***
Evelyn membuka pintu apartemennya sembari membawa koper yang berisi pakaian Olive. Sedangkan Olive, wanita itu sibuk memperhatikan apartemen Evelyn yang menurutnya sangat mewah, sangat beda dengan rumah yang ia tempati.
“I-ini apartemenmu?” tanya Olive masih dengan terkagum-kagum. Evelyn yang menangkap binar kagum pada mata Olive menjadi terkekeh kecil. Sikap Olive sekarang sangat menggemaskan menurutnya.
“Menurutmu?” balas Evelyn.
“Um... Aku tidur di mana? Apa di sofa itu? Atau di depan televisi itu?” ucap Olive dengan antusias.
“No! Mana mungkin aku mempersilahkan kau tidur di sofa, apalagi di ruang tamu.” ucap Evelyn sembari menggeleng keras.
“Lalu?” Evelyn membawa koper wanita itu menuju kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarnya. Olive membuntuti Evelyn layaknya anak itik pada induknya.
“Ini kamarmu,” ucap Evelyn ketika telah membuka kamar tamu. Olive memandang kamarnya itu dan semakin berbinar. Matanya yang menyorot sekitar tampak sangat polos. Evelyn tersenyum dan tanpa sengaja melihat Olive yang masuk tanpa menggunakan sendal yang ia pakai tadi.
“Kemana sendal mu, Ive?” tanya Evelyn bingung.
“Sendalku?” Evelyn mengangguk. “Tadi ku lepaskan saat memasuki apartemen mu,” Evelyn tercengang. Ia menepuk jidatnya dengan mendramatis dan segera keluar untuk mengambil sendal wanita itu.
Evelyn menatap sendal yang terlihat kotor dan hampir rusak dengan perasaan miris. Ia tidak jadi memberikan sendal itu pada Olive dan malah membuangnya ke tempat sampah miliknya. Evelyn berjalan menuju lemari dekat pintu keluar yang berisikan sendal dan sepatunya. Evelyn mengambil sepasang sendal yang khusus untuk dipakai di dalam rumah dengan motif kelinci lucu.
“Olive, ini sendal—” ucapan Evelyn terpotong saat melihat Olive yang telah berbaring di ranjang dengan tubuh dan tangan yang terlentang. Wanita itu tertidur? Secepat itu? Evelyn menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Olive bangun!” Evelyn mengguncang tubuh Olive hingga gadis itu terbangun dari tidurnya.
“O-oh iya maaf, aku ketiduran.” ucap Olive dengan menggaruk tengkuknya. “Ranjangnya begitu empuk dan nyaman, aku tidak bisa menahan kantuk ku tadi,” sambung Olive lagi dengan terkekeh.
“Ya tidak masalah, tapi sebaiknya kau mandi lebih dulu sebelum tidur.” ucap Evelyn sembari memberikan handuk.
“Oke, tapi di mana kamar mandinya?” tanya Olive. Evelyn segera menunjukkan pintu kamar mandi yang berada di kamar Olive dan dengan segera Olive beranjak dari posisi tidurnya.
Evelyn keluar dari kamar Olive dan memasuki kamarnya untuk mandi juga, karena tubuhnya sudah terasa sangat lengket dan bau. “Ah, ini semua gara-gara bos s****n itu sampai-sampai aku harus kerja lembur.”
20 menit berlalu.
Evelyn telah keluar dari kamarnya dengan piyama tidur kesayangannya, wanita itu menuju dapur untuk menuntaskan hausnya yang begitu menyiksa.
“Ah, leganya.” Evelyn menatap sekitar dan berniat menuju kamar Olive.
Tok... Tok... Tok...
“Olive?” panggil Evelyn pelan. “Olive, apa kau sudah tidur?” namun tetap saja tak ada sahutan dari dalam. Evelyn mengernyit heran dan segera membuka pintu. Dan terpampanglah ruangan yang kosong.
“Kemana Olive?” ucap Evelyn bermonolog.
“Olive?!” panggil Evelyn sedikit lebih kencang namun hasilnya tetap sama, tak ada sahutan balasan dari Olive. Walau ragu, Evelyn segera memeriksa kamar mandi yang berada di kamar Olive.
“WHAT THE!” Evelyn tercengang saat melihat Olive yang tertidur dalam bathup dengan wajah yang terlihat sangat nyenyak tanpa terganggu akan tubuhnya yang terendam.
“Olive!” Evelyn mengguncang tubuh wanita itu dan Olive segera membuka matanya walau dengan terpaksa.
“Hmm?” gumam Olive.
“Kau tertidur dengan keadaan seperti ini! Astaga, bangun!” dengan kekhawatiran yang begitu besar, Evelyn segera membantu wanita itu untuk segera berdiri.
“Oh, iya aku lupa.” dengan tampang tidak berdosanya, Olive malah tertawa kecil.
“Demi Tuhan kau sangat ajaib! Apa kau wanita tukang tidur, heh?” omel Evelyn. Olive segera mencari baju di dalam kopernya yang akan ia pakai. Saat Olive mengeluarkan baju tidur yang menurutnya sangat pas ia pakai, namun terhenti saat Evelyn merebutnya dan kembali menaruhnya ke dalam koper. Evelyn berkata, “Pakaianmu banyak yang tidak layak pakai, tunggu di sini akan ku bawakan pakaian tebal untukmu!” Olive hanya patuh dan menunggu Evelyn membawakannya pakaian.
“Pakai ini,” sodor Evelyn memberikan piyama cukup tebal untuk Olive.
“Terima kasih,” ucap Olive bersamaan dengan hendak memakai pakaian itu di depan Evelyn.
“STOP!" pekik Evelyn.
“Ada apa?” tanya Olive bingung.
“Biasakan saat kau ingin berganti pakaian, berganti lah di situ.” tunjuk Evelyn pada walk in closed.
“Oh, oke.”
Evelyn duduk menunggu Olive berganti pakaian. Rencananya ia ingin mengajak Olive untuk makan malam walau ia tahu bahwa Olive sudah makan.
“Terimakasih, Eve.”
“Ya ya ya,” balas Evelyn malas. “Ayo temani aku makan,” ajak Evelyn dan diangguki oleh Olive.
Mereka telah sampai di dapur, Evelyn yang sibuk mencari makan sedangkan Olive yang sejak tadi mengamati Evelyn. “Hm, apa aku masak mie saja ya?” tanya Evelyn pada dirinya sendiri.
“Jangan, Eve. Makan mie instan itu tidak baik untuk kesehatan. Sebaiknya kau memasak saja,” sahut Olive saat melihat Evelyn ingin memasak mie.
“Um... Sebenarnya, aku tidak bisa memasak. Kalau aku tidak delivery, ya aku akan makan mie instan.” ucap Evelyn dengan terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Astaga, Eve. Benarkah?!” Olive beranjak mendekati Evelyn dan membuka kulkas.
“Eh, ini persediaan makan ini?” tanya Olive bingung. Jika Evelyn tidak bisa memasak, lalu untuk apa membeli bahan masakan sebanyak ini hingga isi kulkasnya penuh?
“Itu Daddy ku yang mengisinya,”
“Ck, kau ini. Yasudah, duduk diam di sana dan biarkan aku yang memasak.” Evelyn menatap penuh binar saat mengetahui Olive akan memasakkan nya makan malam.
“Baik,” layaknya anak kecil yang menunggu jatah makan, Evelyn duduk mengamati Olive yang begitu gesit memasak makan malam untuknya.
Setelah lima belas menit, akhirnya Olive selesai memasak. Yang ia masak berupa daging krispy, sayur dengan bumbu saus tiram, dan satu mangkuk sup ayam. Makanan itu ia sajikan di depan Evelyn.
“Hm, aromanya wangi sekali.” seru Evelyn tak sabar untuk segera mencicipi.
“Makanlah, dan jangan lupa nilai hasil masakan ku, ya?” Olive duduk dengan bertopang dagu menatap Evelyn yang segera memakan hidangan dengan nasi tentunya.
“Woah!” Evelyn membelalakkan matanya saat merasakan sup ayam yang ia santap pertama kali. Rasanya begitu enak dan beda dari yang pernah ia makan di restoran.
“SANGAT ENAK TAU!” Evelyn segera memakan dengan sangat lahap hingga pada suapan terakhir.
“Ah, aku kenyang.” Evelyn menjauhkan piringnya dan bersender pada sandaran kursi. “Kau sangat mahir memasak, kenapa tidak ikut kontes menyanyi? Barangkali saja kau lolos seleksi,” canda Evelyn, namun sepertinya Olive tidak paham akan candaan yang Evelyn ucapkan barusan. Wanita itu seperti menimang-nimang dan mengangguk, “Akan ku coba suatu saat nanti,” ucap Olive polos. Evelyn tak sanggup menahan tawanya dan dalam hitungan detik setelahnya, tawanya menggelegar.
“Kau begitu polos, Ive.” Evelyn tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya.
“Maksudmu?” tanya Olive tak paham.
“Sudah, sudah. Aku ingin tidur lebih dulu, bye.” Evelyn meninggalkan Olive dengan tanpa menjelaskan lebih lanjut.
“Janga tidur terlentang, tidurlah menyamping!” ucap Olive sedikit keras agar Evelyn bisa mendengarnya.
Evelyn berhenti dan berbalik menatap Olive dengan tanda tanya besar di kepalanya, “Kenapa tidak boleh tidur terlentang?” tanya Evelyn.
“Kau habis makan, dan pencernaanmu akan terganggu jika kau tidur terlentang. Sebaiknya tidurlah menyamping ke kanan.” ucap Olive.
“Kenapa tidak menyamping ke kiri?” tanya Evelyn lagi.
“Setauku, tidur menyamping ke kanan akan membantu pencernaan organmu dan penyerapan nutrisi lebih maksimal. Selain itu, tidur menghadap kanan mampu merilekskan beban jantung, menjaga kesehatan paru-paru, merangsang otak kiri, mengisti—”
“Kau begitu pandai, Ive. Kenapa kau tak masuk kedokteran saja? Sayang sekali kau masuk ke bidang administrasi,” potong Evelyn.
“Aku ingin masuk ke sana, tapi aku kekurangan biaya.” balas Olive sembari mencuci piring bekas makan Evelyn.
“Huh, hidup terlalu berat.”
“Tidak, asal kau menikmatinya.” sanggah Olive.
“Ya, kau benar. Baiklah, aku akan pergi tidur dan ohya terimakasih saranmu.”
“Sama-sama,”
***
Sinar mentari masuk dari cela gorden yang terbuka. Evelyn menatap sumber cahaya dengan mata yang masih begitu sulit terbuka. Dan ketika Evelyn benar-benar telah sadar dari tidurnya, yang ia lihat pertama kali adalah Olive yang telah membuka gordennya.
“Kenapa kau buka?” kesal Evelyn.
“Hey, kita hari ini akan kerja, Eve. Ini sudah pukul enam pagi dan kau masih tertidur? Pantas saja kau terlambat kemarin,” Evelyn beranjak dari tidurnya dengan ogah-ogahan. Wanita itu hanya mengangguk saja saat Olive menasihatinya.
Setelah 20 menit lamanya, akhirnya Evelyn telah selesai mandi dan berpakaian rapi. Wanita itu menuju dapur saat mencium bau masakan yang begitu harum.
“Ayo makan, Eve.” ajak Olive.
“Ah, aku senang kau bisa tinggal di sini. Jika terus-terusan begini, aku tak perlu lagi memesan makanan dan berat tubuhku mungkin akan meningkat.” ucap Evelyn dengan kekehannya.
Dalam keadaan makan, Olive dan Evelyn sama-sama diam. Hingga ketika Evelyn telah menyelesaikan sarapannya, ia segera berkata, “Pulang kerja, kita akan pergi ke mall.”
“Ke mall? Untuk apa?” tanya Olive.
“Untuk membeli perlengkapan bajuku, serta bajumu. Sekalian setelahnya aku ingin berkunjung ke rumah Daddy dan Mommy ku. Kau tak keberatankan?” Evelyn menatap Olive lamat-lamat, takutnya gadis itu tidak ingin pergi bersamanya.
“Oke, baiklah.”
***
Evelyn keluar dari mobilnya lalu disusul oleh Olive. Semua orang menatap Olive dengan tatapan yang begitu aneh. Setahu mereka, Olive tidak pernah dekat dengan siapapun baik itu wanita ataupun pria, lalu kenapa sekarang bisa begitu akrab dengan Evelyn?
Evelyn yang melihat raut sedih pada wajah Olive segera memandang sekitar dan melemparkan tatapan tajamnya.
‘Cih! Dasar manusia iri dengki!' batin Evelyn muak.
“Sudah, jangan dengarkan mulut sampah berkomentar.” ucap Evelyn menenangkan.
Saat Evelyn dan Olive berpisah di lift, Xera menghampiri Evelyn setelahnya. Xera berkata, “Kau dekat dengan wanita itu?” dari tatapan Xera, Evelyn tahu bahwa wanita itu sedikit tidak senang saat melihat ia dan Olive begitu dekat.
“Ya, kenapa?” tanya Evelyn dengar raut datar.
“Kau tidak jijik pada wanita lusuh itu?” Evelyn menaikkan alis kanannya saat ucapan merendahkan itu keluar dari mulut Xera. Evelyn berpikir mungkin Xera salah satu dalang dari pembullyan yang Olive alami.
“Siapa yang kau bilang lusuh? Apa kau tak sadar, siapa yang lusuh sebenarnya? Kau atau dia?” sinis Evelyn tenang.
Xera menatap Evelyn tak percaya, ia mengepalkan kedua tangannya dan segera meninggalkan Evelyn sendiri.
‘Cih, w***********g!’
***