Tak terasa air mataku mengalir lagi, tak kuasa menahan saat mengingat lagi kenangan-kenangan bersama Radit. Sejahat itukah aku sehingga aku tak bisa menemaninya disaat-saat dia memanggil namaku. Aku jahat! Selesai mandi aku memilih duduk di sofa, merenungi nasib cinta yang hanya saling menyakiti. Kupejamkan mata ini, terlihat wajah Radit tersenyum padaku. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja wajah itu samar-samar berubah menjadi wajah Azka, cepat kubuka mata ini. Kini wajah Azka terlihat begitu jelas di hadapanku, dia berlutut di depanku dan memandang wajahku dengan dekat sekali sehingga membuat wajah kami saling bertemu. "Azka?" Wajah Azka kini justru semakin mendekat sehingga embusan napasnya terasa hangat menyentuh kulit wajahku. Entah apa yang harus aku lakukan saat ini? Karena

