Malam Pengantin

1415 Words
"Harusnya ini tidak terjadi" Sesalnya. Dia kembali menangis. Dia membalik badan agar tidak melihat dirinya yang terlihat seperti pengecut. Kebenciannya justru bertambah saat melihat tempat tidur berukuran king nan mewah itu telah dihiasi oleh taburan mawar merah yang tertata rapi membentuk hati. Dia melemparkan dasinya dengan sembarangan untuk melampiaskan kekesalannya. Dia keluar lewat pintu samping untuk sampai ke balkon. Tempat itu juga tak memberinya kenyamanan. Sebuah meja kecil dengan dua kursi yang berhadapan sehingga menampilkan kesan romantis juga telah dihias disana. Dia menutup mata dan mengepalkan tinjunya. Sungguh Mex merasa kalau takdir telah mempermainkannya. Dia menarik salah satu kursi itu dan tak perduli meski telah merusak hiasannya. Dia duduk menatap kota Jakarta yang sudah gelap, hanya lampu yang menggantikan peran matahari yang sudah terbenam. Dia merebahkan punggungnya pada sandaran kursi itu dan menutup matanya sambil menatap langit. "Aku merindukan mu, Celine," Lirihnya menahan pilu. Dua butir air bening bergulir dari kedua sudut matanya. Dia membawa kerinduan itu kedalam tidurnya. Bersembunyi dibalik bayangan Celine, Kekasihnya. Tertidur di pangkuannya yang tidak nyata, tertidur dalam pelukan yang seakan membalut hatinya yang terluka. Dia terlelap dan melupakan rasa sakitnya untuk sejenak. Melupakan kalau saat ini dia telah menjadi suami dari seorang wanita asing yang tidak dicintainya. Mex terjaga saat merasakan tubuhnya mulai dingin. Dia membuka matanya dan merasakan sedikit sakit di lehernya. Dia melirik jam tangannya dan itu sudah menunjuk angka sebelas malam. Dia sudah tertidur di balkon selama berjam-jam. Dia baru saja berdiri tapi sakit hatinya kembali menyeruak. Kerinduannya terhadap Celine semakin membuncah. Dia enggan melangkahkan kaki untuk kembali ke kamar. Saat ini dia tidak ingin melihat Sarah, dan tidak tau sampai kapan dia bisa menerimanya. Gerimis tiba-tiba turun seakan memaksanya untuk masuk kamar. Mau tidak mau, dia pun terpaksa masuk dan meninggalkan balkon. Dia melihat ruangan itu masih menggunakan pencahayaan redup seperti saat dia memasukinya. Tempat tidur itu masih tertata rapi sama seperti semula. Tidak ada yang berubah. Sarah juga tidak ada disana. Dia melirik ke setiap sudut kamar dan belum juga menemukan sarah. Sofa itu masih tertata rapi dengan taburan mawar. Lilin disana belum ada yang menyala. Pintu kamar mandi masih tertutup seperti saat dia meninggalkannya. "Apa dia masih dikamar mandi?" Batinnya. Tapi dia tidak lagi mendengar suara keran air yang menyala. Dia mengabaikannya dan berbaring di sofa. "Jaga dia Mex, seperti Dady menjaga mami," Ucapan Emma kembali terngiang di telinganya. Dia kembali duduk dan berpikir beberapa saat. Tak lama setelah itu dia melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar mandi. Dia terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu. Tok tok tok. Dia akhirnya mengetuk pintu. Dia menunggu beberapa saat namun tidak mendapatkan jawaban. Tok tok tok. Dia mencoba mengetuk untuk kedua kalinya dan belum juga menemukan jawaban meski sudah menunggu. Dia akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu. Dia melihat gaun yang tadinya dikenakan Sarah sudah terlepas dan ditinggalkan begitu saja. Dia telah pergi, Entah kemana. Mex sama sekali tidak berniat untuk mencarinya. Dia kembali menutup pintu namun mengurungkan niatnya saat melihat di depan cermin, di dekat wastafel, cincin pernikahan yang baru saja disematkan nya di jari manis Sarah, telah dilepas dan ditinggalkan begitu saja. "Really?" Ucapnya tak percaya. Ada rasa marah sekaligus kawatir yang sedang menghampirinya. Tapi dia juga akan senang jika Sarah benar-benar pergi. Karna dengan begitu Emma tidak akan menyalahkannya. Namun dia masih saja kawatir jika Emma justru menuduhnya telah mengusir Sarah. Karna sejak awal dia memang telah menolak pernikahan ini. Disisi lain, dia sangat berharap kalau Sarah benar-benar pergi. Karna dengan begitu tidak akan ada lagi yang menghalangi hubungannya dengan Celine. Gadis yang sangat dicintainya itu. Dia ikut melepaskan cincin nya dan meletakkannya disamping cincin Sarah. Dia mandi dengan air hangat dan membiarkan air itu mengguyur tubuhnya melalui shower. Tidak lupa dia mencuci rambut dengan shampo dan mengolesi setiap inci dari tubuhnya dengan sabun cair yang tersedia disana. Entah mengapa bebannya terasa terangkat dan langkah terasa lebih enteng setelah mandinya selesai. Dengan setengah badan dibalut handuk berwarna putih, dia kembali menatap dirinya di dalam cermin. Beban dihatinya tak lagi seberat tadi. Dia kembali menatap cincin pernikahannya itu dan tersenyum penuh kebebasan. Pandangannya tercuri oleh sarung tangan yang telah dinodai darah, yang terletak tak jauh dari cincin itu. Sarung tangan itu yang tadinya dikenakan oleh Sarah. Dia kembali mengingat saat dia memaksa cincin itu melingkar dijari manis Sarah. Gadis itu sempat meringis menahan sakit. Sedikit rasa bersalah muncul di benaknya. Dia mencoba mengabaikannya dan mengambil sepasang cincin itu lalu membawanya ke kamar dan memasukkannya kedalam laci. Mex baru saja menutup laci itu dan mendengar suara kamarnya dibuka. Dia menoleh dan melihat Don masuk membawa sarah. Kebahagiannya yang sempat kembali kini sirna. Sarah mengehentikan langkahnya dan kembali keluar saat melihat Mex hanya mengenakan handuk. "Sorry, Mex. Tadi aku kebetulan masuk dan melihat tangan Sarah berdarah. Aku terpaksa membawanya ke dokter tanpa minta ijin. Karna aku melihat kau tertidur di balkon. Aku ingin membangunkan mu, tapi Sarah menghentikan ku," Jelas Don panjang lebar. "Kau sudah melakukan hal yang benar," Jawab Mex datar. "Aku kesini untuk menyampaikan pesan ibumu," Ucap Don. "Kenapa dia tidak langsung menemui ku? Kenapa harus lewat orang lain?" Jawab Mex. Don sedikit tersinggung saat Mex menyebutnya orang lain. "Aku tidak mengerti, Mex," Ucap Don. "Apa pesannya?" Tanya Mex. "Dia bilang besok pagi dia akan kembali ke Kanada dan akan tinggal disana untuk sementara waktu. Dia tidak ingin mengganggu bulan madu kalian," Jawab Don. "Mami kembali ke Kanada," Ulang Mex tak percaya. "Itu yang disampaikan bu Emma, Mex" Jawabnya. Mex menutup matanya dan memijat di batang hidungnya. Itu sering dilakukannya saat bingung atau kaget. "Untuk apa?" Tanya Mex lagi. "Untuk mengunjungi makan pak Marthin dan untuk memberi kalian waktu berdua," Jawab Don. Mex tersenyum sinis. "Membiarkan kami berdua?" Ulangnya. Don mengangguk. "Aku tidak mengerti dengan orang tua jaman sekarang. Kenapa mereka sangat suka memaksakan kehendaknya pada anak-anak mereka. Padahal kita sudah dewasa." Sungut Mex membuat Don kehabisan kata. "Semua sudah terjadi, Mex," Ucap Don setelah beberapa saat. "Semua berkat bantuan mu." Jawaban Mex membuat Don merasa bersalah. "Sekali lagi aku minta maaf," Ucapan Don terdengar sangat tulus. "Aku tidak menyalahkan mu, Don. "Aku hanya tidak tau harus bagaimana terhadap gadis itu," Jawab Mex. "Walau bagaimanapun kau sudah menjadi suaminya. Perlakukan dia dengan baik, layaknya seorang istri," Jawab Don. Senyum hambar kembali membentang di bibirnya. "Aku tidak bisa Don. Tidak akan bisa. Aku sangat mencintai Celine," Jawabnya. Semua pembicaraan itu terdengar jelas oleh Sarah dari balik pintu. "Jika memang menjadi istrimu adalah kesalahan, Aku siap membayar kesalahan ku," Ucapnya dalam hati. "Aku tidak akan menikahinya jika bukan karna orang tua ku. Kau pun tau itu," Ucap Mex menambah sakit hati Sarah. "Apa kau tau kenapa dia bersedia kau nikahi?" Balas Don. Mex menoleh seakan bertanya, Kenapa. "Dia melakukannya karna..." "Apa aku boleh masuk?" Kalimat Don terjeda saat suara lembut Sarah terdengar. Mereka berdua hanya bertatapan beberapa saat hingga Don merapikan jas yang masih menggantung di tubuhnya. "Pakaianmu ada di lemari itu, Aku permisi. Sekali lagi selamat atas pernikahanmu," Don membalik badan dan melangkah pergi. Di depan pintu dia melihat Sarah sudah berdiri meski masih menundukkan kepala. "Jangan takut. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu," Ucap Don memberi sedikit kelegaan pada Sarah. Setidaknya, hanya suaminya yang tidak memperdulikannya di dalam keluarga barunya itu. Mex membuka lemari dan mengeluarkan pakaiannya. Dia mengambilnya dengan cepat lalu mengenakannya. "Masuklah," Jawabnya. Sarah pun masuk dan tak lupa menutup pintu. Saat itu Mex sedang menaruh handuk pada jemuran yang tersedia di dalam kamar mandi. Sarah duduk di sofa dan menatap keluar lewat jendela kaca yang saat itu tirai nya belum tertutup. Mex kembali merasakan sakit saat melihat Sarah. Dia menelan salivanya dan memalingkan wajahnya. Melihat Sarah telah duduk di sofa, dia memutuskan untuk berbaring diatas tempat tidur tanpa peduli dimana Sarah akan tidur. Dia memejamkan matanya dan sengaja membelakangi Sarah. Dia tidak butuh waktu lama untuk tertidur karna rasa lelah yang telah dipikulnya. Sarah juga tidak menoleh padanya sama sekali. Gairah hidupnya sudah menghilang. Tidak perduli bagaimana suaminya akan memperlakukannya, dia akan menerimanya. Bahkan dia sedang menyiapkan diri untuk mengalami kemungkinan terburuk dari pernikahan itu, yaitu perceraian. Tidak ada wanita yang menginginkan akan bersanding dengan lelaki yang ditemuinya tepat dihari pernikahannya. Memutuskan untuk menikah tanpa mengenalnya terlebih dahulu sudah benar-benar menjadi keputusan yang salah yang pernah diambilnya. Pikirannya berkecamuk selama beberapa saat. Tatapannya penuh penderitaan, tidak ada ayah atau ibu tempatnya mengadu, tidak ada saudara tempatnya berbagi, dan tidak mungkin baginya membongkar aib rumah tangganya pada Yuli, sahabatnya. Pernikahan ini baru saja di mulai beberapa jam yang lalu, Haruskah dia menceritakan kesedihan?. Hati kecilnya tidak mengijinkannya melakukan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD