Haris tampak serius membaca setiap dokumen penting di depannya. Akibat satu hari kemarin dia tidak masuk, pekerjaannya hari ini semakin menumpuk. Tok, tok, tok! "Masuk!" Pintu terbuka memperlihatkan Dimas yang berjalan ke arahnya. Haris membiarkan saja. Toh memang dia yang sengaja meminta Dimas untuk datang. "Bagimana, Pak?" tanya Dimas seakan tahu apa yang akan dibahas oleh sang atasan. "Duduk dulu," titah Haris. Lelaki jangkung itu pun mengambil duduk di depan sang bos. "Saya sudah berbicara dengan Nisa. Dia ingin Imam dipulangkan saja ke kampung. Lagi pula kita belum memiliki cukup bukti untuk menjebloskan lagi dia ke penjara." "Bapak yakin?" tanya Dimas memastikan. Haris mengangguk yakin. "Bapak percaya Imam tidak akan berulah lagi setelah ini?" tanya Dimas lagi. "Jika dia b

