Cemburu? Enggak Mungkin!

1604 Words
"Mba cuma belum siap. Mba gak mau melukai kamu Karin." Aku bersungguh-sungguh mengatakan ini pada Karin. "Aku udah gak papa Mba, aku ikhlas. Berapa kali aku harus bilang aku hanya butuh waktu, dan sekarang sedikit demi sedikit aku sudah membaik Mba." Karin meraih kedua tanganku. "Karin, tapi Mba selalu memikirkan kamu, Mba selalu merasa bersalah untuk semua ini," ucapku. "Mba Karin udah bilangkan, ini sudah takdir Allah Mba, jodoh Mba itu kak Azka, bukan Bang Radit. Atau jangan-jangan Mba belum bisa lupain laki-laki b******k itu, ya." Tuduh Karin padaku. Radit, bagaimana aku bisa lupakan nama itu dalam sekejap? Dua tahun kami bersama sampai akhirnya memutuskan menikah, lalu sampai di hari pernikahan dia pergi dengan wanita lain. Bagaimana bisa aku lupakan itu dengan mudah? "Kalau Mba gak bisa perlakukan Kak Azka dengan baik, kalau Mba sampai menyakiti hati kak Azka, maaf Mba aku akan merebut kak Azka dari Mba. Aku gak bisa melihat kak Azka gak bahagia." Karin menekankan kata merebut padaku. "Karin?" ujarku lirih. "Mba, berjanjilah buat Kak Azka bahagia, maka Karin juga akan bahagia, tapi jika Kak Azka sedih karena Mba, maaf Mba, maka Karin yang akan membuat kak Azka bahagia." Karin keluar kamar meninggalkanku yang benar-benar belum bisa mencerna semua kata-kata Karin. Kenapa dengan Karin dan Azka, tak bisakah mereka memahami perasaanku saat ini? Aku masih terluka karena kegagalan pernikahanku dengan Radit. Laki-laki yang Karin sebut b******k itu masih meninggalkan rasa sakit dan rasa cinta di hatiku. Tak semudah itu untuk mengisi hatiku dengan kehadiran laki-laki lain saat ini. Walaupun aku paham saat ini statusku adalah istri dari Azka, tapi bukan aku yang memintanya untuk menikahiku. Salahkah aku jika hatiku masih terikat dengan Radit, sedangkan ragaku telah terikat pernikahan dengan Azka? *** Pukul 20:00 WITA aku sampai di rumah Mama mertua, Azka menurunkan aku di depan rumah, karena ia harus pergi lagi tanpa bicara dulu atau pamit kepadaku Azka langsung melajukan motornya. Aku tahu pasti Azka akan bertemu dengan Nina lagi malam ini, tapi aku sadar aku tak punya hak melarang Azka sama seperti Azka yang tak kuizinkan untuk melarang urusanku. Rumah masih sepi, sepertinya mama dan papa belum pulang, kak Vania juga belum datang. Kuhabiskan waktu hingga larut di dalam kamar dengan membaca buku kak Vania. Hingga pukul 12 malam Azka belum juga pulang. Sementara kak Vania sudah datang sejak dua jam yang lalu. Papa dan mama memberi kabar bahwa mereka tidak pulang malam ini. Aku mulai khawatir pada Azka, ku coba menghubunginya tapi tak kunjung juga mendapat jawaban. Hingga pukul setengah satu terdengar suara motor Azka memasuki halaman rumah. Kulihat wajahnya dari balik kaca jendela kamar nampak tengah bahagia, tak tahu kah dia aku disini cemas menunggunya. Liat saja nanti! Azka lalu masuk ke kamar, sementara aku sudah duduk manis di atas shofa. "Kania? Kenapa belum tidur?" Azka nampak kaget melihatku belum tidur seperti malam biasanya. "Sengaja menunggumu." Datar. "Aneh sekali, tak biasanya kamu menungguku hingga selarut ini." Azka heran. "Tak bisakah kamu mengangkat telponku?" tanyaku. "Tadi aku terlalu sibuk sampai tak tahu kamu menelpon." Azka mengeluarkan ponsel dari saku celananya, pasti ada 10 kali panggilan tak terjawab dariku, aku yakin itu. "Sesibuk apa? Sampai memberi kabar saja kamu gak bisa." Aku mulai kesal. "Maaf, lagian tumben kamu peduli dengan kabarku." Perkataan Azka mengejutkanku. Oke, Kania sekarang kamu terjebak dalam situasi ini. Jawab apa? Krik, krik, krik. Suara jangkrik terdengar jelas ditelingaku, beribu kata berputar di otakku, tapi tak satu pun aku rasa ada yang cocok untuk menjawab pertanyaan dari Azka, kenapa aku merasa tersudutkan saat ini? "Aku, engh ... cuma mau tanya aja. Kan, gak biasanya kamu pulang selarut ini. Biasanya jam sepuluh jam sebelas kamu juga udah balik." Gugup. Entah kenapa aku gugup? Aneh. "Kamu perhatikan jam pulangku? Bukannya setiap kali aku pulang kamu sudah tidur ya?!" Skak mat. "Oh itu ... Iya aku tahu dari Mama kok." Terpaksa Bohong. "Masak, sih?" Azka melirik penuh arti, bibirnya tersenyum kecil. Aku bisa melihat itu. "Baiklah, aku rasa aku akan tidur saja." Beranjak dari tempat duduk, Azka cepat menarik tanganku, hingga tubuh kami kini saling menyentuh. Pipinya terasa sangat dingin menempel di pipiku. Detak jantungku kembali lagi seperti ini, berdegub tak terkendali. "Apa kamu tak mau tahu kemana saja aku malam ini?" Bisik Azka ditelingaku. Aku menggeleng pelan. Azka tiba-tiba memeluk tubuhku makin erat. "Lepasin." Aku mencoba melepas tangan Azka yang melingkar di pinggangku. "Hust," jari telunjuk Azka menempel dibibirku. "Jangan berisik ini sudah larut malam," ujarnya pelan. "Makanya lepasin!" Aku sedikit berteriak. "Enggak. Malam ini aku lagi bahagia. Dan aku mau terus memeluk kamu," ucap Azka sambil terus memeluk tubuhku erat. Baiklah. Ada apa dengan dia kali ini? Tadi wajahnya memang sangat bahagia, apa dia sudah jadian dengan Nina? Aku penasaran. "Azka!" seruku, sambil menginjak kaki Azka keras. "Awww ..." Azka berteriak kaget menahan sakit dan melepaskan aku dari pelukannya. "Sakit tahu gak?" Omelnya. "Enggak tahu, udah ah, aku mau tidur." Aku melangkah menuju tempat tidur. "Kania." Suara lembut Azka membuatku berbalik kearahnya. "Kenapa?" tanyaku penasaran. "Ini buat kamu." Azka menyodorkan amplop berwarna cokat ke arahku. "Apa itu?" Heran, apa ini amplop perceraian karena ia telah jadian dengan Nina. Pikiran konyol hadir untuk sesaat saat melihat amplop itu. "Ambil, dan lihat sendiri," pintanya padaku. Aku mengambil amplop dari tangan Azka, saat aku buka ternyata isinya adalah beberapa lembar uang merah ratusan ribu. "Apa ini?" Masih heran. "Jelas-jelas itu uang. Kenapa ditanya lagi, haruskah aku belikan kamu kaca mata?" Ledek Azka. "Aku tahu ini uang, maksudku uang sebanyak ini, dari mana?" Masih tak percaya. "Aku kerja Kania. Nina membayarku untuk mendesain cafe yang akan dia buka mulai besok malam. Aku mendapatkan satu juta setengah untuk kerjaku tiga malam ini. Dan lima ratus uang lemburku, jadi totalnya dua juta. Gunakan uang itu untuk membeli baju baru ya," pinta Azka. "Baju baru? Buat apa?" Bingung dengan semua yang tengah terjadi saat ini. "Buat ke acara peresmian cafe Nina besok malam," jelas Azka padaku. "Enggak ah, ntar aku ganggu kalian lagi." Kata-kata ini keluar begitu saja. "Maksudnya?" Azka mengerenyitkan dahi tampak bingung. "Maksudku ... udahlah lupakan." Aku harus membeli baju sendiri, sementara dia bisa menemani Nina membeli baju, dan memilihkannya lagi. Menyebalkan! *** Pagi ini aku lebih dulu berangkat ke kampus, tentu saja menggunakan motor kesayanganku. Sementara Azka tengah mandi saat aku berangkat tadi. "Kania."Suara Fitri membuatku menoleh kearahnya. "Pagi Fitri," sapaku. "Pagi juga Kania. O iya, coba lihat ini deh." Fitri memberiku selebaran kertas yang ternyata undangan pembukaan kafe baru milik Nina. Cafe Quenna. Acaranya nanti malam jam 7 dan ada grup band yang akan memeriahkan acara itu. Rasanya malas untuk turut hadir, tapi jujur aku penasaran dengan hubungan Azka dan Nina saat ini. "Datang yuk!" Ajakku pada Fitri. "Enggak, ah!" tolak Fitri. "Temani aku, Azka memintaku datang nanti malam. Bahkan dia memberiku uang untuk membeli baju baru." "Azka? Kenapa dia memintamu datang kesana? Jangan-jangan Azka dan Nina ...." "Apa?" tanyaku sambil menatap Fitri. "Gak papa, lupakan aja. Gimana kalau setelah mata kuliah hari ini selesai, aku menemanimu belanja!" Tawaran itri padaku. "Boleh." Aku langsung menyetujuinya. *** Azka, tengah asyik mengobrol dengan Nina di kantin, saat aku dan Fitri hendak makan, Namun, kehadiranku dan Fitri tak disadari olehnya. Aku baru saja mau duduk di kursi yang deretan mejanya tepat disamping Azka, tapi Fitri menarik tanganku menuju meja Azka dan Nina. "Maaf, boleh gabungkan?" Kata Fitri, membuat Azka dan Nina saling pandang untuk sesaat. "Boleh," jawab Azka datar. Duduk dihadapan Azka dan Nina yang tak menganggap kehadiranku, membuat perutku semakin lapar, ingin segera makan. "Mba, cepetan dong soto ayamnya!" teriakku pada mba penjual kantin, walaupun aku tak tahu sejak kapan aku mulai menyukai makanan kesukaan suamiku itu, yang kini tengah asyik berbicara dengan perempuan lain, jelas-jelas wanita itu pernah menyukainya bahkan tergila-gila padanya sejak dulu. Saat makanan sudah ada di meja, langsung saja aku nikmati soto ayam yang ada dihadapanku itu, tak peduli dengan Azka yang memandangku heran. Siapa aku? Siapa dia? Apa hubungan kita saat ini? Tak tahu lagi apa jawabannya. "Kania." Fitria menyenggol siku tanganku. "Heeem," gumamku karena tengah asyik makan. "Kania." Fitri memanggilku lagi. "Apa?" jawabku sambil menoleh ke arah Fitri yang sedang tersenyum malu pada Azka. Aku melihat Azka yang kini tengah memandangku, tapi Nina sudah tak ada disamping Azka, dimana gadis itu? Mataku mencari ke sekeliling kantin. Azka masih terus menatapku. Membuat tak nyaman. "Kenapa, sih?" tanyaku ketus pada Azka. "Enak ya?" tanya Azka padaku. "Iya, emang kenapa? Mau?" jawabku cuek. "Enggak. Buat kamu aja, itu aku pesan spesial tanpa wortel," kata Azka membuatku langsung melihat ke mangkuk soto yang ternyata memang tak ada wortelnya. "Ini pesanannya, Mba." Mba Kantin menaruh semangkuk soto ayam yang aku pesan di meja. Aiiish, bisa-bisanya aku sukses mempermalukan diriku sendiri hari ini. Hanya karena Azka dan Nina aku sampai gagal fokus. "Lanjutin aja, biar aku makan yang ini." Azka menarik mangkuk di hadapanku ke arahnya. Menyantap soto itu walaupun aku tahu dia tidak menyukai wortel. Terkadang sikap Azka selalu bisa membuatku tersenyum tanpa aku sadari. *** Aku dan Fitri begitu lelah karena dua jam berkeliling toko baju, tapi tak kunjung juga mendapatkan baju yang cocok untukku. "Aku gak datang aja deh," kataku pada Fitri. "Udah, tenang aja masih banyak toko disini," cetus Fitri dan membawaku menuju toko baju yang lain. Pilihanku dan Fitri tertuju pada gaun warna hitam berlengan sesiku dengan hiasan mutiara imitasi dibagian d**a, dengan panjang gaun selutut. Saat akan keluar dari toko, kami tak sengaja menabrak wanita yang tengah berjalan terburu-buru. Wanita itu langsung saja meninggalkan kami yang masih kaget. Tapi wajah wanita itu tak asing buatku. Bukankah wanita itu yang membuat Radit meninggalkanku, tetapi kenapa perut wanita itu tak terlihat buncit lagi, bukankah dia tengah hamil saat datang untuk menghancurkan pernikahanku? Apakah dia keguguran ataukah sudah melahirkan? Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD