan ...,” ucapnya cengengesan. Ia melompat dari lantai dua dan mendarat tepat di depan Gekko. Disusul Rachel yang ikut melompat untuk berada di samping Tuannya.
“Jadi, kau adalah Maurice Bellemare?” Gekko menajamkan penglihatannya, berusaha mengingat-ingat detil wajah Maurice.
Maurice membungkukkan badannya sebentar. “Salam kenal, My Lady. Suatu kehormatan kau bisa langsung mengenaliku.” Ia pun tersenyum jahil. “Kita pernah bertemu sebelumnya, di dalam dunia ciptaanku ketika kita berada di dalam kepompong yang sama,”
“Pertukaran garnet dan mawar saat itu ... apa artinya?” tanya Gekko dingin.
Maurice menanggapi dengan kekehan kecil. Bukannya menjawab pertanyaan Gekko, Raja kelainan jiwa itu malah mendekati Gekko dan mengusap sebelah pipi Gekko dengan telapak tangannya yang dingin. Gekko memang tidak menepisnya, tapi pandangan matanya mengatakan bahwa ia tidak suka diperlakukan seperti itu.
“Sesuai perjanjian yang kita lakukan. Kau mendapat kekuatan dariku, dan begitu pula aku. Dan sebagai konsekuesi untuk sebuah kekuatan besar, maka resiko yang harus kita terima adalah ... jiwa kita terikat satu sama lain. Menjadi satu.” Setelah menjelaskan, Maurice pun terkikik geli. “Yang artinya~~ saat aku mati, kau pun akan mati ... dan jika kau mati, maka aku pun mati. Bagaimana? Bukankah ini menarik? Khe khe khe,” lanjutnya main-main seperti biasa.
“Heh, jadi ini kekuatan yang kau janjikan?” Gekko tersenyum sinis. Ia memang menginginkan kekuatan, tapi memberikan jiwanya pada Maurice sebagai konsekuensi perjanjiannya ... ini terdengar agak berlebihan.
“Kau terlihat menyesal, My Lady,”
“Sedikit,” Gekko tersenyum sinis lagi. “Padahal aku berniat untuk memperbaiki diri, tapi sekarang malah jadi begini. Tapi tak apa, aku akan menanggung perjanjian ini dengan senang hati,”
“Hmm~~ gadis yang tegar ... jadi sedikit membosankan,” Maurice garuk-garuk kepala. “Bagaimana kalau kita bermain sebentar? Biar aku tidak bosan,” tawarnya bersemangat.
“Hn, sayang sekali. Aku sedang terburu-buru.” Mengabaikan Maurice, Gekko pun berbalik dan mulai melangkahkan kakinya pergi. Semua pasukan Maurice secara reflek memberi jalan untuk Gekko.
Melihat kepergian Gekko, Maurice hanya terkekeh tidak jelas seperti biasa. Ia diam beberapa saat, membiarkan Gekko melangkah lebih jauh.
Tapi, secara tiba-tiba, Maurice sudah melesat begitu saja, menyongsong Gekko dari belakang dan berusaha menusuk jantung Gekko, mengabaikan Gin yang saat itu berada di punggung Gekko seperti tameng. Maurice memang berencana membunuh Gin sekalian, karena pemuda itu hanya akan menjadi penghalang pertarungannya. Ketika kuku runcingnya tinggal berjarak dua centi dari punggung Gin, dengan kecepatan yang luar biasa pula, Gekko tiba-tiba berbalik. Tangan kanannya mencengkeram erat pergelangan tangan Maurice dan mematahkannya begitu saja. Setelah itu ia berjengit mundur beberapa langkah, mengantisipasi serangan Maurice selanjutnya.
“Kuatnya~~,” Maurice tersenyum senang mendapati satu pergelangan tangannya patah. Ia mengibas-ngibaskan pergelangan yang patah itu sebentar dan tangannya kembali seperti semula.
“Kau mencoba membunuhku?” Gekko mengernyit.
Maurice mengangguk bersemangat menjawab pertanyaan Gekko. “Aku hanya ingin menguji kekuatan baruku,” jawabnya santai. “Soalnya ... kalau aku mati, aku masih bisa dihidupkan kembali. Itulah kenapa aku disebut sebagai Raja yang tidak bisa mati,” ia pun terkekeh senang. “Meskipun pasti nanti akan sedikit merepotkan Rachel, tapi kurasa itu bukan masalah. He he he,”
“Ternyata kau orang seperti itu ya?” Gekko tersenyum kecil, senyum meremehkan sekaligus senyum senang.
Senyuman Gekko itu malah membuat Maurice menelengkan kepalanya, tak paham. Kenapa Gekko bisa tersenyum padahal dia sudah memberi informasi yang agak menakutkan. “Kenapa kau tersenyum?” tanya Maurice penasaran. Ia mengedipkan matanya polos.
“Tidak. Aku hanya merasa bahwa orang sepertimu adalah tipe yang sangat menyenangkan,”
“Benarkah?” wajah Maurice berseri-seri. “Aha ha ha, kurasa aku memang memilih orang yang tepat. Duh, aku jadi ingin cepat-cepat bisa menghajarmu. Membuatmu sekarat bukanlah ide yang buruk sepertinya,”
“Hn. Terima kasih pujiannya,”
Setelah itu, tanpa basa-basi, Gekko melesatkan kakinya dengan cepat untuk kabur dari istana Maurice. Tapi Maurice tak tinggal diam, dengan tawa yang kekanakan, ia mengejar Gekko. Dan Gekko yang tak tahu jalan keluar ada di mana, selalu menghancurkan tembok yang menghalangi jalannya dengan sekali tendang. Ini tidak mudah baginya, karena harus lari dari kejaran Maurice sambil membawa Gin di punggungnya, belum lagi harus menghancurkan setiap tembok yang menghalanginya.
“Waaa!! Kau kasar sekali, Lady! Kau menghancurkan rumahku. Aha ha ha ha!” Maurice berteriak girang di sela-sela aksi kejar-kejarannya.
Setelah beberapa menit main kejar-kejaran, akhirnya Gekko sampai di luar Istana. Dia melihat seorang Harpy berambut merah telah siap menunggunya.
“Celaeno! Tangkap Gin!” Gekko melempar tubuh Gin yang pingsan ke arah Celaeno, si Harpy berambut merah. Dan Celaeno pun menangkap tubuh Gin dengan mudah.
Setelah menitipkan Gin pada salah satu budaknya, Gekko segera berbalik untuk menyongsong Maurice yang berlari tepat ke arahnya. Tubrukan kekuatan pun tak terlakkan. Gekko dan Maurice menahan tangan lawannya satu sama lain.
Untuk menekan lawan, baik Maurice maupun Gekko, sama-sama menghempaskan tenaga dalam mereka. Meskipun kelihatannya mereka hanya seperti saling mendorong, tapi tekanan kekuatan mereka mengakibatkan tanah-tanah di sekitar mereka retak. Semakin besar aura yang dikeluarkan semakin besar pula kehancuran yang terjadi di sekitar mereka. Bahkan tanah tidak hanya retak, melainkan berubah menjadi serpihan dan sampai melayang di udara.
Celaeno yang saat itu membawa Gin di gendongannya, memilih untuk terbang dan pergi menjauh. Ia tahu jika ia lama-lama berada di sana, maka tekanan kekuatan yang tidak wajar itu akan menghancurkannya perlahan dari dalam. Untuk sementara, dia memilih akan bersembunyi di tempat yang cukup aman, sedikit jauh dari tekanan kekuatan yang dikeluarkan Gekko dan Maurice.
Sementara Rachel yang sudah mengerti tabiat gila Tuannya, segera memerintahkan semua pasukannya untuk meninggalkan istana sementara waktu. Karena jika tidak, maka ia dan pasukannya akan terkena dampak dari kekuatan Tuannya dan pengantin barunya yang meluap-luap seperti akan meledak itu.
“Seberapa lama kau pikir bisa bertahan dengan keadaan seperti ini?” Maurice bertanya meremehkan.
“Tenang saja. Aku cukup kuat untuk sekedar membuatmu sekarat,” dan Gekko pun tak kalah ingin kalah.
Percakapan itu adalah percakapan terakhir mereka sebelum dua orang kesetanan itu bertarung membabi buta. Mereka saling menyerang dengan cepat, hingga yang terlihat hanya seperti kilatan-kilatan cahaya yang saling bertubrukan. Tekanan kekuatan mereka mengakibatkan benda-benda di sekitar mereka perlahan hancur menjadi serpihan. Gerakan menyerang mereka yang terlampau cepat pun membuat debu-debu berterbangan di sekitar mereka. Jika dari kejauhan, maka pertarungan Gekko dan Maurice lebih terlihat seperti gumpalan asap dan debu yang membumbung ke angkasa, dan di tengah-tengah gumpalan itu kilatan-kilatan cahaya bertubrukan membentuk pola abstrak.
Tak ada yang tahu, akhir dari pertarungan dua orang sinting yang gemar mengadu kekuatan itu. Semoga mereka tidak berlebihan.
.
.
TBC
02 Juni 2020 in Dreame