***
Saat mendapat kabar mendadak tadi, Evelyn segera menuju mall terdekat dari apartemennya. Wanita itu berkeliling mencari-cari pakaian yang akan ia kenakan ketika di kantor besok.
Evelyn menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu saat ia baru saja memasuki apartemen miliknya. Dikarenakan ia terlalu senang, ia lupa bahwa hari telah menjelang malam. Evelyn sampai di apartemennya pukul tujuh malam, sedangkan ia berbelanja sejak pukul 1 siang. Terhitung lima jam ia belanja di mall itu. Evelyn menghembuskan napasnya kasar dan beranjak menuju kamar mandi miliknya.
Setelah sekitar setengah jam berendam di dalam bathup dengan aroma terapi, mampu sedikit menghilangkan rasa lelah Evelyn. Wanita itu keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya dan handuk kecil di kepala.
“Ah, aku harus mengabari Daddy.” ucap Evelyn.
Wanita itu berjalan menuju ponsel yang terletak tak berdaya bersama paper bag miliknya. Evelyn segera melakukan panggilan telepon untuk ayahnya dan tidak diangkat.
“Apa Dad sibuk?” pikir Evelyn. Sekali lagi Evelyn mencoba menelpon, namun hasilnya tetap sama.
Persetan dengan kabar itu, Evelyn segera menuju walk in closed untuk segera mengenakan piyama tidurnya.
Setelah menghabiskan cukup waktu lama, akhirnya Evelyn telah siap untuk menjelajahi dunia mimpi dengan sisa kebahagiaan yang ada.
‘Kuharap, besok adalah hari terbaik.’
***
Sedangkan di tempat lain, di sebuah klub malam.
“Apa kau yakin ingin minum lagi?” tanya Edward khawatir pada sahabatnya itu, Ethan.
“Ya, beri aku banyak wine malam ini.” ucap Ethan dengan keadaan yang telah sepenuhnya mabuk. Edward tahu bahwa sahabatnya itu sudah sangat mabuk dan segera membopongnya pergi sebelum jatuh pingsan.
“Kenapa kau membawaku pulang, bodoh!” umpat Ethan di tengah mabuknya.
Edward berdecih, “Kau bilang tidak jadi ke klub malam ini, kenapa malah berubah pikiran? Kau sangat menyusahkan,” gerutu Edward.
“Tinggalkan saja aku! Semua orang bahkan tak ingin berdekatan denganku karena menurut mereka aku membosankan. Kau tau? Mom dan Dad sering bertengkar hanya karena sibuk memilihkan wanita untukku! s**l! Apa bagusnya wanita? Hanya pemuas belaka! Aku bahkan bisa memberikan mereka puluhan cucu jika mereka mau, tapi tidak dengan status pernikahan. Aku benci dikekang!” Ethan yang biasanya irit bicara itu, kini berceloteh mengeluarkan segala kesusahan dalam hatinya. Edward menyadari bahwa sahabatnya itu tertekan.
“Jangan lupa, ibumu juga seorang wanita, ” hanya dengan beberapa kata yang keluar dari mulut Edward, mampu membuat Ethan terdiam.
“Ya, kau benar.” setelah beberapa saat hening, Ethan berkata kembali, “Baiklah, aku akan menikah dengan wanita yang seperti Mommy ku tentunya.” Ethan tertawa, lalu marah-marah dan kembali sedih.
Edward merasa bersalah karena telah mengajak Ethan pergi minum bersamanya. Pria itu tak ingin membawa Ethan pulang dengan keadaan mabuk dan menyaksikan kedua orang tua sahabatnya itu yang khawatir pada kondisi anaknya.
“Apa kau punya tempat tinggal lain selain rumahmu, Ethan?” tanya Edward.
Bukannya jawaban yang Edward dapatkan melainkan Ethan yang memuntahkan isi perutnya tepat di pundak Edward. Edward berteriak bahkan mengumpat keras. Ia menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh dendam.
“Baiklah, kau tinggal dulu di apartemenku malam ini.” ucap Edward terpaksa.
***
“Kau masuklah dulu ke dalam apartemenku, aku ingin ke minimarket depan membeli makanan dan cemilan.” Edward berdecak kesal saat sahabatnya itu mengabaikannya. “Karena kau sudah tau letak apartemenku, jadi aku tak perlu buang-buang waktu hanya untuk memberi tau mu lagi.”
Ethan hanya berdeham dengan kesadarannya yang mulai membaik. Edward beranjak meninggalkan Ethan sendiri. Ethan, pria itu berjalan menyusuri lorong apartemen dengan penglihatan sedikit tidak jelas dan rasa kantuk berat yang menderanya.
Ketika tiba ia di depan sebuah pintu apartemen yang ia anggap adalah apartemen Edward, Ethan segera mencari kunci apartemen Edward di sakunya dan ia tak menjumpai kunci itu. Ethan bersender pada dinding di depan pintu. Pria itu lalu mencoba membukanya dan ternyata tidak dikunci. Ethan sempat mengernyitkan dahinya, namun ia memilih tak ambil pusing. Ia segera menutupnya dan secara tidak sadar ia telah mengunci pintu itu.
“Aku mengantuk,” ucap Ethan lirih.
Dengan langkah gontai, pria itu berjalan menuju kamar yang berada di sana.
Cklek...
Ethan berjalan terus menuju ranjang tanpa melihat ke depan. Pandangannya berkunang-kunang saat memandang ke depan, maka dari itu ia lebih memandang ke bawah. Akhirnya, Ethan berhasil menduduki ranjang dan segera melepas sepatunya.
“s**l! Panas sekali!” keluh Ethan lalu segera membuka kemejanya, dan tampaklah bentukan otot perut yang sangat atletis di tubuhnya. Dengan tubuh bagian atas yang tak tertutup sehelai benang pun, Ethan segera merangkak ke tengah ranjang.
Ethan memejamkan mata damai hendak tidur namun terhenti kala sesesuatu bergerak berbalik menghadapnya. Ethan merasakan ada yang ganjal di sekitar pahanya.
Apa itu? Walau Ethan sangat mengantuk dan terasa ingin pingsan, tetapi pria itu memaksa matanya untuk terbuka. Dan kala terbuka, ia mengernyit saat menyadari ada seorang wanita di kamar itu, tepat di sampingnya di ranjang yang sama dengannya.
Ethan memukul kaki wanita itu yang berada di atas pahanya dan bukannya terbangun, wanita itu malah semakin mendekat pada Ethan bahkan menyeruakan kepalanya di d**a bidang Ethan.
DEG!
Ethan terkesiap, pria itu menegang. Harum stroberi tercium saat rambut halus itu menyentuh wajahnya.
“Dasar b***h,” gumam Ethan. Pria itu berpikir bahwa wanita yang ada di sampingnya adalah wanita bayaran milik Edward. Dan seketika seringai jahat muncul di bibir tebalnya.
Ethan membalik tubuhnya dan memerangkap tubuh wanita itu di bawahnya. Selimut yang wanita itu pakai tersingkap dan menampilkan tulang selangkanya yang terbentuk sempurna. Pandangan Ethan naik ke atas untuk melihat rupa sang wanita, namun ia terkejut saat menyadari wanita itu adalah wanita yang ia incar.
DEG!
“Evelyn?” gumam Ethan.
“Umm...” gumam Evelyn dalam tidurnya.
DAMN!
Ethan mengumpat. Hanya dengan lenguhan Evelyn di dalam tidurnya, sesuatu di bawah sana mampu berdiri dengan cepat.
SIAL!
Ethan menghempaskan tubuhnya ke samping tubuh Evelyn, ia menghembuskan napas frustasi. Ethan segera berdiri dan bergegas menuju kamar mandi merendam diri dengan air dingin.
‘Malam ini kau bisa tidur tenang, tapi jangan harap hari-hari berikutnya kau akan tenang, Evelyn!’
Sembari berendam, tak henti-hentinya Ethan berdecak kesal karena si kecil belum juga turun sejak tadi.
Sehebat inikah pesonamu, Eve, hingga mampu membuatku tersiksa seperti ini?
Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam berendam, Ethan akhirnya beranjak dari sana. Pria itu mencari pakaian untuknya di lemari Evelyn tapi tak ada satupun yang mampu ia pakai. Dan ia hanya menemukan satu pasang baju tidur. Ethan hanya memakai bagian celananya dan beranjak kembali ke ranjang.
Ethan melihat Evelyn yang sepertinya menggigil dingin karena selimutnya tersingkap karena perbuatan Ethan tadi. Dengan perlahan, Ethan mendekati Evelyn dan memeluknya erat, membagi suhu tubuhnya pada Evelyn. Evelyn mulai tenang dan seperti merasa nyaman karena pelukan pria itu, terbukti saat Evelyn semakin mempererat pelukannya.
Ethan tersenyum tipis, ia mengamati wajah wanita itu dengan seksama. Mulai dari alis yang berbentuk alami dan tebal, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, lalu turun ke bibir. Ethan meneguk air liurnya. Bibir tipis dengan warna merah muda alami itu sangat menggoda iman seorang Ethan Vincent. Ethan memajukan sedikit kepalanya untuk mendekati Evelyn dan...
Cup.
Ethan hanya mengecup singkat dan segera melepasnya, karena ia takut tak mampu menahan lagi dirinya untuk bertindak jauh.
“Selamat tidur,”
***
Mentari bersinar melewati jendela dari sela-sela gorden. Sinarnya seolah memaksa seorang wanita yang terbaring nyaman di pembaringannya itu untuk segera beranjak.
“Hoam...” Evelyn menguap lebar dan mengecek jam yang ada di nakas.
DEG!
Mata Evelyn terbelalak sempurna, ia telah terduduk dengan detak jantung yang menggebu. Ia kembali melihat jam itu dan mengucek matanya, kali saja ia salah lihat. Namun, berapa kali pun ia mencoba melihat, tetap saja jam itu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Evelyn menyingkap selimutnya hingga terjatuh ke lantai.
“AKU TELAT LAGI?!” Evelyn berlari menuju kamar mandi, mencuci muka dan hanya gosok gigi. Setelahnya, ia bergegas memakai seragam yang untungnya telah ia siapkan dari hari kemarin. Tanpa butuh waktu lama, Evelyn telah selesai.
***
Evelyn menginjakkan kakinya di lobi perusahaan tepat pada pukul delapan. Ia terus mengoceh sepanjang jalan sebab terjadi kemacetan yang semakin membuatnya terlambat.
“Hah... halo!” Evelyn mengatur napasnya tepat saat ia telah sampai di depan resepsionis.
Xera menatap Evelyn dengan menggeleng tak percaya, “Sepertinya kau akan ada masalah hari ini, Eve.”
“Ya ya, aku tau. Sekarang tunjukkan dimana ruang tempatku bekerja,” ucap Evelyn tak sabar.
“Di lantai teratas bertepatan di depan ruangan CEO sendiri,” ucap Xera.
“Oh oke,” Evelyn berlari menuju lift yang tersedia dan menekan tombol paling atas.
Ting.
Bunyi lift ketika ia telah sampai di lantai yang dituju. Evelyn bernapas lega saat menyadari sepertinya ruangan ini masih kosong. Evelyn yang melihat tulisan ruang sekretaris CEO di atas meja ruangan transparan itu segera beranjak menujunya.
Baru saja Evelyn terduduk di kursinya, dering telepon khusus CEO berbunyi. Evelyn meneguk salivanya kasar dan menatap horor ruangan di depannya yang tak transparan seperti ruangannya.
“Ha–halo, Sir?”
“Keruangan saya sekarang,” ucap orang di seberang sana dengan nada datar dan terkesan dingin.
‘Matilah kau, Eve!’ batin Evelyn bergejolak.
“Bahkan aku belum memulai, tapi sudah mau mengakhiri. huh,” keluh Evelyn dengan bergumam.
***