***
“YA TUHAN, OLIVE?!” pekik Evelyn terkejut saat melihat Olive terduduk tak berdaya di dalam toilet itu dengan wajah pucat dan pakaian yang basah.
“E-Evelyn?” panggil Olive lirih. Pandangan Olive yang sendu menyorot Evelyn seolah meminta bantuan wanita itu.
“Kau kenapa, huh?” tanya Evelyn sembari berusaha membantu Olive berdiri dengan sanggahan bahunya.
“Tidak,” gumam Olive terdengar sangat tak bertenaga. Matanya telah berkunang-kunang dan bisa dipastikan beberapa menit ke depan, ia akan jatuh pingsan.
“Ayo jalan ke parkiran, jangan pingsan dulu, okay?” Evelyn terus berusaha mengajak Olive untuk berbicara agar tak jatuh pingsan sembari berjalan menuju mobilnya di parkiran.
Dan setelah sekitar 10 menit, Evelyn berhasil membawa Olive masuk ke dalam mobilnya. Olive ia baring kan di bagian belakang sedangkan ia di depan.
“Di mana rumahmu?” tanya Evelyn.
Hening. Tak ada jawaban yang Olive berikan untuknya. Evelyn yang heran, segera menoleh pada Olive yang di belakang dan ia menjadi panik saat melihat Olive telah jatuh pingsan. Evelyn segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit sekitar.
***
“Ada apa dengannya, dok?” tanya Evelyn pada dokter yang tadi mengurus Olive.
“Tidak terjadi hal yang serius padanya, hanya ada sedikit lebam di tubuh atas dan sepertinya ia terkena flu.” ucap dokter itu menenangkan Evelyn.
“Apa dia sudah boleh di bawa pulang?” dokter itu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Evelyn.
“Baik, terimakasih.”
Evelyn segera memasuki ruangan Olive saat sang dokter telah mengizinkannya. Evelyn menatap Olive yang sedang terpejam. Derap langkah Evelyn sangat pelan bahkan tak terdengar sama sekali. Evelyn berdiri di sebelah wanita itu dengan mengamati wajah Olive yang terlihat pucat, dan dengan tiba-tiba Olive membuka matanya.
“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Evelyn.
Olive segera berusaha duduk dengan dibantu Evelyn. Ia berkata, “Terimakasih, aku sudah lebih baik sekarang.”
“Syukurlah kalau kau merasa sudah lebih baik. Oh ya, apa kau ingin makan sesuatu? Wajahmu terlihat pucat dan tatapanmu terlihat sayu. Apa kau lapar?” tanya Evelyn begitu perhatian.
“Tidak perlu, kau sudah sangat baik membawaku ke rumah sakit. Aku tidak enak jika merepotkan mu lagi,” jawab Olive dengan senyuman tipisnya.
“Apa kau bilang? Hey, kita teman kan?” ucap Evelyn terdengar tak senang.
“Teman?” cicit Olive.
“Ya, bukankah sejak di kantin siang tadi, kita sudah menjadi teman?”
“Benarkah? Aku tak merasa pantas untuk menjadi temanmu, aku hanya wanita mis—”
“Miskin? Asal kau tau saja, aku juga miskin. Aku tidak memiliki harta sedikitpun, yang ku pakai sekarang adalah harta orang tuaku.” balas Evelyn terdengar sangat tidak suka karena ucapan Olive padanya.
“Kau begitu merendah, Eve.” gumam Olive.
“Bukannya aku merendah, Ive. Tapi itu memang kenyataannya. Aku tak sekaya itu,” balas Evelyn berusaha membuat Olive tidak minder untuk berdekatan dengannya.
“Baiklah, terimakasih.” ucap Olive sembari membalas tatapan Evelyn.
“Kau tunggu di sini, aku akan membawakan makanan untukmu. Setelahnya ayo kita pulang,” Evelyn hendak pergi namun lengannya di cekal oleh Olive dengan segera.
“Aku ikut sekalian kita langsung pulang,” Evelyn menatap Olive dengan kernyitan dahi. Namun, segera mengangguk pasrah saat wanita itu memasang puppy eyes. Sungguh menggemaskan menurut Evelyn.
***
Di perjalanan menuju restoran untuk makan, Evelyn terus memaksa Olive untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai Olive tergeletak tak berdaya dalam toilet.
Setelah membutuhkan banyak rayuan untuk membujuk Olive berkata jujur, dan pada akhirnya Olive menceritakan kenapa ia bisa berada di toilet dengan keadaan yang seperti itu.
“Kurang ajar sekali mereka!” desis Evelyn marah. Ia tak memesan makanan dan hanya memesan jus alpukat saja.
Olive menggerutu dalam hatinya saat menyaksikan ekspresi yang Evelyn tunjukkan. Ia merasa begitu menyusahkan dan tak ingin membuat Evelyn terlibat dalam masalahnya. Dengan Evelyn menolongnya saja sudah membuat Olive merasa senang.
“Lalu siapa yang menyiram mu itu? Oh My God! Umur telah menginjak kepala dua tapi masih dengan pemikiran bocah. Ingin sekali rasanya ku benturkan kepala sok cantik mereka itu!” Evelyn menyedot jusnya dengan tak etis, melampiaskan amarahnya hanya dengan itu.
“Wajar saja mereka membullyku, Eve.” cicit Olive dengan kepala menunduk. Dengan tampang tak sukanya, Evelyn menatap wanita seumurannya itu dengan emosi yang ingin meledak. Tidak ada satupun kasus pembullyan yang dibenarkan! Segala tindakan pembullyan itu adalah hal yang perlu dimusnahkan karena mampu membuat mental seseorang menjadi berantakan. Evelyn bahkan pernah di bully sekali saat ia sekolah dulu, dan efeknya ia malah harus sering konsultasi pada dokter psikiater. Ia sangat malu saat itu dan sejak itulah Daddy nya semakin overprotektif.
“Aku miskin, pakaianku begitu kumuh, aku tidak ada teman, bahkan aku seorang anak yatim piatu.” sambung Olive. Evelyn tersadar dari lamunannya tadi dan menatap Olive intens.
“Aku juga pernah sepertimu, Ive. Tapi Daddy ku berkata bahwa tak semua yang orang bicarakan tentang kita itu benar. Yang tau baik buruknya kita itu hanya diri kita sendiri yang tau. Orang luar hanya menilai apa yang ia lihat tapi tidak tau apa yang kita pendam. Jadi, fokus kejar apa yang ingin kau capai dan abaikan mereka yang ingin menjatuhkan. Semakin kau berada di atas, maka semakin banyak yang ingin kau jatuh ke bawah.” ucap Evelyn panjang lebar. Ia mengusap punggung tangan Olive dan seketika senyum tulus keduanya terbit.
“Terimakasih sekali lagi, Eve. Kau adalah orang pertama yang membelaku, orang yang membantuku walau kita bahkan belum kenal satu kali dua puluh empat jam.” Olive sedikit terkekeh.
“Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kau akan naik pangkat.” ucap Evelyn.
“Naik pangkat?” heran Olive.
“Ya, teman menjadi sahabat, bolehkah?” ucap Evelyn terdengar berharap.
Olive melotot dengan spontan, “Boleh! Aku sangat senang jika bisa menjadi sahabatmu, Eve.” Evelyn tertawa melihat reaksi Olive. Ia pikir gadis itu akan menolak atas rasa tidak enak. Namun hal yang terjadi tidak sesuai ekspetasi. Tapi jujur, Evelyn suka sifat ceria yang Olive tunjukkan barusan.
“Baiklah, cepat selesaikan makanmu dan akan kuantar pulang setelahnya.”
“Ng!” Olive mengangguk dan segera memakan hidangan yang tersaji dengan begitu lahap.
***
“Stop di sini, Eve.” Olive memperintahkan Evelyn untuk berhenti di sebuah rumah kumuh seolah tak terawat. Evelyn mengernyit dan menatap Olive heran.
“Apa di sini rumahmu?” tanya Evelyn tak percaya.
“Ya, apa kau malu?” tanya Olive sedikit terdengar nada sedih.
Evelyn terkesiap, ia baru saja sadar telah melukai perasaan Olive, “Maaf, bukan begitu maksudku.” ucap Evelyn tak enak hati.
“Ya, tidak apa-apa. Um... apa kau mau mampir? Eh, sepertinya tidak usah, karena rumahku belum dibersihkan dan itu terlalu kotor untuk kau pijak.”
Evelyn menggeleng dan segera ikut keluar dari mobilnya.
“Silahkan masuk, maaf ya jika kotor dan berantakan.” Evelyn memandang isi rumah Olive. Walau di luar terlihat kumuh, namun di dalamnya tidak terlalu kotor. Barang-barang cukup tertata apik dan cukup bersih menurut Evelyn. Tapi satu hal yang membuat Evelyn merasa miris. Lantai rumah Olive bukan dari keramik atau semen atau apapun, lantai rumah Olive adalah tanah. Ya, tanah. Bahkan ketika memandang kasur Olive, Evelyn meringis sedih. Kasur yang telah lapuk dan tidak layak dipakai itu adalah tempat Olive tidur? Benarkah?
“Olive?” panggil Evelyn.
“Ya?” sahut Olive.
“Apa kau tidak risih?” Olive tersenyum tipis. Sudah ia duga bahwa Evelyn tidak biasa melihat lingkungan kumuh seperti rumahnya ini. Olive jadi malu sendiri dibuatnya.
“Huh, tidak karena aku telah terbiasa.” balas Olive singkat.
“Apa kau tinggal sendirian?” tanya Evelyn lagi.
“Ya begitulah, aku sudah tidak memiliki satu keluarga pun yang tersisa sejak umurku 15 tahun,” Evelyn terkesima. Benarkah semuda itu? Saat semua anak remaja belasan tahun mengenal lingkungan bermain bersama teman-teman sekolahnya, sedangkan Olive berusaha keras untuk menafkahi diri serta meluluskan sekolahnya. Sungguh wanita hebat.
“Jadi, kau benar-benar sebatang kara? Tidak ada satupun sanak saudara?” tanya Evelyn memastikan lagi.
“Ya,”
“Baiklah kalau begitu, maukah kau tinggal bersamaku, di apartemenku?” ucap Evelyn berharap Olive menerima tawarannya itu.
“Maaf, tapi siapa yang akan mengurus rumah ini? Aku tak mau peninggalan ayahku hancur hanya karena aku tak menjaganya, itu sama saja seperti aku tidak amanah terhadap peninggalan ayahku. Hanya rumah inilah satu-satunya kenangan yang tersisa,” balas Olive dengan menolak halus.
“Jika kau mengkhawatirkan siapa yang akan menjaga rumah ini jika kau tinggal bersamaku, maka kau tak perlu khawatir. Akan aku suruh orang-orang Daddy ku untuk mengurusnya,” ucap Evelyn meyakinkan Olive hingga gadis itu mau tinggal bersamanya. Toh, ia pernah bilang pada orang tuanya, kalau ia tidur di apartemen bersama teman wanitanya. Jika saja ibu Evelyn tahu bahwa anaknya itu berbohong, kemungkinan besar Evelyn akan diseret untuk kembali tinggal di rumah orang tuanya. Evelyn tak mau itu terjadi!
“Aku tidak e—”
“Kumohon jangan tolak tawaranku,” ucap Evelyn memelas.
“Ta—”
“Aku tinggal sendirian di apartemen dengan banyak tetangga pria, apa kau tidak khawatir pada sahabat baru mu ini, Ive?” lagi dan lagi Evelyn membujuk Olive namun kali ini dengan puppy eyes yang dibuat sangat menggemaskan.
“Baiklah,” balas Olive setelahnya. Evelyn tersenyum senang dan memeluk Olive dengan spontan.
“Kalau begitu, cepat kau beresi pakaianmu dan ikut bersamaku malam ini.” ucap Evelyn yang kini duduk di sebuah kursi dekat pintu.
“Tapi kenapa harus malam ini?” tanya Olive.
“Apa kau mau menungguku sampai celaka baru mau pindah ke apartemen ku?” sarkas Evelyn.
“Ya–ya tidak begitu juga maksudku,”
“Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo!” Evelyn mendorong punggung Olive untuk segera menuju lemari pakaian wanita itu dan Evelyn ikut memasukkannya ke dalam koper.
“Maaf menyusahkan mu,” cicit Olive canggung.
“Berhenti berkata maaf dan terimakasih. Ingat, kita sahabat! Jadi jangan sungkan lagi terhadapku,” peringat Evelyn.
“Semoga Tuhan menciptakan spesies sepertimu dengan stok yang banyak,” canda Olive. Dan di sambut tawa oleh Evelyn.
‘Tak kusangka ada yang lebih kekurangan dariku. Ampuni Eve yang selalu mengeluh kepada-Mu, Tuhan.’
***