Rutinitas seperti biasa dilakukan oleh keluarga kecil Haris. Fara yang seharian hanya berdiam diri di rumah bersama Bi Darsih sedangkan Haris dan Nisa yang bekerja di kantor dari pagi hingga sore hari.
"Bi aku bosan banget di rumah terus," keluh Fara yang sedari tadi duduk di sofa sambil menonton TV.
"Habis mau bagaimana nyonya? Kalau saya bawa nyonya keluar takut nanti Tuan marah," ujar Bi Darsih.
Wanita paruh baya selalu setia menemani Fara setiap hari. Setelah Nisa menikah dan ikut bekerja dengan Haris, tugas merawat dan menamani Fara di limpahkan pada Bi Darsih.
"Keluar yuk Bi. Bentar aja," pinta Fara sambil memohon.
"Saya gak berani nyonya. Takut Tuan marah." Bi Darsih menolak.
"Sebentar Bi. Lagian kan gak jauh. Keliling kompleks ini aja gak apa-apa deh," paksa Fara.
Bi Darsih terdiam. Terlihat wanita berbadan bulat itu tengah menimbang.
"Ayolah Bi. Bibi gak kasian apa sama aku. Bosen lho bi gini-gini aja tiap hari," paksa Fara lagi.
Bi Darsih pun akhirnya mengangguk setuju. "Cuma keliling kompleks aja ya Nyonya. Habis itu langsung pulang," ujar Bi Darsih memastikan.
Fara mengangguk cepat. "Oke. Ayo kita let's go!"
Bi Darsih pun membantu Fara berpindah dari sofa ke kursi roda. Kemudian, ia mendorong kursi roda Fara menuju luar. Tak lupa sebelum keluar, ia menitipkan kunci rumah pada security yang selalu stand bye di depan rumah majikannya.
"Nyonya mau kemana toh?" tanya sang Satpam dengan name tag Wito tersebut.
"Saya mau keliling kompleks. Tolong jaga rumah ya," pinta Fara pada Sang Security.
"Lho lho... memang Tuan mengizinkan toh?" Tanya Pak Wito heran, karena biasanya Haris tak akan membiarkan Fara keluar rumah tanpa dirinya.
"Tenang aja. Cuma sebentar keliling disini," ujar Fara.
"Ini, aku titip kunci rumah ya," ujar Bi Darsih sambil menyerahkan kunci pada Pak Wito.
"Yowes. Tapi hati-hati yo Bi. Kalau sampe Nyonya lecet, Tuan bisa ngamuk," peringat Pak Wito.
"Iya saya paham. Yasudah saya sama Nyonya pergi dulu. Jaga rumah baik-baik," ucap Darsih yang langsung berlalu sambil mendorong kursi roda Fara.
Suasana di kompleks tempat tinggal Fara nampak sepi. Tak heran memang, karena kebanyakan penghuni disini hidup secara indivudual. Mereka jarang berbaur dengan tetangga. Hanya sesekali para warga berkumpul jika ada acara yang di adakan oleh pihak RT di komplek mereka.
"Kita mau muter-muter aja nih Nyonya?" tanya Bi Darsih pada Sang Majikan.
"Emh.. kita ke taman kompleks yuk Bi. Biasanya disana ada pedagang dan banyak yang anak-anak main. Saya lihat suasana yang sedikit ramai. Disini sepi begini," keluh Fara.
"Baiklah. Tapi sebentar aja ya Nyonya," ujar Bi Darsih mengingatkan.
***
Di kantor PT Wiyatama Group, Haris tengah berkutat dengan banyak pekerjaan. Sejak pagi, ia belum beranjak dari kursi kebesarannya. Lelaki itu seakan betah terus berada di depan laptopnya yang menyala. Di depan nya banyak map yang menumpuk, menandakan bahwa pekerjaannya benar-benar membludak hari ini.
"Sepertinya saya perlu ngopi dulu," gumamnya.
Kepalanya mulai pening. Sejak tadi ia hanya sarapan di rumah dan belum memakan atau pun meminum apapun lagi sampai sekarang.
Haris menekan nomor bagian pantry dari telepon di ruangannya.
"Buatkan saya kopi seperti biasa pada Nisa, dan minta antarkan ke ruangan saya," pintanya pada karyawan di bagian pantry.
Haris tak tahu saja jika saat ini Sang Istri sedang sibuk membuat kopi untuk yang lain. Entahlah, setiap hari karyawan di PT Wiyatama Group begitu senang memintanya membuatkan kopi. Jika saja Nisa membuka warkop, mungkin uangnya akan cepat terkumpul banyak.
Tring!
Satu pesan masuk ke ponsel Haris. Lelaki pemilik tatapan tajam itu mengambil benda pipih miliknya. Alisnya mengernyit ketika mendapati nomor asing yang mengirimnya pesan. Gegas Haris membuka pesan tersebut.
"Siapa yang berani main-main dengan saya," ujarnya geram sambil mengepalkan tangan.
Di remasnya dengan kuat ponsel yang masih menampilkan layar pesan tersebut. Haris geram. Nomor tak dikenal itu mengirimkan foto dirinya yang tengah memeluk Nisa saat di depan Caffe kemarin.
Tring!
Satu pesan lagi masuk. Haris cepat-cepat membacanya.
[Aku punya kartu AS mu Haris. Jika aku membocorkan foto ini pada media, pasti akan langsung menjadi sesuatu yang menggemparkan. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan menyebarkannya sekarang. Aku masih mau bermain-main denganmu, dan melihat sejauh mana kamu bisa menyembunyikan rahasia ini]
"Sialan!"
Brakk
Haris mendorong kuat kursinya hingga terjatuh. Nafasnya memburu. Tatapannya seolah ingin memangsa pengirim pesan tersebut.
"Kau bermain dengan orang yang salah," geramnya dengan kedua tangan terkepal.
Tok Tok Tok
Pintu ruangan Haris di ketuk dari luar. Haris enggan menyahut, dia masih sangat emosi saat ini.
Tok Tok Tok
"Maaf Pak. Saya mau antarkan kopi pesanan Bapak." Seseorang berteriak dari luar.
Haris tahu itu suara Nisa. Pun dia ingat sebelum ini, ia sempat meminta Nisa membuatkan kopi untuknya.
"Masuk," ucap Haris agak lantang.
Pintu dibuka, dan Nisa muncul dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas kopi.
Dia tampak agak tercengang melihat ruangan suaminya berantakan. Kursi kerjanya terbalik, beberapa map jatuh di lantai, penampilan Haris pun seperti sedang tidak baik-baik saja.
Nisa berjalan mendekat dan meletakkan kopi tersebut di atas meja kerja Haris. Sejak tadi Haris memunggunginya sambil menjambak rambutnya sendiri. Nisa mendekat pada Haris dengan pelan.
"Apa Mas Haris baik-baik saja?" tanya Nisa hati-hati.
"Saya baik. Keluarlah," jawab Haris tanpa menoleh sedikitpun.
"Mas yakin? Sepertinya Mas sedang tidak baik." Nisa meyakinkan.
"Saya baik. Kamu keluar saja," jawab Haris datar.
"Kalau Mas mau berbagi, saya bisa dengarkan cerita Mas Haris," tawar Nisa.
"Tidak perlu. Keluarlah," jawab Haris semakin datar.
Nisa merasakan hawa dingin dari nada bicara suaminya. Haris tengah menahan amarah yang bergejolak di dadanya.
"T-tapi Mas---"
Brakkk
"Saya bilang keluar Nisa!" Bentaknya sambil menggebrak meja dengan kecang. Tatapan begitu nyalang pada Nisa.
Nisa terperanjat juga bingung. "M-mas kenapa?" tanyanya takut.
Prang!
"Keluar!" Bentaknya lagi sambil menepis kopi di atas mejanya dengan kuat hingga berhamburan ke lantai.
"Aws." Nisa meringis merasakan kakinya yang panas terkena air kopi tersebut.
Perempuan berjilbab pashmina itu mendongak menatap Sang Suami. Sekali lagi ia bertanya dengan hati-hati. "M-mas Haris kenapa marah begini?" tanyanya dengan suara yang menahan tangis.
"Kenapa kamu bilang? Ini semua gara-gara kamu Nisa!" Suara Haris menggema di dalam ruangan tersebut, tangannya menunjuk tepat pada wajah Nisa.
"M-maksud Mas Haris apa?" tanya Nisa sambil terisak. Air matanya tak bisa dibendung lagi mendengar Sang Suami membentaknya bertubi-tubi.
"Jika saja kamu tidak hadir dalam hidup saya dan Fara, semuanya tidak akan seperti ini!" Haris menghardik dengan suara yang masih meninggi.
Lelaki itu tengah di selimuti emosi yang membara. Ia tak bisa mengendalikannya saat ini.
Nisa tertunduk sambil terus terisak. Sakit. Itu yang ia rasakan saat ini. Ia mungkin bisa menahan saat Haris melampiaskan amarah padanya karena sebab lain, namun kali ini dengan jelas ia mendengar dari mulut suaminya, bahwa sumber masalah itu adalah dirinya sendiri. Apa memang seharusnya ia tak berada disini?
"M-maaf," lirih Nisa tercekat.
Perempuan itu memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan Haris dengan langkah terpincang. Kakinya perih karena tersiram air kopi panas, namun hatinya lebih perih lagi mendapatkan bentakan dan hardikan dari suaminya sendiri. Padahal baru semalam Haris meminta maaf dan memperlakukannya dengan manis.
Haris menatap kepergian Nisa dengan tatapan kosong. Tubuhnya luruh ke lantai. Tangannya yang terkepal terangkat menjambak rambutnya sendiri.
"Arrrrgggggggghhhh" Teriakan Haris menggema seisi ruangan.