MOBILKU melambat di tikungan kecil, lalu berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang berdiri tenang di Perumahan Taman Mawar, Bekasi. Sore menggantung muram, langit abu-abu seperti menyimpan segala kecemasan dunia. Mobilku berhenti pelan di depan sebuah rumah kecil. Di balik kaca jendela mobilku, kulihat pekarangan yang sederhana: rerumputan tak terurus, sepeda motor tua bersandar pada dinding rumah yang catnya mulai terkelupas. Plat nomor motor itu terlihat usang, pajaknya mati dua tahun lalu. Waktu seakan tak berjalan di sini, atau mungkin terlalu cepat hingga menyisakan debu-debu kenyataan. Kupandangi sebentar hard drive eksternal hitam legam yang kutemukan di rumah lama Nia. Di dalamnya tersimpan harta karun, terlalu berbahaya untuk dipercayakan pada siapa pun. Dan entah

