2. First Slave

2072 Words
Part sebelumnya …. Sebuah suara terdengar dari atas. Gekko mengalihkan pandangannya ke langit dan ia menjumpai seekor burung ... atau mungkin manusia, ah entahlah. Setahu Gekko, yang dilihatnya adalah seekor burung seukuran manusia, dengan pinggang ke atas adalah tubuh manusia tapi pinggang ke bawah adalah burung. Sedangkan kedua tangannya digantikan oleh dua buah sayap yang digunakan untuk terbang. Makhluk separuh manusia separuh burung itu bersuara lebih keras daripada yang seharusnya. Makhluk itu melihat ke bawah, tepat di mana Gekko berdiri. Namun, ia menelengkan kepala, sedikit bingung karena tadi ia seperti melihat manusia tapi saat diperhatikan lagi ternyata tidak ada apa-apa. Makhluk itu pun kembali terbang lebih tinggi mengarah ke utara. “Ada apa, Gekko?” Alice bertanya dengan berbisik karena Gekko tiba-tiba ada di dalam pondok sambil menyuruh semua orang diam dengan isyarat tangannya. “Mungkin sebaiknya kalian tidak keluyuran di luar dulu. Banyak makhluk tidak jelas yang sepertinya bisa membahayakan,” ujar Gekko tenang setelah memastikan bahwa siluman burung yang dilihatnya tadi sudah pergi jauh. “Makhluk tidak jelas?” Gin yang sekarang sudah tampak bugar bertanya penasaran. Gekko tidak menjawab. Ia melihat satu demi satu teman-temannya, kemudian menghela napas panjang. Ah, sepertinya akan cukup merepotkan melindungi teman-teman polosnya di tempat seperti ini. Gekko harus lebih banyak bersabar. . The Hidden Assassin Remake 2015 . Ini hari ke dua sejak Rozen meninggalkan pondok, dan dia belum juga kembali padahal sudah berjanji. Gekko maupun Alice memang tidak mempermasalahkannya, tapi Gin yang sedikit tempramen, mengutuki pangeran tukang ingkar janji itu dengan macam-macam umpatan andalannya. “Dia benar-benar tidak punya perasaan, meninggalkan kita di sini tanpa sedikit pun bahan makanan. Dia pikir kita bisa kenyang hanya dengan menghirup oxygen?” Begitulah umpatan pertama Gin untuk hari ini. Pagi ini, ia sedang berusaha mencari sumber makanan bersama Gekko, dan berakhir dengan menombak ikan di sungai semampunya. Lebih tepatnya, dia hanya sedang merepotkan Gekko yang memang sudah andal dengan urusan ikan-ikan di sungai.  Lizzy dan Alice berada di pondok untuk berjaga. Gekko melarang mereka keluar karena khawatir banyak hal aneh di hutan yang membahayakan. “Dia sudah cukup baik mau memberikan tempat tinggal untuk kita. Jangan manja seperti hewan peliharaan yang semua kebutuhannya harus disediakan. Kau ini manusia, kalau mau makan carilah sendiri makananmu.” Gekko berceramah panjang lebar. Telinganya panas mendengar keluhan Gin yang tak habis-habis dari kemarin. Dia sendiri sekarang sedang duduk di tepi sungai setelah mendapat beberapa ikan. Membiarkan Gin bermain lebih lama di sungai. “Kau ini jadi banyak bicara daripada biasanya ya, Cih!” Gin mendecih. Ia akhirnya menepi sambil membawa ikan tangkapannya untuk dikumpulkan bersama ikan hasil tangkapan Gekko. Dengan helaan napas cukup panjang, ia duduk di samping Gekko untuk melepas lelah. “Benar-benar tidak menyangka kalau kita harus terjebak di tempat seperti ini. Tanpa uang, tanpa pakaian ganti, bekal makanan, ponsel dan bahkan tanpa pamitan ke orang rumah. Lagi pula ....” Gin menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan sekitar. “Tempat ini sungguh aneh. Ada banyak makhluk tak lazim yang berkeliaran. Ini seperti ... aku masuk ke dalam dunia cerita dongeng anak-anak,” lanjutnya lirih. “Hn.” “Hei, Gekko?” “Hn?” Gin mengalihkan pandangannya kepada Gekko. Sedangkan Gekko sendiri masih betah menatap sungai. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Gekko diam, meskipun sebenarnya dia mendengarkan. “Sebelum kita tiba-tiba terdampar di sini, aku masih ingat kalau kau yang mengalahkan monster waktu itu.” Gin diam sejenak, menunggu respon dari Gekko. “Ya.” “Kau ini ... sebenarnya siapa?” tanya Gin serius. Mau tak mau, Gekko pun mengalihkan pandangannya kepada Gin. Dan seperti biasa, dengan wajah tanpa emosi itu, dia membalik pertanyaan. “Menurutmu?” “Jangan-jangan, kau ini ... sebenarnya bisa bela diri ya?” duga Gin seadanya. “Mungkin.” Namun, seperti itulah jawaban Gekko, tidak jelas dan malah membuat Gin makin kebingungan. “Mungkin?” tanya Gin penasaran. “Anggap saja seperti itu.” Gin mengangguk-angguk. Ia pun kembali memandang ke sungai di depannya, begitu juga dengan Gekko. “Tapi, kalau bisa bela diri, kenapa tampangmu seperti orang penyakitan begitu? Aneh.” “Ck, aku memang seperti ini.” “Ha ha ha, benar juga ya. Kau memang seperti ini sejak awal.” Gin tertawa keras, tangan kanannya mengacak-acak rambut Gekko seenaknya, tapi dibiarkan saja oleh Gekko. Sebenarnya ia ingin mengorek identitas Gekko sampai tuntas, tapi setiap jawaban yang diberikan Gekko membuat Gin merasa bahwa temannya itu tidak terlalu ingin membuka diri. Pada akhirnya, ia pun mengalihkan topik pada sesuatu yang biasa ia lakukan, seperti mengejek Gekko misalnya. “Eh, tapi.” Gin diam sejenak. “Kalau bisa bela diri, kenapa nilai olahragamu pas-pasan?” “Ck, kau ini banyak tanya.” “Hei, aku banyak tanya karena aku temanmu. Bagaimana, sih kau ini, dikhawatirkan orang lain tidak merasa.” Malah Gin yang ngomel-ngomel. “Kalau tidak mau jawab ya sudah, aku juga tidak menuntutmu harus menjawab, ‘kan?” ujar Gin kesal. Jari telunjukknya menoel-noel pipi Gekko kasar. Sepertinya dia sengaja. “Kalau begitu tidak usah sentuh-sentuh.” Gekko menampik jari telunjuk Gin di pipinya. Orang di sampingnya ini, tidak di dunianya tidak di sini, masih saja suka cari gara-gara. Untung Lizzy tidak di sini, kalau iya, duo pasangan berisik itu akan mengganggunya habis-habisan. . . . Mata kuningnya dengan cermat mengawasi dua orang yang sejak tadi bermain-main di sungai. Melihat manusia berkeliaran di daerah buruannya sangat membuatnya senang. Selama manusia-manusia itu bukan penghuni istana Agalaia, ini akan mudah baginya. “Ceroboh sekali. Berkeliaran seperti anak ayam di sarang elang.” Sayapnya pun terbentang, dan dengan sekali hentakan, ia terbang ke angkasa. Menuju tempat buruannya berada. . ooo . Rozen benar-benar merasa tidak enak sudah meninggalkan tamu-tamunya selama dua hari tanpa kabar. Ia juga khawatir karena tamu-tamunya tidak punya persediaan makanan sama sekali. Bagaimana kalau mereka mati kelaparan? Ini akan jadi tidak lucu. Namun, mau bagaimana lagi, ibunya sakit dan tak bisa ditinggal. Ia tidak mungkin pergi membiarkan Ibunya hanya demi orang asing yang belum dikenalnya, ‘kan? Ia bahkan lupa mengutus orang hanya untuk sekadar menyediakan sumber pangan. Saat Rozen sampai di pondok kayu kecilnya, ia tak menjumpai seorang pun di depan pondok. Suasana sepi seperti tak ada orang. “Apa mereka pergi, ya?” gumam Rozen bertanya pada dirinya sendiri. Setelah memarkirkan kudanya, ia berjalan tenang ke pintu pondok dan mengetuknya pelan. “Permisi ... ini aku Rozen. Kalian masih di sini?” tanya Rozen sopan seperti biasanya. Tak lama, ada Alice yang membukakan pintu. Wajahnya cerah dan penuh senyum seperti biasa. “Pangeran Rozen? Akhirnya datang juga,” ujar Alice senang sambil membuka pintu lebih lebar. Rozen masuk ke dalam dan membiarkan Alice menutup pintu. “Maafkan aku karena tak datang tepat waktu.” Ia menurunkan tas kainnya yang dari tadi tersampir di pundaknya dan meletakkannya ke atas meja. “Aku membawa makanan dan beberapa pakaian.” “Woaa kau bawa makanan apa?!” Lizzy, tanpa sungkan segera menghambur untuk membongkar tas Rozen. Sedangkan Rozen yang belum mengenal Lizzy hanya bisa menatap dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana ada orang yang tidak sopan seperti ini, begitulah pikirnya. Melihat Rozen menatapnya dengan aneh, akhirnya Lizzy mau membenahi sedikit sikapnya. “Ehe he , maaf sudah tidak sopan. Aku Lizzy Chrunchill,” ujar Lizzy nyengir. Rozen tersenyum. “Aku Rozen de Agalaia. Pangeran dari kerajaan Agalaia, salam kenal.” Lizzy memberi hormat ala prajurit, tapi kemudian beralih lagi pada tas Rozen untuk mencari-cari makanan, sama sekali tidak peduli dengan status Rozen dan bagaimana harus menghadapi seorang bangsawan. “Maaf, karena tidak sopan,” ujar Alice lirih, sekaligus malu gara-gara ulah temannya. Untung saja Rozen tidak mempermasalahkannya dan hanya memberi senyum maklum. Rozen melihat ke sekeliling, tapi ia tak menjumpai dua orang lainnya. “Kalian hanya berdua?” tanya Rozen pada Alice, karena ia tahu Lizzy tidak akan memperhatikannya, gadis itu masih sibuk dengan tas Rozen. “Iya. Gekko dan Gin sedang ke luar mencari makanan,” jawab Alice tenang. Tapi malah Rozen yang membelalakkan matanya. “Ke luar?” Alice mengangguk. “Dua hari ini, mereka berdualah yang sering ke luar untuk mencari bahan makanan.” Rozen menepuk dahinya. “Aku lupa tidak memberi tahu kalian untuk tidak berkeliaran sembarangan.” “Memangnya kenapa?” “Aku pergi dulu mencari mereka. Kalian tetap di sini dan jangan berkeliaran ke hutan sendirian.” Rozen sudah buru-buru lari ke luar mengambil kudanya sebelum sempat menjawab pertanyaan Alice. . oOo . Ck, apa lagi ini? Gekko menggerutu dalam hati. Dalam perjalanan pulang, ia dan Gin dihadang oleh seekor manusia perempuan setengah burung yang pernah ia lihat sebelumnya. “Itu makhluk apa?” tanya Gin berbisik. Gekko diam saja tak menjawab. Membuat Gin kesal karena sudah tanya baik-baik tapi tak dianggap. “Mau ke mana, anak ayam?” Makhluk setengah manusia setengah burung itu berdiri angkuh di depan Gekko dan Gin. Sayapnya berwarna merah, sama seperti bulu-bulu burung di kakinya, juga rambut panjangnya yang berantakan. Semuanya merah, tampak mencolok sekali. Dia tersenyum menggoda memperlihatkan tubuh eloknya. Buah dadanya yang besar hanya ditutupi sehelai bulu burung kecil. Untuk ukuran seorang perempuan dia memang seksi, tapi sayang, dua manusia di depannya sama sekali tidak ada yang tertarik. Gin memandang Gekko penuh tanya. “Eh, siapa yang dia maksud anak ayam?” Gin berbisik lagi. “Kau.” Gekko menjawab penuh kekesalan. Gin kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjukknya. “Aku?” Si merah yang merasa diabaikan gara-gara Gekko dan Gin berbincang sendiri, tiba-tiba mengepakkan satu sayapnya untuk membuat angin yang cukup kencang. Angin itu menerpa Gekko dan Gin. Gin sampai menutupi wajahnya dengan lengan gara-gara hembusan angin barusan terasa seperti hentakan kuat. Gekko diam saja karena memang angin itu tidak berefek apa-apa padanya. “Jangan mengabaikan pertanyaanku, anak-anak ayam!” “Hieee dia menakutkan.” Gin mengernyit, sedikit gentar gara-gara angin kencang tadi. “Jangan basa basi, katakan saja tujuanmu.” Akhirnya Gekko bicara. Ia tidak suka berlama-lama berhadapan dengan siluman merah di depannya ini. Si merah malah tertawa-tawa, mungkin menganggap kata-kata Gekko lucu atau apa. “Berani sekali anak ayam sepertimu bicara begitu padaku. Tunggu sampai kau kujadikan sup sebagai makan malamku. Apa masih berani bicara seangkuh itu?” Bukannya takut, Gin malah berbisik lagi pada Gekko. “Dia ini cantik-cantik mengerikan, ya?” Gekko melirik Gin dan tersenyum miring, mengejak. “Kau takut?” tanyanya meremehkan. “Sedikit.” Gin nyengir. Wanita merah itu kembali mengibaskan sayapnya, kali ini cukup keras sampai membuat Gin terjungkal ke belakang. “Sudah kubilang jangan mengabaikanku!” teriaknya kesal. “Kalian memang tidak bisa diberi tahu lewat ucapan. Kalau begitu aku cincang saja kalian sekarang!” Wanita monster itu pun terbang ke langit, kemudian menukik ke bawah seperti ingin menggigit Gin dengan taring yang tiba-tiba memanjang. Namun, dengan cepat Gekko sudah berada di depan Gin untuk melindungi temannya itu. Satu tangannya berada di leher si wanita merah, tangan satunya yang memegang pisau kecil mengarah di d**a si merah, tepat di jantung. “Bagaima ... Ukh!” Saat ingin bicara, Gekko sudah mencekik si merah sangat kuat. Gekko kemudian merobohkan monster merah itu ke tanah dan dia sendiri duduk di atas perut si merah. “Siapa namamu?” tanya Gekko kalem. Suaranya terdengar lebih berat dan dalam. Gin melihat Gekko seperti itu sampai merinding sendiri. “Ce ... Celaeno, sa ... sang awan hitam dari ras Harpy. Ukh!” Celaeno, menjawab terbata karena susah bernapas, bahkan cengkeraman Gekko menjadi kian menyakitkan. Seperti ada kuku runcing yang menembus lehernya. Jika manusia biasa, mungkin Celaeno tidak akan bisa melihat bahwa sekarang Gekko sedang mengeluarkan aura hitam keunguan yang membungkus seperti selimut asap, tapi dia adalah makhluk yang dilahirkan antara malam dan pagi, jiwanya seperti hantu dan fisiknya seperti monster. Karena hal itulah ia bisa melihat aura dari tubuh manusia dan makhluk-makhluk selain dari rasnya. Dan sekarang, ia tengah gemetaran oleh warna aura Gekko yang mengerikan. Padahal manusia, tapi seperti iblis. “Kau memilih mati sekarang, atau mati demi diriku suatu hari nanti?” Pertanyaan Gekko membuat Celaeno makin susah bernapas. Apa-apaan ini! Bagaimana bisa seorang manusia menaklukannya seperti ini? “Kau punya tiga detik untuk menjawab. Satu ... dua ....” Gekko semakin memojokkannya. “Aku ... aku akan mati demi dirimu.” Setelah menjawab itu, bukannya merenggangkan cengkramannya, Gekko semakin kuat mencekik Celaeno. “Aaaakhhh! ... kh ... kh!” Celaeno sampai tidak bisa menjerit. Kakinya menendang-nendang udara menahan sakit. Nyawanya seakan tinggal seujung kuku. Namun, saat hampir mati, Gekko tiba-tiba saja melepaskan cengkeramannya. Dan dengan tenang berdiri seolah tidak ada yang terjadi. Gekko pun menghampiri Gin yang menatapnya tanpa berkedip. Celaeno terbatuk-batuk. Ia duduk untuk mengatur napasnya. Kemudian, dengan tertatih dan lutut gemetar, ia menghampiri Gekko dan berlutut di hadapan si pucat. “Kau ... adalah manusia yang bisa membuat makhluk sepertiku tidak berdaya. Kehadiran yang selama ini aku tunggu-tunggu. Aku memilih untuk mengabdi padamu. Menjadi budakmu. Menerima apa pun yang kau perintahkan padaku. Bahkan jika itu mengharuskanku memberikan nyawaku. Jadikan aku milikmu. Gunakan aku sebagai apapun yang kau inginkan. Demi nama klanku, aku bersumpah akan menjadi milikmu seutuhnya.” Celaeno sebenarnya bukan makhluk yang mudah tunduk dengan seseorang, tapi ia telah melihat sebuah potensi. Beberapa tahun lalu, ia pernah menjumpai makhluk dengan aura yang sama, seorang raja penghisap darah yang ditakuti banyak makhluk lainnya. Jika ia mampu bertahan di sisi seseorang dengan potensi seperti itu, mungkin saja, mungkin saja ada kehidupan yang lebih baik untuknya suatu saat nanti. Sementara itu, Gin yang baru sadar dari rasa terkejutnya, kini kembali terkejut gara-gara ada seekor Harpy yang bersumpah setia dan berlutut di hadapan Gekko. “Jangan pernah menyesali sumpah terkutukmu itu,” ujar Gekko dingin. “Aku tidak akan pernah menyesal.” Dengan keteguhan hati yang kuat Celaeno memperjelas pengabdiannya. “Untuk sekarang, aku masih tidak membutuhkanmu. Aku akan memanggilmu jika aku butuh. Pergilah.” Celeano mengangguk. Ia pun berdiri, mundur beberapa langkah kemudian mengepakkan sayapnya untuk terbang ke angkasa. Gin mengambil napas dalam-dalam sebelum bertanya, “Kau ... bagaimana kau bisa ... siapa kau sebenarnya, Gekko Hakai?” Angin pun berdesir. Membuat udara terasa begitu dingin. Gin Geralz merasa bahwa Gekko yang sekarang berdiri bersamanya, sama sekali bukan seseorang yang ia kenal. . 17 Januari 2015 (w*****d) 19 Mei 2020 (Dreame)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD