Resmi Menikah

1327 Words
"Dia seperti bidadari," Ucap salah satu tamu yang terdengar jelas di telinga Mex. Sebuah senyum sinis terbentang di bibirnya, dia memalingkan wajah pertanda tidak setuju dengan ucapan tamu itu. Baginya wanita itu sama sekali tidak menarik. Emma menarik lengan Mex untuk menatap Sarah. Pengantin cantik itu masih terlihat menundukkan kepala hingga Emma membuat tangannya menggantung di lengan Mex. Sarah yang sempat kaget hanya bisa diam dan menurut. Tepuk tangan semakin meriah saat mereka berjalan bersama menuju bangku pelaminan. "Mereka sangat serasi ya." Teriak host itu membuat Mex merasa semakin muak. Belum lagi kegiatan beberapa fotographer yang terlihat sibuk mengabadikan momen pernikahan mereka. Mex ingin sekali melontarkan kata-kata kasar dan meminta mereka berhenti memotret. Sedangkan Emma dan Don justru sebaliknya, mereka terlihat sangat bahagia sambil menatap mereka yang memang tampak serasi. "Maaf kan aku Mex. Aku tau kau tidak bahagia saat ini. Dan mungkin kau tak lagi menganggap ku sebagai teman setelah ini, tapi aku bisa melihat kalau dia sangat tepat untukmu," Batin Don melihat sahabatnya itu yang kini duduk di pelaminan. Setelah melalui serangkaian acara, merekapun mendapatkan pemberkatan setelah mengucapkan sumpah pernikahan. Tepuk tangan yang meriah kembali terdengar memenuhi seisi ruangan. Wajah Emma terlihat semakin bahagia hingga menitikkan air mata haru. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk melakukan pertukaran cincin. Mex terdiam sambil menatap kotak cincin di depannya, sedangkan Sarah dengan enggan memberikan jari kanannya. Mex tercengang beberapa saat begitu melihat jari manisnya dibalut dengan hansaplast. Para tamu memang tidak bisa melihat itu dengan jelas karena Sarah menggunakan sarung tangan berwarna putih. Mex sempat menatap Emma yang tersenyum sambil bertepuk tangan. Mex pun mengambil cincin dengan cepat dan memasukkan cincin itu ke jari Sarah dengan paksa. Sarah menunduk dan menggigit bibirnya, dia terdengar meringis namun menahan sakit agar tidak ada tamu yang menyadarinya. Sarah sempat menitikkan air mata yang jatuh tepat di punggung tangan Mex, namun Sarah dengan cepat menghapusnya. Sekali lagi, Semua tamu undangan bertepuk tangan meriah karna mengira kalau mereka sedang terharu. Darah segar terlihat mengalir begitu cincin itu melingkar di jari manis Sarah. Tapi dia tidak berkomentar sama sekali. Tidak juga menatap para tamu dan bahkan tidak melirik pria yang sudah menjadi suaminya itu. Dia mengambil cincin lain dan dengan lembut menyematkannya di jari manis Mex. Sedikit rasa bersalah kini hinggap di hati Mex. Sebenarnya dia adalah sosok pria penyayang dan periang sebelumnya, tapi semua berubah setelah kepergian ayahnya, belum lagi tak lama setelah itu pernikahannya ditentukan lewat perjodohan ini. Dia semakin dingin dan tertutup. Sikapnya sudah ditebak dan tak bisa diajak bergurau. Mex yang dulu benar-benar sudah hilang. Sorak Sorai kembali terdengar di ikuti tepuk tangan paling meriah. Sarah memejamkan matanya dan membiarkan air matanya kembali menetes. Dihadapannya, Mex melakukan hal yang sama. Membiarkan air matanya menetes tanpa komentar dan tanpa perlawanan. Sayangnya tidak satu pun menyadari kalau mereka tidak sedang menangis haru. Dia, Mex Collin, sekarang sudah resmi menjadi seorang suami dari Sarah Meghan. Dan wanita cantik itu, telah resmi menjadi istri sah dari Mex Collin, pria yang belum mengatakan apapun sejak pertama kali bertemu dengannya. Dengan ini namanya juga telah berubah otomatis menjadi Sarah Meghan Collin. "Semoga kau bahagia, dad, aku sudah mewujudkan mimpi dan permintaan terakhirmu," Ucap Mex dalam hati sambil menahan tangis. Dia terlalu sesak sehingga menggigit bibir bawahnya. Dia bisa melihat kalau Sarah juga menangis disana. Tapi dia sama sekali tidak ingin mengetahui alasan Sarah menangis. Baginya, Sarah sangat bersalah karna telah menyetujui pernikahan ini. Mex telah menjadi egois dan melupakan kalau pernikahan ini juga tidak akan terjadi tanpa persetujuannya. Bagaimana mungkin dia memaksa dari hatinya agar Sarah menolak pernikahan ini. Mex bahkan tidak bertanya alasan Sarah menerima pernikahan ini. Tepatnya dia tidak ingin tau sama sekali. Tujuan utamanya setelah menikahi Sarah adalah mencari kesalahannya dan menunggu waktu yang tepat untuk menceraikannya. Bahkan jika dia tidak menemukan kesalahan dalam diri wanita itu, dia akan membuatnya tidak betah sehingga dia sendiri yang akan meminta berpisah. Tidak peduli dan tidak terpikir olehnya akan bagaimana kehidupan dan status Sarah setelah bercerai nati, tidak peduli dengan gunjingan orang-orang yang akan mempertanyakan statusnya yang kelak akan menjadi janda. Yang terpenting baginya adalah memikirkan cara untuk mengakhiri pernikahan ini secepat mungkin tanpa mencoret nama baik keluarga Collin. Para tamu terlihat menyalami mereka untuk memberi selamat. Luka yang tadinya mulai keing dijari manis Sarah, kini kembali mengalirkan darah setelah disalami beberapa orang. Dia mengambil tissue lalu melapisi tangannya untuk menutupinya agar tidak mengenai para tamu undangan. Setelah berdiri berjam-jam pelaminan, Aula kini semakin sepi karna sebagian tamu sudah pulang. Kedua mempelai itu masih berdiri tanpa saling memandang walau sedetikpun. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri secara hukum, agama, dan bahkan disaksikan oleh banyak orang. Tapi tidak bagi mereka berdua. Tidak satupun diantara mereka yang menginginkan dan menerima pernikahan ini. "Kalian masuk dan beristirahatlah, don sudah mengatur kamar untuk kalian di hotel ini," Ucap Emma sambil memberikan kunci pada Mex. Napas Sarah mendadak berat mendengar ucapan Emma, yang kini sudah menjadi ibu mertuanya itu. Dan Mex, dia sangat kaget saat Emma menyebut Don yang membantu mempersiapkan kamar pengantin untuk mereka. Mex melirik sekitar yang sudah sepi entah sejak kapan. Dia terlalu asik memikirkan Celine hingga tidak menyadarinya. "Bukan hanya itu. Don juga sudah memesan tiket untuk berbulan madu," Ucap Emma sambil memberikan dua tiket pesawat ke Bali. "Selamat berlibur," Emma tersenyum sangat bahagia. Sarah hanya bisa menelan salivanya yang seret dan terasa pahit. "Aku tidak bisa melakukan semua ini," Batinnya. Emma tiba-tiba memeluk Sarah dan mencium keningnya. "Mulai hari ini panggil aku mama," Emma mengelus pipi lembut Sarah. Dia hanya mengangguk dan belum bersuara sama sekali. "Mulai hari ini, Mama menitipkan Mex padamu, kau yang akan mengurusnya," Ucap Emma dan Sarah kembali mengangguk. Emma melepaskan kalungnya yang tak lain adalah pemberian Marthin. Dia mengalungkannya pada Sarah dan itu terlihat sangat serasi untuknya. "Ini adalah hadiah dari ayah mertuamu. Dia pasti sangat bahagia seandainya melihat semua ini," Emma tak bisa membendung air matanya. Sarah kembali luluh begitu mengingat Marthin, yang sekarang sudah menjadi ayah mertuanya. Dia adalah salah satu alasan Sarah untuk menerima pernikahan ini. "Jaga dia baik-baik, Mex. Seperti Dady menjaga mami," Pinta Emma dengan air mata yang semakin deras. Mex tidak menjawabnya. Dia menghapus air mata ibunya lalu memeluknya. "I love you, mom, so much," Ucap Mex yang kini sudah ikut menangis. Don yang saat itu mengawasi mereka ikut menangis. Entah itu air mata bahagia karna Mex telah menikah atau air mata penyesalan karna telah membuat Mex terpaksa menikah dengan wanita yang tidak dicintainya sama sekali. Emma melepaskan pelukan mereka dan membalik tubuh Mex. Dia menyuruh Mex pergi dan tak lupa memberikan tangan Sarah untuk digenggam olehnya. Mereka melangkah bersama meninggalkan aula pernikahan itu dengan hati yang sama-sama hancur. Benar mereka akan memulai hidup baru. Hidup yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bagaikan ditimpa bencana, hati mereka tidak berhenti menangis meski mulut mereka tak bersuara. Don dan dua orang wanita mengantarkan mereka sampai ke kamar. Seorang pelayan hotel yang sudah menunggu disana membukakan pintu President Suite Room itu dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Don sempat menahan Mex tepat di depan pintu. Mex menghentikan langkahnya. Sedangkan Sarah tetap berjalan tanpa menoleh. Air matanya masih tetap mengalir tanpa henti. Dia masuk ke kamar mandi dan segera menyalakan keran di wastafel. "Sorry, Mex. Aku tau kau tidak menginginkan ini, aku minta maaf," Ucap Don meski tak menunjukkan ekspresi menyesal sedikitpun. "Semua sudah terjadi, Don, berkat bantuan mu. Walau bagaimanapun aku harus berterimakasih karna kau sudah sangat membantu ibuku," Jawab Mex penuh kecewa. Don menatapnya beberapa saat lalu mengatupkan bibir. "Semoga pernikahan kalian bahagia Mex. Semoga kalian berjodoh sampai maut memisahkan." Ucapan Don terdengar serius seperti sebuah doa. Mex tidak menjawabnya. Dia hanya memberikan salam tinju pada Don. Setelah itu Don dan kedua wanita itu pergi, Mex masuk dan menutup pintu. Mex bisa mendengar suara keran air setelah berada di dalam kamar. Dia melepaskan dasinya dan kembali bercermin, menatap dirinya yang pengecut dan sudah hancur. Dia menertawakan dirinya sendiri dengan ekspresi hambar. Semakin lama menatap dirinya didalam cermin, semakin besar pula kebencian yang muncul terhadap dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD