Siapa Suruh Menikahiku?

2197 Words
Siapa Suruh Menikahiku! "Kania, ayo berangkat bareng kakak. Kebetulankan butik kakak dan kampus kamu itu searah," ucap kak Vania lalu menyuruhku masuk kedalam mobil putihnya. Kami mengobrol sepanjang jalan membahas banyak hal tentang buku yang semalam kak Vania berikan padaku juga tentang Azka yang diawali dengan pertanyaan kak Vania. "Azka dan kamu sedang ada masalah? Apa kalian betengkar?" tanya kak Vania. Aku hanya menggelengkan kepalaku. "Maaf, kalau kamu gak suka dengan pertanyaan kakak. Hanya saja tak biasanya Azka bersikap seperti itu padamu, saat itu, saat semua meminta Azka berpikir sekali lagi atas permintaan ayahmu untuk menikahimu, Azka sama sekali tak mau mendengarkan pendapat kami. Dia yakin untuk tetap menikahimu." kak Vania fokus menyetir tapi sesekali matanya melirik ke arahku. Lalu aku harus bagaimana? Aku tak memaksa dia agar menikahiku, aku juga terpakasa menjalani pernikahan ini karena aku teringat kata-kata Karin. Malam itu disaat suasana telah sepi dari para tamu dan kerabat, aku masuk ke dalam kamar Karin, meminta maaf padanya berkali-kali karena menikah dengan Azka dan aku akan segera meminta bercerai dari Azka, tapi Karin malah berkata, "Mba ini apa-apaan sih? Kak Azkakan sudah jadi suaminya mba. Kenapa harus memikirkan hal bodoh seperti itu, mba harus bersyukur ada kak Azka yang mau menikah dengan mba. Karin senang mba, karena mba gak akan mendapat setatus gagal menikah dari para tetangga. Tapi kalau mba sampai bercerai dari kak Azka dan jadi janda, lebih baik Karin gak ketemu sama mba lagi." Karin menangis dipelukanku. Aku tahu berat buat Karin memilih antara cinta dan kakak kandungnya. Maka jalan satu-satunya dia mencoba ikhlas walaupun itu masih berat untuknya. "Kania, apa kamu mengatakan sesuatu yang membuat Azka sakit hati?" Mendengar itu lamunanku buyar, seingatku aku hanya mengatainya m***m. Apa itu membuatnya sakit hati? Aku rasa tidak. Lalu apa yang membuatnya menghindariku. Bukankah semalam ia masih mencium keningku. Entahlah aku tak tahu, dan tak mau tahu. "Aku rasa enggak kak," jawabku yakin. "Kakak tanya karena Azka itukan terkadang perasaannya sedikit sensitif seperti wanita," kak Vania tertawa ringan lalu melanjutkan kata-katanya lagi, "Dia pernah menghindari papa selama satu bulan hanya karena papa mengatakan Azka gak berbakat bermain bola dan kata-kata sepele itu ternyata meluaki hati kecilnya yang menyebabkan dia ngambek." Hahaha..., tertawa geli didalam hati, ternyata Azka memiliki perasaan sensitif seperti wanita ketika datang bulan. Ya ampun, tapi apa kata-kataku yang membuatnya marah padaku? Sesampainya di Kampus aku melihat Fitri sedang berdiri di lorong kelas, sepertinya dia menungguku. "Lama banget sih baru nyampe." Fitri langsung menghampiriku. "Ada apa sih, Fit?" tanyaku pada Fitri yang langsung menarik tanganku dan berhenti di depan pintu kelas. "Tuh liat! " Tunjuk Fitri ke dalam kelas, itu terlihat seperti Azka yang tengah asyik ngobrol dan tertawa dengan seorang wanita, dan itu 'kan Nina. "Azka dan Nina 'kan itu?" Tanyaku heran pada Fitri yang juga tengah heran melihat ini. "Iya, dan ada apa antara kamu dan Azka, Kania?" Pertanyaan Fitri bernada mengintrogasiku. "Gak ada apa-apa, kami baik-baik saja." Aku berjalan masuk kedalam kelas dan Fitri mengikuti langkahku tepat dibelakangku. Aku berpura pura tak perduli dengan kedua sejoli itu yang tengah tertawa-tawa gak jelas, sudah terdengar sekali obrolan itu tak lucu dan sangat terlihat Azka duduk disamping Nina dengan tak nyaman. Aku tak menghiraukan kehadiran mereka saat ini. "O, iya Azka, buat semalam terimakasih ya." Nina mengatakan itu lalu keluar dari kelas yang sebelumnya hanya dibalas senyuman penuh arti dari Azka, karena memang Nina tak sekelas dengan kami dan dosen juga tak lama masuk ke dalam kelas. Hey Kania, sadar! Kucubit pipiku keras agar otakku normal lagi. Kenapa juga aku jadi ingin tahu kemana Azka semalam dan ada apa dengan Nina? Semalam juga Nina menghubungi ponsel Azka. Biarkan saja Kania, ini bukan urusanmu. Pulang kuliah aku putuskan untuk ikut Fitri menuju rumah orang tuaku untuk mengambil motorku. Sementara Azka sudah tak terlihat mungkin telah sampai di rumah saat ini. *** "Assalamualaikum." Saat aku tiba didepan pintu rumah. Ibu menyambutku dengan senyum bahagia seperti sangat merindukan putrinya ini padahal baru semalam aku berada di rumah mertuaku. Ibu menyuruhku makan dan istirahat. Aku masuk ke dalam kamarku yang nyaman saat selesai makan, mengambil ponsel di dalam tas dan menghubungi ponsel mama mertua untuk memberi kabar bahwa aku sedang berada di rumah ibu dan akan pulang terlamat. Mama memintaku hati-hati saat pulang nanti dan mama mematikan ponselnya. *** Lagu dari Dewa_Risalah Hati liriknya membuatku merasa yakin bahwa Azka mulai menyukai Nina. Pasalnya suara Azka dan petikan gitarnya menyambut kedatanganku saat tiba di rumah Mama, aku bisa mengenali suara Azka karena memang ia hobby bernyanyi. Aku masuk begitu saja, melihat Azka tengah menghayati petikan gitarnya saat ini. "E'hem." Aku berdehem saat tiba di belakang Azka. Sementara Azka hanya mendongak ke arahku lalu melanjutkan lagunya lagi. "Gitu ya?" Aku berkata lagi. Ada apa dengan diriku ini? Apa Azka tak paham bahwa aku sedang tak mengerti dengan semua yang tengah terjadi dari semalam. Kenapa ia seakan-akan membiarkan pikiranku memainkan teka-teki seperti ini. Semula ia menjauhi Nina, sekarang ia seolah-olah begitu nyaman dan sibuk dengan gadis yang tergila-gila padanya itu. Aku verjalan menuju tempat tidur setelah meraih buku di atas meja, aku duduk di tepi tempat tidur sambil membuka buku. "Jadi gitu." Kali ini Azka melihat ke arahku dan berkata. "Apa sih yang gitu? Jadi gitu, ada apa?" Azka terlihat bingung, ia mengerenyitkan dahi. "Itu loh lagunya, Nina udah berhasil buat kamu jatuh cinta sama dia," kataku. Azka lalu mendekatiku, wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajahku. Degh! Mungkinkah Azka tahu kalau aku sedang gugup dan ketakutan seperti biasanya. Aku merasa sesak karena menahan napas, aku tak ingin Azka mendengar debaran jantungku yang tak terkendali, kupejamkan mataku tapi tak terjadi apa-apa Azka hanya membalik buku yang tengah aku pegang. "Bukunya terbalik, kamu lagi belajar membaca secara terbalik ya?" Ledeknya. Azka lalu melangkah kembali ketempat duduk. Rasanya ingin sekali aku bertanya dari mana ia semalam dan apa yang ia lakukan dengan Nina? Tapi, harga diriku ini terlalu tinggi. "Azka, apa kamu marah padaku?" Hanya pertanyaan ini yang mampu keluar dari mulutku. "Marah? Enggak tuh." "Apa ada kata-kataku yang menyakitimu?" "Enggak ada." "Syukurlah kalau gitu. Aku merasa lega." Aku senang karena tidak ada masalah lain lagi antara aku dan Azka. "Kania, kamu tahukan kalau Nina ...." Belum selesai Azka bicara aku segera memotongnya. "Aku tahu dia menyukaimukan, dan semalam dia juga ada menghubungi ponselmu, lalu aku juga dengar dia berterimakasih untuk semalam. Aku gak mau ikut campur urusanmu Azka. Kamu tenang saja." Aku melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Azka yang terbengong mendengar perkataanku. Aku hanya ingin Azka tak akan ikut campur dengan urusanku, seperti aku yang tak akan ikut campur tentang urusannya. *** Malam ini Azka lagi-lagi keluar malam, dan aku tahu dia bertemu dengan Nina. Kubuka laci meja melihat buku nikahku, kubuka perlahan dan tertera di sana photoku dan Radit, dan juga nama suami yang tertulis adalah 'Raditya Erlangga'. Ayah memintaku membawa buku nikah itu besok ke rumah untuk Ayah urus ke KUA bahwa pernikahan dengan Radit batal dan akan mendaftarkan pernikahanku dan Azka. Namun, Ayah mengatakan aku tak perlu repot-repot mengurusnya, biar ayah menyuruh orang saja untuk menguruskan buku nikah yang baru. Wanita mana yang tak hancur jika dihari bahagianya sang pria yang sangat dicintainya malah memilih pergi dengan wanita lain dan sekarang menghilang tanpa kabar. Benar-benar menghilang. Dret dret dret .... Ponselku menerima sebuah sms dari Nina. Juga Photo gaun berwarna merah maroon. [Gimana bagus gak? Ini Azka loh yg milihin, seleranya bagus juga. Hehehe ....] Tak lupa dengan emoticon ketawa bahagianya. Azka, apa yang tengah dilakukan laki-laki itu, dua malam ini dia selalu bersama Nina. Sekarang memilihkan gaun untuk wanita aneh itu. Keterlaluan! [Oh, bgus kok. Sngat bgus. Selera kalian sama ya ternyata.] Aku harus berpikir positif, Azka bukan tipe laki-laki berkhianat, bahkan selama ini dia tidak pernah berpacaran, mengungkapkan perasaannya dengan perempuan saja dia gak bisa, jadi gak mungkin kalau sampai ada sesuatu di antara mereka, tapi, tunggu dulu, inikan Nina, Azka gak perlu susah-susah untuk mengungkapkan perasaannya, pasti Nina yang akan ... OMG. Lihat saja kalau sampai Azka menduakanku, maksudku ... hubungan pernikahan ini. *** Sampai pukul 10 malam Azka belum pulang bahkan tak menelpon ataupun memberi pesan padaku. Kuraih ponselku mencoba menghubunginya tapi ku urungkan niatku, mencoba mengetik pesan, tapi yang terjadi hanya ketik, hapus, ketik, hapus. Gimana nanti Kalau Azka menganggapku ikut campur dalam urusannya. "Arrgghhhh!" Aku mengacak rambutku sendiri. Suara motor Azka terdengar pukul 11 malam saat aku melihat layar ponselku. Sengaja aku bangun dan segera kumatikan lampu kamar, lalu menunggu Azka di balik pintu kamar. Kreeek. Suara pintu saat Azka membuka pintu kamar. Azka lalu menutup pintu kamar dan menyalakan lampu, kini aku tepat berada dibelakang Azka, saat Azka berbalik badan, Azka benar-benar terkejut melihatku, sampai hampir melompat. "Kenapa? Bikin kaget aja!" katanya "Dari mana aja jam 11 baru pulang?" tanyaku sewot. "Ketemu sama Nina, kamukan sudah tahu." Menghempaskan tubuhnya di shofa. "Iya bukan berarti setiap malam kamu harus ketemu sama dia, terus pulangnya sesuka hatimu. Ingat kamu sekarangkan sudah menjadi suamiku. Jaga pergaulan kamu!" Cecarku tanpa bisa mengerem kalimatku. "Suamimu? Pergaulanku? Kania, selama ini aku gak merasakankan peran sebagai suamimu. Lalu pergaulanku kenapa? Nina anaknya ternyata baik kok. Aku suka ngobrol sama dia." Jawaban Azka ternyata berhasil menusuk hatiku. Suka... Maksudnya? "Kamu suka sama Nina?" Kuperjelas lagi. "Siapa yang bilang aku suka sama Nina?" Azka bertanya balik. "Tadi kamu yang bilang." "Ya maksudku, aku suka ngobrol sama Nina, anaknya asyik dan lucu, tapi bukan berarti aku suka dalam arti lain sama dia." "Alasan klasik itu sih." Aku berdiri tempat di hadapan Azka. Azka bangkit dari duduknya mendekat ke arahku, aku mundur beberapa langkah sampai menyentuh dinding kamar. "Kenapa Kalau aku suka sama Nina? Apa Kamu cemburu?" tanyanya makin mendekat padaku dan aku sudah tidak bisa mundur lagi. Terpojok. Aku menggeleng cepat menelan air ludahku sendiri dan menahan debaran jantungku ini. Ada apa sih sama Azka dia selalu saja mengerjaiku seperti ini. Dia membuatku takut, aku takut jika suatu hari nanti aku mulai mencintainya, aku takut melukai hati Karin dan aku pun masih takut terluka lagi. Azka apa jangan-jangan kamu mencintaiku? Tidak, dia lakukan itu karena dia terjebak disituasi yang sama denganku, situasi yang begitu rumit, dan juga permintaan Ayah yang membuatnya menikahiku, hanya itu. Azka semakin mendekatkan wajahnya ke arahku hingga aku merasakan hembusan nafasnya yang hangat, lagi dan lagi aku cepat menutup wajahku dengan kedua telapak tangan sambil menutup mata. "Sudahlah Kania, tidur cepat ini sudah malam," ucap Azka, saat aku membuka mata, Azka sudah berbaring di shofa. Hari ini adalah hari libur, jadi aku putuskan untuk pulang ke rumah ibu setelah merapikan rumah dan beres-beres di dapur. Mama dan papa juga sudah pergi selepas subuh karena ada acara di rumah salah satu rekan bisnis papa yang jarak rumahnya lumayan jauh, kurang lebih lima jam perjalanan untuk sampai kesana. Sementara kak Vania tetap pergi ke butik karena tak ingin mengecewakan pelanggan setianya. Aku meraih kunci motorku tapi tiba-tiba saja Azka meraih tanganku lebih cepat. Ada apa lagi ini? Jangan-jangan kali ini Azka akan memaksaku untuk melakukan kewajibanku padanya. "Tidak!" teriakku. Kania, kamu kenapa sih?" Azka heran karena aku tiba-tiba saja berteriak histeris. "Kamu yang kenapa? Mau kamu apa?" tanyaku dan menarik tanganku. "Mauku? mana kunci motor kamu? Sini, simpan saja, aku yang akan mengantarkanmu. Apa nanti kata Ibu dan Ayah jika aku membiarkan kamu pergi kesana sendiri." Azka menarik tanganku sampai ke depan teras, mengunci pintu rumah. kami pun melaju menuju ke rumah ibu. *** Tiba di rumah ibu, aku melihat Karin tengah duduk di teras, Karin terlihat lebih baik saat ini, wajahnya tak setertekan dan pucat sewaktu itu. "Mba, Karin kangen." Karin memelukku erat. "Mba juga kangen, sama adik mba yang cantik ini." Karin adalah adik kesayanganku yang tetap sama selalu manja padaku. "Udah pelukannya, gantian dong," kata Azka sambil merentangkan kedua tangannya meminta dipeluk oleh Karin, tapi Karin mengabaikannya. "Karin... Kak Azka juga kengen, kok gak di peluk, hey ...." Lanjut Azka saat kami melangkah masuk menuju ke dalam rumah dan tak memperdulikan tingkah Azka. "Ibu..." Aku berlari kecil dan memeluk ibu erat. "Kania, mana Azka?" tanya Ibu, dan tak lama Azka kini telah berdiri dihadapan Ibu. "Ibu, ini menantu kesayanganmu ada disini." Kata Azka lalu mencium tangan ibu. "Azka, ayo Nak, makan Ibu lagi buat cemilan." pinta ibu dan mengajak Azka ke dapur. "Iya Bu, pasti. Ibu memang baik perhatian dan sayang sama menantunya, gak seperti istriku, Bu, dia gak sayang sama aku, perhatian aja enggak." Azka bercanda pada Ibu dan melirik kearahku sambil menggoda. "Azka, kalau Kania membuat kesalahan nasehati saja dia jika tetap tak mau mendengarkanmu, biar ibu nanti yang memberikan hukuman untuknya." Ibu mengajak Azka masuk keruang makan. Oh Tuhan, laki-laki itu benar-benar kekanak-kanakan. "Mba, ikut kekamarku bentar, yuk!" Ajak Karin. Aku masuk ke kamar Karin, duduk di kursi belajarnya, dan Karin berdiri didekat jendela, angin yang masuk lewat jendela membuat rambut Karin bergerak-gerak, adikku ini memang cantik, lebih cantik dari kakaknya ini. Kagum pada adik sendiri. "Mba, kenpa kak Azka bilang gitu ke ibu?" Karin bertanya mukanya berubah serius. "Bilang apa?" Bingung. "Mba gak sayang dan gak perhatian sama kak Azka, mungkin buat Ibu itu adalah kata-kata bercandaan Kak Azka, tapi aku tahu Kak Azka sengaja mengatakan itu, aku lihat tadi saat dia memandang ke arah Mba Kania, ada apa Mba? Mba, gak bisa memperlakukan kak Azka dengan baik?" cecar Karin. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD