WA 2

1048 Words
Senja berjalan dengan tergesa-gesa dikoridor Rumah Sakit, dai sudah memesan taksi online semoga jalanan hari ini tidak macet, itulah doanya. Taksi online pesanannya pun ternyata sudah ada di parkiran Rumah Sakit, dengan cepat Senja memasuki mobil itu dan setelahnya sopir pun melajukan mobilnya sesuai alamat yang tertera di aplikasi. Beruntung sekali, jalann siang ini tidak begitu macet, Senja bisa sampai lebih cepat dikantornya. Setelah membayar ongkos kepada sopir online dengan cepat Senja berlari menuju ruangan Divisi Marketing. “Senjaaaaa!” Teriak Hawa yang begitu melihat sosok sahabatnya itu tiba. “Atur nafas dulu, Ja!” Kata Hawa begitu melihat sahabatnya ini dengan nafas yang tersenggal senggal, efek berlari dari depan kanto sampai ruangannya. “Gi-gimana dong, Wa. Gue dag dig dug ni, gue harus gimana?” Tanyanya panik “Tenang, tarik nafas, buang, tarik nafas, diem jangan dibuang” candanya agar menghilangkan rasa khawatir pada Senja Senja mendelikan matanya. “Meninggoy dong gue!” “Udah ah, gue keatas dulu, doain ya!” ucap Senja seraya meraih nametag nya lalu memakainya dan segera berlari menuju ruangan CEO “SEMANGAT, SENJA!” Teriak Hawa Senja berajalan dengan perasaan yang sudah tak karuan rasanya, menuju ruangan CEO yang katanya sungguh kejam, arogan dan tentunya tampan. Begitu sampai didepan ruangan yang bertuliskan CEO Room, jantung Senja berpacu lebih cepat dari biasanya. “Huh! Bismillah” Senja mengetuk pintu kaca itu lalu mendorong handle pintu dan menyembulkan kepalanya. “Selamat Siang, Pa..” “SAYANG!” Teriak seorang karyawan perempuan di belakang Senja membuat Senja pun mengalihkan perhatiannya pada asal suara itu. “Teriak-teriak udah kaya di hut.. Eh, Pak. Mau kemana?” Kaget Senja begitu tangannya ditarik oleh Arga CEO nya membuat dirinya sedikit aga terhuyung karena tarikan mendadak Arga. “Pak, aduh saya janji, gak akan telat lagi, Pak. Pak, Pak, jangan pecat saya, Pak. Saya mohon!” lirihnya karena Arga masih menariknya dan pria itu tidak bersuara sama sekali sedaritadi membuat Senja kalang kabut sendiri dibuatnya. Arga menarik Senja masuk kedalam lift, yang memang khusus untuk para petinggu kantor, tentu saja lift ini tidak dinaiki oleh para karyawan. “Pak Arga, saya bisa jelasin semuanya. Tapi saya mohon jangan pecat saya, Pak. Saya jan..” Senja terdiam begitu manik hitam Arga menatap tajam kearahnya, dengaan susah payah Senja menelan salivanya. Arga mendekat kearah Senja yang berada disamping kirinya lalu mengukungnya dengan kedua lengannya hingga punggung Senja membentur tembok lift. “Ba-bapak, ma-mau apa?” Tanya Senja dengan terbata-bata “Kamu diam!” Kata Arga dengan nada dinginya membuat Senja mengangguk patuh. Setelahnya lift pun terbuka, Arga menarik lengan Senja kembali lalu membawanya menuju mobil sport merah miliknya, Arga membukakan pintu mobilnya lalu menarik lengan Senja agar wanita itu masuk ke dalam mobil. Setelahnya pria itu pun memasuki mobil dan duduk dibalik kemudi. Arga mendekatkan tubuhnya pada Senja yang terduduk dikursi penumpang, dengan refleks Senja pun menyudutkan tubuhnya pada senderan kursi. “Ba-bapak, mau a-apa?” Tanyanya takut Arga menarik safety belt dan memakaikan pada tubuh Senja. “Nggak usah mikir macem-macem!” Bahu Senja pun melemas, sungguh tidak baik bagi kesehatan jantungan berada didekat CEO nya ini. Pria itu pun melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sedikit ramai, mungkin karena memang sedang jam istirahat dan para karyawan kantor sedang keluar. Selama perjalanan kurang lebih empat puluh menit tidak ada sama sekali yang bersuara, hanya ada keheningan didalam mobil dan mereka pun sudah sampai di pekarangan rumah mewah nan megah dengan nuansa serba putih. Senja menatap takjub rumah megah ini, “Rumah rasa istana itu seperti ini” gumamnya dengan mata yang terus menatap pada bangunan rumah itu. “Turun” titah Arga “Hah! I-iya, Pak.” Senja pun turun dari mobil mengikuti Arga yang sudah turun terlebih dahulu. Senja masih berdiri disamping mobil merah itu, tanpa niat untuk melangkah masuk kedalam membuat Arga yang sudah berada didepan pintu membalikkan badannya lalu berjalan kembali menghampiri Senja yang masih diam mematung disana. “Kenapa diam saja?” Tanyanya “Hah! Em sa-saya tunggu disini saja, Pak. Silahkan Bapak selesaikan pekerjaan Bapak didalam” jawabnya Arga menghelakan nafasnya “Urusan saya disini itu sama kamu, jadi kamu ikut saya kedalan!” “Ma-maksudnya, Pak?” Tanya Senja yang masih tidak mengerti, dia tidak mengerti semuanya kenapa dia dibawa kemari, ada urusan apa dia disini Arga memasukkan kedua tangannya pada saku celana hitamnya, lalu berjalan lebih dekat kepada Senja. “Kamu pura-pura jadi kekasih saya, jadi pacar saya” “Hah! Pura-pu.. emmph” Arga membekap mulut Senja lalu menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya “Diem, kamu hanya perlu ikuti intruksi dari saya, paham!” Senja pun menganggukkan kepalanya patuh. Arga melepaskan bekapan nya lalu mengandeng tangan Senja masuk kedalam rumah mewah itu. “Nah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang” kata Humaira Mami Arga, begitu keduanya sudah berada di ruang makan. “Mami, apa kabar?” Kata Arga lalu memeluk Humaira “Mami, sehat” setelahnya Humairapun memeluk Senja “Akhirnya, kamu dibawa juga ketemu sama , Mami” ujarnya dengan memeluk Senja Senja pun tersenyum canggung “Kamu cantik sekali, sayang” kata Humaira seraya menangkup wajah Senja. “Papi, sehat?” Sapa Arga kepada Malik “Papi, sehat kok, bagaimana dengan kamu?” “Arga, juga sehat kok, Pi” “Papi, lihat mantu kita, cantik, ayu. Anak nakal satu ini, pintar juga cari calon istri” ucap Humaira menunjukan Senja kepa suaminya. Senja pun tersenyum canggung, berhadapan dengan pemilik dari Nirwana Grup, perusahaan tempat dirinya bekerja. “Dia karyawan di kantor loh, Pi” kata Humaira karena dia melihat nametag yang masih menggantung dilehernya. “Oh ya, kamu karyawan dikantor?” Tanya Malik “Ah, iya Pak!” jawab Senja seraya melirik sekilas pada nametag nya. “Jangan panggil Bapak, panggil saja Papi sama Mami ya, Senja” pinta Humaira Senja mlirik Arga yang berdiri disamping Malik, Arga pun tersenyum dengan kepala yang mengangguk “I-iya Bu, em mak-maksud aku Mi” gugupnya Humaira pun tersenyum anggun sekali “Yasudah, ayok kita makan dulu, kalian belum makan siang kan?” Tanya Humaira kepada Arga dan Senja “Ah, aku sama Senja belum makan, kita udah lapar banget ini” Kata Arga lalu menuntun Senja untuk duduk dikursi Humaira yang melihat perlakuan manis anaknya itu pun tersenyum bahagia seraya menatap sang suami dengan binar bahagia begitu terpancar dimatanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD