Bab 46 - Terlanjur Hina

1485 Words

“Kamu masak semua ini sendiri? Dan anehnya selalu enak rasanya.” “Kalau kamu suka, syukur deh. Jadi, semuanya nggak sia-sia,” cetus Alesya mulai merajuk. “Loh ... Loh? Apa katamu? Semuanya sia-sia? Wah, jangan-jangan kamu masakin saya tidak ikhlas.” Alesya memajukan wajahnya lebih dekat lagi lalu mengangguk dengan mantap seolah-olah semuanya memang dia lakukan karena terpaksa saja. “Ya sudah, saya tidak jadi makan sampai habis, sana ... suguhkan saja padanya! Biar saya makan jari sendiri.” “Idih, ngambek. Aku bercanda kali, mana mungkin aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan terpaksa? Aku selalu serius sepenuh hati, Zaki. Makan lah, selagi masih panas.” “Sebentar, tadi apa katamu? Kamu selalu melakukan sesuatu dengan serius lalu sepenuh hati? Wah, parah banget. Jadi, kamu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD