Sekamar Tapi Tak Seranjang

2166 Words
Azka mulai mendekatkan bibirnya tiba-tiba kecoak itu kembali lagi keluar dari persembunyiannya. "Kecoak ...!" Aku histeris saat kecowa itu hadir kembali ditengah-tengah kami. Membuat Azka melepaskan diriku dan berusaha menangkap kecowa itu. Mungkinkah Azka kecewa karena adegan kami diganggu kecoak. Aku telah berada di atas tempat tidur saat Azka berhasil menangkap kecoak itu lalu membuangnya dari jendela kamar, berharap kecoak itu tak akan lagi mengganguku, atau menganggu saat aku bersama Azka. Eh...? "Turun, sudah gak ada lagi kecoaknya." Perintah Azka. "Azka, kamu jorok banget sih, masak kamar sampai kayak gini. Kamu gak risih apa?" potesku saat sudah turun dari tempat tidur dan berdiri disampingnya. "Aku itu risih kalau ada orang lain yang masuk ke dalam kamarku." "Pantas aja kamu risih kalau ada orang yang masuk ke dalam kamar kamu, soalnya kamar kamu ini lebih pantas disebut tempat pembuangan akhir dari pada disebut tempat tidur," ucapku sambil melepas ikat rambutku. Aku mulai merapikan rambut panjangku dengan jari-jari tangan dan mengikatnya kembali. Menarik kedua lengan kaos yang kini kukenakan, lalu aku memulai mengambil seluruh buku yang berserakan dan menyusunnya di atas meja. Tak lupa melepas semua sarung guling dan sarung bantal, sepraipun harus aku lepas. Sedangkan Azka hanya merapikan kaset DVDnya, aku memasukan semua seprai dan pakaian kotor ke dalam keranjang di kamar mandi. Sementara aku sedang merapikan kamar, Azka lebih memilih nongkrong di dalam kamar mandi karena mendapatkan panggilan alam yang tak terduga. "Apa ini?" Azka heran ketika keluar dari dalam kamar mandi melihat kamarnya yang kini menjadi bersih, harum dan rapi. Azka harusnya senang karena tempat tidurnya, bantal dan gulingnya kini telah rapi dengan seprai baru berwarna putih bermotif bunga bunga kecil merah muda. Tirai jendelanya pun sudah berubah berwarna merah muda. Ya ampun, aku suka sekali nuansa kamar Azka saat ini, ini baru bisa disebut sebagai kamar. Bahkan Aroma wangi menyelimuti kamar Azka, aku sengaja menyemprotkan pengharum ruangan yang aku suka. "Kania, seprainya kenapa kamu ganti jadi kayak gini? Itu tirai jendela kenapa juga jadi pink. Lagian kamu dapat dari mana seprai ini?" Azka bertanya banyak pertanyaan saat melihat kamarnya berubah cantik. "Kado saat kita menikah, lagian sayang kalau gak di pakai. Jadi enak 'kan sekarang untuk istirahat." Baiklah, Azka harusnya kamu berterima kasih terhadapku. "Benar sekali. Sepertinya ini lebih nyaman untuk kita istirahat berdua." Melangkah ke arahku. Aku melangkahkan kakiku ke belakang beberapa langkah. "Kenapa? Jangan tegang donk. Kita nikmati saja malam pertama kita sekarang. Sudah dua malam kita melewati malam pertama kitakan?" Azka membuatku takut, aku semakin terpojok sekarang. "Azka, kamu tahukan aku terpaksa menerima kamu menjadi suamiku. Jadi aku minta kamu mundur sekarang." Pintaku pada Azka, mengingatkan Azka bahwa pernikahan ini buka keinginanku. "Kalau aku gak mau gimana? Bukankah ini adalah hakku? Jadi seharusnya kamu melakukan kewajiban kamu sebagai istrikan?" Azka semakin mendekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafas Azka saat ini. "Mundur...! Atau aku teriak!" Aku mengancam Azka saat ini. "Teriak? Teriak aja Kania, nanti kalau ada yang datang kamu mau bilang apa? Apa kamu mau bilang kalau kamu menolak memberikan hakku?" Azka benar-benar keras kepala ia malah semakin mendekat ke arahku, lalu meletakan tangannya ke dinding di samping kepalaku, mulai mendekatkan wajahnya. Kali ini aku langsung menurunkan tubuhku dan berjongkok sambil membenamkan wajahku pada lipatan kedua lututku. "Kania." Azka berbisik di telingaku, tapi aku hanya bisa diam tak mampu menjawab ataupun bergerak. "Apa segitu kamu takut padaku?" Tanya Azka lagi. Aku mendongakkan kepalanku memandang wajahnya sambil perlahan menganggukkan kepalaku, air mataku menetes lagi begitu saja. "Kamu dan aku sahabatkan? Lalu kenapa kamu takut padaku?" Azka meraih wajahku dan menatap kedua bola mataku. Aku hanya bisa membenamkan wajahku lagi, tak ada jawaban untuk pertanyaan Azka, membuatku merasa bersalah, tapi juga membuatku sadar walau kini aku telah menjadi istrinya tapi aku hanya belum bisa menerima itu semua. Tok tok tok! Pintu kamar di ketuk, mama membuka pintu kamar. Aku langsung berdiri dan menghapus air mataku, sementara Azka masih berdiri mematung disampingku. "Wah, Mama suka kamar ini. Kania kamu pintar menata kamar Azka, kini menjadi layak untuk di tempati." Mama melirik kearah Azka. "Memangnya selama ini kamarku tak layak untuk ditempati apa? Sekarang kamarku malah berubah jadi kamar wanita." Protes Azka pada mamanya. Mama Azka hanya memberi senyuman ledekan untuk Azka. "Terimakasih tante," Aku tersenyum dan mendekat ke arah Mama. "Jangan panggil Tante, panggil Mama, seperti Azka memanggil Mama. Kan sekarang kamu juga anak mama." Mama merangkul pundakku. "Engh, iya ma, maaf Kania lupa." Aku mengangguk. "Sudah mau magrib, cepat mandi dan shalat setelah itu mama tunggu di ruang makan kita makan bersama." Mama keluar dari kamar dan meninggalkan aku dan Azka berdua lagi dengan pikiran kami masing-masing. Hening. Tak ada kata. Sampai Azka mengatakan. "Mandilah duluan, setelah itu baru aku." Aku lalu mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Lebih dari sepuluh menit aku mandi, mungkin membuat Azka jadi bosan menunggu gilirannya. "Kania, buruan dong. Gantian mandinya." Suara Azka terdengar kecil dari dalam kamar mandi. "Kania, udah belum sih?" Suara Azka lagi. "Kania!" seru Azka sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Kututup keran air, "Azka, bisakah kamu keluar dari kamar. Aku hanya memakai handuk. Setelah aku memakai pakaianku, baru kamu bisa masuk ke kamar lagi," pintaku pada Azka . "Wanita ini. Dia terlalu banyak mengaturku sekarang. Memangnya kenapa sih? Akukan suaminya, jika aku melihatnya hanya menggunakan handuk apa aku berdosa?" Gerutu Azka perlahan, tapi aku dapat mendengar kalimatnya itu. "Enggak!' jawabnya singkat. "Kalau gitu aku juga gak akan keluar dari kamar mandi." Aku mengeraskan suaraku. "Baiklah aku keluar." Suara langkah kaki Azka terdengar menjauh lalu terdengar suara pintu kamar dibuka dan ditutup kembali. Namun, ternyata saat aku telah keluar dari kamar mandi Azka sedang berdiri menghadap pintu kamar yang tertutup. ''Aku hanya ingin mandi saja harus di repotkan dengan urusan seperti ini. Menyebalkan!" Kata Azka berdiri membelakangiku. Aku keluar dari dalam kamar mandi, hanya menggunakan handuk, hanya menutup bagian d**a sampai lutut, bahkan rambut panjangku masih tergerai basah. Azka berbalik badan dan kaget melihatku berdiri di depan pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Aku segera berlari menuju tempat tidur meraih bantal dan guling lalu melemparkan semua pada Azka. "Dasar m***m!" Aku melempar semua yang ada di atas tempat tidur hingga Azka berlari kecil menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan cepat. Di ruang makan aku duduk di samping Azka, mama dan papa mertua duduk berdampingan juga. Kak Vania, kakak iparku duduk di samping kami. Aku melihat kak Vania adalah wanita cantik, mandiri dan pekerja keras. Kak Vania sudah tiga tahun terakhir menggeluti pekerjaannya di butik pakaian syar'inya yang ia punya setelah memutuskan untuk berhenti kerja dari perusahaan papanya, yaitu papa mertuaku tentunya. Penampilan kak Vania sangat tertutup, pakaian yang ia kenakan sangat sederhana namun tetap memiliki gayanya tersendiri. Gamis polos panjang itu hanya dihiasi dengan garis melingkar disetiap ujung bagian bawah gamisnya, juga jilbab besar dan panjang yang menutup rambut dan dadanya. Walaupun begitu kak Vania tetap terlihat sangat anggun dan cantik. Sangat beda sekali dengan penampilanku yang belum bisa memakai jilbab. "Kania, ayo dimakan kok malah melamun," tegur Mama saat melihat aku hanya memandang makananku. "Eh, iya Mah." Aku langsung melahap makanan yang sudah ada didalam piringku. Selesai makan aku membantu kak Vania membawa piring kotor di atas meja menuju dapur dan mencuci piring bersama. Kak Vania mencuci piring dengan sabun sementara aku yang membilas dan menyusunnya. Saat aku hendak masuk kedalam kamar kak Vania memanggilku. "Kania, sini deh." Aku mendekat ke kak Vania. "Kenapa kak?" Kak Vania mengajakku ke kamarnya. Sesampainya di kamar kak Vania, kak Vania memberikan aku sebuah buku dan menyuruhku untuk membacanya. Dari judul aku tahu jelas isi dari buku itu adalah tentang kewajiban perempuan baliq untuk menutup auratnya. Aku membawa buku itu dan meletakan diatas meja, melihat sekeliling kamar tapi tak ku dapati Azka di kamar. Entah dimana dia saat ini. Karena saat selesai makan tadi aku sibuk di dapur membantu kak Vania. Teringat kata-kata kak Vania saat aku akan kembali ke kamarku. 'Kania, kamu itu cantik. Rambutmu juga indah. Tapi lebih baik jika kecantikan dan keindahan yang kamu miliki hanya kamu perlihatkan pada suamimu saja. Jika di luar rumah sebaiknya kamu tutup, untuk menjaga pandangan buruk dan juga menghindari fitnah. Jangan membuatmu menjadi bahan cuci mata bagi laki-laki yang bukan muhrimmu.' Setelah shalat isya aku tidak keluar kamar lagi, hari ini aku merasa lelah setelah merapikan kamar Azka dan juga menghadapi tingkah konyolnya mengerjaiku. Setiap kali Azka mendekat, wajah sedih Karin selalu ada dikepalaku, seakan dia berkata bahwa aku adalah kakaknya yang jahat, telah merebut laki-laki yang ia cintai. Pukul 22:00 WITA malam aku terbangun saat mendengar suara motor Azka. Ku lihat dari jendela kamar yang menghadap ke halaman depan rumah, Azka memarkirkan motor besarnya. Tampilannya sangat rapih, celana jens hitam, kaos berwarna biru tua dan memakai jaket hampir senada dengan warna baju kaosnya. Saat aku dengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamar, dengan cepat aku berbaring dan memejamkan mata. Berpura-pura sudah tidur. Azka melangkahkan kaki mendekat ke arahku, bisa aku rasakan itu, karena aroma parfumnya kini tercium dengan jelas di hidungku. Jantungku berdebar kencang saat aku merasa Azka semakin dekat denganku. Entah bisakah dia mendengar suara detak jantungku saat ini. Aku merasakan hangat ciuman Azka dikeningku, lalu menyelimuti tubuhku. Aku tak berani membuka mataku hanya untuk sekedar melihat dimana keberadaan Azka saat ini. Aku tertidur dan terbangun pukul 02:00 dini hari, melihat Azka tidur di shofa kamar yang menghadap televisi. Kamar Azka jauh lebih luas di banding dengan kamarku di rumah ibu, bahkan kamar mandinya saja berada di dalam kamar, shofa dan meja pun ada di kamar ini untuk sekedar bersantai ataupun menonton televisi. Jika di rumah ibu aku tak tega melihatnya tidur dilantai, disini aku lebih merasa tenang juga aman karena tak harus satu tempat tidur dengannya, Azka pun tak harus tidur di lantai karena ia bisa tidur di atas shofa. Aku mengambil selimut dari dalam lemari, memyelimuti tubuh Azka, bahkan dia tertidur tanpa melepaskan jaketnya terlebih dulu. Dari mana sebenarnya Azka? Kenapa dia tak memberitahuku dulu tadi, jika ingin keluar? Bukankah kini aku istrinya? Tidak! Tidak! pikiran macam apa ini? Biarlah dia lakukan apapun itu urusannya, karena aku pun tak ingin dia ikut mengurusi urusanku tentang Radit. Ponsel Azka bergetar diatas meja, ku lihat di layar ponselnya tertera nama Nina. Buat apa nina menelpon jam dua malam seperti ini? Apa tadi Azka pergi menemuai Nina? Ada apa ini? Penuh tanya di hatiku. Sudahlah, jika menurutnya ini penting maka pasti besok ia akan menceritakannya padaku, sama seperti dulu saat Nina memaksanya untuk menerima cintanya di lapangan kampus, jika ingat itu aku merasa ingin terus tertawa. Azka yang dengan halus menolak nina, tapi Nina yang terlalu percaya diri atau tepatnya tidak memiliki rasa malu malah menganggap bahwa mereka resmi jadian. Benar-benar luar biasa Nina Saraswati anak orang kaya yang terpandang di kampusku itu. Pagi-pagi sebelum Azka bangun subuh, aku lebih dulu mandi, aku tak ingin dia mengerjaiku lagi pagi ini. Saat Azka bangun aku sudah selesai mandi dan memakai baju. Azka meraih handuk, masuk ke dalam kamar mandi. Selesai shalat subuh aku menuju ke dapur, ini pagi pertamaku dirumah mertua, aku tidak ingin mertuaku menganggap aku menantu yang pemalas. Saat tiba di dapur mama tengah sibuk memasak. "Eh, Kania. Ada apa, Nak?" tanya Mama saat melihatku. "Mama masak apa? Kania mau bantu Ma," jawabku. "Mama bikin masakan kesukaan Azka. Sini bantu mama, Kania tahukan makanan kesukaan Azka?" tanya Mama. "Soto ayam ya, Ma?" Dengan nada sedikit seperti bertanya. "Mama yakin kamu tahu jawabannya, kamukan sahabat Azka dan sekarang sudah jadi istrinya pasti sekarang lebih paham Azka dari pada mama, hehehe." Mama tertawa kecil membuatku malu. Sebenarnya aku sendiri tahu makanan kesukaan Azka juga karena setiap kali aku, Fitri dan Azka makan di kantin Azka seperti tak pernah bosan memesan menu yang selalu sama yaitu soto ayam. "Mama ini, kalau sudah tahu Kania tahu jawabannya kenapa masih ditanya?" Suara kak Vania membuatku menoleh padanya yang tengah merendam mie putih. "Mama hanya memastikan saja. Sedikit menggoda Kania, biar Kania gak tegang." Mama membalik ayam yang tengah di goreng. "Ma, Kania bantu apa ni?" Tanyaku memberanikan diri. Duduk saja di sana sambil mengiris wortel dan kol putihnya. "Iya, Ma," jawabku lalu duduk dikursi kemudian memotong wortel dan kol kecil-kecil seperti yang mama meruaku contohkan tadi. "O, ya, Kania, Azka semalam pulang jam berapa?" tanya mama. "Jam 10 Ma." "Anak itu, harusnya jika mau pergi mengajak kamu, bukannya pergi sendirian seperti itu. Azka semalam memangnya pergi kemana Kania?" Pertanyaan mama membuatku seperti tersadar bahwa aku tak tahu apa-apa tentang Azka, sangat sulit ingin menjawabnya. Aku sendiri tak tahu Azka kemana dan perginya saja tak memberi tahu, sekedar mengabariku lewat sms saja pun tidak. Setelah soto ayam jadi aku membantu menyiapkan semua dimeja makan. Azka begitu menikmati sarapan pagi ini. Selesai sarapan Azka langsung pamit pada mama untuk berangkat kuliah. "Azka, tunggu Kania. Kalian berangkat bersamakan?" Mama mengejar Azka yang sudah berada diatas motor. "Tidak Ma, Azka ada urusan penting. Mau pergi dulu kesuatu tempat." Azka melaju dengan motornya. Menyebalkan! mana kemarin motorku aku tinggal di rumah, karena kemarin aku datang ke sini satu motor sama Azka. Tau jadinya begini aku bawa motor sendiri. Dasar menyebalkan! Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD