Mallaga mendesis, melompat menjauh dari lelaki yang menjumpainya. Namun, ia tidak menyangka dengan tindakan apa yang dpilihnya. Dengan cepat orang itu yang membawa Mina ke tepi, menyandarkannya pada sebuah pohon besar. Kesempatan yang tak ingin ia sia-siakan. Memungut tongkatnya yang patah, ia berniat untuk meninggalkan pertarungan. Ia sadar bahwa situasi sangat tidak berimbang. Namun, hal itu tidak terjadi saat ia sadari tubuhnya tidak bisa bergerak, dibelenggu rantai yang menyala kebiruan. Tubuhnya mulai gemetar, tidak bisa memberontak dari kungkungan lelaki itu.
"Just relax, i don't wanna hurt you... much."
Sabetan pedang berkali-kali berhasil melukai Mallaga, membuat luka besar di punggungnya. Luka yang menyebabkan darah hitam mengucur dari tubuhnya.
"Aaarrrggghhh!"
Sakit yang teramat sangat dirasakannya sampai ia jatuh terhempas bersama rantai yang masih mengikatnya. Darah hitam masih merembes dari luka, dengan lelaki itu masih menggenggam pedangnya yang bermandikan darah.
"Kau menghancurkan semuanya. Dengan pengecut kau bekerja sama dengan Dark Shadow untuk mengacaukan rumah yang sempat kau bangun." Ikatan rambutnya berkibar rendah karena embusan angin. Darah menetes di ujung pedang yang ia angkat, bersiap untuk eksekusi terakhir.
"Pengkhianat memang pantas mati." Pedang itu bersiap ia hujamkan, tetapi ia sedikit lengah. Rantai yang membelenggu Mallaga telah terlepas. Ia berguling, bertumpu pada kedua tangan untuk berdiri. Menggenggam sisa tongkatnya yang patah.
"I-nii belum ber-akhir. Sekali-pun aku ma-tii, akan a-da peng-ganti-kuu." Kalimat terputus-putuh keluar dari mulutnya. Ia terbatuk-batuk mengeluarkan darah hitam yang mengalir dari mulutnya. Kemudian, senyum licik terlukis di wajah. Ia bergerak tanpa diprediksi lawannya, sangat cepat. Tongkatnya ia tusukkan pada lelaki itu, hingga gas beracun menguar, mengikis permukaan armor.
"Ukh." Lelaki itu merasa perih ketika gas beracun itu berhasil mengenai kulitnya. Matanya terpejam, kemudian membuka dengan tajam. Rasa sakit itu tidak membuatnya diam begitu saja. Ia maju dengan cepat, menusuk Mallaga yang lengah tepat pada tubuh sebelah kirinya.
"Ohokkk!”
Darah kembali mengucur di tubuhnya yang ditusuk pedang, dan mengalir di mulut. Dicabutnya pedangnya, ia menendang Mallaga hingga terpental jauh. Dari pandangannya, ia tersenyum penuh kemenangan. Mallaga menggelepar-gelepar kesakitan, yang ia yakini bahwa badut itu telah menemui ajalnya.
"Tidak ada perlawanan berarti. Ini sangat tidak menarik." Ia membersihkan pedangnya, mengelap dengan telapak tangan yang berlapis armor. Kini, tangannya telah dipenuhi darah hitam. Dengan paksa ia melepaskan lapisan armor dari tangannya, membuangnya tepat di tubuh Mallaga yang tak lagi bergerak. Namun, ia sedikit terkejut ketika tubuh itu menyublim, membentuk cairan hitam dan gas yang menyelimuti tubuhnya. Namun, ia tidak terlalu peduli.
Atensinya beralih ke belakang, mendapati seorang perempuan tergeletak tidak sadarkan diri dengan wajah tertutup rambut panjangnya.
Pandangannya menyipit, menatap sayu pada tubuh wanita yang penuh memar dan bekas luka. Perlahan ia mendekat, menyampirkan pedang di punggungnya. Perasaannya benar-benar berkecamuk ketika mendekati wanita itu. Ia menunduk, menyentuh wajah halus hawa di depannya. Ia mengangkat tubuh lemah itu untuk dibawa ke tempat yang aman.
Ia memilih bagian belakang bangunan TER yang membentuk teras dengan lantai yang putih, sedikit kotor karena tidak tersentuh. Ia menyandarkan perempuan itu di dinding, dengan ia yang berjongkok di depannya. Dari kantong armor, ia mengeluarkan botol kecil pengurang nyeri dan penawar racun dari Susan. Mengambil suntikan, menginjeksi isi dari kedua botol itu. Kemudian, meraba tangan Mina untuk mencari nadi. Menyuntikkan dengan sangat pelan agar tidak menyakitinya.
"Ukh." Lenguhan kecil dari perempuan itu membuatnya sedikit terkejut. Ia mengamati bola mata yang bergerak dari balik kelopak mata, kemudian tampak kedua mata sewarna crimson dari perempuan itu.
Pandangan Mina yang mulai menjelas, mendapati seorang lelaki yang menatapnya dalam. Lelaki yang ia pikir tidak asing. Bibirnya bergerak untuk mengucapkan sesuatu.
"Tu-tuan?" Mendengar sang perempuan memanggilnya demikian, ia tersenyum tipis.
"Ini aku, Scythellica." Ia berucap dengan bibir gemetar. Perasaannya tidak bisa terungkapkan ketika mengatakan demikian. Pandangannya semakin sayu. Ia menutup mata, menyadari bahwa betapa di hatinya mulai bergemuruh.
"Kau memanggilku dengan sebutan... apa?"
Demi mendengar lelaki itu memanggilnya, membuat kedua matanya membelalak tak percaya. Telah lama ia tidak mendengar nama itu dari seseorang. Panggilan ekslusif yang hanya satu orang yang memberinya nama sedemikian. Maka, jemarinya bergemetar hebat dengan tubuhnya yang ia rasa semakin melemas.
"Yeah, Scythellica. You're my Scythellica."
Ia mendekat dengan senyum yang selayak seringai. "Ini aku, Rome," tambahnya, dengan tangan terjulur hendak menyentuh perempuan di depannya.
Namun, ia benar-benar tidak memprediksi tindakan apa yang diambil Mina. Yang ia tahu, ia merasakan tubuhnya melayang hingga membentur lantai. Belum sempat berbicara, ia merasa perutnya ditindih seseorang, dan wajahnya, tubuhnya telah dihujani tonjokan. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah. Ia sudah mengerti dan menerima konsekuensi atas tindakannya.
"Bodoh! Dasar Bodoh! Berengsek!"
Masih dengan tubuhnya yang tak berhenti gemetar, ia melayangkan pukulan pada lelaki berambut kelabu yang ditindihnya. Ia tidak peduli bagaimana keadaan lelaki itu sekarang. Sumpah serapah dan makian dilontarkannya hingga ia merasa semakin lelah dan lemas, ia berhenti. Tubuhnya yang melayang, ia rasakan direngkuh lelaki di depannya.
"Bo-doh! Kau sa-ngat bodoh!" Begitu sulit ia kembali mengumpat ketika air mata tidak mau berhenti menuruni pipinya, dengan bibir gemetaran. Bahkan, ia harus mengatupkan giginya kuat-kuat untuk menghentikan tremornya. Lelaki itu semakin erat memeluknya meski ia kembali dihajar dengan tangan Mina yang lunglai—menyerang bahunya.
"Maaf. Ma-afkan aku." Sebisa mungkin iapun menahan dirinya agar tetap tenang, meski tubuhnya ikut gemetaran ketika menghadapi situasi emosional seperti ini.
"Ka-kau sial-an." Napasnya tertahan-tahan. Ia terisak sesenggukan. Tangisnya memang tidak sekencang beberapa menit yang lalu, namun air mata masih sama derasnya.
"Maaf. Maafkan aku atas 12 tahun ini." Ia merasakan cengkeraman di pakaiannya mengerat. Merasakannya membuat hatinya begitu pilu. Dengan perlahan, ia menaikkan tangan ke kepala perempuan di peluknya, dibelainya rambut hitam panjang itu pelan.
"A-aku sang-at merindukan-mu, sial-an." Mendengar pengakuan dari Mina membuat hatinya perlahan menghangat. Begitupun rasa rindunya yang selama ini dipendamnya sendirian. Perasaannya itu meledak-ledak dalam hatinya.
"Aku juga," bisiknya di telinga perempuan yang dalam dekapannya.
"Ke-kenapa, kau tidak menemuiku?"
Lelaki itu membuang napas, menyusun kata-kata dari kepalanya untuk menjawab pertanyaan itu. Jawaban yang benar-benar tergambar dari segala kekhawatirannya.
"Aku tidak yakin kau sudi melihat diriku yang seperti ini."
Tidak ia sangka, di tengah tangisnya perempuan itu malah tertawa. Matanya melebar, ia merasa keheranan. Apakah pernyataannya adalah suatu hal yang lucu?
"Kau benar-benar bodoh." Ia mengambil napas panjang, berusaha untuk menghentikan sesenggukannya, kemudian melanjutkan, "Kau pikir aku peduli dengan keadaanmu? Penampilanmu?" Mina terkekeh, kemudian melanjutkan, "Tidak peduli kau menua, tidak peduli kau sudah menikah, atau bahkan sudah punya anak, aku tidak peduli."
Kali ini ia mengambil napas lebih panjang. Dengan nada getir ia berkata, "Aku mencintaimu."
Ia sadari tangisnya sudah mulai mengering. Pelan, ia berujar pada lelaki itu, "Kau si sialan yang kucintai."
Mendengar hal itu membuat Rome terdiam. Segala keraguannya selama ini benar-benar terpatahkan. Kali ini, ia benar-benar menyesal karena telah merendahkan diri sendiri, karena hanya melakukan segalanya dari balik bayangan untuk wanita yang dicintainya. Dan karena memendam segala rindu yang seharusnya tidak harus ada.
Sedangkan ia? Ia tak mampu melukiskan segala perasaannya pada Mina. Rindu, cinta, sayang, dan ketakutannya akan kembali kehilangan perempuan di depannya, ia tak mampu mengungkapkan. Hal yang dapat dilakukannya hanya menjauhkan tubuh Mina sedikit, pelan diciumnya ubun-ubun wanitanya. Memejamkan mata, ia kembali mendengar tangis Mina yang kembali membuncah.
"A-apakah ini nya-nyata?"
Mendengar pertanyaan itu, membuatnya melepas ciumannya. Ditangkupnya wajah Mina yang basah karena air mata. Diusapnya wajah sendu perempuannya pelan. Hatinya pun terasa tersayat ketika melihat wajah Mina yang basah, menangis karenanya. Matanya menatap dalam ke kedua netra sewarna crimson berselaput air mata, menyelami perasaan yang terpancar darinya. Ibu jari menyapu air mata, menyusur hingga mengusap bibir ranum yang masih gemetar milik Mina. Sebisa mungkin ia menahan agar tidak meraupnya dengan bibirnya. Dan ia memilih untuk menjawab, "Tentu saja ini nyata."
Berganti, tangan gemetar Mina menyentuh wajah lelaki yang memeluknya. Menyusurinya, meyakinkan diri bahwa yang di hadapannya bukanlah ilusi.
"La-lalu, bagaimana perasaan-mu?"
Mendengar pertanyaan itu membuatnya kembali menyeringai. Perlahan ia mendekatkan diri, kemudian berbisik, "Kata cinta saja tidak pernah cukup untuk menggambarkan perasaanku."
Kata-kata itu membuatnya tersenyum lega. Perasaannya ternyata tidak sepihak. Tidak ia saja yang merasakan. Perlahan, ia merasakan wajahnya kian memanas. Ia merasakan dirinya tersipu, namun pandangannya kian menggelap.
Rome sadar bahwa Mina kembali terkulai di rangkulannyatidak sadarkan diri. Meyakini bahwa selama bertarung dengan Mallaga ia terlalu banyak menghirup racun ketika masker wajahnya hancur, dan penawar racun sesedikit yang ia suntikkan tentu tidak cukup. Ia harus membawanya ke Susan sebelum terlambat. Dengan cepat, ia mengangkat tubuh Mina, membawanya di depan tubuh.
Sangat ringan, gumamnya dalam hati. Melirik ke wajah perempuan dalam gendongannya, wajah lembut nan damai. Ia kembali tersenyum, berjalan keluar TER. Mendapati sebuah mobil yang tak asing di ingatannya.
Seorang perempuan yang masih memakai jas putih ke luar mobil. Tergesa-gesa menghampiri mereka berdua.
"Kau lama sekali. Kau tidak melakukan sesuatu padanya, kan?"
"Tidak."
Mengecek nadi, kemudian mengeluarkan sebuah injeksi dan dua buah ampul yang ia patahkan kepalanya.
"Ini penawar racun darurat dengan dosis lebih besar. Selanjutnya ia harus dirawat penuh."
"Ya."