RANDI MULAI BERCERITA
Siang itu, Randi menaiki lift menuju lantai 19. Sepasang matanya menatap pantulan dirinya di dinding logam, tetapi pikirannya berkelana jauh.
Sebuah firasat aneh merayapi tubuhnya ketika kunci apartemen Kristianto berputar di dalam lubang kunci.
Ketika ia masuk ke dalam unit, sebuah suara halus tetapi memilukan menyelusup ke telinganya. Desahan lirih, nyaris seperti tangisan yang tertahan.
Nalurinya bergetar. Dengan langkah hati-hati, ia mengendap menuju sumber suara itu—kamar Rida. Pintu kamar terbuka sedikit, cukup baginya untuk melihat sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi dalam ruangan kamar Rida.
Di sana, seorang pria tua, dengan tangan kasar dan nafas memburu, menindih tubuh Rida yang terbaring kaku.
Pemandangan itu menghantam Randi bagai palu godam. Ia ingin bergerak, ingin menerjang, ingin menghentikan segalanya—tetapi tubuhnya membeku.
Dalam keterkejutan, ia melangkah mundur, meninggalkan pemandangan yang tak sanggup dicerna akalnya.
Ia duduk di sofa, mencoba menenangkan napasnya yang memburu. Beberapa saat kemudian, pria itu keluar. Tatapan tajamnya menghunjam Randi.
"Siapa kau?"
"Aku Randi, teman Pak Kristianto," jawabnya datar.
Tanpa menjawab, pria itu berlalu begitu saja, meninggalkan keheningan yang begitu berat. Randi menatap bingkai foto di dinding—Kristianto berdampingan dengan Rida. Dan di sebelahnya, pria tua yang baru saja pergi.
"Pak Sundang…" bisiknya.
Hatinya bergolak. Ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih kelam. Sesuatu yang Rida sembunyikan di balik sorot matanya yang selama ini terlihat begitu tajam, begitu dingin.
Perlahan, ia berdiri. Kakinya bergerak menuju kamar Rida, tempat perempuan itu masih terbaring, tubuhnya menggigil dalam isakan yang tertahan. Randi menatapnya lama. Rida menoleh, matanya penuh api kemarahan.
"Berani sekali kau masuk ke kamarku," desisnya.
"Aku tak sengaja melihatnya. Tapi aku tidak akan membocorkan ini," kata Randi, suaranya rendah.
Rida terdiam. Ada sesuatu di matanya—sebuah luka yang tak terucapkan, sebuah beban yang tak pernah ia bagikan. Kemudian, ia tertawa kecil, getir.
"Aku hanya ingin memahami," ucap Randi pelan.
"Memahami?" Rida terkekeh. "Tak perlu. Ini bukan kisah yang bisa kau mengerti. Ini bukan sekadar pengkhianatan atau dosa. Ini adalah sesuatu yang lebih rumit dari yang kau bayangkan."
Hening menyelimuti mereka. Untuk pertama kalinya, Randi melihat Rida bukan sebagai istri Kristianto, bukan sebagai perempuan yang dingin dan penuh rahasia. Ia melihat seorang wanita yang terperangkap dalam labirin yang tak bisa ia keluar sendiri.
"Aku bisa membantumu," bisik Randi.
Rida menggeleng pelan. "Tidak ada yang bisa membantuku."
Randi tahu ia baru saja menyentuh permukaan dari sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap. Tetapi satu hal ia yakini—ia tidak akan membiarkan Rida sendirian dalam bayang-bayang itu.
Di luar, awan kelabu mulai bergelayut di langit kota. Hujan pertama jatuh di jendela, meninggalkan jejak transparan di atas kaca.
Dan di dalam sana, di sebuah kamar di lantai 19, dua jiwa yang terluka mulai menemukan satu sama lain di antara kabut rahasia yang masih menyelimuti mereka.
Rida, dengan sorot mata tajam dan tenang, menyalakan sebatang rokok, kepulan asapnya membaur dengan cahaya lampu tidur yang temaram.
Randi menarik nafas agak panjang.
"Hubunganku dengan suamimu adalah hal biasa. Aku berteman dengan suamimu karena aku membutuhkan uang. Sementara hubunganmu dengan mertuamu adalah aib yang sangat besar…" ucap Randi, suaranya datar namun penuh makna.
Rida mengangkat alisnya. "Apakah kau sedang mengancamku? Katakan berapa uang yang kau minta? Apakah uang dari suamiku belum cukup membayar jasamu?"
Randi tersenyum tipis, lalu tertawa pelan. "Hahaha…. kali ini aku tidak butuh uang."
Rida menghembuskan asap rokoknya perlahan. "Lantas, apa maumu?"
Randi melangkah mendekat. Ia duduk di pinggir kasur, memperhatikan Rida yang tetap tenang, mungkin karena yakin bahwa Randi adalah seorang gay yang tidak mungkin berhasrat pada perempuan. Tapi dugaan Rida salah.
Randi menarik selimut yang menutupi tubuh Rida perlahan, tangannya kemudian menjelajahi kulit halus Rida. Sentuhannya ringan namun penuh makna.
"Izinkan aku memuaskanmu, Bu Rida. Percayalah, aku tidak akan sesingkat mertuamu. Aku bisa membuatmu bahagia..." bisiknya serak, wajahnya semakin dekat.
Rida mendadak mendorong tubuh Randi, tidak dengan kasar, namun cukup untuk menciptakan jarak.
"Tunggu…"
"Kenapa, Bu?"
"Aku tidak percaya… apakah kau benar-benar seorang lelaki?"
Randi menatapnya dalam. "Aku lelaki sejati, Bu Rida. Aku sudah katakan… aku berteman dengan suamimu hanya untuk mendapatkan uang."
Rida tersenyum tipis. "Aku tidak suka melakukan sesuatu di bawah ancaman."
"Aku tidak mengancammu. Masalah mertuamu, cukup kita yang tahu. Aku tidak akan mencari tahu lebih jauh. Aku hanya ingin bercinta denganmu, Bu..." ucap Randi, tangannya perlahan melingkari pinggang Rida, jemarinya membelai tengkuk wanita itu.
Rida menatapnya, lalu menghela napas panjang. "Aku mau mandi dulu. Kamu tunggu di kursi."
Meski gairahnya sudah hampir meledak, Randi menghormati permintaan Rida. Ia meninggalkan kamar dengan langkah berat dan duduk di sofa dengan gelisah. Detik demi detik berlalu, namun Rida tak kunjung keluar.
Randi akhirnya bangkit, melangkah menuju kamar mandi dengan hati berdebar. Di balik kaca transparan yang berkabut, tubuh Rida tampak samar, basah dan berkilau dalam cahaya lampu kamar mandi.
Perlahan, Rida meraih handuk, membalut tubuhnya, lalu berbalik—dan saat itulah matanya bertemu dengan mata Randi.
"Randi…" Rida berbisik.
Tanpa ragu, Randi melangkah masuk, memeluk Rida dari belakang. "Bu Rida…" bisiknya serak di telinga wanita itu.
Rida tersentak, tapi tak menolak. Ia hanya tersenyum tipis sambil menoleh. "Kenapa kamu seperti ini?"
"Aku ingin Bu Rida sekarang juga," jawab Randi, tangannya mulai mengelus pinggang Rida, merasakan kehangatan tubuhnya yang basah.
Rida menahan tangannya. "Bukan di sini, Randi…"
"Kenapa?"
"Kita lakukan di kamar saja. Lebih nyaman."
Mata Randi berbinar. Ia mengangguk, melangkah mundur dengan napas berat. "Baiklah. Tapi cepatlah, aku sudah tidak tahan."
Rida terkekeh kecil dan mengangguk. "Tunggu di kursi. Nanti kalau aku sudah masuk kamar, kau menyusul saja."
Dengan gairah yang membuncah, Randi bergegas ke ruang tamu. Namun, saat ia duduk di kursi, pintu apartemen tiba-tiba terbuka.
Kristianto melangkah masuk.
Darah Randi berdesir. Seketika, harapan untuk meniduri Rida lenyap. Kini ia harus menghadapi kenyataan yang lebih melelahkan.
"Sudah lama?" tanya Kristianto.
"Belum… baru saja nyampe…" jawab Randi, suaranya tertahan.
Kristianto menatapnya dengan mata penuh gairah. "Aku mau nanya, laptop yang dulu kuberikan itu, apa masih kau pakai?"
“Tentu saja… aku sudah perbaiki layarnya,”
“Bagus. Nanti kamu bawa kesini, aku mau pinjam sebentar…”
“Ya, baik…” jawab Randi dengan entengnya.
Tiba-tiba suara ponsel Kristianto berdering kencang.
"Iya, Bos… baik, Bos. Siap… sekarang saya berangkat…"
Kristianto segera bangkit. "Aku ada tugas mendadak. Kamu pulang dulu bawa laptopmu. Nanti naik taksi."
Tanpa harus diperintah dua kali, Randi segera bergegas, tetapi matanya menangkap sosok Rida yang duduk di meja makan, mengenakan tanktop hitam yang memperlihatkan kulit putih mulusnya. Rida menikmati rokoknya dengan tenang, seolah tak peduli pada keberadaan mereka.
Bayangan tubuh Rida terus menghantui pikiran Randi, hingga tanpa sadar, malam telah menyelimuti kota. Ia tahu, ia tak akan bisa menahan diri lebih lama.
Dengan tekad bulat, ia kembali ke apartemen. Tanpa ragu, ia membuka pintu kamar Rida.
Rida tertidur, masih mengenakan tanktop hitam. Tubuhnya yang sempurna membuat napas Randi tertahan. Ia tak bisa menahan diri lagi. Dengan gairah yang tak terbendung, ia menyerbu Rida, mencium setiap inci tubuhnya.
Rida terbangun, mengerjap, lalu tersenyum tipis. "Kenapa kau seperti kesetanan, Randi? Bisakah sedikit tenang?"
"Aku sudah tidak tahan," jawab Randi, suaranya berat.
Randi menghentakkan tubuhnya.
Rida menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang bercampur aduk di dadanya. Nafasnya memburu, entah oleh rasa jijik atau justru kenikmatan yang tak pernah ia kecap dari suaminya sendiri.
Randi mencengkeram pinggangnya, menariknya lebih dekat seolah menuntut sesuatu yang lebih dalam, lebih liar, lebih nyata.
"Kau menikmatinya kan?" bisik Randi dengan suara yang penuh kemenangan.
Rida menatapnya tajam, napasnya masih tersengal. "Jangan anggap aku seperti p*****r," ujarnya, berusaha mengingkari gairah yang tak bisa ia dustai.
Randi tertawa kecil. "Aku menganggapmu sebagai seorang istri yang memerlukan pelukan hangat…"
Rida membuang muka, hatinya berkecamuk. Suaminya, Kristianto, lelaki yang dinikahinya dengan segala harapan, ternyata lelaki dingin yang tak pernah menyentuhnya.
"Kau paham, kan?" suara Randi merendah, ada nada lembut yang menelusup di antaranya. "Aku lelaki sejati yang kebetulan bernasib kurang baik. "
"Dan kini aku di sini, bersamamu," Randi melanjutkan, jemarinya menyapu lembut sepanjang bahu Rida.
"Adil, bukan?"
Rida menatapnya dengan mata berkilat, penuh emosi yang meletup-letup. "Ini bukan tentang adil, Randi. Ini tentang harga diri. Tentang luka yang tak bisa sembuh hanya dengan kau menyentuhku seperti ini."
Randi diam. Matanya menelusuri wajah perempuan yang tengah bergetar itu. "Lalu kenapa kau tidak menolak?"
Rida terdiam.
Randi melanjutkan pergerakannya.
Namun, saat gairah memuncak dan Randi hampir kehilangan kendali, Rida tiba-tiba mendorongnya pelan. "Jangan di dalam…" bisiknya.
Randi mengerang, mencoba bertahan, tapi tak mampu. Seperti ombak yang menghantam karang, ia akhirnya luruh dalam ledakan gairah yang tak bisa ditahan.
**
“Lalu Kristianto datang?” tanyaku memotong cerita Randi. Rasa cemburu bergemuruh dalam d**a.
“Ya, aku ditampar sama Kristianto. Dan Rida juga memarahiku…” jawabnya.
Ini sesuai dengan cerita Rida kepadaku. Hanya saja, aku baru tahu kalau sebelumnya Randi sempat memergoki Pak Sundang yang sedang memaksa Rida.
“Sudah cukup ceritanya. Kita akan bahas hal yang lebih penting…”
“Oh iya, maaf Bos. Aku sebenarnya kasihan saja, ingin sedikit memberi kebahagiaan kepada saudaranya Si Bos. Dan… sebenarnya aku benar-benar mencintai Rida saat itu,”
“Sudah cukup! Kau sudah menikah, urusi saja istrimu,”
“Oh, tentu saja, Bos!”
“Lalu, kenapa kau tidak pernah menemui lagi Kristianto?”
“Setelah aku ditampar, aku khawatir dia marah lebih besar. Jadi, aku memilih untuk meninggalkan dia. Lagian, aku sudah ngebet kepingin menikah,”
“Bagaimana jika Kristianto memintamu menemui lagi?”
“Maksudnya?”
“Bagaimana jika Kristianto memaafkanmu, dan memintamu menemuinya?”
Pertanyaanku membuat Randi termenung beberapa jenak.
“DIa telah banyak membantuku. Aku tak dapat melupakan jasa-jasanya. Dan… saat ini pun aku sedang dalam kesulitan ekonomi, Tapi… aku sudah lelah. Aku ingin hidup normal bersama istriku, meski dengan segala kekuranganku…”
“So?”
“Ya… kalau terpaksa, dan memang dia ingin bertemu denganku, aku bersedia, tetapi mungkin tidak seintens dulu.” jawabnya perlahan. Dan jawaban itu mebuat hatiku lega.
“Kalau begitu, ayo sekarang kita ke rumah Kristianto!”
“Sekarang?”
“Ya, sekarang juga?”
“Memangnya kenapa harus sekarang? Apakah ada sesuatu…”
“Kristianto mengundang atasannya untuk meniduri Rida malam ini. Dia akan membatalkan niat busuknya itu jika kau datang ke rumahnya. Tolong bantu selamatkan Rida…”
“Malam ini? Jam berapa? Sekarang kan sudah malam…”
Aku benar-benar kaget. Segera kulihat jam tangan, ternyata sudah pukul 18.30 WIB. Hanya ada waktu setengah jam.
“Kita memang terlambat. Tapi tidak masalah, kita akan kesana naik taxi sekarang juga!”
“Bos, mohon maaf. Aku harus pulang dulu ke rumah,”
“Untuk apa?”
“Aku harus menemui dulu istriku…”
“Kirim pesan WA saja! Bilang ada lembur… apa susahnya?”
“Tak bisa, bos. Ini masalah penting. Aku harus pulang dulu. Kalau tak percaya, ayo ikut saja ke rumahku. Setelah itu kita langsung berangkat dari rumahku,” jawabnya.
“Kita semakin terlambat….”
“Tapi aku benar-benar harus pulang dulu…”
“Kita naik apa?” akhirnya aku mengalah.
“Aku bawa motor. Akan kuambil dulu di tempat penitipan…”
“Ok, kalau begitu, ayo cepat kita berangkat!”
Akhirnya aku dan Randi segera bergegas. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada pesan WA dari Rida.
Rida: [ Sayang, bagaimana kabarnya?]
Aku: [Randi sudah setuju!]
Rida: [Dimana sekarang posisi? Pak Wata sudah datang. Mereka sedang minum wine di ruang tamu]
Aku: [Aku di Bekasi. Dan dia harus pulang dulu ke rumahnya]
Rida: [Lalu bagaimana?]
Aku: [Aku pasrah saja, Rid. Aku sudah berusaha maksimal dan sedang berusaha lebih maksimal]
Rida: [Maksudku… jika kamu tidak membawa Randi sekarang, aku akan…] itu ucap Rida melalui WA. Aku paham maksudnya.
Rida: [Kamu rela, sayang?]
Aku: [Aku tidak akan pernah rela. Tapi… jika memang itu harus terjadi, kuserahkan kepadamu…]
Rida: [Tak ada pilihan lain, sayang. Aku harus melayaninya. Maafkan aku, sayang… kamu jangan marah]
Aku: [Aku tidak akan pernah memarahimu. Kita sedang berjuang menghadapinya…]
Rida: [Maafkan aku sayang]
Entah apa lagi yang harus kuketik untuk membalas chat Rida.***