Prolog
"Hei."
Verrena setengah takjub melihat seorang lelaki berambut cokelat pendek tersenyum lebar melihatkan giginya—senyum yang terlihat kikuk. Mengingat ia kini berada di jendela kamar seorang gadis setelah memanjat rumahnya di tengah malam.
"Kau cepat juga." Verrena bergumam dengan mengangkat bahu, dibukanya pintu kamar lebar setelah mematikan lampu.
"Apa yang terjadi dengan adikmu sampai kau harus memanggilku?" Lelaki itu, Gussion menyusulnya, berjalan di belakang mengikuti sang perempuan berhelaian sewarna burgundi.
“Dan kau mengecat rambutmu lagi?” Gussion kembali bertanya saat helai-helai rambut burgundi milik Verrena seperti menyala di tengah gelap.
“Mau bagaimana lagi, identitas keluarga Delocre harus tetap terlihat.”
Gussion mengangguk-angguk mendengar penjelasan temannya ini. Verrena begitu cocok dengan rambut aslinya yang berwarna hitam kelam, tetapi berambut violet seperti ini juga tak mengurangi kekagumannya.
"Mengenai Harley, dia tidak sengaja meminum anggurku. Dia pikir itu jus anggur miliknya. Dan kupikir ..." Verrena menggantungkan kalimat dan Gussion menanggapi dengan alis kanan menaik.
"Dia mabuk dan memanggil-manggil nama teman masa kecilnya itu seperti biasa bila ia mengigau, bahkan dia hampir saja kabur dari rumah apabila Maid dari mansion keluarga Delocre tidak datang dengan cepat dan menyuntikkan penenang," sambung Verrena dengan membuka perlahan pintu kamar adiknya.
Kamar bercat biru tua itu berdekorasi bintang berwarna perak di langit-langit. Hanya diterangi cahaya minim dari lampu putih berbentuk boneka beruang. Mereka berdua mematung melihat pemandangan di depan. Seorang anak laki-laki yang napasnya naik-turun dengan kedua mata tertutup. Verrena ikut mengernyit ketika sang adik mengernyit dalam tidurnya. Bertanya-tanya, menebak apa yang ia alami dalam mimpi, hingga Verrena tersentak merasakan sentilan kuat di dahinya.
"Heh Saint! Mengapa kau menyentilku?!" Verrena mengusap dahi kesal dengan Gussion yang menahan tawa agar Harley tidak terbangun.
"Kau masih belum cukup umur untuk minum anggur, artinya itu salahmu."
"Tetapi anggur milik keluarga Delocre adalah yang terbaik, kau tahu. Dan aku sudah 18 tahun," bantahnya dengan berkacak pinggang, menyipit memandangi Gussion yang cuek, menjauhinya.
Mendekati Harley, menilik sedikit dari balik selimutnya. Awalnya kedua alisnya saling bertaut, kemudian ia menutup mulut, kembali menahan tawa.
"Ada apa?" Verrena mendekati lelaki itu dengan pandangan bertanya-tanya.
"Tidak, tidak apa-apa. Dia sudah dewasa."
"Apanya yang sudah dewasa?"
"Up-uphh." Gussion setengah berlari keluar dari kamar menuju dapur meninggalkan Verrena yang masih kebingungan. Dan dari arah sana, terdengar tawa yang sangat keras.
Verrena yang penasaran dengan apa yang terjadi, segera membuka lebar selimut yang meliputi adiknya. Mendapati bahwa celana adiknya sedikit basah.
"Ya ampun." Verrena menepuk jidat, baru mengetahui bahwa Harley yang sudah 14 tahun itu masih saja mengompol. Mendengar tawa Gussion dari dapur telah berhenti, ia mengembalikan selimut seperti semula. Besok mungkin ia harus mencuci kasur Harley.
Keluar dari kamar, mendapati Gussion bersama kopi kalengan di meja makan.
"Sudah kau lihat keadaannya?" Gussion bertanya, sembari mengangkat kaleng kopi dan menghirup isinya.
"Dia mengompol?" Pertanyaan dengan ekspresi polos Verrena membuat Gussion hampir menyemburkan kopinya.
"Astaga." Verrena yang melihat sisa kopi yang keluar dari mulut Gussion segera mengambil tisu, mengelapkannya. Membuangnya di tempat sampah kemudian.
"Apakah kau tertidur saat pelajaran Biologi tentang reproduksi berlangsung?"
"Memang kenapa?" Verrena mengernyit, melipat tangannya di atas meja.
"Kau tidak mengerti juga? Ya ampun." Sang lelaki memijit pangkal hidung.
"Katakan saja apa yang terjadi sebenarnya," tegas Verrena agak penasaran sekaligus kesal karena pernyataan Gussion yang menggantung.
"Dia mengalami puberty. Kau tahu puberty, hmm?"
"Ya, aku tahu. Puberty adalah... hei! Adik kecilku! Yang benar saja!" Ia menahan teriak dengan wajahnya yang bersemu merah karena ia telah mengerti maksud Gussion.
Ia berdehem, mengatasi salah tingkahnya barusan.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" Ia bertanya setelah menggeser kursi makan, duduk di samping si lelaki.
"Umm, apa, ya? Carikan dia pacar, mungkin?" saran Gussion dengan mengusap dagunya seperti sedang berpikir. Verrena membuang napas mendengar saran yang ia pikir mustahil dilakukan.
"Entahlah. Di kepalanya hanya ada teman masa kecilnya itu. Mungkin akan sulit untuknya memiliki pacar," terangnya, menopang dagu. Mengamati taburan bintang dari balik jendela dengan tirai yang sedikit terbuka.
"Anak yang malang. Tetapi aku tidak kasihan padanya. Dia selalu melarangku untuk bertemu denganmu," ujar Gussion dengan sewot. Verrena terkikik geli karena mengingat kebiasaan adiknya itu menghalangi Gussion untuk masuk di depan pintu.
"Oh, kupikir setelah ini dia tidak boleh mabuk lagi." Ia kembali meneguk kopi setelah menyelesaikan kalimat.
"Memangnya kenapa?"
"Dari ceritamu tadi, ketika ia mabuk, seperti apa detailnya?"
"Aku tidak tahu dengan jelas. Yang pasti, setelah aku kembali ke dapur, ia meringkuk di lantai memegangi perut bagian bawah atau..."
Verrena tidak dapat meneruskan perkataannya karena merasa kaget bercampur malu ketika mengingat kejadian itu. Refleks ia menutup mulutnya dengan wajah yang mulai bersemu merah.
"Ya, anggap saja dia menahan "adik kecil" nya. Dan akhirnya sekarang, dia yang katamu "mengompol" tadi. Oke. Mulai sekarang, jangan biarkan dia mabuk. Kau mengerti maksudku, kan?"
"Y-yaa, aku mengerti. Aku tidak akan membiarkannya setelah ini. Akan berbahaya," ujar Verrena gelagapan, membuang napas berat kemudian. Tidak dapat ia bayangkan apa yang akan terjadi bila Harley benar-benar berhasil ke luar rumah.
"Mungkin saja ia akan "menyerang" seseorang...."
"No! Cukup, aku tidak ingin mendengar masa depan buruk seperti itu," potong Verrena cepat, ditambah gelengan kuat untuk mengusir pikiran-pikiran negatif.
Kemudian, sunyi menyelimuti mereka. Dari dapur itu hanya terdengar bunyi galon yang bergelembung dan denting jam kuno dari ruang tamu satu kali, menandakan waktu telah mencapai jam satu pagi. Mengikuti Verrena yang memperhatikan luar jendela yang gelap, Gussion bertanya-tanya. Apa yang menarik dari kegelapan di luar sana? Bukankah harusnya ia tertarik melihat wajahnya saja?
"Omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Gwen?"
Gussion yang hendak menghabiskan kopinya itupun terhenti. Meletakkan kembali kaleng kopi ke meja, ia bercerita.
"Tidak begitu baik. Entahlah. Aku tidak mengerti apa maunya yang sebenarnya. Kemarin dia ingin kalung seri Butterflia dari desainer Demiani. Kau tahu kan kisaran harga kalung itu? Aku akan dibunuh ayahku bila memakai kartu kredit untuk membelinya. Dan aku malas mengatakan itu pada ibu, karena ia akan menambahkan gaun-gaun kelewat mahal untuknya. Sangat merepotkan dan berlebihan ketika membawanya," keluh Gussion dengan wajah agak sendu. Mengetuk-ketuk meja ia lakukan, dari pandangan Verrena ia terlihat seperti sedang berpikir.
"Bukankah kau mencintainya? Mengapa kau tidak mau berepot-repot untuknya?" Verrena bertanya, memastikan perasaan lelaki itu pada sang kekasih.
"Entahlah. Akupun tidak mengerti." Gussion menurunkan kepala, merebahkannya di meja beralas lengan.
"Hubungan kami begitu rumit. Hari ini mungkin saja dia mengucapkan kata cinta berkali-kali, kami bermesraan sampai tertidur, tetapi besoknya bahkan dia tidak membalas pesanku seharian."
Verrena yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Menjulurkan tangan, membelai rambut cokelat Gussion lembut.
"Sebenarnya, maunya dia apa, Rena? Aku hanya merasa sangat lelah."
Gussion memejamkan mata, membuang napas pelan. Ia merasa tenang dengan keberadaan Verrena di dekatnya, dan dari sentuhan-sentuhan yang diberikan. Bolehkah ia berharap merasakan rasa nyaman ini seumur hidupnya?
Keadaan jauh berbeda dengan yang Verrena alami. Di bibirnya bisa saja ia lukiskan senyum indah, tetapi ia tidak bisa mendustai diri sendiri bahwa hatinya berdenyut nyeri tiap kali mendengar hubungan Gussion dengan perempuan itu. Andai ia bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Kau ini murung seperti anak perempuan saja," canda Verrena sambil tetap membelai rambut lelaki di depannya. Gussion yang mendengar hanya mencebik.
"Ah, aku baru ingat." Verrena menarik tangannya dari rambut cokelat lelaki di sampingnya.
"Claude mengajakku kencan minggu besok. Double date dengan si playboy cap kelinci dan Maya," sambungnya.
Demi mendengar pernyataan Verrena itu, sekonyong-konyong Gussion bangkit dari rebahannya, menatap tajam pada Verrena yang terkejut melihat reaksinya.
"Tidak boleh. Kau tidak boleh kencan dengannya. Tidak dengannya, atau siapapun. Bahkan Harley mungkin tidak mengizinkanmu."
Ia membentuk tangannya menyilang, masih dengan wajah mencebik.
"Mengapa? Aku kan bebas kencan dengan siapa saja."
"Pokoknya tidak boleh! Aku tidak mengizinkanmu! Aku akan meyakinkan Harley untuk tidak mengizinkanmu!"
"Dasar aneh. Memangnya kau orang tuaku yang bisa mengaturku?" balas Verrena dengan nada kesal yang dibuat-buat.
"Ya! Anggap saja aku orang tuamu! Lebih baik kau melengkapi berkas untuk masuk akademi kepolisian daripada kencan konyol itu!" perintah Gussion dengan wajah digarang-garangkan.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah melengkapi semuanya, tinggal menunggumu."
"Heeh?! Dasar! Kau mencuri start rupanya! Kau bilang kemarin-kemarin nanti saja!" Verrena mencubit kedua pipi Gussion gemas.
"Aaaarggghhh a-ampun Rena! Ampuun! Aaarggghhhh!”
Setelah puas, Verrena melepaskan cubitannya yang meninggalkan kemerahan di pipi Gussion. Ia tertawa kecil melihat lelaki itu mengelus pipinya yang sakit.
"Sakit, Rena," keluhnya, masih mengelus bekas cubitan Verrena.
"Itu hukumanmu." Verrena menjulurkan lidah pada lelaki di sampingnya.
Melihat Verrena yang bahagia karena sakitnya membuat Gussion ikut tersenyum.
Maafkan aku, Verrena. Ia membatin, merasakan hatinya pun terasa perih dengan keadaan yang ia alami.