PART 5 [MY BOSS IS MY ENEMY]

1981 Words
*** Evelyn beranjak dari duduknya dan mengatur napas agar tidak tampak gugup. Wanita itu berjalan menuju pintu ruangan CEO. Tok... Hanya dalam satu ketukan, suara di dalam sana telah memerintahkannya untuk masuk. Evelyn sempat mengernyit heran, namun ia segera menepisnya. Mungkin, bosnya itu memang peka terhadap bunyi. Cklek... Evelyn berjalan masuk dengan kepala sedikit menunduk untuk menunjukkan sopan santunnya terhadap atasan. Evelyn memberanikan diri untuk melirik bosnya itu. Namun sayang sekali, bosnya itu duduk membelakanginya hingga Evelyn tak tahu rupa dari sang atasan. ‘Apa dia adalah pria tua yang jelalatan? Atau dia orang yang cuek dan dingin? Ataukah mungkin dia adalah pria tu...’ Bosnya itu berbalik menghadap Evelyn. DEG! Napas Evelyn tercekat. Dengan ekspresi yang tercengang serta mata yang menatap tajam pada bosnya. Semua pemikiran buruk tentang bosnya hancur. Evelyn mengendalikan ekspresinya dan kembali menunduk patuh. Tiba-tiba jantung Evelyn semakin memompa cepat saat terdengar ketukan langkah kaki sang bos menujunya. “Kenapa?” suara berat yang terdengar seksi itu membangkitkan bulu kuduk Evelyn seketika. “Ti-tidak, pak.” sahut Evelyn sangat terlihat gugup. Bosnya itu berhenti tepat di depan Evelyn. Wangi maskulin tercium kala jarak mereka hanya tersisa satu langkah saja. Evelyn dengan spontan menahan napasnya. Pria yang merupakan bosnya Evelyn segera mengangkat dagu Evelyn agar wanita itu menatap padanya. Dengan terpaksa Evelyn mendongak dan menyaksikan smirk misterius pria itu. “Apa kau lupa denganku?” “Maaf, pak. Tapi saya tidak mengenal anda,” Evelyn berusaha untuk menjauhkan dirinya dari masalah dengan cara 'melupakan masalah' ‘Bodoh kau, Eve!’ cela Evelyn pada dirinya sendiri. “Baiklah, sebaiknya aku memperkenalkan diriku padamu. Aku Ethan Vincent, bos sekaligus pria yang kau bilang m***m tempo lalu.” pria yang ternyata Ethan itu berujar angkuh. Evelyn berdecih dengan spontan dan hal itu mengundang kernyitan dahi Ethan. “Apakah hanya itu, pak?” tanya Evelyn sedikit terdengar nada malas. “Tidak, sebenarnya aku ingin menghukummu karena terlambat datang di hari pertama kau bekerja.” seringaian itu muncul lagi. Dan kali ini Evelyn tidak lagi gugup melainkan geram. Tangannya serasa ingin menggaruk wajah Ethan yang menurutnya sok tampan. “Baik, apa itu?” dengan tak mau buang waktu karena terlalu malas berlama-lama di dalam ruangan yang sama dengan pria itu membuat Evelyn menyingkirkan sikap egoisnya. Ia ingin segera keluar. “Bagaimana dengan makan siang?” ucap Ethan yang kini telah kembali duduk di kursi kebesarannya. “Maaf, saya tak bisa.” tolak Evelyn segera. Dan hal itulah yang membuat Ethan semakin tertantang untuk mendapatkannya. “Ah, kau masih sama seperti awal kita bertemu rupanya,” Ethan sedikit terkekeh hambar. “Segera hukum saya, pak. Saya tak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, banyak tugas yang harus saya kerjakan.” ucap Evelyn to the point. “Baiklah jika itu maumu, kemarilah.” tanpa banyak tanya, Evelyn segera mendekat pada pria itu. “Lalu?” tanya Evelyn bingung. “Cium aku,” Sontak Evelyn menjauh dan menatap bosnya itu dengan tampang jijik serta sedikit amarah, “Kau menjijikan!” desis Evelyn tak lagi menghiraukan sopan santunnya terhadap bos. “Kau sangat berani ternyata, apa kau tak takut aku pecat, gadis rata?” kekeh Ethan. “Kau!” wajah Evelyn memerah malu hingga ke telinga. Wajah memerah itu ternyata mampu membuat seorang Ethan terkesima. Cantik. Satu kata yang terlintas di pikiran Ethan. “Kenapa?” tanya Ethan angkuh, ia membalas tatapan sengit Evelyn dengan tatapan menggodanya. “Sampai kapan pun, aku tak akan pernah sudi untuk memberikan first kiss ku padamu, pria bodoh!” amuk Evelyn menggebu-gebu. ‘Ah, ternyata aku yang menjadi first kiss-nya wanita ini? Hm, mengesankan.’ batin Ethan penuh kebanggaan. “Baiklah, karena ini hari pertamamu, kau boleh kembali bekerja. Silahkan keluar,” Evelyn ingin segera mengundurkan diri dari perusahaan itu sekarang juga jikalau ia bisa, tapi karena kontrak kerjanya bertahan hingga dua tahun dan membutuhkan banyak uang jika ia ingin mengundurkan diri sekarang juga. Evelyn tak ingin membuang uang Daddy nya dengan cuma-cuma hanya karena bos gilanya itu. ‘Sepertinya tak ada pilihan lain selain bertahan. Baiklah, hanya dua tahun Eve, kau pasti bisa!’ batin Evelyn menyemangati diri sendiri. “Terimakasih, pak.” Evelyn sedikit membungkuk dan berbalik untuk pergi. Tapi ia tercengang saat menyadari bahwa ruangan ini dirancang khusus mampu melihat luar ruang. Evelyn menoleh menatap Ethan yang masih setia menatapnya. “Kurang ajar kau!" kalimat u*****n yang diarahkan pada Ethan itu mengundang daya tertarik sendiri pada diri Ethan. “Cepat keluar sebelum kau mendapatkan hukuman yang...” Brak! Evelyn telah keluar dengan sedikit membanting pintu. Wow, sungguh karyawan yang sopan. “Cih, dasar jual mahal.” decak Ethan. Pria itu terus menatap pada Evelyn yang berada di luar sana. Tak sia-sia ia merancang ruangannya untuk mampu melihat keluar namun orang luar tak mampu melihatnya di dalam. “Ah, terimakasih atas saranmu dulu, Ed.” Ethan mengernyitkan dahinya kala Evelyn mengubah tatanan rambutnya yang tadinya tergerai kini ia kuncir tinggi dan hal itu membuat leher mulusnya terpampang jelas. Shit! Ethan mengumpat untuk wanita itu. Hanya dengan hal sederhana yang Evelyn lakukan, membuat sesuatu dari bagian tubuh Ethan menjadi tegang. “Kau sangat menantang ku ternyata,” desis Ethan dengan napas tercekat. Ethan menghembuskan napas kasar dan menatap tajam bagian celananya. “Kenapa bisa aku memiliki junior yang begitu bawa perasaan sepertimu, huh?!” Ethan beranjak menuju salah satu pintu tersembunyi yang ternyata berisi ranjang, dan kamar mandi. Ethan menggunakannya saat ia kelelahan bekerja di kantor dan tak bisa pulang. Pria itu berjalan menuju kamar mandi. “Ah, sudah lebih seminggu aku tidak mandi di sini. Ku harap kerannya tak rusak.” Sembari mandi dengan shower yang mengalirkan air dingin, Ethan tak henti-hentinya membayangkan sosok Evelyn. Membayangkan saat dimana semalam ia yang memeluk wanita itu sepanjang tidurnya dan meninggalkannya pada dini hari. Bibir seksi itu tersenyum kala mengingat semalam ia yang berhasil mengecup bibir Evelyn. “Tanpa kau sadari, aku lah yang telah mencuri first kiss mu, Nona Evelyn.” seringai Ethan. *** Hari telah beranjak siang dan kini waktunya untuk istirahat karyawan. Evelyn merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena sedari pagi terus duduk tegap memeriksa dokumen, jadwal serta hal lainnya yang perlu ia pelajari. Evelyn menatap dinding ruangan Ethan dengan lamat-lamat hingga tanpa sadar ia telah begitu lama menatap itu. Tring... Dering telepon khusus CEO berbunyi nyaring. Evelyn tersadar dari lamunannya dan segera mengangkat telepon itu. “Ya, pak?” “Kenapa kau terus menatap ruanganku seperti itu? Apa kau menyesal tak bisa makan siang bersamaku? Atau karena kau menyesal menolak ciuman itu?” Evelyn segera memasang muka datar. “Tolong kurangi rasa percaya dirimu, pak.” Evelyn segera menutup panggilan. Wanita itu membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya dan bergegas ke kantin kantor di lantai satu. Saat Evelyn baru saja keluar dari ruangannya, Ethan juga keluar dari ruangannya. Dengan tampilan berbeda dari pagi tadi, Ethan kini terlihat tampak lebih tampan. Evelyn mengabaikan Ethan dan pergi lebih dulu menuju lift. Evelyn pikir hanya dia yang akan menggunakan lift itu, namun ternyata bosnya itu juga menggunakannya. Kini terdapat mereka berdua dalam lift itu. Tak ada yang berbicara baik itu Ethan maupun Evelyn. Mereka berdua sama-sama diam. Yang satu karena gengsi dan yang satunya lagi karena malas. Ting. Bunyi yang menandakan mereka telah sampai di lantai yang dituju. Ketika pintu lift terbuka, dengan segera Evelyn keluar mendahului Ethan. “Semakin kau menolak ku, semakin aku ingin mendapatkanmu.” gumam Ethan. Evelyn segera memesan dan menunggu pesanannya lalu membawanya menuju meja yang tersedia, namun Evelyn tak mendapati satupun meja yang kosong. Lalu dari ekor matanya, Evelyn menangkap sosok seorang wanita yang terlihat duduk sendiri di pojokan sana dengan ekspresi murung. ‘Ada apa dengannya?’ tanya Evelyn dalam hati. Saat Evelyn ingin melangkah menuju wanita itu, tiba-tiba Xera memanggilnya untuk ikut bergabung makan di meja mereka. Evelyn yang melihat meja itu penuh dengan teman kantornya Xera, akhirnya menolak halus. Ia malas jika makan harus berdesak-desakan. “Boleh aku gabung?” tanya Evelyn sebelum mendudukkan dirinya. Wanita yang terlihat murung tadi segera mendongak dan bangkit dari duduknya, ia membungkuk dan mengucapkan maaf dan hendak pergi, namun Evelyn menahannya. “Kenapa kau begitu panik? Aku hanya ingin menumpang duduk bersamamu. Apa tidak boleh? Baiklah jika—” “Tidak, tidak apa-apa. Kau boleh duduk di sini.” potong wanita itu panik. “Terimakasih, dan ohya sebaiknya kau juga ikut duduk.” ucap Evelyn sedikit tegas. Wanita itu sempat menatap pada orang-orang di sekitarnya yang menatap dirinya rendah. Evelyn menoleh ke belakang untuk melihat apa yang wanita itu lihat di belakangnya itu. Dan yang Evelyn tangkap adalah tatapan tak suka serta meremehkan dari mereka. Evelyn geram. Apa semua orang di perusahaan ini tak punya attitude? Sama seperti bos mereka? Cih. “Apa ada yang salah?” ucap Evelyn lantang. Ia menatap tajam pada mereka yang tadi menatap wanita di depannya menyudutkan. “Duduklah,” ucap Evelyn jengah pada wanita di depannya. “Apa kau tak malu?” cicit wanita itu takut-takut. “Kenapa harus malu?” Evelyn menaikkan alisnya tanda tak mengerti. “Duduk dengan wanita miskin sepertiku,” ucapnya lesu. Evelyn mengangguk-anggukkan kepalanya. Itu sebabnya wanita ini dikucilkan? Karena dia miskin? Evelyn berdecih sinis, sungguh mereka manusia tidak beradab menurutnya. Tidak memiliki rasa empati sesama manusia. Apa salahnya jika miskin? Dasar naif. “Tidak masalah, aku tidak peduli mau kau miskin ataupun kaya, selagi kau tidak jahat. Aku tak akan ikut mengucilkanmu.” ucap Evelyn dan hal itu mampu membuat wanita di depannya terenyuh. “Terimakasih atas kebaikanmu,” ucapan itu tulus dari dalam hatinya yang paling dalam. “Umm... boleh aku tau siapa namamu?” tanya Evelyn. “Namaku Olive Valencia, salam kenal Evelyn.” Evelyn dibuat bingung karenanya, kenapa bisa wanita itu tahu namanya? Evelyn menatap Olive penuh curiga. Seolah mampu membaca pikiran Evelyn, Olive segera berkata, “Semua orang tau padamu, karena kau adalah orang pertama yang pak Ethan tunjuk menjadi sekretarisnya.” Evelyn terdiam sebentar. Oh ternyata ia diterima dadakan menjadi sekretaris CEO itu karena CEO nya sendiri yang menunjuk dirinya. Evelyn menggertakkan rahangnya marah. ‘Lihat saja kau, pria m***m! Berani-beraninya mempermainkan seorang Evelyn Fiorenza!’ batin Evelyn. “Boleh aku duduk sini?” ucapan seseorang itu mampu membuat segala atensi berpusat padanya dan kedua wanita yang baru saja berkenalan tadi. Olive yang sadar tak mampu berkata lancar, semua orang menatapnya iri, sedangkan Evelyn belum sadar dari pikiran nya sendiri. “Ekhem! Boleh aku duduk di sini?” tanya pria itu sekali lagi. Olive menyenggol bahu Evelyn untuk menyadarkan wanita itu dan benar, ia segera sadar dari lamunannya. “Ada apa?” tanya Evelyn pada Olive tanpa menyadari tatapan orang sekitar padanya dan tentunya pria yang berada di sampingnya. “Itu,” tunjuk Olive pada sosok pria di samping Evelyn dengan menggunakan isyarat dagu. “Apa?” tanya Evelyn tak mengerti. “Itu di sampingmu,” “Ada apa di sam— ASTAGA!” pekik Evelyn terkejut saat wajah seseorang tepat berada di bahunya. “Kau!” bentak Evelyn. “Ada apa lagi?!” sungguh Evelyn tak melihat raut orang sekitarnya yang menunjukkan ekspresi terkejut. Mereka tak menyangka Evelyn akan membentak orang nomor 1 di perusahaan ini. Wah, kejadian langka! “Apa aku boleh duduk di sini?” ucap Ethan sekali lagi. “Tidak, di sini sudah penuh. Di tempat lain saja,” usir Evelyn tanpa menghiraukan jabatan antara mereka. Toh ini waktu istirahat, bukan waktu bekerja. “Ah, kau melukai perasaanku.” ucap Ethan sedikit meringis. Olive yang berada di tengah mereka menjadi gugup setengah mati, ia seolah menjadi tikus diantara singa dan macan. “Ka-kalau begitu, aku saja yang pergi. Silahkan pak du—” “Siapa bilang kau boleh pergi?” ucap Evelyn sengit. “Duduk!” sambung Evelyn. “Kenapa kau begitu lancang?” BOOM! Nada Ethan berubah menjadi datar dan terkesan dingin. Pria itu sedikit merendahkan tubuhnya dan berbisik tepat di samping telinga Evelyn. “Persilahkan aku duduk, atau ku buat semua orang menyaksikan ciuman yang akan kuberikan untukmu!” ancam Ethan geram. Ia merasa sedikit malu karena telah direndahkan di depan karyawannya sendiri. Wanita ini memancing emosinya ternyata. “Apa kau pikir aku akan percaya dan takut dengan ancaman bodohmu itu?” balas Evelyn sengit. “Kau menantang ku?” Semua orang berhenti melakukan kegiatan mereka. Fokusnya kini beralih pada CEO dan sekretarisnya itu yang sedang adu mulut. “Berhenti menggangguku, aku ingin makan! Apa kau tidak bisa membuatku tenang, hah?! Aku bahkan bekerja belum sampai sehari namun kau membuatku marah setiap waktu!” amuk Evelyn panjang lebar. “Eve—” ucapan Olive tertahan di kerongkongan saja dikarenakan tatapan tajam yang Evelyn berikan. Tatapan yang sama bengisnya seperti Ethan. “Baiklah,” ucap Ethan pada akhirnya. “Bagus ka— mmfphhh!” Evelyn meronta saat Ethan menciumnya tepat di hadapan semua orang. Dengan sekuat tenaganya, ia mendorong Ethan dan terlepaslah tautan mereka. PLAK! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD