bc

Wedding Agreement

book_age16+
3.1K
FOLLOW
20.9K
READ
contract marriage
powerful
CEO
sweet
bxg
icy
female lead
male lead
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Cinta itu datang disaat yang tak bisa kita duga sebelumnya, cinta datang tanpa permisi dia akan singgah di hati mereka yang beruntung karena sudah mendapatkan cintanya. Dan cinta itu butuh perjuangan dan kepercayaan. Maka dengan itu cinta akan selamanya abadi tak akan mudah tergoyahkan.

Seperti halnya Senja Chandani yang bertemu dengan Arga Griffin Harun, membuatnya harus terjebak dalam ikatan pernikahan kontrak karena berawal dari hubungan palsunya denga Arga dan membuat mereka semakin terjebak dalam ikatan yang lebih dalam lagi.

Senja Chandani : Kejarlah masa lalumu jika itu akan menjadi kebahagiaan bagimu!.

Arga Griffin Harun : Aku tidak mau kembali ke masa lalu, karena di depanku sudah ada kamu. Masa depanku!

Cover : orisinal

Pembuat : @diansari28

Gambar : referensi gaya form -- h****://pin.it/7FhFfEx

h****://pin.it/2bZplDs

Font : many weatz by picsart

Edit by : picsart

Design by : apk ibispaint

chap-preview
Free preview
WA 1
 “Ayok, Bun. Sudah siap?” Tanya lembut Senja kepada sang Bunda. Bunda tersenyum seraya menganggukkan kepalanya lemah, lantas Senja pun menggandeng tangan sang Bunda dan mengajaknya berjalan menuju depan rumah, di sana sudah menunggu taksi online pesanan Senja, untuk mengantarkan mereka menuju Rumah Sakit. Senja menuntun sang Bunda agar memasuki mobil terlebih dahulu, setelah sang Bunda terduduk dengan nyaman barulah dia menyusul masuk lewat pintu sebelahnya. Mobil pun melaju menuju melaju menuju alamat Rumah Sakit yang sudah tertera di aplikasi. Perjalanan kurang lebih tiga puluh menit mereka tempuh akhirnya sampai di pekarangan parkir Rumah Sakit, Senja memberikan ongkos kepada sang sopir dan dia pun turun lalu setelahnya menuntun sang Bunda untuk turun. “Terimakasih, Pak” ucap Senja sopan. “Sama-sama, Mbak” jawab sopir tersebut seraya menganggukkan kepalanya sopan Senja pun menuntun sang Bunda masuk ke dalam Rumah Sakit, menuju meja pendaftaran menghampiri para perawat yang sudah mengenal mereka berdua. “Selamat pagi, Mbak Senja dan Ibu Amirah?” Sapa salah satu perawat disana dengan sopan Senja dan Bunda pun tersenyum dan membalas sapaan perawat yang bernametag Desi itu. “Selamat pagi, Suster Desi” Suster itupun tersenyum ramah. “Sudah ditunggu oleh Dr.Devan ya, Bu, diruangan biasa” kata Desi “Baik, Sust. Terimakasih, kita kedalam dulu ya” kata Senja dan di angguki kepala oleh sang suster Senja masih setia menuntun sang Bunda berjalan, mereka tengah berjalan menuju ruangan Devan, begitu sampai didepan ruangan Dr. Devan mereka berdua disambut hangat oleh suster yang tengah berjaga bersama Dr. Devan. “Selamat pagi, Ibu Amirah, Mbak Senja?” Sapa sang suster yang bernametag Wawa itu “Pagi, suster Wawa.” Jawab Senja dengan senyum ramah nya “Bu Amirah, sudah ditunggu Dokter Devan didalam, mari.” Kata suster Wawa lalu merekapun masuk kedalam ruangan Dr. Devan setelah sebelumnya Wawa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Pagi, Dok! Ibu Amirah sudah datang” kata Wawa Devan pun beranjak dari duduknya dan menyapa Amirah beserta Senja. “Pagi, Ibu Amirah, bagaimana kondisinya hari ini?” Tanyanya begitu sopan dengan seulas senyum manis terlukis diwajanya. “Sama seperti hari sebelumnya, Dok” jawab Amirah Devan tersenyum, “Semangat, Bu. Kita berjuang bersama ya, ada saya dan juga, Senja” katanya seraya menatap Senja dengan senyuman menawannya. “Benar kata Dokter, Bun. Bunda harus tetap semangat, ada aku disini yang akan selalu dampingin Bunda, sampai kapanpun” ucap Senja dengan menatap lembut sang Bunda, tentu itu semua tidak luput dari pandangan Devan. “Mari, kita mulai sekarang ya, Bu” ucap Devan Amirahpun mengangguk patuh. “Siapkan semuanya ya, Sust” titah Devan kepada Wawa, Suster jaga yang membantunya. Devan pun akan memeriksakan kondisi Amirah terlebih dahulu dari pemeriksaan fisik, berupa tekanan darah, suhu, detak jantung per menit, frekuensi pernapasan per menit dan berat badan. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja Devan pun menuntun Amirah untuk segera melakukan pencucian darah. Metode pencucian darah yang dilakukan oleh Amirah adalah metode Hemodialisis. Metode ini Dokter akan melakukan operasi untuk memasang akses khusus. Umumnya, akses ini akan dipasang pada pembuluj darah ditangan (fistula ateri-vena) dan bertujuan menyatukan pembuluh darah arteri dan vena, akses tersebut kemudian dihubungkan dengan mesin hemodialisis. Mesin hemodialisis akan menyerap darah, lalu akan menyaring darah pada larutan diasilat untuk membuang zat sisa dan cairan berlebih dari darah. Darah yang sudah disaring akan dikembalikan kedalam tubuh pasien Dan selama proses pencucian darah berlangsung Senja tidak pernah meninggalkan sang Bunda Amirah sedetikpun. Wanita itu selalu setia berada disamping nya, mendampinginya dan selalu menggengam erat jemari sang Bunda, menyalurkan kehangatan serta memberi semangat kepada sang Bunda tercinta, karena di dunia ini Senja hanya memiliki sang Bunda saja setelah kepergian sang Ayah semasa dia masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Selama kurang lebih 2,5 jam, proses pencucian darahpun selesai dilakukan. Saat ini Senja dan Amirah sudah terduduk dikursi berhadapan dengan Dr. Devan. “Bulan ini, saya akan melakukan pemeriksaan kepada Ibu Amirah, untuk memantau fungsi ginjal beliau selama kita melakukan hemodialisis ini, apakah berhasil membuang limbah dari tubuh Beliau atau tidak” jelasnya. “Baik, Dok. Saat pencucian darah akhir bulan ini ya, Dok?” Tanya Senja Devanpun memgangguk dan tersenyum ramah pada Senja “Iya, Mbak Senja” Disaat percakapan mereka berlangsung ponsel didalam tas Senja berdering, Senjapun mengambil benda pipih bercase abu itu. Lalu melihat siapa yang memanggilnya ternyata sahabatny Hawa, Senja pun menggeser icon telepon di ponselnya dan panggilan pun terhubung. “Iya, Wa. Ada apa?” “Haduh, Senja sorry ya, lo masih di Rumah Sakit?” “Iya, ada apa sih, Wa?” “Ada meeting dadakan tadi, dan lo ditunjuk Pak Agus buat gaantiin dia meeting kan kalau dia lagi nggak bisa, tadi dia telat datang ke kantor dan lo tau Pak Arga CEO kita, dia ngomel-ngomel nyariin lo dan sekarang dia minta lo segera ke ruangannya” panik Hawa dari seberang telpon “Hah! Serius Hawa!” Pekiknya tanpa sadar bahwa dia masih berada diruangan Devan, dengan rasa canggung nya Senjapun berdiri dari duduknya lalu menganggukan kepalanya tanda meminta maaf kepada Devan. “Bunda, udah beres kan cuci darahnya?” “Udah udah, yaudaj gue on the way kek kantorr sekarang ya!” “Oke, lo hati-hati, Ja” Setelahnya panggilanpun terputus, tak bisa dipungkiri lagi raut cemas tertera begitu jelas di wajah Senja membuat Bunda mengerti akan kondisi putrinya. “Ada masalah dikantor, Nak?” Tanya Bunda penuh dengan kelembutan dan juga suara lemah sang Bunda “Em, ng-nggak kok, Bun. Yasudah aku antar Bunda pulang dulu, habis itu aku baru ke kantor ya” jawabnya dengan memberikan senyum paksaannya Bunda meraih tangan Senja lalu mengusapnya “Kamu itu anak, Bunda. Kamu gak bisa bohong sama, Bunda, kamu ke kantor saja biar, Bunda pulang dengan taksi” Jelas Senja tidak akan membiarkan sang Bunda pulang sendirian dengan kondisi yang masih lemah setelah hampir tiga jam melakukan pencucian darah, “Nggak, aku gak bisa biarin, Bunda pulang sendirian dengan keadaan lemas kaya gini” “Percaya sama, Bunda.” “Nggak, ak..” ucapan Senjapun terpotong. “Biar, Bu Amirah, saya antar pulang, kamu bisa ke kantor” kata Devan, Senja lupa jika dia masih berada diruangan Devan. Senja pun menatap Devan yang tengah menatapnya dengan seulas senyum manisnya. “Tapi kan, Dokter lagi tugas?” Devan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya “Kebetulan sebentar lagi jam istirahat, saya sekalian mau istirahat” katanya “Maaf, maaf sekali, Dok. Saya jadi merepotkan, Dokter” sungguh Senja merasa tidak enak kepada Devan “Tidak usah sungkan dengan saya” “Yasudah, kamu ke kantor sana” kata Amirah dan Senjapun menatap Amirah dengan raut penuh rasa bersalah dan tidak tega harus meninggalkan sang Bunda. “Bunda, maaf ya” lirih Senja “Dokter Devan, maaf merepotkan dan terimakasih banyak” lanjutnya kepada Devan. Dokter muda tampan itipun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Aku berangkat ya, Bun. Bunda hati-hati, jangan sampai telat makan siang, ya” Senjapun memeluk sang Bunda lalu mencium tangan Beliau. “Senja berangkat ya, Bun” pamitnya “Hati-hati ya, Nak”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
21.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.3K
bc

Kali kedua

read
222.8K
bc

TERNODA

read
203.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.6K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook