Aku kembali ke kamar, menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Menjadi seorang istri dari Azka tidaklah sulit, terlebih lagi ia juga jago memasak dan tak menuntutku berperan sepenuhnya menjadi seorang istri. Aku merasa ia begitu sempurna menjadi seorang suami, walau aku tak belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk Azka. Akan tetapi, aku sedang berusaha untuk mencoba menerimanya. Kamar tidur Azka ini begitu besar, luas dan lapang, tetapi terkadang aku merasa begitu sesak dan sempit. Hidup ini aneh bukan? Disaat telah mempersiapkan segala hal dengan sebaik mungkin, tetapi dengan sekejap semua itu hancur tak tersisa. Aku tak mengerti jalan takdirku, tetapi aku akan berusaha menjalani semua ini dengan ikhlas, jika itu adalah ketentuan Allah. *** Ponselku tiba-tiba bergetar, aku segera m

