Tak ada yang bicara selama beberapa detik. Kami hanya saling pandang dalam suasana penuh ketegangan. Pria berkemeja itu melangkah. “Kita bisa bicara baik-baik, kan?” suaranya terdengar datar. “Aku cuma mau klarifikasi... soal pengunduran diri Selvi.” Tara berdiri kaku. Aku bisa merasakan ketakutan dalam nafas Tara. Maka, aku melangkah maju, berdiri lebih dekat Tara, untuk mencoba memberi ketenangan. Sementara Selvi menatap mereka berdua dengan berusaha tetap tenang, meski kelihatan tenang yang dibuat-buat. Mata pria kekar itu seolah tak bosan mengikuti bentuk tubuh Selvi dari ujung kaki sampai belahan leher yang samar tersingkap. “Aku sudah memutuskan untuk berhenti,” katanya datar. “Tak bisa begitu, Bu Selvi. Anda terikat dengan kontrak yang telah ditandatangani. Jika anda membatalk

