“Pelankan suaramu, jangan sampai ada orang lain yang mendengarnya,” titah Zaki lalu mengunci ruangan itu secara otomatis, kini ruangannya benar-benar terkunci. “Apa yang kamu lakukan? Kenapa aku harus memelankan suaraku? Aku nggak mau, kamu harus menjawabku dulu!” Zaki tertawa tetapi wajahnya sangat sinis menatap ke arah wanita si pengkhianat itu. Dia menguatkan hatinya sendiri, lalu menghela napasnya yang sudah memburu sedari tadi. Sangat tidak mungkin juga dia memperlakukan seorang wanita dengan kejam, Zaki bukan laki-laki seperti itu. Walaupun dia sangat marah dan kecewa, tetap saja caranya untuk memperlakukan wanita harus bisa dikontrol. Ibunya akan sangat marah jika dia egois bahkan bersikap sembrono pada calon istrinya yang gagal. “Kenapa? Kamu mikir, kan? Makanya jangan sembaran

